RSS

Sistem Endokrin


                                         Sistem Endokrin

Sistem endokrin adalah sistem kontrol kelenjar tanpa saluran (ductless) yang menghasilkan hormon yang tersirkulasi di tubuh melalui aliran darah untuk mempengaruhi organ-organ lain. Hormon bertindak sebagai "pembawa pesan"  dan dibawa oleh aliran darah ke berbagai sel dalam tubuh, yang selanjutnya akan menerjemahkan "pesan" tersebut menjadi suatu tindakan.
Hormon berperan penting untuk mengatur berbagai aktivitas dalam tubuh, antara lain aktivitas pertumbuhan, reproduksi, osmoregulasi, pencernaan, dan integrasi serta koordinasi tubuh.
Sistem endokrin hampir selalu bekerja sama dengan sistem saraf, namun cara kerjanya dalam mengendalikan aktivitas tubuh berbeda dari sistem saraf. Ada dua perbedaaan cara kerja antara kedua sistem tersebut. Kedua perbedaan tersebut adalah sebagai berikut:

1.     Dibandingkan dengan sistem saraf, sistem endokrin lebih banyak bekerja melalui transmisi kimia.

2.       Sistem endokrin memperhatikan waktu respons lebih lambat daripada sistem saraf. Pada sistem saraf, potensial aksi akan bekerja sempurna hanya dalam waktu 1-5 milidetik, tetapi kerja endokrin melalui hormon baru akan sempurna dalam waktu yang sangat bervariasi, berkisar antara beberapa menit hingga beberapa jam. Hormon adrenalin bekerja hanya dalam waktu singkat, namun hormon pertumbuhan bekerja dalam waktu yang sangat lama. Di bawah kendali sistem endokrin (menggunakan hormon pertumbuhan), proses pertumbuhan memerlukan waktu hingga puluhan tahun untuk mencapai tingkat pertumbuhan yang sempurna.

Dasar dari sistem endokrin adalah hormon dan kelenjar (glandula), sebagai senyawa kimia perantara, hormon akan memberikan informasi dan instruksi dari sel satu ke sel lainnya. Banyak hormon yang berbeda-beda masuk ke aliran darah, tetapi masing-masing tipe hormon tersebut bekerja dan memberikan pengaruhnya hanya untuk sel tertentu.



Fungsi kelenjar endokrin adalah sebagai berikut :

·         - Menghasilkan hormon yang dialirkan ke dalam darah yang yang diperlukan oleh jaringan tubuh 
         tertentu.
·         - Mengontrol aktivitas kelenjar tubuh
·         - Merangsang aktivitas kelenjar tubuh
·         - Merangsang pertumbuhan jaringan
·         - Mengatur metabolisme, oksidasi, meningkatkan absorbsi glukosa pada usus halus
·         - Mempengaruhi metabolisme lemak, protein, hidrat arang, vitamin, mineral, dan air


Kelenjar Endokrin terdiri dari:

1.  Kelenjar Hipotalamus
Hipotalamus terletak di batang otak tepatnya di dienchepalon, dekat dengan ventrikel otak ke tiga (ventrikulus tertius). Hipotalamus sebagai pusat tertinggi sistem kelenjar endokrin yang menjalankan fungsinya melalui humoral (hormonal)  dan saraf. Hormon yang dihasilkan hipotalamus sering disebut faktor R dan I mengontrol sintesa dan sekresi hormon hipofise anterior sedangkan kontrol terhadap hipofise posterior berlangsung melalui kerja saraf. Pembuluh darah kecil yang membawa sekret hipotalamus ke hipofise disebut portal hipotalamik hipofise. Sebagai bagian dari system endokrin, hipotalamus mengontrol sintesa dan sekresi hormon-hormon hipofise. Hipofise anterior dikontrol oleh kerja hormonal sedangkan bagian posterior dikontrol melalui kerja saraf.

Beberapa fungsi penting hipotalamus:

a.      Mengontrol sistem saraf otonom dan sistem endokrin serta mengatur beberapa perilaku yang berhubungan dengan fungsi-fungsi vegetatif untuk kehidupan :

o   Peningkatan atau penurunan denyut jantung dan tekanan darah.
o   Pengaturan suhu tubuh.
o   Pengaturan rasa lapar dan haus.
o   Sekresi air lewat ginjal (pengeluaran ADH)
o   Pengaturan kontraksi rahim dan pengeluaran ASI.


b.      Fungsi afektif sensoris

o   Pusat-pusat ganjaran atau motivasi.
o Pusat-pusat menyakitkan seperti takut, marah, termasuk nyeri dan dorongan untuk melarikan diri.
o   Dorongan untuk bereproduksi.

