RSS

SISTEM KEKEBALAN

      I.        Pengertian Sistem Kekebalan
Sistem kekebalan (imunitas) adalah kemampuan tubuh manusia untuk melawan hampir semua jenis organisme atau toksin yang masuk ke jaringan dan organ yang cenderung merusak jaringan dan organ. Sistem imunitas khusus membentuk antibodi serta limfosit untuk menyerang dan menghancurkan mikroorganisme spesifik atau toksin. Organisme atau toksin asing yang masuk ke dalam tubuh dan dapat merangsang terbentuknya antibodi disebut antigen.

    II.        Fungsi Sistem Kekebalan
Sistem kekebalan mempunyai beberapa fungsi, yaitu:
1.    Melindungi tubuh dari invasi penyebab penyakit (virus atau toksin).
2.    Untuk keseimbangan fungsi tubuh terutama menjaga keseimbangan komponen tubuh yang telah tua.
3.    Menghancurkan dan menghilangkan mikroorganisme atau substansi asing (bakteri, parasit, jamur, virus, dll) yang masuk ke dalam tubuh.

   III.        Macam-macam Sistem Kekebalan
Sistem kekebalan tubuh berdasarkan asalnya terbagi menjadi 2, yaitu:
1.    Kekebalan Bawaan/ innate immunity (imunitas non spesifik)
Merupakan kekebalan tubuh secara alami yang telah ada sejak seseorang lahir untuk melindungi tubuh dari antigen. Imunitas non spesifik merupakan mekanisme pertama yang akan terjadi saat infeksi berlangsung, terjadi antara jam ke-0 sampai jam ke-12 infeksi.
Ciri-ciri sistem kekebalan bawaan, yaitu:
·         Tidak selektif, artinya semua  organisme asing yang masuk ke dalam tubuh akan diserang atau dihancurkan tanpa seleksi.
·         Tidak memiliki kemampuan untuk mengingat infeksi yang terjadi sebelumnya.
·         Memiliki reaksi yang sama terhadap semua jenis organisme asing yang masuk ke dalam tubuh.

Secara umum pertahanan tubuh non spesifik ini terbagi menjadi pertahanan mekanis dan kimiawi.


Ø Pertahanan mekanis
Pertahanan tubuh non spesifik dengan pertahanan mekanis dalam tubuh manusia, terdiri dari:
·      Kulit
Kulit yang utuh menjadi salah satu garis pertahanan pertama karena sifatnya yang impermeabel terhadap infeksi berbagai organisme. Lapisan luar kulit yang mengandung sedikit air akan menghambat tumbuhnya mikroorganisme. Lapisan tanduk yang terdapat pada kulit tidak mudah ditembus oleh organisme asing kecuali jika kulit dalam keadaan terluka.

·      Sebum (kelenjar minyak)
Sebum yang disekresikan oleh kelenjar sebaceous mengandung asam lemak yang memiliki pH rendah (3-5) yang menghambat pertumbuhan bakteri dan bersifat antimikrobial.

·      Selaput lendir (mukus)
Mukus merupakan cairan lendir hasil sekresi sel-sel goblet pada saluran pernapasan yang berfungsi dalam menangkap organisme asing yang masuk ke dalam tubuh melalui saluran pernapasan.

·      Rambut-rambut halus
Berfungsi sebagai penyaring udara yang masuk melalui hidung.

·      Air mata
Kelenjar lakrimal mensekresi air mata yang secara terus menerus membasahi, melarutkan dan mencuci mikroorganisme penyebab iritasi mata.

Semua zat cair yang dihasilkan oleh tubuh (air mata, mukus, saliva dan keringat) mengandung enzim yang disebut lisozim. Lisozim adalah enzim yang dapat menghidrolisis membran dinding sel bakteri atau patogen lainnya sehingga sel kemudian pecah dan mati.

Ø Pertahanan kimiawi
Merupakan sistem pertahanan tubuh yang umumnya terletak di bagian dalam tubuh, terdiri dari:
·      Mukosa lambung
Mengandung larutan HCL yang bersifat asam dan enzim pencernaan protein yang dapat membunuh mikroorganisme tersebut.

·      Sel natural killer
Sel Natural Killer (Sel NK) merupakan golongan limfosit tapi tidak mengandung petanda seperti pada permukaan sel B dan sel T. Oleh karena itu disebut sel nol. Sel NK berjaga di sistem peredaran darah limfatik. Sel ini merupakan sel pertahanan yang mampu membunuh sel tubuh yang terinfeksi virus sebelum diaktifkan sistem kekebalan adaptif.

