RSS

Obesitas &Kelebihan Berat Badan


PATOLOGI MANUSIA
“ Obesitas “
















 





Kelompok 3
Anggota :
Fiska Melinda
Masliani Novaria
Zulfa Nazifa


Kelas B D3 – Gizi
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES JAKARTA II


A.    PENGERTIAN OBESITAS
Obesitas sering didefinisikan sebagai kondisi abnormal atau kelebihan lemak yang serius dalam jaringan adiposa sedemikian sehingga mengganggu kesehatan. Obesitas adalah kelebihan berat badan sebagai akibat dari penimbunan lemak tubuh yang berlebihan. Keadaan ini tentunya berbeda dengan kelebihan berat badan karena penambahan massa otot atau tulang. Setiap 9,3 kalori energi berlebih masuk ke dalam badan menimbulkan 1 gram lemak yang disimpan.

Sesorang yang memiliki berat badan 20% lebih tinggi dari nilai tengah kisaran berat badanya yang normal dianggap mengalami obesitas. Jika kelebihan mencapai sekitar 100% disebut superobese, sedangkan obesitas yang telah menimbulkan kelainan, keluhan, atau gejala panyakit disebut morbidly obese. Sesorang yang kegemukan sudah pasti kelebihan berat badan, tetapi orang yang kelebihan berat badan belum tentu kegemukan. Wanita dikatakan obese bila lemak dalam tubuhnya lebih dari 27% berat badan, sedangkan laki-laki disebut obese bila lemak tubuhnya lebih dari 25% berat badanya. Obesitas tidak hanya ditemukan pada penduduk dewasa, tetapi juga pada anak-anak dan remaja. Obesitas 3 kali lebih banyak dijumpai pada wanita. Keadaan ini disebabkan oleh metabolisme pada wanita lebih rendah, apalagi pada pasca menopause. Obesitas dapat menyebabkan gangguan proses reproduksi pada wanita, salah satunya adalah Sindroma Ovarium Polikistik (SOPK).


B.    KEBUTUHAN DAN KECUKUPAN LEMAK
Kebutuhan lemak tidak dinyatakan secara mutlak. WHO (1990) menganjurkan konsumsi lemak sebanyak 15-30% kebutuhan energy total dianggap baik untuk kesehatan. Jumlah ini memenuhi kebutuhan akan asam lemak esensial dan untuk membantu penyerapan vitamin larut lemak. Diantara lemak yang yang dinsumsi sehrai dianjurkan paling banyak 10% dari kebutuhan energy total bersal dari lemak jenuh, dan 3-7% dari lemak tidak jenuh ganda. Konsumsi kolesterol yang dianjurkan adalah kurang dari sama dengan 300 mg sehari.
            Diet sangat rendah lemak dapat menimbulkan rasa capek dan menghilangkan rasa kenyang. Sebaliknya pemberian lemak berlebihan dapat menyebabkan obesitas.
            Rata-rata wanita memiliki lemak tubuh yang lebih banyak dibandingkan pria. Perbandingan yang normal antara lemak tubuh dengan berat badan adalah sekitar 25-30% pada wanita dan 18-23% pada pria. Wanita dengan lemak tubuh lebih dari 30% dan pria dengan lemak tubuh lebih dari 25% dianggap mengalami obesitas.
            Kebutuhan tubuh akan lemak ditinjau dari sudut fungsinya :
1.         Lemak sebagai sumber utama energy
2.         Lemak sebagai sumber PUFA
3.         Lemak sebagai pelarut vitamin yang larut lemak (vitamin A, D, E, dan K).
C.     PENENTUAN OBESITAS
Penentuan obesitas yang sangat mudah adalah dengan perhitungan BMI (Body Mass Index) atau IMT (Index Masa Tubuh) yang sebenarnya adalah rasio yang dinyatakan sebagai berat badan (dalam kilogram) dibagi dengan kuadrat tinggi badan (dalam meter). Seseorang dikatakan mengalami obesitas jika memiliki nilai IMT sebesar 30 atau lebih.
IMT = BB/TB2(m).