c.       Pengaturan tidur dan jaga

o   Hipotalamus dorsal berhubungan dengan Sistem Aktivasi Retikularis (SAR).
o   Hipotalamus lateral anterior menghambat SAR.

d.      Mengontrol sistem endokrin melalui hormon-hormon yang dihasilkan hipotalamus kemudian melalui pembuluh darah dihubungkan dengan kelenjar hipofise anterior


Hormon yang dihasilkan oleh kelenjar hipotalamus antara lain:

·         ACTH : Adrenocorticotropic Hormone
·         ACIH  : Adrenocortico Inhibiting Hormone
·         TRH   : Thyroid Releasing Hormone
·         TIH    : Thyroid Inhibiting Hormone
·         GnRH : Gonadotropin Releasing Hormone
·         GnIH  : Gonadotropin Inhibiting Hormone
·         PTRH : Parathyroid Releasing Hormone
·         PTIH  : Parathyroid Inhibiting Hormone
·         PRH   : Prolactin Releasing Hormone
·         PIH    : Prolactin Inhibiting Hormone
·         GRH  : Growth Releasing Hormone
·         GIH   : Growth Inhibiting Hormone
·         MRH : Melanosit Releasing Hormone
·         MIH   : Melanosit Inhibiting Hormone



2.  Kelenjar Hipofise/ Pituitari

Kelenjar hipofise atau pituitari (hypophysis or pituitary gland) terletak di dalam rongga kepala dekat dasar otak. Kelenjar pituitari ini dikenal sebagai Master of glands (raja dari semua kelenjar) karena pituitari itu dapat mengkontrol kelenjar endokrin lainnya. Sekresi hormon dari kelenjar pituitari ini dipengaruhi oleh faktor emosi dan perubahan iklim. 


Pituitari dibagi 2 bagian :
a)      Lobus anterior
         Lobus anterior, merupakan bagian terbesar dari hipofise kira-kira 2/3 bagian dari hipofise. Lobus anterior ini juga disebut adenohipofise.
Hormon yang dihasilkan oleh lobus anterior adalah :

Hormon yang dihasilkan
Fungsi dan gangguannya

Hormon Somatotropin (STH),                
Hormon pertumbuhan (Growth Hormone / GH)






Merangsang sintesis protein dan metabolisme lemak, serta merangsang pertumbuhan tulang (terutama tulang pipa) dan otot. Kekurangan hormon ini pada anak-anak menyebabkan pertumbuhan terhambat/kerdil (kretinisme), jika kelebihan akan menyebabkan pertumbuhan raksasa (gigantisme). Jika kelebihan terjadi pada saat dewasa, akan menyebabkan pertumbuhan tidak seimbang pada tulang jari tangan, kaki, rahang, ataupun tulang hidung yang disebut akromegali.
Hormon tirotropin atau Thyroid Stimulating Hormone (TSH)

Mengontrol pertumbuhan dan perkembangan kelenjar gondok atau tiroid serta merangsang sekresi tiroksin
Adrenocorticotropic hormone (ACTH)   
                    


Mengontrol pertumbuhan dan perkembangan aktivitas kulit ginjal dan merangsang kelenjar adrenal untuk mensekresikan glukokortikoid (hormon yang dihasilkan untuk metabolisme karbohidrat)

Prolaktin (PRL) atau Lactogenic hormone (LTH) 
Membantu kelahiran dan memelihara sekresi susu oleh kelenjar susu

Hormon gonadotropin pada wanita :

1.     Follicle Stimulating Hormone (FSH)


2.     Luteinizing Hormone (LH)   



Merangsang pematangan folikel dalam ovarium dan menghasilkan estrogen

Mempengaruhi pematangan folikel dalam ovarium dan menghasilkan progesteron












b)      Lobus posterior
            Merupakan 1/3 bagian hipofise dan terdiri dari jaringan saraf  sehingga disebut juga neurohipofise.
Hormon yang dihasilkan oleh lobus posterior adalah :

Hormon
Fungsi
Oksitosin

Menstimulasi kontraksi otot polos pada rahim wanita selama proses melahirkan
ADH
Menurunkan volume urine dan meningkatkan tekanan darah dengan cara menyempitkan pembuluh darah

Lobus intermediate (pars intermediate) adalah area diantara lobus anterior dan posterior, fungsinya belum diketahui secara pasti, namun beberapa referensi yang ada mengatakan lobus ini mungkin menghasilkan melanosit stimulating hormon (MSH).