·      Protein Antimikroba
Jenis protein yang berperan dalam imunitas non spesifik yaitu priotein komplemen dan interferon.
o  Protein komplemen
Protein komplemen adalah sekelompok plasma protein yang bersikulasi di darah dalam keadaan tidak aktif. Protein komplemen dapat diaktifkan oleh munculnya ikatan antigen dan atibodi atau jika protein komplemen bertemu dengan molekul polisakarida di permukaan tubuh mikroorganisme. Protein komplemen merupakan protein darah yang membantu sistem pertahanan leukosit.

o  Interferon
Interferon adalah protein antivirus yang dapat disintesisis oleh hampir setiap jenis sel hospes sebagai respon terhadap infeksi virus, stimulasi imun dan berbagai jenis stimulan kimia. Interferon berfungsi menghalangi multiplikasi virus dan juga memegang peranan dalam memodulasi aktivitas imunologis.

·      Sel darah putih (leukosit)
Merupakan sistem kekebalan tubuh kedua. Leukosit berfungsi untuk melindungi tubuh terhadap invasi benda asing. Apabila organisme asing melewati sistem pertahanan pertama maka leukosit akan mencegah organisme asing masuk lebih jauh lagi ke dalam tubuh. Leukosit akan menghancurkan organisme asing dengan cara fagositosis.
Berdasarkan ada atau tidaknya granula di dalam sitoplasma sel, leukosit dibedakan menjadi 2 tipe, yaitu:
1)  Granulosit
Granulosit merupakan leukosit yang bergranula. Granulosit berperan dalam membunuh kuman penyakit dan sel asing (termasuk sel kanker), serta memakan sel mati. Berdasarkan jenis granula serta sifat asam dan basa sitoplasmanya, granulosit dibedakan lagi menjadi 3 macam sel, yaitu:
a)  Neutrofil, mencapai 60% dari jumlah leukosit. Neutrofil memiliki granula kecil berwarna merah muda dalam sitoplasma dan sifatnya netral. Neutrofil melawan antigen dengan cara memakannya (fagositosis).


b)  Eosinofil, mencapai 1-30% dari jumlah leukosit. Eosinofil memiliki granula sitoplasma yang kasar dan besar dengan warna orange kemerahan dan bersifat asam. Sel ini mempunyai peran di dalam membunuh kuman atau penyakit dan memakan sel mati. Eosinofil juga bersifat fagosit dan jumlahnya akan meningkat jika tubuh terkena infeksi. Eosinofil berperan dalam reaksi alergi.

c)  Basofil, mencapai kurang dari 1% dari jumlah leukosit. Basofil memiliki granula sitoplasma besar yang bentuknya tidak beraturan dan berwarna keunguan dan bersifat basa. Basofil berperan membunuh sel asing yang masuk ke dalam tubuh. Basofil dapat melepaskan histamin yang menyebabkan reaksi inflamasi.





2)  Agranulosit
Agranulosit merupakan leukosit yang tidak bergranula. Agranulosit terdiri atas limfosit dan monosit.
a)  Limfosit
Limfosit mencapai 30% dalam jumlah leukosit. Limfosit mengandung nukleus bulat berwarna biru gelap. Limfosit tidak dapat bergerak dan berinti satu. Limfosit berfungsi untuk membentuk antibodi.


Limfosit dibedakan menjadi 2, yaitu limfosit B dan limfosit T.

b)  Monosit
Monosit mencapai 3-8% dari jumlah leukosit. Nukleusnya besar berbentuk seperti telur/ginjal yang dikelilingi sitoplasma berwarna biru keabuan pucat. Monosit diproduksi pada jaringan limfe (getah bening) dan bersifat fagosit. Monosit akan berkembang menjadi makrofag.









Sel-sel Sistem Imun Non-spesifik
Sel-sel yang berperan dalam sistem imun non-spesifik adalah sel fagosit, sel nol, dan sel mediator.

