RSS

SISTEM PENCERNAAN II (Usus Halus dan Usus Besar)

SISTEM PENCERNAAN II
(USUS HALUS DAN USUS BESAR)


Anatomi Usus Halus
Usus halus atau usus kecil adalah bagian dari saluran pencernaan yang terletak di antara lambung dan usus besar. Diameter usus halus kurang lebih 2,5 cm. Usus halus (intestinum) merupakan tempat penyerapan sari makanan dan tempat terjadinya proses pencernaan yang paling panjang.  Usus halus terdiri dari tiga bagian, yaitu :
a.      Usus dua belas jari (duodenum)
b.      Usus kosong (jejunum)
c.       Usus penyerap (ileum)

a.      Usus 12 Jari
Usus dua belas jari atau duodenum adalah bagian dari usus halus yang terletak setelah lambung dan menghubungkannya ke usus kosong (jejunum). Bagian usus dua belas jari merupakan bagian terpendek dari usus halus (25 – 30 cm) dimulai dari bulbo duodenale dan berakhir di ligamentum Treitz.

pH usus dua belas jari yang normal berkisar pada derajat sembilan. Pada usus dua belas jari terdapat dua muara saluran yaitu dari pankreas dan kantung empedu. Nama duodenum berasal dari bahasa Latin duodenum digitorum, yang berarti dua belas jari.

Lambung melepaskan makanan ke dalam usus dua belas jari (duodenum),  yang merupakan bagian pertama dari usus halus. Makanan masuk ke dalam duodenum melalui sfingter pilorus dalam jumlah yang bisa di cerna oleh usus halus. Jika penuh, duodenum akan megirimkan sinyal kepada lambung untuk berhenti mengalirkan makanan

b.      Usus Kosong (Jejunum)
Jejunum berasal dari bahasa Latin, jejunus, yang berarti "kosong". Usus kosong atau jejunum (terkadang sering ditulis yeyunum) adalah bagian kedua dari usus halus, di antara usus dua belas jari (duodenum) dan usus penyerapan (ileum). Pada manusia dewasa, panjang seluruh usus halus antara 2-8 meter, 1-2 meter adalah bagian usus kosong.

Permukaan dalam usus kosong berupa membran mukus dan terdapat jonjot usus (vili), yang memperluas permukaan dari usus. Secara histologis dapat dibedakan dengan usus dua belas jari, yakni berkurangnya kelenjar Brunner. Secara histologis pula dapat dibedakan dengan usus penyerapan, yakni sedikitnya sel goblet dan plak Peyer. Sedikit sulit untuk membedakan usus kosong dan usus penyerapan secara makroskopis.

c.       Usus Penyerapan (Ileum)
Usus penyerapan atau ileum adalah bagian terakhir dari usus halus. Pada sistem pencernaan manusia, ileum memiliki panjang sekitar 2 – 2,5 m dan terletak setelah duodenum dan jejunum, dan dilanjutkan oleh usus buntu. Ileum memiliki pH antara 7 dan 8 (netral atau sedikit basa) dan berfungsi menyerap vitamin B12 dan garam-garam empedu.

Anatomi Dinding Usus Halus
1.      Dinding Usus Halus
a.       Vili
Pada dinding usus penyerap (ileum) terdapat jonjot-jonjot usus yang disebut viliVili berfungsi memperluas daerah penyerapan usus halus sehingga sari-sari makanan dapat terserap lebih banyak dan cepat. Dinding vili banyak mengandung kapiler darah dan kapiler limfe (pembuluh getah bening usus). Agar dapat mencapai darah, sari-sari makanan harus menembus sel dinding usus halus yang selanjutnya masuk pembuluh darah atau pembuluh limfe. Glukosa, asam amino, vitamin, dan mineral setelah diserap oleh usus halus, melalui kapiler darah akan dibawa oleh darah melalui pembuluh vena porta hepar ke hati. Selanjutnya, dari hati ke jantung kemudian diedarkan ke seluruh tubuh.

