RSS

Sistem Urogenitalia

ANATOMI FISIOLOGI
SISTEM UROGENITALIA


disusun oleh :
KELOMPOK I / D-III / I-A
Camellia (P2.31.31.0.15.011)
Diana Kusuma Wardhani Putri (P2.31.31.0.15.014)
Ikrimah Hasbani (P2.31.31.0.15.026)

DOSEN PEMBIMBING : dr. Maria Poppy Herlianty, M.Epid


JURUSAN GIZI
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES JAKARTA II
Jl. Hang Jebat III/F3, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan








KATA PENGANTAR



Alhamdullilahi Rabbil Alamin. Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT. atas segala rahmat dan karunia-Nya sehingga saya dapat menyelesaikan makalah Urogenitalia.
Dalam penyusunan makalah ini, tidak sedikit hambatan yang kami hadapi. kami menyadari bahwa penulisan makalah ini tidak luput dari kekurangan. Oleh karena itu, penyusun dengan sepenuh hati mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari berbagai pihak demi penyempurnaan penulisan ini.
Pada kesempatan ini pula, saya mengucapan terimakasih kepada semua pihak yang terlibat secara langsung maupun tidak langsung, yaitu kepada :
1.      dr. Maria Poppy Herlianty, M.Epid, dosen mata kuliah Anatomi Fisiologi yang telah memberikan tugas, petunjuk, kepada penyusun sehingga penyusun termotivasi dalam menyelesaikan makalah ini.
2.      Orang tua yang telah turut membantu, membimbing, dan mengatasi berbagai kesulitan sehingga tugas ini selesai.
Akhir kata, tak banyak yang dapat kami ucapkan selain terimakasih, semoga segala amal usaha kita senantiasa mendapat ridho dari Allah swt. Amien.

Jakarta, 30 November 2015
                                                                              

Kelompok 1







DAFTAR ISI



KATA PENGANTAR ................................................................................ ii
DAFTAR ISI .............................................................................................. iii
BAB I PEMBUKAAN
1.      Latar Belakang ........................................................................................ 1
2.      Rumusan Masalah ................................................................................... 1
3.      Tujuam Penulisan .................................................................................... 1
BAB II PEMBAHASAN
A.    SISTEM URINARIA
1.      Pengertian ............................................................................................. 2
2.      Organ ................................................................................................... 2
a.      Ginjal .................................................................................................... 2
b.      Ureter ................................................................................................... 5
c.      Vesika Urinaria ..................................................................................... 7
d.      Uretra ................................................................................................... 8
3.      Urinaria ............................................................................................... 11
a.      Proses Pembentukan Urin .................................................................... 11
b.      Ciri-Ciri Urin Yang Normal ................................................................. 13
c.      Komposisi Urin Normal ....................................................................... 13
d.      Miktruisi .............................................................................................. 14
B.     SISTEM GENITALIA
1.      Pengertian ........................................................................................... 15
2.      Macam Sistem Reproduksi .................................................................. 15
a.      Sistem Reproduksi Pria ........................................................................ 15
b.      Sistem Reproduksi Wanita ................................................................... 18
C.    LAKTASI
1.      Anatomi Kelenjar Mamae .................................................................... 24
2.      Fisiologi Laktasi ................................................................................... 28
3.      Mekanisme Hisapan Bayi ..................................................................... 30
4.      Zat Penghambat ................................................................................... 31
5.      Hormon Yang Berperan Dalam Proses Laktasi ..................................... 32
6.      Faktor Penge;uaran ASI ...................................................................... 32
7.      Air Susu Ibu (ASI) .............................................................................. 32
8.      Komposisi ASI ................................................................................... 33
BAB III PENUTUPAN .......................................................................... 34
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................  35







BAB I
PENDAHULUAN



1.      LATAR BELAKANG
Dipandang dari sudut fisiologis, system urogenital dapat dibagi dalam 2 unsur yang sangat berbeda sifatnya : system urinarius dan system genitalia. Akan tetapi dipandang dari sudut embriologi dan anatomi, kedua system ini saling bertautan. Keduanya berasal dari rigi mesoderm yang sama disepanjang dinding belakang rongga perut, dan saluran pembuangan kedua system ini pada mulanya bermuara kerongga yang sama, yaitu kloaka.
Pada perkemmbangan selanjutnya, tumpang tindih kedua system ini terutama nyata sekali pada pria. Duktus ekstretorius primitive mula-mula berfungsi sebagai duktus urinarius, tetapi kemudian berubah menjadi duktus genitalis utama. Selain itu, pada orang dewasa, alat kemih maupun kelamin ini menyalurkan air kemih dan semen melalui sebuah saluran yang sama, uretra penis.


2.      RUMUSAN MASALAH
1.      Apa yang dimaksud dengan urogenitalia?
2.      Apa yang dimaksud dengan system urinaria, system genitalia, dan laktasi?
3.      Apa saja organ yang terkait beserta fungsinya?


3.      TUJUAN PENULISAN
1.      Mengetahui pengertian urogenitalia.
2.      Mengetahui pengertian system urinaria, system genitalia, san laktasi.
3.      Mengetahui jenis organ yang terkait beserta dengan fungsinya masing-masing.





BAB II
PEMBAHASAN



A.    SISTEM URINARIA
1.      PENGERTIAN
Sistem urinaria adalah suatu sistem tempat terjadinya proses penyaringan darah sehingga dara bebas dari zat-zat yang tidak dipergunakan oleh tubuh dan menyerap zat-zat yang masih dipergunakan oleh tubuh. Zat-zat yang dipergunakan oleh tubuh larutan dalam air dan dikeluarkan berupa urine (air kemih).

Sistem urinaria terdiri atas:
·         Ginjal, yang mengeluarkan sekret urine.
·         Ureter, yang menyalurkan urine dari ginjal ke kandung kemih.
·         Kandung kencing, yang bekerja sebagai penampung.
·         Uretra, yang menyalurkan urine dari kandung kemih.

2.      ORGAN
2.1.           Ginjal (ren)
2.1.1.     Pengertian
Ginjal adalah suatu kelenjar yang terletak di bagian belakang kavum abdominalis di belakang peritoneum pada kedua sisi vertebra lumbalis III, melekat langsung pada dinding belakang abdomen. Bentuk ginjal seperti biji kacang, jumlahnya ada dua buah kiri dan kanan, ginjal kiri lebih besar dari ginjal kanan dan pada umumnya ginjal laki-laki lebih panjang dari ginjal wanita.


2.1.2.     Struktur ginjal
Setiap ginjal terbungkus oleh selaput tipis yang disebut kapsula renalis yang terdiri dari jaringan fibrus berwarna ungu tua. Lapisan luar terdiri dari lapisan korteks (subtansia kortekalis), dan lapisan sebelah dalam bagian medulla (subtansia medularis) berbentuk kerucut yang disebut renal piramid. Puncak kerucut tadi menghadap kaliks yang terdiri dari lubang-lubang kecil disebut papilla renalis. Masing-masing piramid dilapisi oleh kolumna renalis, jumlah renalis 15-16 buah.
Garis-garis yang terlihat di piramid disebut tubulus nefron yang merupakan bagian terkecil dari ginjal yang terdiri dari glomerulus, tubulus proksimal (tubulus kontorti satu), ansa henle, tubulus distal (tubulus kontorti dua) dan tubulus urinarius (papilla vateri).
Pada setiap ginjal diperkirakan ada 1.000.000 nefron, selama 24 jam dapat menyaring 170 liter darah. Arteri renalis membawa darah murni dari aorta ke ginjal, lubang-lubang yang terdapat pada piramid renal masing-masing membentuk simpul dari kapiler satu badan malfigi yang disebut glomerulus. Pembuluh aferen yang bercabang membentuk kapiler menjadi vena renalis yang membawa darah dari ginjal ke vena kava inferior.