1.    Sel Fagosit
Sel fagosit akan menghancurkan antigen yang dengan cara menelannya (fagositosis). Ada 2 macam sel fagosit, yaitu fagosit mononuclear dan fagosit polimorfonuklear. Fagosit mononuclear terdiri dari sel monosit dan sel makrofag, sedangkan fagosit polimorfonuclear terdiri dari neutrofil dan eusinofil.
a.    Sel Monosit/Sel Makrofag
Sel monosit dalam sel darah putih berkisar 5 %. Monosit bersirkulasi dalam darah hanya selama beberapa jam, kemudian bermigrasi ke dalam jaringan, dan berkembang menjadi makrofag (macrophage). Makrofag yang merupakan sel-sel fagositik terbesar, adalah fagosit yang sangat efektif dan berumur panjang. Sel makrofag dapat keluar dari dalam peredaran darah untuk masuk ke dalam jaringan tubuh. Kemampuan ini disebut diapedesis, dan berguna untuk melacak/mencari lokasi dimana antigen atau kuman berada. Sel-sel ini menjulurkan kaki semu (psedopodia) yang panjang yang dapat menempel ke polisakarida pada permukaan mikroba dan menelan mikroba itu, sebelum kemudian dirusak oleh enzim-enzim di dalam lisosom makrofag itu. Makrofag juga beraksi sebagai pemakan, membersihkan tubuh dari sel mati dan debris lainnya, dan sebagai sel penghadir antigen yang mengaktivasi sistem imun adaptif.
b.    Sel Neutrofil
Neutrofil dapat ditemukan di sistem kardiovaskular dan merupakan tipe fagosit yang paling berlebih, normalnya sebanyak 60%-70% jumlah peredaran leukosit. Di dalam neutrofil terdapat enzim lisozim dan laktoferin untuk menghancurkan bakteri atau benda asing lainnya yang telah difagositosis. Setelah memfagositosis 5-20 bakteri, neutrofil mati dengan melepaskan zat-zat limfokin yang mengaktifasi makrofag. Biasanya, neutrofil hanya berada dalam sirkulasi kurang dari 48 jam karena neutrofil cenderung merusak diri sendiri ketika mereka merusak penyerang asing. Sel darah putih jenis neutrofil, acidofil dan makrofag keluar dari pembuluh darah akibat gerak yang dipicu oleh senyawa kimia (kemokinesis dan kemotaksis). Masa hidup neutrofil rata-rata hanya beberapa hari.
c.    Sel Eosinofil
Sama seperti sel fagosit lainnya, sel eosinofil berasal dari sel bakal myeloid. Ukuran sel ini sedikit lebih besar daripada neutrofil dan berfungsi juga sebagai fagosit. Eosinofil berjumlah 2-5% dari sel darah putih. Peningkatan eosinofil di sirkulasi darah dikaitkan dengan keadaan-keadaan alergi dan infeksi parasit internal (contoh, cacing darah atau Schistosoma mansoni). Walaupun kebanyakan parasit terlalu besar untuk dapat difagositosis oleh eosinofil atau oleh sel fagositik lain, namun eosinofil dapat melekatkan diri pada parasit melalui molekul permukaan khusus, dan melepaskan bahan-bahan yang dapat membunuh banyak parasit.

2.    Sel Mediator
Sel yang termasuk sel mediator adalah sel basofil, sel mast, dan trombosit. Sel tersebut disebut sebagai mediator dikarenakan melepaskan berbagai mediator yang berperan dalam sistem imun.

a.    Sel basofil dan sel mast
Sel basofil adalah jenis leukosit yang paling sedikit jumlahnya. Sel basofil secara struktural dan fungsional mirip dengan sel mast, yang tidak pernah beredar dalam darah tapi tersebar di jaringan ikat di seluruh tubuh. Awalnya sel basofil dianggap berubah menjadi sel mast dengan bermigrasi dari sistem sirkulasi, tapi para peneliti membuktikan bahwa basofil berasal dari sumsum tulang sedangkan sel mast berasal dari sel prekursor yang terletak di jaringan ikat. Ada dua macam sel mast yaitu sel mast jaringan dan sel mast mukosa. Yang pertama ditemukan di sekitar pembuluh darah dan mengandung sejumlah heparin dan histamin. Sel mast yang kedua ditemukan di saluran cerna dan napas. Baik sel basofil maupun sel mast memiliki reseptor untuk IgE dan karenanya dapat diaktifkan oleh alergen spesifik yang berkaitan dengan antibodi IgE. Selain itu keduanya pun dapat membentuk dan menyimpan heparin dan histamin.





b.    Trombosit
Trombosit adalah fragmen sel tanpa nukleus yang berasal dari megakariosit raksasa multinukleus dalam sumsum tulang. Selain berperan dalam proses pembekuan darah, trombosit juga berfungsi untuk memperkuat daya tahan tubuh. Pada saat terjadi luka, maka trombosit berkumpul pada luka dan membeku sehingga tertutup lukanya. Kemudian, trombosit tersebut mengarahkan bakteri ke limpa. Selanjutnya, bakteri tersebut dikepung oleh sel-sel dendritik yang berfungsi sebagai sel daya tahan tubuh. Maka respon daya tahan tubuh itulah yang menghabisi bakteri.