b.      Mikrovilli
Mikrovilli adalah tonjolan – tonjolan halus berbentuk jari – jari. Mikrovilli berfungsi untuk memperluas permukaan sel – sel epitel yang berhubungan dengan makanan, untuk memfasilitasi penyerapan nutrisi

2.      Kelenjar
a.       Kelenjar – kelenjar Usus (kripta Lieberk├╝hn)
Tertanam dalam mukosa dan membuka diantara basis – basis villi. Kelenjar ini mensekresi hormon dan enzim

b.      Kelenjar Penghasil Mukus

1.      Sel Goblet terletak dalam epitelium di sepanjang usus halus. Sel goblet menghasilkan mukus pelindung. 
2.      Kelenjar Brunner terletak dalam submukosa duodenum yang berfungsi menghasilkan glikoprotein netral untuk menetralkan HCl lambung, melindungi mukosa duodenum terhadap pengaruh asam getah lambung, dan mengubah isi usus halus ke pH optimal untuk kerja enzim-enzim pankreas

3.      Jaringan Limfatik
Leukosit dan nodulus limfe ada di keseluruhan usus halus untuk melindungi dinding usus terhadap invasi benda asing. Pengelompokkan nodulus limfe membentuk struktur yang dinamakan bercak Peyer.

Lapisan Dinding Halus
Dinding usus halus mempunyai empat lapisan, yaitu :
1.      Lapisan mukosa terdiri atas:
a.       Epitel Pembatas
b.      Lamina Propria yang terdiri dari jaringan penyambung jarang yang akan akan pembuluh darah kapiler dan limfe dan sel-sel otot polos, kadang - kadang juga mengandung kelenjar-kelenjar dan jaringan limfoid
c.       Muskularis Mukosae.

2.      Lapisan Submukosa terdiri atas pembuluh darah, pembuluh limfe, pleksus   saraf submukosa (Meissner), jaringan limfoid.

3.      Lapisan otot tersusun atas:  
a.       Lapisan eksternal longitudinal, lapisan internal tebal serat  sirkular 
b.      Kumpulan saraf yang disebut pleksus mienterik (atau auerbach), yang terletak  antara 2 sublapisan otot. 
c.        Pembuluh darah dan limfe.

4.      Lapisan membran serosa merupakan lapisan tipis yang terdiri atas :
Jaringan penyambung jarang, kaya akan pembuluh darah dan jaringan adiposa  serta epitel pipih selapis (mesotel).

Motilitas Usus Halus
Merupakan gerakan usus halus mencampur isinya dengan enzim untuk pencernaan, memungkinkan produk akhir pencernaan mengadakan kontak dengan sel absorptif, dan mendorong zat sisa memasuki usus besar. Pergerakan ini dipicu oleh peregangan dan secara refleks dikendalikan oleh sistem saraf otonom.  Motilitas usus halus terdiri atas :

1.      Gerakan Segmentasi 
Pergerakan Segmentasi adalah gerakan mencampur makanan dengan enzim-enzim pencernaan agar mudah untuk dicerna dan diabsorbsi.  Otot yang berperan pada kontraksi segmentasi untuk mencampur makanan adalah otot longitudinal. Bila bagian mengalami distensi oleh makanan, dinding usus halus akan berkontraksi secara lokal. Pada saat satu segmen usus halus yang berkontraksi mengalami relaksasi, segmen lainnya segera akan memulai kontraksi, demikian seterusnya. Gerakan ini berulang terus sehingga makanan akan bercampur dengan enzim pencernaan dan mengadakan hubungan dengan enzim mukosa dan selanjutnya terjadi absorbsi.

Kontraksi segmentasi berlangsung  karena adanya gelombang lambat yang merupakan basic electrical rhytm (BER) dari otot polos saluran cerna. Proses kontraksi segmentasi berlangsung 8 sampai 12 kali/menit pada duodenum, 9 kali/menit, dan sekitar 7 kali/menit pada ileum, dan setiap kontraksi berlangsung 5 sampai 6 detik.