2.1.3.     Fungsi Utama Ginjal :
1.      Mengatur volume air (cairan dalam tubuh). Kelebihan air dalam tubuh akan diekskresikan oleh ginjal sebagai urine (kemih) yang encer dalam jumlah besar, kekurangan air (kelebihan keringat) menyebabkan urine yang diekskresi berkurang dan konsentrasinya lebih pekat sehingga susunan dan volume cairan tubuh dapat dipertahankan relatif normal.
2.      Mengatur keseimbangan osmitik dan mempertahankan keseimbangan ion yang optimal dalam plasma (keseimbangan elektrolit). Bila terjadi pemasukan/pengeluaran yang abnormal ion-ion akibat pemasukan garam yang berlebihan/penyakit perdarahan (diare, muntah) ginjal akan meningkatkan ekskresi ion-ion yang penting (mis. Na, K, Cl, Ca dan posfat).
3.      Mengatur keseimbangan asam-basa cairan tubuh bergantung pada apa yang dimakan, campuran makanan menghasilkan urine yang bersifat agak asam, pH kurang dari 6 ini disebabkan hasil akhir metabolism protein. Apabila banyak makan sayur-sayuran, urine akan bersifat basa. pH urine bervariasi antara 4,8-8,2. Ginjal menyekresi urine sesuai dengan perubahan pH darah.
4.      Ekskresi sisa hasil metabolisme (ureum, asam urat, kreatinin) zat-zat toksik, obat-obatan, hasil metabolism hemoglobin dan bahan kimia asing (pestisida).
5.      Fungsi hormonal dan metabolisme. Ginjal menyekresi hormon renin yang mempunyai peranan penting mengatur tekanan darah (sistem renin angiotensin aldesteron), membentuk eritripoiesis yang mempunyai peranan penting untuk memproses pembentukan sel darah merah (eritropoiesis), dan mensekresi prostaglandin yang penting bagi laki-laki.
6.      Membentuk hormone dihidroksi kolekalsiferol (vitamin D aktif) yang diperlukan untuk absorsi ion kalsium di usus.
2.1.4.     Uji Fungsi Ginjal
1.      Uji protein (albumin). Bila ada kerusakan pada glomerulus atau tubulus, maka protein dapat bocor dan masuk ke urine.
2.      Uji konsentrasi ureum darah. Bila ginjal tidak cukup mengeluarkan ureum maka ureum darah naik di atas kadar normal 20-40 mg%.
3.      Uji konsentrasi. Pada uji ini dilarang makan dan minum selama 12 jam untuk melihat sampai berapa tinggi berat jenis naiknya
2.1.5.     Peredaran Darah Ginjal
Ginjal mendapat darah dari aorta abdominalis yang mempunyai percabangan arteri renalis. Arteri ini berpasangan kiri dan kanan. Arteri renalis bercabang menjadi arteria interlobaris kemudian menjadi arteri arkuata. Arteri interloburalis yang berada di tepi ginjal bercabang menjadi kapiler membentuk gumpalan-gumpalan yang disebut glomerulus. Glomerulus ini dikelilingi oleh alat yang disebut simpai bowman. Di sini terjadi penyaringan pertama dan kapiler darah yang meninggalkan simpai bowman kemudian menjadi vena renalis masuk ke vena kava inferior.
2.1.6.     Persarafan ginjal
Ginjal mendapat persarafan dari pleksus renalis (vasomotor). Saraf ini berfungsi untuk mengatur jumlah darah yang masuk ke dalam ginjal, saraf ini berjalan bersamaan dengan pembuluh darah yang masuk ginjal. Di atas ginjal terdapat kelenjar suprarenalis, kelenjar ini merupakan kelenjar buntu yang menghasilkan dua macam hormon yaitu hormon adrenalin yang dihasilkan oleh medul dan hormon kortison. Adrenal dihasilkan oleh medulla.
2.2.           Ureter
2.2.1.     Deskripsi
Terdiri dari 2 saluran pipa, masing–masing bersambung dari ginjal ke kandung kemih (vesika urinaria), panjangnya ± 25-30 cm, dengan penampang ± 0,5 cm. Ureter  sebagian terletak dalam rongga abdomen dan sebagian terletak dalam rongga pelvis.
Lapisan dinding abdomen terdiri dari:
1.    Dinding luar jaringan ikat (jarinagn fibrosa)
2.    Lapisan tengah lapisan otot polos
3.    Lapisan sebelah dalam lapisan mukosa
 























Lapisan di dinding ureter menimbulkan gerakan-gerakan peristaltik tiap 5 menit sekali yang akan mendorong air kemih masuk ke dalam kandung kamih (vesika urinaria). Gerakan peristaltik mendorong urine melalui ureter yang diekskresikan oleh ginjal dan disemprotkan dalam bentuk pancaran, melalui osteum uretralis masuk ke dalam kandung kemih.
Ureter berjalan hampir vertikal ke bawah sepanjang fasia muskulus psoas dan dilapisi oleh peritoneum. Penyempitan ureter terjadi pada tempat ureter meninggalkan pelvis renalis, pembuluh darah, saraf dan pembuluh limfe berasal dari pembuluh sekitarnya mempunyai saraf sensorik.
Pars abdominalis ureter dalam kavum abdomen ureter terletak di belakang peritoneum sebelah media anterior m. psoas mayor dan ditutupi oleh fasia subserosa. Vasa spermatika/ovarika interna menyilang ureter secara oblique, selanjutnya ureter akan mencapai kavum pelvis dan menyilang arteri iliaka eksterna.
Ureter kanan terletak pada parscdesendens duodenum. Sewaktu turun ke bawah terdapat di kanan bawah dan disilang oleh kolon dekstra dan vosa iliaka iliokolika, dekat apertura pelvis akan dilewati oleh bagian bawah mesenterium dan bagian akhir ilium. Ureter kiri disilang oleh vasa koplika sinistra dekat apertura pelvis superior dan berjalan di belakang kolon sigmoid dan mesenterium.
Pars pelvis ureter berjalan pada bagian dinding lateral pada kavum pelvis sepanjang tepi anterior dari insura iskhiadikamayor dan tertutup olehperitoneum. Ureter dapt ditemukan di depan arteri            hipogastrikabagian dalam nervus obturatoris arteri vasialia anterior dan arteri hemoroidalis media. Pada bagian bawah insura iskhiadika mayor, ureter agak miring ke bagian medial untuk mencapai sudut lateral dari vesika urinaria
2.2.2.     Ureter Pria
Ureter pada pria terdapat di dalam visura seminalis atas dan disilang oleh duktus deferens dan dikelilingi oleh pleksus vesikalis. Selanjutnya ureter berjalan oblique sepanjang 2 cm di dalam dinding vesika urinaria pada sudut lateral dari trigonum vesika. Sewaktu menembus vesika urinaria, dinding atas dan dinding bawah ureter akan tertutup dan pada waktu vesika urinaria penuh akan membentuk katup (valvula) dan mencegah pengambilan urine dari vesika urinaria.
2.2.3.     Ureter Wanita
Ureter pada wanita terdapat di belakang fossa ovarika urinaria dan berjalan ke bagian medial dan ke depan bagian lateralis serviks uteri bagian atas, vagina untuk mencapai fundus vesika urinaria. Dalam perjalanannya, ureter didampingi oleh arteri uterina sepanjang 2,5 cm dan selanjutnya arteri ini menyilang ureter dan menuju ke atas di antara lapisan ligamentum. Ureter mempunyai 2 cm dari sisi serviks uteri. Ada tiga tempat yang penting dari ureter yang mudah terjadi penyumbatan yaitu pada sambungan ureter pelvis diameter 2 mm, penyilangan vosa iliaka diameter 4 mm dan pada saat masuk ke vesika urinaria yang berdiameter 1-5 cm.
2.2.4.     Pembuluh darah ureter
1.      Arteri renalis
2.      Arteri spermatika interna
3.      Arteri hipogastrika
4.      Arteri vesika inferior
2.2.5.     Persarafan ureter
Persarafan ureter merupakan cabang dari pleksus mesenterikus inferior, pleksus spermatikus, dan pleksu pelvis; seperti dari nervus; rantai eferens dan nervus vagusrantai eferen dari nervus torakalis ke-11 dan ke-12, nervus lumbalis ke-1, dan nervus vagus mempunyai rantai aferen untuk ureter.
2.3.           Vesika Urinaria
2.3.1.     Deskripsi
Vesika urinaria (kandung kemih), dapat mengembang dan mengempis seperti balon karet, terletak di belakang simfisis pubis di dalam rongga panggul. Bentuk kandung kemih seperti kerucut yang dikelilingi oleh otot yang kuat, berhubungan dengan ligamentum vesika umbilikalis medius.
Dinding vesika urinaria  terdiri dari lapisan sebelah luar (peritonium), tunika muskularis (lapisan otot), tunika submukosa, dan lapisan mukosa (lapisan bagian dalam). Pembuluh limfe vesika urinaria mengalirkan cairan limfe ke dalam nadi limfatik iliaka interna dan eksterna.