3.  Kelenjar Tiroid
Kelenjar tiroid (thyroid gland) atau kelenjar gondok yang terletak di leher bagian depan. Tepat di bawah kartilago krikoid, di samping kiri dan kanan trakhea. Pada orang dewasa beratnya lebih kurang 18 gram. Kelenjar ini terdiri atas dua lobus yaitu lobus kiri kanan yang dipisahkan oleh isthmus. Masing-masing lobus kelenjar ini mempunyai ketebalan lebih kurang 2 cm, lebar 2,5 cm dan panjangnya 4 cm. Tiap-tiap lobus mempunyai lobuli yang di masing-masing lobuli terdapat folikel dan parafolikuler. Di dalam folikel ini terdapat rongga yang berisi koloid di mana hormon-hormon disintesa. Kelenjar tiroid mendapat sirkulasi darah dari arteri tiroidea superior dan arteri tiroidea inferior. Kelenjar ini berfungsi untuk mengatur kecepatan tubuh membakar energi, membuat protein dan mengatur kesensitifan tubuh terhadap hormon lainnya.
Fungsi tiroid diatur oleh hormon perangsang tiroid (TSH) hipofisis, di bawah kendali hormon pelepas tirotropin (TRH) hipotalamus melalui sistem umpan balik hipofisis-hipotalamus. Faktor utama yang mempengaruhi laju sekresi TRH dan TSH adalah kadar hormon tiroid yang bersirkulasi dan laju metabolik tubuh.

Hormon yang dihasilkan oleh kelenjar tiroid adalah:
ž Hormon Pemacu Tiroid (TSH), memacu pembentukan dan pengeluaran hormon tiroid
žHormon Kalsitonin, menurunkan kadar kalsium darah  dan meningkatkan metabolisme sel
žHormon Tiroksin, berperan penting dalam pertumbuhan serta pemasakan sel (tubuh) secara normal

Fungsi hormon-hormon tiroid antara adalah:

ž  Mengatur laju metabolisme tubuh. Baik T3 dan T4 kedua-duanya meningkatkan metabolisme karena peningkatan komsumsi oksigen dan produksi panas. Efek ini pengecualian untuk otak, lien, paru-paru dan testis

ž   Kedua hormon ini tidak berbeda dalam fungsi namun berbeda dalam intensitas dan cepatnya reaksi. T3 lebih cepat dan lebih kuat reaksinya tetapi waktunya lebih singkat dibanding dengan T4. T3 lebih sedikit jumlahnya dalam darah. T4 dapat dirubah menjadi T3 setelah dilepaskan dari folikel kelenjar.

ž   Memegang peranan penting dalam pertumbuhan fetus khususnya pertumbuhan saraf dan tulang

ž   Mempertahankan sekresi GH dan gonadotropin


  Efek kronotropik dan Inotropik terhadap jantung yaitu menambah kekuatan kontraksi otot dan menambah irama jantung.

f. Merangsang pembentukan sel darah merah
g. Mempengaruhi kekuatan dan ritme pernapasan sebagai kompensasi tubuh terhadap kebutuhan oksigen akibat metabolisme 
h. Bereaksi sebagai antagonis insulin

Tirokalsitonin mempunyai jaringan sasaran tulang dengan fungsi utama menurunkan kadar kalsium serum dengan menghambat reabsorpsi kalsium di tulang. Faktor utama yang mempengaruhi sekresi kalsitonin adalah kadar kalsium serum. Kadar kalsium serum yang rendah akan menekan pengeluaran tirokalsitonin dan sebaliknya peningkatan kalsium serum akan merangsang pengeluaran tirokalsitonin. Faktor tambahan adalah diet kalsium dan sekresi gastrin di lambung.


4.  Kelenjar Paratiroid
Kelenjar paratiroid (parathyroidgland) berukuran kecil, kuning kecoklatan, oval, biasanya terletak antara garis lobus posterior dari kelenjar tiroid dan kapsulnya. Ukurannya kira2 6 x 3 x 2 mm. Beratnya 50 mg. Kelenjar paratiroid menempel pada bagian anterior dan posterior kedua lobus kelenjar tiroid oleh karenanya kelenjar paratiroid berjumlah empat buah. Normalnya paratiroid posterior bergeser hanya pada kutub paratiroid posterior, tapi bisa juga turun bersama timus ke thorax atau pada bifurcation karotis.

Kelenjar paratiroid superior letaknya lebih konstan daripada inferior dan biasanya terlihat di tengah garis posterior kelenjar tiroid walaupun bisa lebih tinggi. Bagian inferior sangat bervariasi pada beberapa situasi (tergantung perkembangan embriologisnya) dan bisa tanpa selubung fascia tiroid, di bawah arteri tiroid, atau pada kelenjar tiroid dekat kutub inferior.  Kelenjar ini terdiri dari dua jenis sel yaitu Chief cells dan Oxyphill cells. Chief cells merupakan bagian terbesar dari kelenjar paratiroid, mensintesa dan mensekresi hormon paratiroid atau parathormon (PTH).