2.      Gerakan Peristaltik 
Pergerakan profulsif atau gerakan peristaltik mendorong makanan kearah usus besar (colon). Pembagian pergerakan ini sebenarnya sulit dibedakan oleh karena sebagian besar pergerakan usus halus merupakan kombinasi dari kedua gerakan tersebut di atas.
Gerakan peristaltik pada usus halus mendorong makanan menuju kearah kolon dengan kecepatan 0,5 sampai 2 cm/detik, dimana pada bagian proksimal lebih cepat dibandingkan pada bagian distal. Gerakan peristaltic ini sangat lemah dan biasanya menghilang setelah berlangsungsekitar 3 sampai 5 cm, dan jarang lebih dari 10 cm. Rata-rata pergerakan makanan pada usus halus hanya 1 cm/menit. Ini berarti pada keadaan normal , makanan dari pilorus akan tiba di ileocaecal junction dalam waktu 3-5 jam.

Sekresi Usus Halus
Usus menghasilkan mucus dan liur pencernaan yang berfungsi untuk melindungi duodenum dari asam lambung. Mukus yang dihasilkan oleh kelenjar mucus – kelenjar Brunner’s – yang berlokasi antara pylorus dan papilla vater, dimana liur pankreas dan empedu masuk ke duodenum. Kelenjar ini menghasilkan mucus akibat adanya rangsangan saraf vagus serta hormone sekretin, saraf simpatis menghambat sekresi mucus.
Kriptus Lieberk├╝hn (Crypts of Lieberkhn) menghasilkan liur pencernaan 1800 ml/hari. Cairan ini sedikit alkalis dengan pH 7,5 – 8,0 serta dengan cepat diabsorbsi kembali oleh vili. Proses sekresi oleh kriptus Lieberkhn terjadi melalui transport aktif. Toksin cholera dapat menyebabkan sekresi cairan, terutama pada daerah jejunum sangat meningkat. Pada serangan cholera, sekresi cairan dapat mencapai 5-10 liter sehingga menyebabkan syok akibat dehidrasi berat.

Digesti Usus Halus
Digesti adalah perubahan fisik dan kimia dari makanan dengan menggunakan bantuan enzim dan koenzim yang pengeluarannya diatur oleh hormon dan syaraf, sehingga makanan menjadi molekul-molekul yang dapat diabsorpsi kedalam aliran darah. Enzim – enzim usus dan cara kerjanya antara lain:
a.          Enterokinase mengaktivasi tripsinogen pankreas menjadi tripsin, yang kemudian mengurai protein dan peptida menjadi peptida yang lebih kecil.
b.         Aminopeptidase, tetrapeptidase, tripeptidase, dan dipeptidase mengurai peptida menjadi asam amino bebas
c.          Amilase Usus menghidrolisis zat tepung menjadi disakarida (maltosa, sukrosa, dan laktosa)
d.         Maltase, Isomaltase, laktase, dan sukrase memecah disakarida maltosa, laktosa, dan sukrosa, menjadi monosakarida
e.          Lipase usus memecah monogliserida menjadi asam lemak dan gliserol

Absorpsi Usus Halus
Semua produk pencernaan karbohidrat, protein dan lemak serta sebagian besar elektrolit, vitamin dan air dalam keadaan normal diserap oleh usus halus. Sebagian besar penyerapan berlangsung di duodenum dan jejenum, dan sangat sedikit yang berlangsung di ileum.

a. Penyerapan Garam dan Air

Air diabsorpsi melalui mukosa usus ke dalam darah hampir seluruhnya melalui osmosis. 
Natrium diserap secara transpor aktif dari dalam sel epitel. Sebagian Na diabsorpsi bersama dengan ion klorida.


b. Penyerapan Karbohidrat

Karbohidrat diserap dalam bentuk disakarida maltosa, sukrosa, dan laktosa. Disakaridase yang ada di brush border menguraikan disakarida ini menjadi monosakarida yang dapat diserap yaitu glukosa, galaktosa dan fruktosa. Glukosa dan galaktosa diserap oleh transportasi aktif sekunder sedangkan fruktosa diserap melalui difusi terfasilitasi.