2.3.2.     Bagian Vesika Urinaria
1.      Fundus yaitu, bagian yang menghadap ke arah belakang dan bawah,bagian ini terpisah dari rektum oleh spatium rectovesikale yang terisi oleh jaringan ikat duktus deferen, vesika seminalis dan prostat.
2.      Korpus, yaitu bagian antara verteks dan fundus.
3.      Verteks, bagian yang mancung ke arah muka dan berhubungan dengan ligamentum vesika umbilikalis.
2.3.3.     Lapisan Otot Vesika Urinaria
Lapisan otot vesika urinaria terdiri dari otot polos yang tersusun dan saling berkaitan dan disebut m. detrusor vesikae. Peredaran darah vesika urinaria berasal dari arteri vesikalis superior dan inferior yang merupakan cabang dari arteri iliaka interna. Venanya membentuk pleksus venosus vesikalis yang berhubungan dengan pleksus prostatikus yang mengalirkan darah ke vena iliaka interna.
2.3.4.     Persarafan Vesika Urinaria
Persarafan vesika urinaria berasal dari pleksus hipogastrika inferior. Serabut ganglion simpatikus berasal dari ganglion lumbalis ke-1 dan ke-2 yang berjalan turun ke vesika urinaria melalui pleksus hipogastrikus. Serabut preganglion parasimpatis yang keluar dari nervus splenikus pelvis yang berasal dari nervus sakralis 2, 3 dan 4 berjalan melalui hipogastrikus inferior mencapai dinding vesika urinaria.
Sebagian besar serabut aferen sensoris yan g keluar dari vesika urinaria menuju sistem susunan saraf pusat melalui nervus splanikus pelvikus berjalan bersama saraf simpatis melalui pleksus hipogastrikus masuk kedalam segmen lumbal ke-1 dan ke-2 medula spinalis.
2.4.           Uretra
2.4.1.     Deskripsi
Uretara merupakan saluran sempit yang berpangkal pada kandung kemih yang berfungsi menyalurkan air kemih keluar


2.4.2.     Uretra Pria
Pada laki-laki uretra berjalan berkelok kelok melalaui tengah-tengah prostat kemudian menembus lapisan fibrosa yang menembus tulang fubis ke bagian penis panjangnya ± 20 cm. Uretra pada laki-laki terdiri dari:
1.      Uretra prostatika
2.      Uretra membranosa
3.      Uretra kevernosa

Lapisan uretra laki-lakin terdiri lapisan mukosa (lapisan paling dalam), dan lapisan submukosa.Uretra mulai dari orifisium uretra interna di dalam vesika urinaria sampai orifisium eksterna. Pada penis panjangnya 17,5-20 cm  yang terdiri dari bagian-bagian berikut:
1.      Uretra prostatika, merupakan saluran terlebar yang panjangnya 3 cm, berjalan hampir vertikulum melalui glandula prostat, mulai dari basis sampai ke apaks dan lebih dekat ke permukaan anterior.
2.      Uretra pars membranasea ini merupakan saluran yang paling pendek dan paling dangkal, berjalan mengarah ke bawah dan ke depan di antara apaks glandula prostata dan bulbus uretra. Pars membranesea menembus diagfragma urogenitalis, panjangnya kira-kira 2,5 cm, di belakang simfisis pubis diliputi oleh jaringan sfingter uretra membranasea. Di depan saluran ini terdapat vena dorsalis penis yang mencapai pelvis di antara ligamentum transversal pelvis dan ligamentum arquarta pubis.
3.      Uretra pars kavernosus merupakan saluran terpanjang dari uretra dan terdapat di dalam korpus kavernosus uretra, panjangnya kira-kira 15 cm, mulai dari pars membranasea sampai ke orifisium dari diafragma urogenitalis. Pars kavernosus uretra berjalan ke depan dan ke atas menuju bagian depan simfisis pubis. Pada keadaan penis berkontraksi, pars kavernosus akan membelok ke bawah dan ke depan. Pars kavernosus ini dangkal sesuai dengan korpus penis 6 mm dan berdilatasi ke belakang. Bagian depan berdilatasi di dalam glans penis yang akan membentuk fossa navikularis uretra
4.      Oriifisium uretra eksterna merupakan bagian erektor yang paling berkontraksi berupa sebuah celah vertikal ditutupi oleh kedua sisi bibir kecil dan panjangnya 6 mm. glandula uretralis yang akan bermuara ke dalam uretra dibagi dalam dua bagian, yaitu glandula dan lakuna. Glandula terdapat di bawah tunika mukosa di dalam korpus kavernosus uretra (glandula pars uretralis). Lakuna bagian dalam epitelium. Lakuna yang lebih besar dipermukaan atas di sebut lakuna magma orifisium dan lakuna ini menyebar ke depan sehingga dengan mudah menghalangi ujung kateter  yang dilalui sepanjang saluran
2.4.3.     Uretra Wanita
Uretra pada wanita terletak di belakang simfisis pubis berjalan miring sedikit ke arah atas, panjangnya ± 3-4 cm. Lapisan uretra wanita terdiri dari tunika muskularis (sebelah luar), lapiosan spongeosa merupakan pleksus dari vena-vena, dan lapisan mukosa (lapisan sebelah dalam). Muara uretra pada wanita terletak di sebelah atas vagina (antara klitoris dan vagina) dan uretra di sini hanya sebagai salura ekskresi. Apabila tidak berdilatasi diameternya 6 cm. uretra ini menembus fasia diagfragma urogenitalis dan orifisium eksterna langsung di depan permukaan vagina, 2,5 cm di belakang glans klitoris. Glandula uretra bermuara ke uretra, yang terbesar diantaranya adalah glandula pars uretralis (skene) yang bermuara kedalam orifisium uretra yang hanya berfungsi sebagai saluran ekskresi.

Diagfragma urogenitalis dan orifisium eksterna langsung di depan permukaan  vagian dan 2,5 cm di belakang glans klitoris. Uretra wanita jauh lebih pendek daripada pria dan terdiri lapisan otot polos yang diperkuat oleh sfingter otot rangka pada muaranya penonjolan berupa kelenjar dan jaringan ikat fibrosa longggar yang ditandai dengan banyak sinus venosus merip jaringan kavernosus.

3.      URINARIA
3.1.           Proses pembentukan urine

1.      Filtrasi (Penyaringan)

Filtrasi merupakan perpindahan cairan dari glomelurus menuju ke ruang kapsula bowmandengan menembus membran filtrasi. Membran filtrasi terdiri dari tiga lapisan, yaitu sel endotelium glomelurus, membran basiler, dan epitel kapsula bowman. Tahap ini adalah proses pertama dalam pembentukan urine.
Darah dari arteriol masuk ke dalam glomerulus dan kandungan air, glukosa, urea, garam, urea, asam amino, dll lolos ke penyaringan dan menuju ke tubulus.
Glomerulus adalah kapiler darah yang bergelung-gelung di dalam kapsula bowman. Ukuran saringan pada glomerulus membuat protein dan sel darah tidak bisa masuk ke tubulus. Pada glomerulus terdapat sel-sel endotelium yang berfungsi untuk memudahkan proses penyaringan.
Filtrasi menghasilkan urine primer/filtrat glomerulus yang masih mengandung zat-zat yang masih bermanfaat seperti glukosa, garam, dan asam amino. Urin primer mengandung zat yang hampir sama dengan cairan yang menembus kapiler menuju ke ruang antar sel. Dalam keadaan normal, urin primer tidak mengandung eritrosit, tetapi mengandung protein yang kadarnya kurang dari 0,03%. Kandungan elektrolit (senyawa yang larutannya merupakan pengantar listrik) dan kristaloid (kristal halus yang terbentuk dari protein) dari urin primer juga hampir sama dengan cairan jaringan. Kadar anion di dalam urin primer termasuk ion Cl- dan ion HCO3-, lebih tinggi 5% daripada kadar anion plasma, sedangkan kadar kationnya lebih rendah 5% daripada kation plasma. selain itu urin primer mengandung glukosa, garam-garam, natrium, kalium, dan asam amino.