D.    FAKTOR PENYEBAB OBESITAS
Obesitas terjadi akibat mengonsumsi kalori lebih banyak dari yang diperlukan oleh tubuh. Faktor utama terjadinya obesitas adalah ketidaksimbangan asupan energi yang diperoleh dengan keluaran energi. Asupan energi tinggi bila konsumsi makanan berlebihan, sedangkan keluaran energi menjadi rendah bila metabolisme tubuh dan aktivitas fisik rendah. Penimbunan lemak tersebut terjadi karena adanya ketidakseimbangan antara jumlah energi yang dikonsumsi dan yang digunakan. Obesitas dapat saja terjadi sejak bayi. Bila kedua orangtua obesitas, kemungkinan 80% anak mereka juga akan obesitas. Peningkatan resiko obesitas tersebut kemungkinan disebabkan oleh pengaruh gen atau faktor lingkungan dalam keluarga.

Faktor Genetik
Penelitian terbaru menunjukkan bahwa faktor genetik memberikan pengaruh sebesar 33% terhadap berat badan seseorang.
Faktor Lingkungan
Lingkungan ini termasuk perilaku/gaya hidup. Anggota keluarga tidak hanya berbagi gen, tapi makanan dan kebiasaan hidup juga mendorong terjadinya obesitas. Seseorang tentu saja tidak dapat mengubah pola genetiknya, namun dia dapat mengubah pola hidup, seperti pola makan dan aktivitasnya.

Faktor Psikis
Apa yang ada didalam pikiran seseorang dapat memengaruhi kebiasaan makannya. Banyak orang yang memberikan reaksi terhadap emosinya dengan makan. Ada dua pola makan abnormal yang dapat memicu terjadinya obesitas, diantaranya adalah
·       Makan dalam jumlah yang sangat banyak (binge)
·       Makan di malam hari (sindrome makan pada malam hari)
Berkurangnya nafsu makan di pagi hari yang diikuti dengan bertambahnya nafsu makan di malam hari.

Faktor Kesehatan
Beberapa penyakit yang dapat menyebabkan obesitas diantaranya adalah:
·      Hipotiroidisme
Ini terjadi karena kadar tiroid yang rendah dalam tubuh. Kadar tiroid yang rendah juga dapat menjadi pemicu berat badan seseorang mudah naik. Seseorang yang kekurangan cairan tiroid dalam tubuhnya menyebabkan lemak yang menumpuk dalam darah,  susah dicairkan dan laju metabolisme tubuh berjalan lamban. Gejala gangguan tiroid adalah mudah lelah, lesu, sering cemas, pembengkakan wajah, mata bengkak, rambut rontok, kulit kering, penurunan produksi keringat, depresi, mudah lupa, bicara terdengar lambat dan suara agak serak, sakit kepala, kesemutan di tangan dan kaki, infertilitas atau keguguran berulang.

·       Sindroma Cushing
Sindrom Cushing adalah kondisi ketika terjadinya produksi hormon kortisol yang berlebihan sehingga mneyebabkan akumulasi lemak terutama pada bagian wajah, perut dan pundak bertambah lebar, kecuali tangan dan kaki. Keadaan seperti inilah yang bertanggung jawab dengan tingkat kortisol yang semakin meningkatnya kenaikan berat badan terutama pada bagian perut. Efek negatif dari meningkatnya jumlah kortisol membuat otot-otot tubuh cepat merasa lelah dan lemah, kulit tipis, luka yang lama sembuh, mudah memar, tekanan darah tinggi, kadar glukosa yang tidak terkendali, stretch mark ( sejenis selulit ) berwarna ungu pada bagian perut, menstruasi tidak teratur, rambut rontok dan lain sebagainya.

·       Menopause
Jika seorang wanita memasuki masa menopause atau sudah menopause akan mengalami penurunan dan perubahan hormon, selama masa menopasuse secara tiba–tiba nafsu makan akan meningkat drastis. Menopause juga memperlambat metabolisme yang mengakibatkan lemak sulit terbakar yang mengakibatkan kenaikan berat badan. Ditambah lagi jika pada masa menopause, kebanyakan wanita tidak di imbangi dengan olahraga.

Obat-obatan
Jika seorang wanita yang sedang menjalani program KB dengan Pil KB, biasanya mempengaruhi siklus menstruasi menjadi tidak beraturan. Obat pil KB sangat berpengaruh pada peningkatan nafsu, obat-obat steroid, anti peradangan, anti depresan dan obat diabetes juga menjadi pemicu kenaikan berat badan.