c. Penyerapan Protein

Protein diserap di usus halus dalam bentuk asam amino dan peptida, asam amino diserap menembus sel usus halus melalui transpor aktif sekunder, peptida masuk melalui bantuan pembawa lain dan diuraikan menjadi konstituen asam aminonya oleh aminopeptidase di brush border atau oleh peptidase intrasel, dan masuk ke jaringan kapiler yang ada di dalam vilus.
Dengan demikian proses penyerapan karbohidrat dan protein melibatkan sistem transportasi dkhusus yang diperantarai oleh pembawa dan memerlukan pengeluaran energi serta transportasi Na.

d. Penyerapan Vitamin

Vitamin yang larut dalam air diabsorpsi secara pasif bersama air, sedangkan yang larut dalam lemak diabsorpasi secara pasif dengan produk akhir pencernaan lemak.

e. Penyerapan Lemak

Asam lemak larut lipid dan gliserol diabsorpsi dalam bentuk micelle, yaitu suatu globulus garam empedu yang mengelilingi bagian berlemak. Micelle membawa asam lemak dan monoglikoserida menuju sel epithelial, tempatnya dilepas dan diabsorpsi melalui difusi pasif menuju membrane sel usus

Usus Besar
Usus besar/intestinum krasum merupakan saluran terakhir dari saluan pencernaan. Sesuai dengan namanya, usus ini memiliki ukuran diameter 6,5 cm (bandingkan dengan ukuran diameter usus halus, yaitu 2,5 cm), sedangkan ukuran panjangnya hanya 1 meter. Pada pertemuan antara usus halus dan usus besar terdapat suatu kantong yang disebut sekum (lebih dikenal sebagai usus buntu) dan apendiks (umbai cacing). Pada manusia, umbai cacing berfungsi untuk melawan infeksi. Peradangan pada umbai cacing disebut apendiksistis. Pada sekum terdapat sebuah klep yang disebut klep ileosekum, yaitu semacam otot sfingter yang berfungsi untuk mencegah bakteri tidak kembali ke usus halus.

Usus besar atau disebut juga kolon dibedakan atas 3 bagian, yaitu usus besar naik atau kolon ascenden, usus besar melintang atau kolon transversum, dan usus besar turun atau kolon descenden.

Didalam usus besar hidup berbagai bakteri, terutama Escherichia coli, jenis bakteri yang dapat hidup dengan atau tanpa oksigen. Bakteri ini berfungsi dalam pembusukan sisa makanan dan pembentukan vitamin K dan B kompleks yang diperlukan oleh tubuh. Selain itu, didalam usus besar terjadi juga proses pengaturan kadar air dalam pembentukan feses. Selanjutnya, melalui gerakan peristaltik feses yang terbentuk didorong masuk kedalam rektum. Rektum merupakan bagian terakhir dari usus besar yang berfungsi sebagai tempat penampungan sementara sebelum dikeluarkan melalui sfingter terakhir, yaitu anus. Proses pengeluaran feses melalui anus disebut dengan dengan defekasi.

Secara makroskopis usus besar dapat dibagi menjadi 6 bagian, yaitu sekum, kolon ascenden, kolon transversus, kolon desenden, sigmoid, dan rektum. Keenam bagian ini sulit dibedakan secara histologis.

a.    Sekum
Sekum adalah kantong tertutup yang menggantung dibawah area katup ileosekal. Sekum atau caecum adalah bagian dari usus besar yang menghubungkan ileum (usus halus) dan  colon ascenden (usus besar). Berfungsi menyerap air dan garam.

b.    Kolon
 Kolon adalah bagian usus besar dari sekum sampai rektum. Kolon memiliki 3 divisi.
1.      Kolon asenden merentang dari sekum sampai ke tepi bawah hati di sebelah kanan dan membalik secara horizontal pada fleksura hepatika.
2.       Kolon transversa merentang menyilang abdomen dibawah hati dan lambung sampai ke tepi lateral ginjal kiri, tempatnya memutar ke bawah pada fleksura splenik.
3.      Kolon desenden merentang ke bawah pada sisi kiri abdomen dan menjadi kolon sogmoid berbentuk S yang bermuara di rektum.