2.      Reabsorpsi (Penyerapan Kembali)

Reabsorpsi terjadi di dalam tubulus kontortus proksimal dan dilakukan oleh sel-sel epitelium di tubulus tersebut. Fungsinya adalah untuk menyerap kembali zat-zat di urine primer yang masih bermanfaat bagi tubuh seperti glukosa, asam amino, ion-ion Na+, K+, Ca, 2+, Cl-, HCO3-, dan HbO42-. Air akan diserap kembali melalui proses osmosis di tubulus dan lengkung henle. Zat-zat yang masih berguna itu akan masuk ke pembuluh darah yang mengelilingi tubulus. Hasil dari reabsorpsi adalah urine sekunder/filtrat tubulus yang kadar ureanya lebih tinggi dari urine primer.
Urine sekunder masuk ke lengkung henle.Pada tahap ini terjadi osmosis air di lengkung henle desenden sehingga volume urin sekunder berkurang dan menjadi pekat. Ketika urine sekunder mencapai lengkung henle asenden, garam Na+ dipompa keluar dari tubulus, sehingga urea menjadi lebih pekat.

3.      Augmentasi (Pengumpulan)

Setelah melewati lengkung henle, urine sekunder akan memasuki tahap augmentasi yang terjadi di tubulus kontortus distal. Disini akan terjadi pengeluaran zat sisa oleh darah seperti H+, K+, NH3, dan kreatinin. Ion H+ dikeluarkan untuk menjaga pH darah. Proses augmentasi menghasilkan urine sesungguhnya yang sedikit mengandung air.
Urine sesungguhnya mengandung urea, asam urine, amonia, sisa-sisa pembongkaran protein, dan zat-zat yang berlebihan dalam darah seperti vitamin, obat-obatan, hormon, serta garam mineral.
Kemudian urine sesungguhnya akan menuju tubulus kolektivus untuk dibawa menuju pelvis yang kemudian menuju kandung kemih (vesika urinaria) melalui ureter. Urine inilah yang akan keluar menuju tubuh melalui uretra.




3.2.           Ciri-Ciri Urin Yang Normal
Jumlahnya rata-rata 1-2 liter sehari, tetapi beda-beda sesaui jumlah cairan yang dimasukan. Banyaknya bertambah pula bila terlampau banyak protain dimakan, sehingga tersedia cukup cairan yang diperlukan untuk melarutkan ureanya.
·      Warnanya bening oranye pucat tanpa endapan, tetapi adakalanya jenjot lendir tipis tanpak terapung di dalamnya.
·      Baunya tajam.
·      Reaksinya sedikit asam terhadap lakmus dengan pH rata-rata 6.
·      Berat jenis berkisat dari 1010 sampai 1025.
3.3.           Kompisisi Urin Normal
Urine terutama terdiri atas air, urea, dan natrium klorida. Pada seseorang yang menggunakan diet yang rata-rata berisi 80 sampai 100 gram protein dalam 24 jam, jumlah persen air dan benda padat dalam urine adalah seperti berikut:
·        Air                     96%
·        Benda padat      4% (terdiri atas urea 2% dan produk metabolik lain 2%)
Ureum adalah hasil akhir metabolisme protein. Berasal dari asam amino yang telah dipindah amonianya di dalam hati dan mencapai ginjal, dan diekskresikan rata-rata 30 gram sehari. Kadar ureum darah yang normal adalah 30 mg setiap 100 ccm darah, tetapi hal ini tergantung dari jumlah normal protein yang dimakan dan fungsi hati dalam pembentukan ureum.
Asam urat. Kadar normal asam urat di dalam darah adalah 2 sampai 3 mg setiap 100 cm, sedangkan 1,5 sampai 2 mg setiap hari diekskresikan ke dalam urine.
Kreatinin adalah produk sisa dari perombakan kreatin fosfat yang terjadi di otot.. Produk metabolisme lain mencangkup benda-benda purin, oksalat, fosfat, sulfat, dan urat. Kreatinin ini termasuk zat racun dalam darah, terdapat pada seseorang yang ginjalnya sudah tidak berfungsi dengan normal.
1.      Kadar kreatinin pada pria max 1.6 jika sudah melebihi 1.7 harus hati-hati, karena bisa saja dilakukan cuci darah. Kreatinin adalah hasil katabolisme kreatin. Koefisien kreatinin adalah jumlah mg kreatinin yang diekskresikan dalam 24 jam/kg BB. Nilai normal pada laki-laki sekitar 20-26 mg/kg BB.
2.      Kadar kreatinin pada wanita sekitar 14 - 22 mg/kg BB. Ekskresi kreatinin meningkat pada penyakit otot. Kreatinin merupakan produk sampingan dari hasil pemecahan fosfokreatin (kreatin) di otot yang dibuang melalui ginjal. Pada pria normalnya 0.6 - 1.2 mg/dl. Diatas rentang itu salah satunya mengindikasikan adanya gangguan fungsi ginjal. Tetapi pada angka 1.3 mg/dl masih tergolong normal, tetap harus waspada.
·         Batas normal ureum adalah 20 - 40 mg/dl
·         Batas normal kreatinin adalah 0.5 - 1.5 mg/dl
Elektrolit atau garam, seperti natrium kalsium dan kalium klorida, diekskresikan untuk mengimbangi jumlah yang masuk melalui mulut.
3.4.           Mikturisi
Karena dibuat di dalam, urine mengalir melalaui ureter ke kandung kencing. Keinginan membuang air kecil disebabkan penambahan tekanan di dalam kandung kencing, dan tekanan ini di sebabkan isi urine di dalamnya. Hal ini terjadi bila tertimbun  170 sampai 230 ml. Mikturisi adalah gerak reflek yang dapat dikendalikan dan ditahan oleh pusat-pusat persarafan yang lebih tinggi pada manusia. Gerakannya ditimbulkan kontraksi otot abdominal yang menambah tekanan di dalam rongga abdomen, dan berbagai organ yang menekan kandung kencing membantu mengkosongkannya. Kandung kencing dikendalikan saraf pelvis dan serabut saraf simpatis dari pleksus hipogastrik.



B.     SISTEM REPRODUKSI
1.     PENGERTIAN
Reproduksi merupakan ciri utama makhluk hidup yang bertujuan untuk mempertahankan kelestarian jenisnya. Reproduksi pada manusia diawali oleh peleburan sel kelamin jantan (sperma) dengan sel kelamin betina (ovum) yang menghasilkan zigot. Berdasarkan kepemilikan alat kelaminnya, manusia dikelompokkan menjadi organisme yang bersifat gonochoris (satu individu memiliki satu alat kelamin).
2.     JENIS SISTEM REPRODUKSI
2.1.   Sistem Reproduksi Pria
2.1.1.           Organ Eksterna
1.      Penis
Merupakan organ untuk kopulasi. Terdiri dari 2 bagian, yaitu Corpus Cavernosum dan Corpus Spongiosum. Corpus Cavernosum penis terletak disebelah dorsal, dibungkus albugenia dengan tebal ± 0,5 mm, ketika ereksi tersusun oleh serabut kolagen sirkuler (sebelah dalam) dan longitudinale (luar). Corpus Spongiosum penis terletak disebelah ventral, dilapisi albugenia, cavernae lebih padat dan kecil-kecil, bagian tengah ditembus oleh urethra.

2.      Skrotum
Merupakan kantung yang berisi testis. Terdiri dari lapisan kulit luar yang tebal dengan sejumlah kelenjar lemak dan keringat. Berfungsi sebagai penyangga bagi testis dan regulasi temperature.
2.1.2.     Organ Interna
1.      Testis

   Merupakan organ primer untuk reproduksi pria. Mengalami penurunan dari daerah asalnya,  melalui kanalis inguinalis ke dalam skrotum. Fungsi dan struktur diatur oleh hormon gonadotropin. Tidak terdapat dalam tubuh. Alat ini tersusun atas kerangka bungkus dan struktur dalam.

2.      Epididymis
     Merupakan saluran transport sperma pertama yaitu caput, corpus dan cauda. Mempunyai 4 fungsi :
·        Transpor sperma
·        Konsentrasi sperma
·        Penyimpanan sperma
·        Maturasi/pematangan sperma (khususnya di daerah cauda)


3.      Saluran Keluar Testis
·        Vas deferens/duktus deferens
   Merupakan saluran panjang dan lurus yang mengarah keatas dan berujung di kelenjar prostat. Berfungsi sebagai saluran sperma dari epididimis menuju vesika seminalis.