Faktor Perkembangan
Penambahan ukuran atau jumlah sel-sel lemak (atau keduanya) menyebabkan bertambahnya jumlah lemak yang disimpan dalam tubuh. Penderita obesitas pada masa kanak-kanak bisa memilki sel-sel lemak sampai 5 kali lebih banyak dibandingkan anak-anak yang berat badannya normal. Jmlah sel-sel lemak tidak dapat dikurangi, karena itu, penurunan berat badan hanya dapat dilakukan dengan cara mengurangi jumlah lemak dalam setiap sel.

Orang-orang yang tidak aktif memerlukan kalori yang lebih sedikit. Oleh karena itu, seseorang yang cenderung mengonsumsi banyak makanan (apalagi yang kaya lemak) tetapi aktivitas fisiknya ringan, maka terjadi ketidakseimbangan antara energi yang diperoleh dengan yang dikeluarkannya. Dan dapat memicu terjadinya obesitas. Hasil penelitian terbaru mengungkapkan bahwa sarapan secara teratur dapat mengurangi resiko obesitas. Selain itu, semakin sering kita mengonsumsi makanan, maka semakin kecil pula resiko menderita obesitas. Tim peneliti mengungkapkan bahwa orang yang mengonsumsi makanan sampai 3 kali perhari berisiko mederita obesitas 45% lebih tinggi dibandingkan dengan orang yang mengonsumsi makanan 4 kali atau lebih perhari. Hal ini dikarenakan frekuensi makanan yang rendah berkaitan dengan sekresi insulin yang tinggi. Insulin dapat berperan sebagai penghambat enzim lipase (3/4 enzim yang memecah lemak). Semain banyak insulin yang disekresikan, semakin besar hambatan pada enzim lipase. Akibatnya, semakin banyak lemak yang ditimbun didalam tubuh.

Kebiasaan makan secara teratur menurunkan resiko menderita obesitas. Karena asupan energi cenderung meningkat ketika sarapan dilewatkan. Melewati pagi hari tanpa sarapan dapat mengakibatkan perubahan ritme, pola, dan siklus waktu makan. Orang yang tidak sarapan akan merasa lebih lapar di waktu siang dan malam hari dibandingkan dengan mereka yang memulai harinya dengan sarapan. Akibatnya mereka yang tidak sarapan akan mengonsumsi makanan lebih banyak di waktu siang dan malam hari. Asupan makanan yang meningkat pada malam hari akan berakibat pada meningkatnya glukosa yang disimpan sebagai glikogen. Karena aktivitas fisik pada malam hari sangat rendah, glikogen tersebut kemudian disimpan dalam bentuk lemak.


E.     PROSES TERJADINYA KEGEMUKAN
Kegemukan merupakan keadaan yang menunjukkan ketidakseimbangan antara tinggi dan berat badan akibat kelebihan jaringan lemak dalam tubuh sehingga terjadi kelebihan berat badan yang melampaui ukuran ideal. Namun, pada dasarnya kegemukan terjadi akibat energi yang masuk ke dalam tubuh selalu berlebih sehingga tertimbun dalam bentuk lemak atau sel adipose di bagian bawah kulit. Peningkatan cadangan lemak dalam tubuh dapat berupa penambahan jumlah sel-sel lemak, penambahan ukuran sel lemak, atau kombinasi dari keduanya. Kelebihan 1.000 kkal energi per hari akan menambah hampir 1 kg timbunan lemak per minggu. Dengan demikian, orang yang makan berlebihan secara terus menerus akan mudah mengalami obesitas (kegemukan).
Pertumbuhan dan perkembangan jaringan lemak dimulai sejak bayi berumur lima bulan. Jumlah sel lemak meningkat hingga bayi berumur satu tahun, diikuti dengan membesarnya sel-sel lemak. Pembentukan sel lemak akan berhenti saat seseorang berumur dua puluh tahun. Setelah itu, proses berlanjut pada pembesaran sel lemak tubuh. Dengan melihat proses terjadinya kegemukan, asupan makanan yang berlebihan pada masa kanak-kanak merupakan tindakan yang kurang bijaksana dan bisa berakibat kurang baik saat anak tumbuh dewasa.