c.    Rektum
Rektum adalah bagian saluran pencernaan selanjutnya dengan panjang 12-13 cm. Rektum berakhir pada saluran anal dan membuka ke eksterior di anus. Bagian terakhir dari usus besar disebut rektum. Di sinilah bahan limbah dalam bentuk feses disimpan sampai diekskresikan keluar dari anus. Ini terdiri dari lapisan mukosa tebal dan disertakan dengan banyak pembuluh darah.
1.      Mukosa saluran anal tersusun dari kolumna rektal(anal), yaitu lipatan-lipatan vertikal yang masing-masing berisi arteri dan vena.
2.      Sfingter dan internal otot polos (involunter) dan sfingter anal eksternal otot rangka (volunter) mengitari anus.

Proses Pencernaan pada Usus Besar

Usus besar tidak ikut serta dalam proses absorpsi makanan. Bila usus halus mencapai sekum, semua zat makanan telah diadsorpsi dan isinya cair. Selama perjalanan didalam kolon isinya menjadi semakin padat karena air di absorpsi dan ketika rektum dicapai maka feses bersifat padat-lunak.

Sistem Kerja Usus Besar
Usus besar atau kolon memiliki panjang ± 1 meter dan terdiri atas kolon ascendens, kolon transversum, dan kolon descendens.Di antara intestinum tenue (usus halus) dan intestinum crassum (usus besar) terdapat sekum (usus buntu). Pada ujung sekum terdapat tonjolan kecil yang disebut appendiks (umbai cacing) yang berisi massa sel darah putih yang berperan dalam imunitas.
Zat-zat sisa di dalam usus besar ini didorong kebagian belakang dengan gerakan peristaltik. Zat-zat sisa ini masih mengandung banyak air dan garam mineral yang diperlukan oleh tubuh. Air dan garam  mineral kemudian diabsorpsi kembali oleh dinding kolon, yaitu kolon ascendens. Zat-zat sisa berada dalam usus besar selama 1 sampai 4 hari. Pada saat itu terjadi proses pembusukan terhadap zat-zat sisa dengan dibantu bakteri Escherichia coli, yang mampu membentuk vitamin K dan B12. 

Selanjutnya dengan gerakan peristaltik, zat-zat sisa ini terdorong sedikit demi sedikit ke saluran akhir dari pencernaan yaitu rektum dan akhirnya keluar dengan proses defekasi melewati anus.
Defekasi diawali dengan terjadinya penggelembungan bagian rektum akibat suatu rangsang yang disebut refleks gastrokolik. Kemudian akibat adanya aktivitas kontraksi rektum dan otot sfingter yang berhubungan mengakibatkan terjadinya defekasi. Di dalam usus besar ini semua proses pencernaan telah selesai dengan sempurna.

Fungsi Usus Besar

a.      Absorbsi air, garam dan glukosa
Usus besar mengabsorbsi 80% sampai 90% air dan elektrolit dari kimus yang tersisa dan mengubah kimus dari cairan menjadi massa semi padat.

b.      Sekresi
Sekresi Mukus. Mukosa usus besar, seperti mukosa usus halus,dilapisi oleh kripta Lieberkuhn, tetapi sel-  sel epitel hampir tidak mengandung enzim. Sebagai gantinya, mereka hampir seluruhnya diliputi oleh sel goblet. Pada permukaan epitel usus besar juga terdapat banyak sel goblet yang tersebar di antara sel – sel epitel lainnya.
Oleh karena itu, satu – satunya ekskresi yang bermakna dalam usus besar adalah mucus. Mukus dalam usus besar berfungsi melindungi dinding terhadap eksokoriasi, selain itu, berperan sebagai media pelekat agar bahan feses saling bersatu. Selanjutnya, ia melindungi dinding usus dari aktivitas bakteri yang besar, yang berlangsung di dalam feses dan mucus, ditambah sekresi yang bersifat alkali, juga memberikan penawar terhadap asam yang dibentuk dalam feses, yang mencegah penyerangan dinding usus
Sekresi air dan elektrolit sebagai respon terhadap iritasi. Bila suatu segmen usus besar mengalami iritasi hebat, seperti yang terjadi bila infeksi bakteri menghebat selama enteritis bakterialis, mukosa kemudian mensekresi air dan elektrolit dalam jumlah besar selain larutan mucus normal yang  kental. Zat ini bekerja mengencerkan faktor pengiritasi dan menyebabkan pergerakan feses yang cepat menuju ke anus. Hasilnya biasanya berupa diare disertai kehilangan banyak air dan elektrolit tetapi juga penyembuhan dari penyakit yang lebih awal dibandingkan bila hal ini tidak terjadi.