·        Saluran ejakulasi / duktus ejaculatorius.
Merupakan saluran pendek yang menghubungkan vesika seminalis dengan uretra. Saluran ini mempunyai keistimewaan, yaitu mampu menyemprotkan sperma tinggi masuk ke uretra dan selanjutnya keluar.
·        Uretra
Terdapat di penis. Berfungsi sebagai saluran kelamin yang berasal dari vesika seminalis dan juga saluran untuk membuang urin dari vesika seminalis dari vesika urinaria
4.      Kelenjar aksesoris
·         Vesikula Seminalis
    Merupakan kelenjar berlekuk-lekuk yang jumlahnya sepasang. Terletak di belakang kantung kemih. Sekret vesikula seminalis mengandung protein, enzim, fruktosa, fosforilklon dan prostaglandin. Berfungsi sebagai penghasil zat makanan untuk sperma.
·         Glandula Prostata
    Berjumlah satu, terletak di atas uretra, bagian bawah kantung kemih. Prostat mengeluarkan secret cairan yang bercampur secret dari testis, perbesaran prostat akan membendung uretra dan menyebabkan retensi urin. Menghasilkan getah yang mengandung kolestrol, garam dan fosfolipid untuk kelangsungan hidup sperma.
·         Kelenjar Bulbouretral
     Merupakan sepasang kelenjarkecil yang terletak di sepanjang uretra, di bawah prostat yang panjangnya 2 – 5 cm. Menghasilkan getah yang sifatnya basa dan dialirkan ke uretra.
2.1.3.           Spermatogenesis
1.      spermatogonium diploid asli terletak pada tubulus seminiferus memiliki dua kali jumlah kromosom, yang mereplikasi secara mitosis saat interfase sebelum meiosis 1 untuk membentuk 46 pasang kromatid kakak.
2.      kromatid bertukar informasi genetik dengan proses sinapsis, sebelum membagi melalui meiosis menjadi spermatosit haploid.
3.      Di divisi meiosis kedua, dua sel anak baru lebih lanjut membagi diri menjadi empat spermatid, yang memiliki kromosom unik yang memiliki setengah jumlahnya dengan spermatogonium asli.
4.      Sel-sel ini sekarang bergerak melalui lumen testis ke epididimis, di mana mereka tumbuh menjadi empat sel sperma dengan menumbuhkan mikrotubulus pada sentriol, membentuk axoneme, yaitu, tubuh basal, dan beberapa sentriol memanjang untuk membentuk ekor sperma, difasilitasi oleh testosteron.
2.1.4.     Hormon Pada Pria
1.      Testosteron : disekresi oleh sel-sel Leydig yang terdapat diantara tubulus seminiferus. Hormon ini penting dalam pembelahan meiosis I
1.      LH (Luteinizing Hormon) : disekresi oleh hipofisis anterior. Hormon ini menstimulasi sel-sel leydig untuk memproduksi testosterone.
2.      Follicle Stimulating Hormon : disekresi oleh hipofisis anterior. Hormon ini mennstimulasi sel-sel sertoli untuk mengubah spermatid menjadi sperma (spermiasi)
2.2.     SISTEM REPRODUKSI WANITA
2.2.1.     Organ Eksterna

1.      Vulva
Vulva merupakan celah terluar dari organ kelamin wanita. Vulva terdiri dari :
·        Mons pubis dan mons veneris yang merupakan daerah terluar dari vulva yang banyak mengandung jaringan lemak.
·        Labium mayora dan labium minora, keduanya berfungsi melindungi vagina.
·        Saluran uretra
·        Saluran kelamin.
·         Klitoris yang merupakan gabungan organ erektil yang dapat disamakan dengan penis pada pria. Tersusun dari korpus carvenosa dan juga banyak pembuluh darah dan ujung-ujung saraf perasa.
2.2.2.     Organ Dalam

1.      Tuba Valopi
Adalah saluran telur yang berjumlah sepasang dengan panjang sekitar 10 cm. Bagian pangkal berbentuk corong disebut infundibulum dengan rumbai-rumbai untuk menangkap ovum yang dilepaskan ovarium. berfungsi berfungsi untuk menyalurkan ovum dari ovarium menuju uterus.
2.      Ovarium (IndungTelur)
Kelenjar kelamin wanita yang berfungsi menghasilkan ovum, hormon estrogen, dan hormon progesteron. Estrogen disekresi oleh folikel de Graaf dan dirangsang oleh FSH. Estrogen berfungsi untuk menimbulkan dan mempertahankan tanda-tanda kelamin sekunder pada wanita. Progesteron disekresi oleh Korpus Luteum dan dirangsang oleh LH. Progesteron berfungsi mempersiapkan dinding uterus agar dapat menerima ovum yang sudah dibuahi. Ovarium ada sepasang kiri dan kanan.
3.      Uterus (Rahim)
Uterus adalah rongga pertemuan dari oviduk kiri dan kanan, berbentuk buah pir dengan bagian bawah mengecil disebut serviks (leher rahim). Uterus berfungsi sebagai tempat perkembangan zygot jika terjadi fertilisasi. Dinding uterus terdiri dari beberapa lapisan jaringan otot polos dan endometrium yang mengandung banyak pembuluh darah dan menghasilkan lendir.
4.      Vagina
Vagina adalah saluran akhir dari saluran reproduksi bagian dalam wanita. Dinding vagina terdiri dari beberapa lapisan yaitu dari lapisan dalam berturut-turut adalah jaringan ikat berserat, jaringan otot dan lapisan terluar kelenjarBertholin. Jaringan berserat dan jaringan otot bersifat elastic untuk memberikan jalan bagi janin ketika melahirkan.
2.2.3.     Menstruasi
2.2.3.1.          Pengertian
      Pendarahan secara periodik dan siklik dari uterus yang disertai dengan pelepasan endometrium pada saat ovum tidak dibuahi. Siklus menstruasi dipengaruhi oleh pelepasan hormon-hormon yang berkaitan dengan adanya kerjasama hipotalamus dan ovarium
2.2.3.2.          Siklus Menstruasi
1.      Fase Menstruasi
Bila tidak terjadi fertilisasi, korpus luteum akan mengkerut menjadi korpus albicans sehingga produksi hormon estrogen dan progesterone terhenti. Hal tersebut menyebabkan peluruhan endometrium dan ovum, ditandai dengan pendarahan dari uterus.
2.      Fase Pra Ovulasi
Fase ini terjadi pada hari ke 5 s/d 15. Hormon yang berperan adalah gonadotrophin releasing hormone (GnRH) yang disekresikan oleh hipotalamus. GnRH akan merangsang hipofisis anterior untuk mensekresikan  yang akan merangsang pertumbuhan folikel pada ovarium. Pada fase ini hanya satu folikel yang tumbuh menjadi sebuah sel telur (ovum). Follikel akan mensekresi hormone esterogen.
3.      Fase Ovulasi
Fase ini terjadi pada hari ke-15. Meningkatnya kadar esterogen yang disekresi follikel pada fase pra ovulasi mengakibatkan kadar FSH turun sehingga menyebabkan hipotalamus mensekresi GnRH yang akan merangsang hipofisis anterior mensekresi LH  yang akan mendorong pemasakan folikel sehingga sel telur dibebaskan.
4.      Fase Pasca Ovulasi
Fase ini terjadi pada hari ke -15 hingga ke-28. Follikel yang telah melepaskan telur akan mengalami perubahan menjadi korpus luteum. Korpus luteum akan mensekresi hormone progesterone yang berfungsi memelihara endometerium.
2.2.4.     Fertilisasi
2.2.4.1.          Pengertian
Fertilisasi  atau pembuahan adalah peristiwa penyatuan sperma dengan ovum yang terjadi pada makhluk hidup. Pada manusia, sperma dihasilkan di testis sedangkan ovum dihasilkan di ovarium. Peristiwa fertilisasi pada manusia terjadi pada tuba falopi di tubuh wanita. Penyatuan ini akan menghasilkan zigot yang akan berkambang menjadi embrio manusia yang baru.
Dalam sekali ejakulasi (sperma keluar dari kelamin pria), terdapat berjuta-juta sperma yang semuanya saling berlomba untuk membuahi ovum. Sperma tersebut dapat bertahan hidup dalam tubuh wanita selama beberapa hari hingga mencapai ovum. Dari berjuta-juta sperma yang dikeluarkan pria, normalnya hanya ada 1 sperma saja yang akan membuahi ovum. Setelah 1 sperma berhasil membuahi ovum, akan terbentuk pelindung yang menghalangi sperma lain untuk melakukan pembuahan.