Parathormon mengatur metabolisme kalsium dan posfat tubuh. Organ targetnya adalah tulang, ginjal dan usus kecil (duodenum).

Organ

Fungsi
Tulang
PTH mempertahankan resorpsi tulang sehingga kalsium serum meningkat

Ginjal

PTH mengaktifkan vitamin D. Dengan vitamin D yang aktif akan terjadi peningkatan absorpsi kalsium dan posfat dari intestin. Selain itu hormon inipun akan meningkatkan reabsorpsi Ca dan Mg di tubulus ginjal, meningkatkan pengeluaran Posfat, HCO3 dan Na.

Usus kecil
PTH meningkatkan absorbsi kalsium

Karena sebagian besar kalsium disimpan di tulang, maka efek PTH lebih besar terhadap tulang. Faktor yang mengontrol sekresi PTH adalah kadar kalsium serum di samping tentunya PTSH.


5.  Kelenjar Adrenal/ Suprenal

Terdapat 2 buah kelenjar adrenal terletak di atas ginjal. Kelenjar adrenal terbagi menjadi 2 bagian, yaitu bagian medula adrenal (bagian tengah kelenjar adrenal) dan korteks adrenal (bagian luar kelenjar).

Korteks adrenal memproduksi 3 kelompok hormon steroid, yaitu glukokortikoid dengan prototipe hidrokortison, mineralokortikoid khususnya aldosteron, dan hormon-hormon seks khususnya androgen
o Glukokortikoid berfungsi untuk mempengaruhi metabolisme glukosa, peningkatan sekresi hidrokortison akan menaikkan kadar glukossa darah.
o  Mineralikortikoid bekerja meningkatkan absorbsi ion Natrium dalam proses pertukaran untuk mengekresikan ion Kalium atau Hidrogen.
o     Hormon seks adrenal ( androgen ) memberikan efek yang serupa dengan efek hormon seks pria.

Medula adrenal berfungsi sebagai bagian dari saraf otonom. Selain itu juga menghasilkan adrenalin da noradrenalin. Nor adrenalin menikan tekanan darah denga jalan merangsang serabut otot di dalam dinding pembuluh darah untuk berkontraksi, dan adrenalin membantu metabolisme karbohidrat dengan jalan menambah pengeluaran glukosa dari hati.

Fungsi kelenjar adrenal korteks :
·          Mengatur keseimbangan air, elektrolit dan garam
·          Mempengaruhi metabolisme lemak, hidrat arang, dan protein
·          Mempengaruhi aktivitas jaringan limfoid
 Fungsi kelenjar adrenal medula :
·          Vasokontriksi pembuuh darah perifer
·          Relaksasi bronkus
·          Kontraksi selaput lendir dan arteriol



6.  Kelenjar Pankreas/Pulau Langerhans

Kelenjar ini terdapat di belakang lambung di depan vertebra lumbalis I dan II. Sebagai kelenjar eksokrin, pankreas menghasilkan enzim-enzim pencernaan ke dalam lumen duodenum. Sebagai kelenjar endokrin, pankreas terdiri dari pulau-pulau Langerhans, menghasilkan hormon. Pulau Langerhans berbentuk oval dan tersebar di seluruh pankreas. Fungsi pulau Langerhans sebagai unit sekresi dalam pengeluaran homeostatik nutrisi, menghambat sekresi insulin, glikogen dan polipeptida. Pada manusia, mengandung 4 macam sel, yaitu :
·         sel A (atau α)               : menghasilkan glukagon
·         sel B (atau β)               : menghasilkan insulin
·         sel D (atau γ)               : menghasilkan somatostatin
·         sel F (sgt kecil)            : menghasilkan polipeptida pankreas
Hormon insulin berguna untuk menurunkan gula darah, menggunakan dan menyimpan karbohidrat. Glukagon berfungsi untuk menaikkan glukosa darah dengan jalan glikolisis. Somatostatin berguna menurunkan glukosa darah dengan melepaskan hormon pertumbuhan dan glukagon. Fungsi sekresi sel F belumlah jelas.