c.       Penyiapan selulosa
Sejumlah bakteri dalam kolon mampu mencerna sejumlah kecil selulosa dan memproduksi sedikit kalori nutrien bagi tubuh dalam setiap hari. Bakteri juga memproduksi vitamin dan berbagai gas. Penyiapan selulosa yang berupa hidrat karbon di dalam tumbuh-tumbuhan, buh-buahan dan sayuran hijau, dan penyiapan sisa protein yang belum dicernakan oleh kerja bakteri untuk ekskresi.

d.      Defekasi
Proses defekasi (buang air besar) adalah proses yang sangat penting dalam proses pencernaan, juga sangat erat kaitannya dengan tingkat kesehatan tubuh. Usus besar mengekskresi zat sisa dalam bentuk feses. Air mencapai 75% sampai 80% feses. Sepertiga materi padatnya adalah bakteri dan sisanya yang 2% sampai 3% dalah nitrogen, zat sisa organik dan anorganik dari sekresi pencernaan, serta mukus dan lemak. Feses juga mengandung sejumlah materi kasar, atau serat dan selulosa yang tidak tercerna. Warna coklat berasal dari pigmen empedu dan bau berasal dari kerja bakteri.
Jika proses defekasi terhambat maka akan terjadi penumpukan sisa-sisa makanan yang telah membusuk. Pembusukan tesebut menghasilkan toksin yang dapat mengikis membran mukosa usus besar sehingga terjadi infeksi. Selain itu tumpukan kotoran yang tidak terbuang akan membentuk plak di dinding usus. Plak ini dapat menjadi tempat bersarangnya bakteri dan virus patogen yang dapat menginfeksi membran usus dan masuk ke sirkulasi tubuh dan menyerang seluruh organ tubuh. Kondisi inilah yang disebut proses autointoksinasi. Sisa-sisa makanan akan mengalami masa transit di usus besar kurang lebih 14 jam. Kemudian pembuangan bila lambung terisi makanan dan merangsang peristaltik didalam usus besar.

Pergerakan Usus Besar

a.      Gerakan Mencampur – Haustra
Melalui cara yang sama dengan terjadinya gerak segmentasi dalam usus halus, kontraksi-kontraksi sirkular yang besar terjadi dalam usus besar. Pada setiap kontriksi ini, kira-kira 2,5 cm otot sirkular akan berkontraksi, kadang menyempitkan lumen kolon sampai hampir tersumbat. Pada saat yang sama, otot longitudinal kolon yang terkumpul menjadi tiga pita longitudinal yang disebut taenia coli, akan berkontraksi. Kontraksi gabungan dari pita otot sirkular dan longitudinal menyebabkan bagian usus besar yang tidak terangsang menonjol ke luar memberikan bentuk serupa-kantung yang disebut haustra.

Setiap haustra biasanya mencapai intensitas puncak dalam waktu sekitar 30 detik dan kemudian menghilang selama 60 detik berikutnya. Kadang-kadang kontraksi juga bergerak lambat menuju ke anus selama masa kontraksinya, terutama pada sekum dan kolon asenden, dan karena itu menyebabkan sejumlah kecil dorongan isi kolon ke depan. Beberapa menit kemudian, timbul kontraksi haustra yang baru pada daerah lain yang berdekatan. Oleh karena itu, bahan feses dalam usus besar secara lambat diaduk dan diputar seperti seseorang sedang mencampurkan bahan bangunan. Dengan cara ini, semua bahan feses bertahap bersentuhan dengan permukaan mukosa usus besar, dan cairan-cairan zat terlarut secara progresif diabsorpsi hingga hanya terdapat 80 sampai 200 mililiter feses yang dikeluarkan setiap hari.