2.2.4.2.          Proses Fertilisasi
·      Sperma akan berjalan melalui lapisan sel folikel dan berikatan dengan reseptor pada zona pelusida ovum.
·      Pengikatan tersebut akan memicu terjadinya reaksi akrosomal dimana sperma membebaskan enzim-enzim hidrolitik pada akrosom menuju zona pelusida.
·      Enzim hidrolitik akan mencerna zona pelusida dan membuat lubang yang memungkinkan sperma dapat mencapai membran sel ovum. Protein khusus pada membran sel sperma akan berikatan dengan reseptor pada membran sel ovum sehingga kedua membran menyatu.
·      Setelah terjadi penyatuan membran sel, nukleus sel sperma dapat keluar dan menuju nukleus ovum untuk terjadinya penyatuan nukleus.
·      Setelah terjadin penyatuan antara membran sperma dan ovum, butiran kortikal pada ovum menyatu dengan membran ovum dan memebaskan enzim dan makromolekul lain yang akan mengeraskan zona pelusida untuk menghalangi sperma lain membuahi ovum.
·      Fertilisasi akan menghasilkan zigot yang akan mengalami pembelahan berulang-ulang dan tumbuh untuk membangun jaringan tubuh manusia. Seiring dengan pembelahannya, zigot tersebut akan berjalan dari tuba falopi menuju uterus untuk menempel dan berkembang pada uterus. 
2.2.5.     Gestasi (Kehamilan)
2.2.5.1.          Pengertain
Kehamilan manusia terjadi selama 40 minggu antara waktu menstruasi terakhir dan kelahiran (38 minggu dari pembuahan). Istilah medis untuk wanita hamil adalah gravida, sedangkan manusia di dalamnya disebut embrio (minggu-minggu awal) dan kemudian janin (sampai kelahiran). Seorang wanita yang hamil untuk pertama kalinya disebut primi gravida atau gravida 1. Seorang wanita yang belum pernah hamil dikenal sebagai gravida 0.


2.2.5.2.          Masa Kehamilan
1.      Trimester pertama (1-3 bulan)
Trimester pertama merupakan masa yang rawan, karena biasanya wanita tidak sadar pada awal masa kehamilan. Pada kehamilan bulan pertama janin berbentuk seperti udang dan terjadi pembentukan organ vital seperti jantung. Pada bulan kedua wajah bayi sudah terbentuk, ukuran kepala membesar, dan jantung sudah berdetak lembut. Pada bulan ketiga bentuk jantung, kaki, dan tangan sudah sempurna.
2.      Trimester kedua (4.6 bulan)
Pada bulan keempat bayi sudah mulai bergerak, karena hormon pada bayi yang bereaksi dengan situasi dalam kandungan sudah aktif. Pada bulan kelima ari-ari mulai terbentuk. Pada bulan keenam system pencernaan bayi sudah tumbuh sempurna dan bayi janin mulai bias mendengar.
3.      Trimester ketiga (7-9 bulan)
Pada bulan ketujuh system saraf pada janin sudah mulai bekerja serta perkembangan otak. Pada bulan kedelapan  janin dapat membuka dan menutup kelopak mata, tendangannya pun terasa semakin jelas. Pada bulan kesembilan paru-paru janin telah berkembang sepenuhnya, system kekebalan tubuh berfungsi, otaknya sudah mulai bekerja, dan memiliki reflek menghisap.



C.    LAKTASI
1.      ANATOMI KELENJAR MAMAE
1.1.           Pengertian
Payudara adalah pelengkap organ reproduksi pada wanita dan mengeluarkan air susu. Buah dada terletak dalam fasia superfisialis di daerah antara sternum dan aksila, melebar dari iga kedua sampai iga ke tujuh. Berat dan ukuran buah dada berlain-lainan, pada masa pubertas membesar kurang lebih dua ratus gram, dan bertambah besar selama hamil menjadi enam ratus gram dan sesudah melahirkan (saat menyusui) menjadi delapan ratus gram, dan menjadi atrofik pada usia lanjut.
1.2.           Bagian Utama Payudara
a.      Korpus (badan)
Korpus adalah bagian yang membesar. Terdiri dari jaringan kelenjar payudara, saluran susu (duktus laktiferus), jaringan ikat, lemak, pembuluh darah, saraf dan pembuluh limfe
·        Korpus alveolus, yaitu unit terkecil yang memproduksi susu. Bagian dari alveolus adalah sel aciner, jaringan lemak, sel plasma, sel otot polos dan pembuluh darah
·        Lobulus, yaitu kumpulan dari alveolus.
·        Lobus, yaitu beberapa lobulus yang berkumpul menjadi 15-20 lobus pada tiap payudara.
ASI disalurkan dari alveolus ke dalam saluran kecil (duktulus), kemudian beberapa duktulus bergabung   membentuk saluran yang lebih besar (duktus laktiferus)
b.      Areola
Areola adalah daerah berwarna coklat yang mengitari puting. Areola manusia hampir semuanya berbentuk lingkaran, namun banyak pria yang memiliki areola berbentuk elips. Diameter areola pria kebanyakan sekitar 2,5 cm, sedangkan wanita dewasa rata-rata 3 cm, wanita yang pernah melahirkan sekitar 10 cm. Sedangkan wanita yang sedang menyusui atau memiliki payudara yang lebih besar cenderung memiliki areola yang lebih besar.
·        Kelenjar montgemery yang menyediakan pelumas untuk menjaga kelembapan area disekitar putting saat dihisap bayi ataupun dipompa
·        Sinus laktiferus, yaitu saluran di bawah areola yang besar melebar, akhirnya memusat ke dalam puting dan bermuara ke luar. Di dalam dinding alveolus maupun saluran-saluran terdapat otot polos yang bila berkontraksi dapat memompa ASI keluar.
c.      Papilla atau puting
Papilla adalah bagian yang menojol yang dimasukan ke mulut bayi untuk aliran air susu. Mengandung ujung-ujung saraf perasa yang sensitif, dan otot polos yang akan berkontraksi bila ada rangsangan. Kulit puting susu berpigmen banyak dan tidak berambut. Papilla dermis mengandung banyak kelenjar sebasea. Ada empat macam bentuk puting, yaitu bentuk yang normal/umum, pendek/datar, panjang dan terbenam (inverted). Namun bentuk-bentuk putting ini tidak selalu berpengaruh pada proses laktasi, yang penting adalah bahwa putting susu dan areola dapat ditarik sehingga membentuk tonjolan atau “dot” ke dalam mulut bayi. Pada beberapa kasus dapat terjadi dimana putting tidak lentur, terutama pada bentuk puting terbenam, sehingga butuh penanganan khusus.
Kulit areola juga berpigmen banyak tetapi berbeda dengan kulit puting susu ia kadang-kadang mengandung folikel rambut. Kelenjar sebaseanya biasanya terlihat sebagai nodulus kecil pada permukaan areola dan disebut tuberkel montgomery. Pada papilla dan areola saraf peraba yang sangat penting untuk reflex menyusui. Bila putting diisap, terjadilah reflex yang sangat diperlukan dalam proses menyusui.
              