Respon Imun Non-spesifik
Dikatakan respon imun non-spesifik dikarenakan respon imun yang timbul terjadi pada jaringan tubuh yang rusak/luka bukan terhadap penyebab kerusakan itu sendiri. Respon imun non-spesifik berupa inflamasi dan fagositosis.
1.    Inflamasi
Pembengkakan jaringan (inflamasi) merupakan reaksi cepat terhadap kerusakan jaringan. Inflamasi sangat berguna bagi pertahanan tubuh, sebab reaksi tersebut dapat mencegah penyebaran infeksi ke jaringan lain dan mempercepat proses penyembuhan. Reaksi tersebut juga membantu memberikan informasi pada komponen sistem imun lain adanya infeksi. Baik dalam respon terhadap luka, gigitan serangga atau cedera akibat pukulan keras.Terjadinya inflamasi ditandai dengan:
§  Timbulnya warna kemerahan
§  Timbulnya rasa panas
§  Terjadinya pembengkakan
§  Timbulnya rasa sakit/nyeri







2.   Fagositosis
Fagositosis yaitu proses menelan atau memakan mikroorganisme dan sisa-sisa sel mati. Fagositosis dilakukan oleh leukosit jenis neutrofil dan monosit.








2.      Kekebalan Didapat/ Adaptif (imunitas spesifik)
Merupakan kekebalan spesifik yang sangat kuat terhadap tiap-tiap agen penginvasi seperti bakteri yang mematikan, virus, toksin,dan organisme asing. Imunitas spesifik terjadi jika imunitas non spesifik  gagal menghalau infeksi karena benda asing yang masuk memiliki struktur yang sama sekali baru bagi tubuh, terjadi sekitar 1 hingga 5 hari setelah infeksi. Kekebalan didapat sengaja dibuat melaui pemberian vaksin.
Ciri-ciri sistem kekebalan didapat, yaitu:
·         Selektif, artinya semua  organisme asing yang masuk ke dalam tubuh akan diserang atau dihancurkan dengan diseleksi.
·         Memiliki kemapuan untuk mengingat infeksi yang terjadi sebelumnya.
·         Tidak memiliki reaksi yang sama terhadap semua jenis organisme asing yang masuk ke dalam tubuh.
·         Melibatkan pembentukan antibodi.




Sel-sel Sistem Imun Spesifik
Sel-sel yang berperan dalam sistem imun spesifik adalah sel limfosit B dan sel limfosit T.
1.    Sel Limfosit B
Limfosit B berperan dalam repon imun spesifik yang diperantarai antibodi (imunitas humoral). Limfosit B mengalami pematangan dalam sumsum tulang selama beberapa bulan terakhir kehidupan fetus  dan beberapa bulan pertama setelah kelahiran. Sel B berdiferensiasi menjadi sel plasma non-polriferasi yang menyintesis dan mensekresi antibodi. Limfosit B terdiri atas:

o  Limfosit B plasma, mensekresikan antibodi ke sirkulasi tubuh. Setiap antibodi bersifat spesifik terhadap satu jenis antigen. Masa hidup selama 4-5 hari. Limfosit B plasma berfungsi untuk memproduksi antibodi.

o  Limfosit B pembelah, berfungsi untuk menghasilkan limfosit B dalam jumlah banyak dan cepat.

o  Limfosit B memori, masa hidup lama dalam darah. Limfosit B memori berfungsi menyimpan atau mengingat antigen yang pernah masuk ke dalam tubuh.