F.     MACAM-MACAM OBESITAS
Obesitas digolongkan menjadi tiga kelompok :
·      Obesitas ringan       : kelebihan berat badan 20-40%
·      Obesitas sedang     : kelebihan berat badan 41-100%
·      Obesitas berat         : kelebihan berat badan >100%


G.    TIPE-TIPE OBESITAS
Tipe Obesitas Berdasarkan Bentuk Tubuh
·      Obesitas tipe buah pear (Gynoid)
Tipe ini cenderung dimiliki oleh wanita, lemak yang ada disimpan di sekitar pinggul dan bokong. Resiko terhadap penyakit pada tipe gynoid umumnya kecil.
·      Obesitas tipe buah apel (Apple Shape)
Tipe seperti ini biasanya terdapat pada pria. Dimana lemak tertumpuk di sekitar perut. Resiko kesehatan pada tipe ini lebih tinggi dibandingkan dengan tipe buah pear (Gynoid).
·      Tipe Ovid (Bentuk Kotak Buah)
Ciri dari tipe ini adalah "besar di seluruh bagian badan". Tipe Ovid umumnya terdapat pada orang-orang yang gemuk secara genetik.

Tipe Obesitas Berdasarkan Keadaan Sel Lemak
·      Tipe hiperlastik
Tipe hiperlastik merupakan kegemukan yang disebabkan oleh jumlah sel lemak lebih banyak dibandingkan dengan kondisi normal. Akan tetapi, ukuran sel lemak tersebut masih sesuai dengan ukuran sel yang normal. Kegemukan tipe hiperlastik biasanya terjadi sejak masa anak-anak dan sulit untuk diturunkan ke berat badan normal. Bila terjadi penurunan berat tubuh sifatnya hanya sementara dan kondisi tubuh akan mudah kembali ke keadaan semula.
·      Tipe hipertropik
Kegemukan yang termasuk dalam tipe ini mempunyai jumlah sel yang normal, tetapi ukuran sel lebih besar dari ukuran normal. Kegemukan ini biasanya terjadi pada orang dewasa dan relatif lebih mudah menurunkan berat tubuh dibanding tipe hiperlastik. Namun, kegemukan tipe ini mempunyai risiko lebih mudah terserang penyakit gula dan tekanan darah tinggi.
·      Tipe hiperlastik-hipertropik
Pada kegemukan tipe ini jumlah maupun ukuran sel yang terdapat pada tubuh seseorang melebihi ukuran normal. Proses kegemukan dimulai sejak masa anak-anak dan berlangsung terus hingga dewasa. Mereka yang mengalami kegemukan tipe ini paling sukar menurunkan berat tubuh. Dengan demikian, seseorang dengan tipe kegemukan seperti ini paling mudah terserang berbagai penyakit degeneratif.


Tipe Obesitas Berdasarkan Umur
·      Kegemukan saat bayi
Kegemukan pada masa bayi disebabkan kurangnya pengetahuan orang tua, terutama tentang kebutuhan konsumsi makanan. Pihak orang tua harus paham benar akan waktu dan menu yang tepat untuk memberi makan terhadap bayinya. Kegemukan pada masa bayi perlu dihindari karena jumlah bayi yang menderita kegemukan pada umur enam bulan pertama ternyata lebih dari sepertiganya menjadi gemuk pada saat dewasa.
·      Kegemukan saat anak-anak
Kegemukan pada masa anak-anak disebabkan oleh pola makan yang salah disertai aktivitas fisik yang rendah. Aktivitas fisik sangat diperlukan dalam proses pembakaran kelebihan lemak dalam tubuh.
·      Kegemukan saat dewasa
Kegemukan sering terjadi pada masa dewasa karena lemak tubuh mulai menumpuk. Umur 30 tahun merupakan umur saat seseorang mulai mantap dengan kariernya, ditandai dengan tanggung jawab makin besar, ambisi tinggi, dan pekerjaan menumpuk. Kesibukan-kesibukan tersebut menjadi penyebab kekurangan waktu untuk olahraga. Oleh karena itu, bila kurang hati-hati dalam menjaga tubuh, perlahan-lahan kegemukan mulai mengintai. Bila dibiarkan, pada umur 45-60 tahun sering menjadi kritis akibat tubuh digerogoti penyakit seperti jantung koroner, diabetes, dan penyakit lainnya, terutama pada orang-orang yang kegemukan.