1.3.           Sumber Perdarahan Payudara
1.      Cabang-cabang perforantes a.mammaria interna. Cabang-cabang I, II, III, dan IV dari a. mammaria interna menembus dinding dada dekat pinggir sternum pada interkostal yang sesui, menembus m.pektoralis mayor dan memberi pendarahan tepi medial glandula mamma.
2.      Rami pektoralis a. thorako-akromialis Arteri ini berjalan turun diantara m. pektoralis minor dan m. pektoralis mayor. Pembuluh ini merupakan pembuluh utama m. pektoralis mayor, arteri ini akan mendarahi glandula mamma bagian dalam (deep surface).
3.      A. thorakalis lateralis (a. mammaria eksterna) Pembuluh darah ini jalan turun menyusuri tepi lateral m. pektoralis mayor untuk mendarahi bagian lateral payudara.
4.      A. thorako-dorsalis Pembuluh darah ini merupakan cabang dari a. subskapularis. Arteri ini mendarahi m. latissimus dorsi dan m. serratus magnus. walaupun arteri ini tidak memberikan pendarahan pada glandula mamma, tetapi sangat penting artinya. Karena pada tindakan radikal mastektomi, perdarahan yang terjadi akibat putusnya arteri ini sulit dikontrol, sehingga daerah ini dinamakan ”the bloody angel”.
5.      Vena
1.4.           Vena Pada Payudara
1.      Cabang-cabang perforantes v. mammaria interna Vena ini merupakan vena terbesar yang mengalirkan darah dari payudara. Vena ini bermuara pada v. mammaria interna yang kemudian bermuara pada v. innominata.
2.      Cabang-cabang v. aksillaris yang terdiri dari v. thorako-akromialis, v. thorakalis lateralis dan v. thorako-dorsalis.
3.      Vena-vena kecil yang bermuara pada v. interkostalis. Vena interkostalis bermuara pada v. vertebralis, kemudian bermuara pada v. azygos (melalui vena-vena ini metastase dapat langsung terjadi di paru)
1.5.           Sistem Limfatik Pada Payudara
Pembuluh getah bening aksilla
Pembuluh gatah bening aksilla ini mengalirkan getah bening dari daerah- daerah sekitar areola mamma, kuadran lateral bawah dan kuadran lateral atas payudara. Pembuluh getah bening mammaria interna: Saluran limfe ini mengalirkan getah bening dari bagian dalam dan medial payudara. Pembuluh ini berjalan di atas fasia pektoralis lalu menembus fasia tersebut dan masuk ke dalam m. pektoralis mayor. Lalu jalan ke medial bersama-sama dengan sistem perforantes menembus m. interkostalis dan bermuara ke dalam kelenjar getah bening mammaria interna. Dari kelenjar mammaria interna, getah bening mengalir melalui trunkus limfatikus mammaria interna. Sebagian akan bermuara pada v. kava, sebagian akan bermuara ke duktus thorasikus (untuk sisi kiri) dan duktus limfatikus dekstra (untuk sisi kanan). Pembuluh getah bening di daerah tepi medial kuadran medial bawah payudara. Pembuluh ini berjalan bersama-sama vasa epigastrika superior, menembus fasia rektus dan masuk ke dalam kelenjar getah bening preperikardial anterior yang terletak di tepi atas diafragma di atas ligamentum falsiform. Kelenjar grtah bening ini juga menampung getah bening dari diafragma, ligamentum falsiforme dan bagian antero-superior hepar. Dari kelenjar ini, limfe mengalir melalui trunkus limfatikus mammaria interna.
2.      FISIOLOGI LAKTASI
2.1.           Pengertian
Laktasi atau menyusui mempunyai dua pengertian, yaitu produksi ASI (prolaktin) dan pengeluaran ASI (oksitosin). Pembentukan payudara dimulai sejak embrio berusia 18-19 minggu, dan berakhir ketika mulai menstruasi. Selama kehamilan hormon prolaktin dari plasenta meningkat tetapi ASI belum keluar karena pengaruh hormon estrogen yang masih tinggi. Kadar estrogen dan progesteron akan menurun pada saat hari kedua atau ketiga pasca persalinan, sehingga terjadi sekresi ASI.
2.2.           Tahap Laktasi
a.       Sekresi air susu. Pada kehamilan minggu ke 16 mulai terjadi sekresi cairan bening dalam saluran kelenjar buah dada yang disebut kolostrum yang kaya protein. Setelah bayi lahir, pengeluaran kolostrum air susu dirangsang oleh hormone prolaktin.
b.      Pengeluaran air susu. Air susu mendapat rangsangan dari bayi supaya keluar secara normal bergantung pada isapan bayi, mekanisme dalam buah dada berkontraksi memeras air susu keluar dari alveoli masuk dalam saluran air susu.
2.3.           Faktor Pengaruh Hormon Pada Laktasi
1.      Produksi air susu (prolaktin). Dalam fisiologi laktasi, prolaktin merupakan hormone yang disekresi oleh glandula pituitaria anterior yang penting untuk memproduksi air susu ibu. Kadar hormone ini di dalam sirkulasi maternal meningkat selama kehamilan. Kerja hormone ini dihambat oleh plasenta, dengan lepasnya plasenta pada proses persalinan maka kadar estrogen dan progesterone berangsur-angsur turun sampai pada tingkat terendah dan diaktifkannya prolaktin.  Kadar normal hormon prolaktin di dalam darah sekitar 5-10 ng/mL.
2.      Pengeluaran air susu (oksitosin).
Dua factor yang terlibat dalam mengalirkan air susu dari sel-sel sekretorik ke papilla mamae :
·        Tekanan dari belakang. Tekanan globuli yang baru terbentuk didalam sel akan mendorong globuli tersebut ke dalam tubuli laktiferus dan isapan bayi akab memacu sekresi air susu lebih banyak
·        Reflex neurohormonal. Gerakan menghisap bayi akan menghasilkan rangsangan saraf yang terdapat di dalam glandula pituitary posterior. Akibat langsung dari reflex ini adalah dikeluarkannya oksitoksin dari pituitaria posterior, disekitar alveoli akan berkontraksi mendorong air susu masuk ke dalam vasa laktiver dengan demikian lebih banyak air susu mengalir ke dalam ampula. Sekresi oksitosin akan menyebabkan otot uterus berkontraksi dan membantu involusi (kemunduran) uterus selama puerperium (nifas).

2.4.           Reflex Pada Laktasi
1.      Refleks prolaktin
Seperti telah dijelaskan diatas, dalam putting susu banyak terdapat ujung saraf peraba. Bila ini dirangsang, maka akan timbul implus (aliran listrik) yang menuju hipotalamus selanjutnya kekelenjar hipofisis bagian depan sehingga kelenjar ini mengeluarkan hormon prolaktin. Hormon inilah yang memegang peran utama dalam produksi ASI di tingkat afeolus. Dengan demikian mudah dipahami bahwa makin sering rangsangan penyusuan makin banyak pula produksi ASI.
2.      Refleks Aliran (Let down reflex)
Rangsangan yang berasal dari putting susu, tidak hanya diteruskan sampai kekelenjar hipofisis depan, tetapi juga kekelenjar hipofisis bagian belakang. Akibatnya bagian ini mengeluarkan hormon oksitosin. Hormon ini berfungsi memacu kontraksi otot polos yang ada di dinding alveolus dan dinding saluran, sehingga asi di pompa keluar. Makin sering menyusui, pengkosongan alveolus dan saluran makin baik sehingga kemungkinan terjadinya bendungan susu makin kecil, dan menyusui makin lancar. Saluran asi yang mengalami bendungan tidak hanya mengganggu penyususan, tetapi juga mudah terkena infeksi.
Dengan keluarnya oksitosin, hormon ini akan memacu otot rahim sehingga involusi rahim makin cepat dan baik. Tidak jarang perut ibu merasa mulas pada hari pertama menyusu ini adalah mekanisme alamiah yang baik untuk kembalinya rahim ke bentuk semula.
3.      MEKANISME HISAPAN BAYI
1.      Refleksi mencari (Rooting reflex)
Payudara ibu yang menempel pada pipi atau derah sekeliling mulut merupakan rangsangan yang menimbulkan refleks mencari pada bayi. Ini menyebabkan kepala bayi berputar menuju puting susu yang menempel tadi diikuti dengan membuka mulut dan kemudian puting susu ditarik masuk ke dalam mulut.
2.      Refleks mengisap (Sucking reflex)
Teknik menyusui yang baik adalah apabila kalang payudara sedapat mungkin semuanya masuk ke dalam mulut bayi, tetapi hal ini tidak mungkin dilakukan pada ibu yang kalang payudaranya besar. Untuk itu maka sudah cukup bila rahang bayi supaya menekan sinus laktiferus yang terletak di puncak kalang payudara di belakang puting susu. Tidak dibenarkan bila rahang bayi hanya menekan puting susu saja, karena bayi hanya dapat mengisap susu sedikit dan pihak ibu akan timbul lecet-lecet pada puting susunya.
Puting susu yang sudah masuk ke dalam mulut dengan bantuan lidah, di mana lidah dijulurkan di atas gusi bawah puting susu ditarik lebih jauh sampai pada orofaring dan rahang menekan kalang payudara di belakang puting susu yang pada saat itu sudah terletak pada langit-langit keras (palatum durum). Dengan tekanan bibir dan gerakan rahang secara berirama, maka gusi akan menjepit kalang payudara dan sinus laktiferus, sehingga air susu akan mengalir ke puting susu, selanjutnya bagian belakang lidah menekan puting susu pada langit-langit yang mengakibatkan air susu keluar dari puting susu. Cara yang dilakukan oleh bayi ini tidak akan menimbulkan cedera pada puting susu.
3.      Refleks menelan (Swallowing reflex)
Pada saat air susu keluar dari puting susu, akan disusul dengan gerakan mengisap (tekanan negatif) yang ditimbulkan oleh otot-otot pipi, sehingga pengeluaran air susu akan bertambah dan diteruskan dengan mekanisme menelan masuk ke lambung. Keadaan akan terjadi berbeda bila bayi diberisusu botol di mana rahang mempunyai peranan sedikit di dalam menelan dot botol, sebab susu dengan mudah mengalir dari lubang dot. Dengan adanya gaya berat, yang disebabkan oleh posisi botol yang dipegang ke arah bawah dan selanjutnya dengan adanya isapan pipi (tekanan negatif) kesemuanya ini akan membantu aliran susu, sehingga tenaga yang diperlukan oleh bayi untuk mengisap susu menjadi minimal. Kebanyakan bayi-bayi yang masih baru belajar menyusui pada ibunya, kemudain dicoba dengan susu botol secara bergantian, maka bayi tersebutkan menjadi bingung puting (nipple confusion). Sehingga sering bayi menyusu pada ibunya, caranya menyusui seperti mengisap dot botol, keadaan ini berakibat kurang baik dalam pengeluaran air susu ibu. Oleh karena itu kalau terpaksa bayi tidak bisa langsung disusui oleh ibunya pada awal-awal kehidupan, sebaiknya bayi diberi minum melalui sendok, cangkir atau pipet, sehingga bayi tidak mengalami bingung putting.