2.    Sel Limfosit T
Limfosit T berperan dalam respon imun spesifik yang diperantarai sel (imunitas selular). Limfosit T mengalami pematangan dalam Timus yang timbul sebelum kelahiran bayi dan selama beberapa bulan setelah lahir. Sel T memproduksi zat aktif secara imunologis yang disebut limfokin. Limfosit T terdiri atas:

§  Sel T pembunuh (killer T cell), disebut juga dengan sel T sitotoksit, menyerang sel tubuh yang terinfeksi dan pathogen secara langsung. Sel T killer akan membentuk pori pada sitoplasma sel pathogen sehingaa sel pathogen kehilangan sitoplasma dan kemudian mati. Sel T pembunuh hanya mengenali antigen yang dirangkaikan pada molekul kelas I MHC.

§  Sel T pembantu (helper T cell), sel limfosit T pembantu (CD4) berfungsi sebagai menstimulasi sel B untuk membelah dan memproduksi antibodi serta mengaktifkan dua jenis sel T yang lain dan mengaktifkan makrofag untuk segera memfagosit pathogen. Sel T pembantu hanya mengenali antigen yang dirangkaikan pada molekul kelas II MHC.

§  Sel T supresor (suppressor T cell), sel limfosit T supresor (CD8) berfungsi menurunkan dan menghentikan respon imun ketika mekanisme imun tidak diperlukan lagi. Mekanime ini sangat penting, karena jika tidak, produksi antibodi dan pembelahan sel B dan sel T terus menerus akan merusak jaringan tubuh yang normal.


Respon Imun Spesifik
Dikatakan respon imun spesifik dikarenakan respon imun yang terjadi akan melindungi tubuh dari serangan pathogen dan memastikan pathogen tersebut tidak berbalik melawan jaringan tubuh itu sendiri. Respon imun spesifik dibedakan mejadi dua, yaitu:

1.    Kekebalan Humoral
Respon imun ini melibatkan suatu senyawa kimia yang disebut sebagai antibodi. Antibodi dihasilkan oleh sel limfosit B yang akan aktif jika mengenali antigen yang terdapat pada permukaan sel pathogen. Antibodi akan menyerang pathogen sebelum pathogen tersebut menyerang sel-sel tubuh. Limfosit B akan melalui 2 proses, yaitu:
v  Respons imun primer
Respons imun primer adalah respon imun yang terjadi pada proses yang pertama kalinya dengan antibodi. Antibodi yang terbentuk pada respons imun ini kebanyakan adalah IgM dengan titer yang lebih rendah dibanding dengan respons imun sekunder. Waktu antara antigen masuk sampai timbul antibodi (fase lag) lebih lama atau lambat bila dibandingkan dengan respons imun sekunder.

v  Respons imun sekunder
Pada respons imun ini, antibodi yang dibentuk terutama adalah IgG, dengan titer dan afinitas lebih tinggi, serta fase lag lebih pendek atau lebih cepat dan kuat dibanding respons imun primer.

2.    Kekebalan Selular
Respon imun ini melibatkan sel-sel yang menyerang langsung organisme asing. Sel yang dimaksud adalah Limfosit T. Hampir sama dengan mekanisme respon imun dengan antibodi, sel limfosit T juga akan bereaksi dengan antigen yang spesifik.








  IV.        Komponen Respons Imun
Komponen respons imun terdiri dari antigen dan antibodi.
1.    Antigen
Antigen merupakan suatu zat berupa organisme atau benda asing yang masuk ke dalam tubuh dan dapat merangsang terbentuknya antibodi. Antigen biasanya berupa zat dengan berat molekul besar dan juga kompleks zat kimia seperti protein dan polisakarida.

2.    Antibodi
Antibodi adalah suatu protein dapat larut yang dihasilkan sistem imun sebagai respons terhadap keberadaan antigen dan akan bereaksi khususnya dengan antigen tersebut. Antibodi adalah gamma globulin yang disebut Imunoglobulin (Ig), dan berat molekulnya antara 150.000 dan 900.000. Imunoglobulin biasanya merupakan sekitar 20% dari seluruh protein plasma.
Imunoglobulin terdiri dari gabungan dua rantai polipeptida ringan dan dua rantai polipeptida berat. Struktur gabungan kedua rantai tersebut dihubungkan dengan ikatan disulfida untuk membentuk huruf Y. Antibodi tersusun atas dua tipe rantai polipeptida yaitu rantai ringan (light chain) dan rantai berat (heavy chain). Di tengah-tengah ikatan rantai tersebut terdapat daerah Hinge (Hinge Region) yang memungkinkan rantai-rantai polipeptida untuk bergerak. Setiap lengan dari antibodi memiliki daerah pengikat antigen (antigen-binding site). Masing-masing antibodi memiliki daerah variabel (variable region) yang dapat mengenali antigen khusus dan daerah konstan (constant region) yang mengontrol bagaimana molekulnya berinteraksi dengan bagian lain dari sistem kekebalan tubuh.