Tipe Kegemukan Berdasarkan Tingkat Kegemukan
·      Simple obesity (kegemukan ringan)
Merupakan kegemukan akibat kelebihan berat tubuh sebanyak 20% dari berat ideal dan tanpa disertai penyakit diabetes melitus, hipertensi, dan hiperlipidemia.
·      Mild obesity
Merupakan kegemukan akibat kelebihan berat tubuh antara 20-30% dari berat ideal yang belum disertai penyakit tertentu, tetapi sudah perlu diwaspadai.
·      Moderat obesity
Merupakan kegemukan akibat kelebihan berat tubuh antara 30-60% dihitung dari berat ideal. Pada tingkat ini penderita termasuk berisiko tinggi untuk menderita penyakit yang berhubungan dengan obesitas.
·      Morbid obesity
Merupakan kegemukan akibat kelebihan berat tubuh dari berat ideal lebih dari 60% dengan risiko sangat tinggi terhadap penyakit pernapasan, gagal jantung, dan kematian mendadak.


H.    GEJALA OBESITAS
Penimbunan lemak yang berlebihan dibawah diafragma dan di dalam dinding dada bisa menekan paru-paru, sehingga timbul gangguan pernafasan dan sesak nafas, meskipun penderita hanya melakukan aktivitas yang ringan. Gangguan pernafasan bisa terjadi pada saat tidur dan menyebabkan terhentinya pernafasan untuk sementara waktu (tidur apneu), sehingga pada siang hari penderita sering merasa ngantuk.

Obesitas bisa menyebabkan berbagai masalah ortopedik, termasuk nyeri punggung bawah dan memperburuk osteoartritis (terutama di daerah pinggul, lutut dan pergelangan kaki). Juga kadang sering ditemukan kelainan kulit. Seseorang yang menderita obesitas memiliki permukaan tubuh yang relatif lebih sempit dibandingkan dengan berat badannya, sehingga panas tubuh tidak dapat dibuang secara efisien dan mengeluarkan keringat yang lebih banyak. Sering ditemukan edema (pembengkakan akibat penimbunan sejumlah cairan) di daerah tungkai dan pergelangan kaki.


I.       PENYAKIT YANG TIMBUL AKIBAT OBESITAS
Jantung Koroner
Distribusi jaringan lemak berpengaruh pada tingginya risiko jantung koroner. Penyakit jantung koroner adalah penyakit yang terjadi akibat adanya penurunan suplai oksigen ke otot jantung karena penyempitan atau penyumbatan aliran darah arteri koronaria. Obesitas dapat meningkatkan kadar kolesterol dan LDL kolesterol. Resiko Jantung Koroner akan jelas meningkat bila BB mulai melebihi 20 % dari BB ideal.


Diabetes Mellitus type 2
Kelebihan massa lemak juga dikaitkan dengan keadaan resistensi insulin yang berhubungan dengan diabetes melitus. Overweight akan meningkatkan angka kejadian diabetes melitus 3-4 kali dibandingkan orang dengan IMT normal. Ini sering terjadi pada orang obesitas, yaitu orang dengan IMT lebih dari 25 kg/m2 atau kelebihan lemak minimal 20% dari berat badan ideal. Diet dan olahraga merupakan penatalaksanaan paling tepat untuk golongan ini. Seiring peningkatan angka obesitas, WHO memperkirakan tahun 2020 sekitar 21,3 juta orang indonesia terkena diabetes. Diabetes sangat erat kaitanya dengan kegemukan atau obesitas. Ini berati orang yang mengalamai obesitas akan memiliki risiko yang besar terkena diabetes.

Penelitian di USA menunjukkan bahwa wanita dengan IMT antara 25-26,9 kg/m2 beresiko menderita diabetes type 2 delapan kali lebih besar dibandingkan dengan wanita dengan IMT < 22 kg/m2. Resiko ini pun meningkat 40 kali lebih besar daripada wanita dengan IMT > 31 kg/m2. Obesitas juga berhubungan dengan peningkatan Low Density Lipoprotein (LDL), peningkatan VLDL dan Trigliserida, serta penurunan Hig Density Lipoprtein (HDL).