4. ZAT PENGHAMBAT
Produksi ASI juga dikendalikan di dalam payudara itu sendiri. Bila dalam satu payudara ada banyak ASI yang tertinggal, maka zat penghambat akan memerintahkan sel-sel pembuat susu untuk berhenti bekerja. Penghentian ini diperlukan untuk mencegah payudara yang bersangkutan mengalami efek kepenuhan.
Hal ini menjelaskan kepada kita mengapa jika bayi lebih banyak menyusu pada satu payudara, maka payudara tersebut menghasilkan lebih banyak ASI dan ukurannya menjadi lebih besar dari payudara lainnya. Agar satu payudara tetap menghasilkan ASI, maka ASI yang ada di dalamnya harus dikeluarkan.
5.      HORMON YANG BERPERAN DALAM PROSES LAKTASI
1.      Estrogen : pembesaran mamae
2.      Progesteron :
·        Perkembangan sistim sekresi mamae
·        Pertumbuhan lobulus, pembentukan alveolus baru, perkembangan sekresi dalam sel-sel alveolus
3.      Prolaktin : Merangsang produksi ASI
4.      Somototropin : Laktogenik ( ringan )
5.      Glukokorticoid : Mengatur transportasi ASI selama laktasi
6.      Tyroid : Stimulasi nafsu makan (metabolisme)
6.      FAKTOR PENGELUARAN AIR SUSU
1.      Tekanan dari belakang
        Tekanan globuli yang baru terbentuk didalam sel akan mendorong globuli tersebut kedalam tubulus laktifer dan pengisapan oleh bayi akan memacu sekresi air susu lebih banyak
1.      Reflek neurohormonal
        Apabila bayi di susui akan menghasilkan rangsangan saraf yang terdapat didalam glandula pituitaria posterior. Sekresi oksitoksin yang sama akan menyebabkan otot uterus brkontraksi dan membantu involusi uterus selama puerperium (masa nifas)
Untuk menghadapi masa laktasi sejak dari kehamilan telah terjadi perubahan-perubahan pada kelenjar mamae yaitu :
1.      Proliferasi jaringan pada alveoli dan jaringan lemak bertambah
2.      Keluaran cairan susu jolong dari ductus laktiferus disebut colostrum bewarna kuning – putih susu
3.      Hipervaskularisasi pada permukaan dan bagian dalam, dimana vena-vena berdilatasi sehingga tampak jelas
4.      Setelah persalinan, pengaruh supresi estrogen dan progesterone hilang
7.      AIR SUSU IBU (ASI)
ASI adalah suatu emulsi lemak dalam larutan protein, laktose dan garam organik yang disekresi oleh kedua belah kelenjar payudara ibu, sebagai makanan utama bagi bayi. Komposisi asi tidak sama berdasarkan waktu ke waktu, hal ini berdasarkan  stadium laktasi.
7.1.           Stadium ASI
1.      Kolustrum,
Kolostrum  adalah air susu yang pertama kali keluar. Kolostrum ini disekresi oleh kelenjar payudara pada hari pertama sampai hari ke empat pasca persalinan. Kolostrum merupakan cairan dengan viskositas kental , lengket dan berwarna kekuningan. Kolostrum mengandung tinggi protein, mineral, garam, vitamin A, nitrogen, sel darah putih dan antibodi yang tinggi daripada ASI matur. Selain itu, kolostrum masih mengandung rendah lemak dan laktosa.
Protein utama pada kolostrum adalah immunoglobulin (IgG, IgA dan IgM), yang digunakan sebagai zat antibodi untuk mencegah dan menetralisir bakteri, virus, jamur dan parasite. Meskipun kolostrum yang keluar sedikit menurut ukuran kita, tetapi volume kolostrum yang ada dalam payudara mendekati kapasitas lambung bayi  yang berusia 1-2 hari. Volume kolostrum antara 150-300 ml/24 jam. Kolostrum juga merupakan pencahar ideal untuk membersihkan zat yang tidak terpakai dari usus bayi yang baru lahir dan mempersiapkan saluran pencernaan makanan bagi makanan bayi yang akan datang.
2.      ASI Transisi / Peralihan
ASI peralihan adalah ASI yang keluar setelah kolostrum sampai sebelum ASI matang, yaitu sejak hari ke-4 sampai hari ke-10. Selama dua minggu, volume air susu bertambah banyak dan berubah warna serta komposisinya. Kadar imunoglobin dan protein berkurang, sedangkan lemak dan laktosa meningkat.
3.      ASI Matur
ASI matur disekresi pada hari ke sepuluh dan seterusnya. ASI matur tampak berwarna putih. Kandungan ASI matur relative konstan, tidak menggumpal bila dipanaskan. Air susu yang mengalir pertama kali atau saat lima menit pertama disebut foremilk.
8.      KOMPOSISI ASI
Asi adalah cairan yang alkalis (basa) berwarna putih kebiruan dengan berat jenis 1031. Rata-rata kandungan Asi dikumpulkan selama 24 jam :
·        Protein 1,5%
·        Lemak 3,5%
·        Karbohidrat 7,0%
·        Garam mineral 0,2 %
·        Zat besi
·        Vitamin
      Kadar vitamin A, B, C, D dan E lebih tinggi dibandingkan kadarnya dalam ASS, tetapi lebih sedikit vitamin K dalam ASI
·        Air 78,8%



BAB III
PENUTUPAN



1.     KESIMPULAN
Sistem urogenital merupakan sistem penggabungan antara sistem urinaria dan genital, yaitu sistem eskresi dan sistem reproduksi. Sistem urinaria terdiri atas sepasang ginjal, ureter, kandung kemih dan uretra. Sistem reproduksi pria terdiri dari sepasang tetstis, aluran reproduksi berupa vas deferens, epididimis, vas everen dan uretra tunggal. Pada pria dilengkapi penis sebagai organ kopulatoris dan kelenjar asesoris. Sisem reproduksi wanita terdiri dari sepasang ovarium, saluran reproduksi berupa sepasang tuba falopii serta uterus dan vagina tunggal. Pada wanita juga terdapat organ genitalia eksternae dan kelenjar mammae.






DAFTAR PUSTAKA



Evelyn C. Pears. 2011. Anatomi dan fisiologi untuk paramedis–Jakarta : Gramedia Pustaka Utama
Gibson, John MD. 1995. Anatomi dan fisiologi modern untuk perawat edisi 2 – Jakarta : EGC
Syafuddin. 2006. Anatomi  fisiologi untuk mahasiswa perawat edisi 3 – Jakarta : EGC

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Poskan Komentar