Antibodi dapat bekerja melalui 2 macam cara untuk melindungi tubuh terhadap agen penyebab penyakit:
o  Langsung menyerang antigen.
o  Pengaktifan sistem komplemen yang kemudian menghancurkan antigen.
Antibodi langsung menyerang antigen (interaksi antibodi-antigen), yaitu:
a.   Netralisasi, netralisasi atau penetralan racun merupakan cara yang digunakan antibodi untuk menonaktifkan antigen dengan cara memblok bagian tertentu antigen. Antibodi juga menetralisasi virus dengan cara mengikat bagian tertentu virus pada sel inang. Netralisasi terjadi saat antibodi menutup sisi toksik antigen dan menjadikannya tidak berbahaya.

b.   Aglutinasi, aglutinasi atau penggumpalan merupakan proses penggumpalan partikel-partikel antigen dapat dilakukan karena struktur antibodi yang memungkinkan untuk melakukan pengikatan lebih dari satu antigen. Molekul antibodi memiliki sedikitnya dua tempat pengikatan antigen yang dapat bergabung dengan antigen- antigen yang berdekatan. Gumpalan atau kumpulan bakteri akan memudahkan sel fagositik (makrofag) untuk menangkap dan memakan bakteri secara cepat. Aglutinasi terjadi jika antigen adalah materi partikulat, seperti bakteri atau sel-sel merah.

c.   Presipitasi, presipitasi atau pengendapan merupakan pengikatan silang molekul-molekul antigen yang terlarut dalam cairan tubuh. pengikatan antigen-antigen tersebut membuatnya dapat diendapkan. Setelah diendapkan, antigen tersebut dikeluarkan dan dibuang melalui fagositosis.

d.   Fiksasi komplemen (aktivasi), terjadi jika bagian molekul antibodi mengikat komplemen. Komplemen ini terdiri dari sekitar 20 protein serum yang berbeda, yang tanpa adanya infeksi berada dalam keadaan inaktif. Antibodi akan bekerja sama dengan protein komplemen untuk melakukan penyerangan terhadap sel asing. Pengaktifan protein komplemen akan menyebabkan terjadinya luka pada membran sel asing dan dapat terjadi lisis. Efek yang paling penting dalam fiksasi komplemen yaitu opsonisasi, sitolisis dan inflamasi.







Pengaktifan sistem komplemen dapat melalui dua jalur, yaitu:
a.   Jalur klasik, untuk aktivasi komplemen memerlukan reaksi antibodi-antigen sebagai pemicunya.
b.   Jalur alternatif, suatu bentuk tahanan nonspesifik, dipicu oleh bakteri atau produknya tanpa memerlukan reaksi antibodi-antigen.

Jenis-jenis Antibodi
Ada lima kelas imunoglobulin, yaitu:
a.    Imunoglobulin M (IgM)
Antibodi ini terdapat pada pembuluh darah, getah bening, dan pada permukaan sel-sel B. Pada saat antigen masuk ke dalam tubuh, Immunoglobulin M (IgM) merupakan antibodi pertama yang dihasilkan tubuh untuk melawan antigen tersebut. IgM terbentuk segera setelah terjadi infeksi dan menetap selama 1-3 bulan, kemudian menghilang. Nama M berasal dari makroglobulin yang merupakan imunologi terbesar. IgM berfungsi mengaktivasi komplemen dan fagositosis..


b.    Imunoglobulin G (IgG)
IgG mencapai 80-85% dari keseluruhan antibodi yang bersirkulasi dan merupakan satu-satunya antibodi yang dapat menembus plasenta dan memberikan imunitas pada bayi baru lahir. IgG terbentuk 2-3 bulan setelah infeksi, kemudian kadarnya meninggi dalam satu bulan, menurun perlahan-lahan dan terdapat selama bertahun-tahun dengan kadar yang rendah. IgG beredar dalam tubuh dan banyak terdapat pada darah, sistem getah bening, dan usus. IgG berfungsi sebagai pelindung terhadap mikroorganisme dan toksin yang bersirkulasi, mengaktivasi sistem komplemen dan meningkatkan keefektifan sel fagositik.