Hipertensi
Hubungan antara angka kejadian hipertensi dan berat badan meningkat tajam sesuai peningkatan berat badan. Salah satu penyebabnya adalah Kolesterol yang identik dengan lemak berlebih yang tertimbun pada dinding pembuluh darah. Pembuluh darah yang dipenuhi dengan kolesterol ini akan mengalami penyempitan dan mengakibatkan tekanan darah pun meningkat. Risiko terjadinya hipertensi meningkat 1,6 kali untuk overweight dan menjadi 2,5-3,2 kali untuk obesitas kelas 1 serta menjadi 3,9-5,5 kali untuk obesitas kelas 2 dan 3. Obesitas merupakan penyebab hipertensi. Awalnya, kegemukan lebih cepat terjadi dengan pola hidup pasif (kurang gerak dan olahraga). Jika makanan yang dimakan banyak mengandung lemak jahat (seperti kolesterol), dapat menyebabkan penimbunan lemak di sepanjang pembuluh darah. Penyempitan pembuluh darah ini menyebabkan aliran darah menjadi kurang lancar.
Pada orang yang memiliki kelebihan lemak (hyperlipidemia), dapat menyebabkan penyumbatan darah sehingga mengganggu suplai oksigen dan zat makanan ke organ tubuh. Penyempitan dan sumbatan lemak ini memacu jantung untuk memompa darah lebih kuat lagi, agar dapat memasok kebutuhan darah ke jaringan. Akibatnya tekanan darah menjadi meningkat, maka terjadilah hipertensi.  

Dislipidemia
Dislipidemia adalah kelainan metabolisme lipid yang ditandai dengan peningkatan maupun penurunan fraksi lipid dalam plasma. Kelainan fraksi lipid yang paling utama adalah kenaikan kadar kolesterol total, kolesterol LDL, kenaikan kadar trigliserida serta penurunan kadar HDL.
Dislipidemia adalah gangguan kesehatan akibat kelainan lemak dalam darah. Pada dislipidemia kadar lemak-lemak jahat yaitu LDL kolesterol dan trigliserida mengalami peningkatan. Sebaliknya kadar lemak yang baik yaitu HDL kolesterol justru mengalami penurunan.

LDL kolesterol dan Trigliserida disebut lemak jahat karena lemak ini membawa kolesterol dari dalam hati dan melepaskannya pada dinding pembuluh darah. Keadaan ini bisa menimbulkan timbunan kolesterol (plak) pada dinding pembuluh darah yang disebut ateroma. Ateroma menyebabkan penyempitan dan pengerasan pembuluh darah yang dinamakan aterosklerosis. Kalau penyempitan ini terjadi di pembuluh darah jantung akan menyebabkan jantung koroner, bila terjadi di ginjal akan menyebabkan gagal ginjal dan bila terjadi di otak akan menyebabkan stroke.

HDL kolesterol disebut lemak yang baik karena jenis ini berperan mengangkut kolesterol yang tercecer pada dinding pembuluh darah dan dibawa kembali ke hati. Dengan kata lain HDL kolesterol mencegah terjadinya aterosklerosis sehingga tidak terjadi penyakit jantung koroner.


J.       CARA MENANGANI OBESITAS
Penurunan bobot badan secara bertahap akan memberi hasil yang lebih awet daripada penurunan bobot badan instan yang bersifat sementara. Berkonsentrasi bukan sekadar mendapatkan bobot tubuh ideal, tetapi turut menyingkirkan kelebihan lemak tubuh. Indikator penyusutan lemak tubuh ada pada lingkar pinggang. Salah satu cara untuk mengurangi berat badan adalah  membiasakan diri dengan mengonsumsi snack dan makanan yang sehat, serta membiasakan berolahraga, agar otot-otot tubuh dibiasakan untuk aktif beraktivitas.
REFERENSI

Buku Gizi Masyarakat

www.apamengapadanbagaimana.blogspot.com


http://lib.uin-malang.ac.id/thesis/chapter_ii/07410071-finna-ayu-f.ps

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

1 komentar:

Christy P mengatakan...

thx buat artikelnya,,, gue sering juga baca artikel2 kesehatan di http://udoctor.co.id,, ada 4 tipe diet untuk menghindari obesitas,,,

Poskan Komentar