Karena gerakan kolon lambat, bakteri memiliki cukup waktu untuk tumbuh dan menumpuk di usus besar. Sebaliknya, di usus halus isi lumen biasanya bergerak cukup cepat, sehingga bakteri sulit tumbuh. Tidak semua bakteri yang termakan dapat dihancurkan oleh lisozim liur dan HCL lambung, sehingga bakteri yang dapat bertahan hidup dapat tumbuh subur di usus besar. Sebagian besar mikro-organisme di kolon tidak berbahaya apabila berada dilokasi ini.

b.      Gerakan Mendorong – Pergerakan Massa
Tiga sampai empat kali sehari, umumnya setelah makan, terjadi peningkatan nyata motilitas, yaitu terjadi kontraksi simultan segmen-segmen besar di kolon asendens dan transverse, sehingga dalam beberapa detik feses terdorong sepertiga sampai tiga perempat dari panjang kolon. Kontraksi-kontraksi masif yang diberi nama gerakan massa ( mass movement) ini, mendorong isi kolon kebagian distal usus besar, tempat isi tersebut disimpan sampai terjadi defekasi.

Sewaktu makanan masuk ke lambung, terjadi gerakan massa di kolon yang terutama disebabkan oleh refleks gastrokolik, yang diperantai oleh gastrin dari lambung ke kolon dan oleh saraf otonom ekstrinsik. Pada banyak orang , refleks ini paling jelas setelah makanan pertama (pagi hari) dan sering diikuti oleh keinginan kuat untuk segera buang air besar. Dengan demikian, makanan yang baru memasuki saluran pencernaan, akan terpicu oleh refleks-refleks untuk memindahkan isi yang sudah ada ke bagian saluran cerna yang lebih distal dan memberi jalan bagi makanan baru tersebut. Refleks gastroileum memindahkan isi usus halus yang tersisa ke dalam usus besar, dan refleks gastrokolik mendorong isi kolon ke dalam rectum yang memicu refleks defekasi.

c.       Refleks Defekasi
Sewaktu gerakan massa kolon mendorong isi kolon ke dalam rektum, terjadi peregangan rektum yang kemudian merangsang reseptor regang di dinding rectum dan memicu refleks defekasi.1 Satu dari refleks-refleks ini adalah refleks intrinsik yang diperantarai oleh sistem saraf enterik setempat di dalam rektum. Hal ini bisa dijelaskan sebagai berikut : Bila feses memasuki rektum, distensi dinding rektum menimbulkan sinyal-sinyal aferen yang menyebar melalui pleksus mienterikus untuk menibulkan gelombang peristaltik di dalam kolon desenden, sigmoid, dan rektum, mendorong feses ke arah anus. Sewaktu gelombang peristaltik mendekati anus, sfingter ani internus direlaksasi oleh sinyal-sinyal penghambat dari pleksus mienterikus. Jika sfingter ani eksternus juga dalam keadaan sadar, dan berelaksasi secara volunter pada waktu yang bersamaan, terjadilah defekasi. Peregangan awal dinding rektum menimbulkan perasaan ingin buang air besar.

Apabila defekasi ditunda, dinding rektum yang semula teregang akan perlahan-lahan melemas dan keinginan untuk buang air besar mereda samapi gerakan massa berikutnya mendorong lebih banyak feses ke dalam rektum, yang kembali meregangkan rektum dan memicu refleks defekasi. Selama periode non-aktif, kedua sfingter anus tetap berkontraksi untuk memastikan tidak terjadi pengeluaran feses.




  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

2 komentar:

luluk mengatakan...

kak , boleh minta daftar pustakanya ?

Ryani Allolinggi mengatakan...

posting ini kapan ?

Poskan Komentar