c.    Imunoglobulin E (IgE)
IgE biasanya ditemukan dalam konsentrasi darah yang sangat rendah. Immunglobulin E atau IgE merupakan antibodi yang beredar dalam aliran darah. Kadarnya meningkat selama reaksi alergi dan pada penyakit parasitik tertentu.

d.    Imunoglobulin A (IgA)
Immunoglobulin A atau IgA mencapai 15% dari semua antibodi dalam serum darah dan ditemukan dalam sekresi tubuh seperti keringat, saliva, air mata, pernapasan, sekresi usus, serta air susu ibu. Antibodi ini melindungi janin dalam kandungan dari berbagai penyakit. IgA yang terdapat dalam ASI akan melindungi sistem pencernaan bayi terhadap mikroba karena tidak terdapat dalam tubuh bayi yang baru lahir. Ig A dalam serum maupun dalam sekresi dapat menetralisir toksin dan virus, serta mencegah kontak antara toksin dan virus dengan sel alat sasaran.

e.    Imunoglobulin D (IgD)
Immunoglobulin D atau IgD dalam serum darah dan limfe relatif sedikit, tetapi banyak ditemukan dalam limfosit B. IgD ini bertindak dengan menempelkan dirinya pada permukaan sel-sel T, mereka membantu sel-sel T menangkap antigen.




   V.        Imunitas
Ditinjau dari cara memperolehnya, imunitas dibagi menjadi:
1)    Imunitas Aktif
Imunitas aktif adalah kekebalan tubuh yang didapat seseorang karena tubuh secara aktif membentuk antibodi sendiri. Terdapat dua imunitas aktif, yaitu:


·         Imunitas aktif alami
Adalah kekebalan tubuh yang didapat secara otomatis setelah sembuh dari suatu penyakit. Imunitas ini dapat bersifat seumur hidup (campak, cacar) atau sementara (pneumonia, gonore).
·         Imunitas aktif buatan
Adalah kekebalan tubuh yang didapat dari vaksinasi yang diberikan untuk mendapatkan perlindungan dari suatu penyakit.vaksin dibuat dari patogen yang mati atau dilemahkan atau toksin yang telah diubah.

2)    Imunitas Pasif
Imunitas pasif adalah kekebalan tubuh yang bisa didapat seseorang yang zat kekebalan tubuhnya didapatkan dari luar. Terdapat dua imunitas pasif, yaitu:
·         Imunitas pasif alami
Adalah kekebalan tubuh yang didapat seseorang karena diturunkan oleh ibu kandung ketika berada dalam kandungan.
·         Imunitas pasif buatan
Adalah kekebalan tubuh yang didapat melalui injeksi antibodi yang diproduksi oleh orang atau hewan yang kebal karena pernah terpapar suatu antigen.





  VI.        Kelainan dan Penyakit pada Sistem Kekebalan Tubuh
1.    Alergi
Merupakan suatu reaksi abnormal yang terjadi pada seseorang. Ummunya alergi bersifat khusus dan hanya muncul jika penderita melakukan kontak dengan penyebab alergi. Alergi dapat diturunkan dari orang tua atau keluarga dekat. Alergi dapat terjadi secara tiba-tiba dan bersifat fatal terhadap penderita. Seseorang yang alergi akan mengalami gangguan emosi, konsentrasi, dll. Alergi terjadi karena penderita sangat sensitiv terhadap allergen.

2.    AIDS
AIDS merupakan suatu sindrom atau penyakit yang disebabkan oleh virus HIV (Human Immunodeficiency Virus). Pada tubuh manusia, virus HIV hanya menyerang sel yang memiliki protein tertentu. Protein itu ialah yang terdapat pada sel darah putih (leukosit) T4, yaitu leukosit yang berperan menjaga sistem kekebalan tubuh. Apabila virus HIV menginfeksi tubuh, manusia akan mengalami penurunan sistem kekebalan tubuh. Akibatnya, para penderita HIV-AIDS akan mudah terinfeksi berbagai jenis penyakit. Penderita HIV positif umumnya masih dapat hidup normal dan tampak sehat, tetapi dapat menularkan dapat menularkan virus HIV. Penderita AIDS adalah penderita HIV positif yang telah menunjukan gejala penyakit AIDS.

3.    Automunitas
Merupakan kegagalan daya diskriminasi endogen pada sistem kekebalan tubuh sendiri dianggap sebagai zat/ benda asing dan terhadapnya dibentuk zat antibodi.





  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Poskan Komentar