7.  Kelenjar Gonad / Kelamin

Terbentuk pada minggu-minggu pertama gestasi dan tampak jelas pada minggu ke lima. Diferensiasi jelas dengan mengukur kadar testosteron fetal terlihat jelas pada minggu ke tujuh dan ke delapan gestasi. Keaktifan kelenjar gonad terjadi pada masa prepubertas dengan meningkatnya sekresi gonadotropin (FSH dan LH) akibat penurunan inhibisi steroid.

a.      Testis
 Dua buah testis berada dalam skrotum. Testis mempunyai dua fungsi yaitu sebagai organ endokrin dan organ reproduksi. Menghasilkan hormon testosteron dan estradiol di bawah pengaruh LH. Testosteron diperlukan untuk mempertahankan spermatogenesis sementara FSH diperlukan untuk memulai dan mempertahankan spermatogenesis.

Estrogen mempunyai efek menurunkan konsentrasi testosteron melalaui umpan balik negatif terhadap FSH sementara kadar testosteron dan estradiol menjadi umpan balik negatif terhadap LH. Fungsi testis sebagai organ reproduksi berlangsung di tubulus seminiferus. Efek testosteron pada fetus merangsang diferensiasi dan perkembangan genital ke arah pria. Pada masa pubertas hormon ini akan merangsang perkembangan tanda-tanda seks sekunder seperti perkembangan bentuk tubuh, pertumbuhan dan perkembangan alat genital, distribusi rambut tubuh, pembesaran laring dan penebalan pita suara serta perkembangan sifat agresif. Sebagai hormon anabolik, akan merangsang pertumbuhan dan penutupan epifise tulang.



b. Ovarium
Seperti halnya testis, ovarium juga berfungsi sebagai organ endokrin dan organ reproduksi. Sebagai organ endokrin, ovarium menghasilkan hormon estrogen dan progesteron. Sebagai organ reproduksi, ovarium menghasilkan ovum (sel telur) setiap bulannya pada masa ovulasi untuk selanjutnya siap untuk dibuahi sperma. Estrogen dan progesteron akan mempengaruhi perkembangan seks sekunder, menyiapkan endometrium untuk menerima hasil konsepsi serta mempertahankan proses laktasi.
Estrogen dibentuk di sel-sel granulosa folikel dan sel lutein korpus luteum. Progesteron juga dibentuk di sel lutein korpus luteum.



                                           Penyakit Pada Sistem Endokrin

Setiap tubuh seseorang pasti mengalami perubahan dan akan mempengaruhi fungsi sistem endokrin dan sekresi (keluarnya) hormon. Berubahnya tingkat hormon bisa dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti stres, infeksi, penuaan, genetik dan lingkungan yang bisa merusak keseimbangan badan. Bila sistem endokrin tidak seimbang, ia akan terganggu dan tidak dapat berfungsi dengan baik. Hal ini akan menyebabkan ketidakseimbangan hormon dan bisa merusak kesehatan kita lewat beragam cara.

Mengingat fungsi sistem endokrin yang kompleks dan rumit mencakup mekanisme kerja hormonal dan adanya mekanisme umpan balik yang negatif yang sudah barang tentu akan mempengaruhi perjalanan penyakit. Seperti lazimnya kelainan-kelainan pada organ tubuh, pada kelenjar endokrin pun berlaku hal yang sama dimana gangguan fungsi yang terjadi dapat diakibatkan oleh:

o   Peradangan atau infeksi
o   Tumor atau keganasan
o   Degenerasi
o   Idiopatik
o    
Dampak yang ditimbulkan oleh kondisi patologis di atas terhadap kelenjar endokrin dapat berupa:

o  Perubahan bentuk kelenjar tanpa disertai perubahan sekresi hormonal
o Peningkatan sekresi hormon yang dihasilkan oleh kelenjar endokrin (hiperfungsi kelenjar).
o  Penurunan sekresi hormon yang dihasilkan oleh kelenjar endokrin (hipofungsi kelenjar).

Ada banyak penyakit sistem endokrin yang diakibatkan oleh gangguan pada sistem yang komplek ini. 

Di antara penyakit-penyakit yang sudah populer antara lain:

·      Gangguan pertumbuhan, seseorang yang kelebihan hormon pertumbuhan akan mengalami pertumbuhan yang luar biasa. Pada anak-anak kelebihan hormon pertumbuhan disebut gigantisme dan pada orang dewasa disebut ackromegali. Sebaliknya, bila anak-anak mengalami kekurangan hormon, ia akan mengalami kekerdilan.

· Hyperprolactinemia, sekresi prolaktin yang berlebihan. Hal ini bisa menyebabkan produksi/keluarnya air susu ibu (galactorhea) meski tidak mengandung atau tidak menstruasi (amemorrhea).


·      Kegagalan fungsi gonad (hypogonadisme), akibat kekurangan sekresi Hormon Lutein (LH) dan Hormon Perangsang Folikel (FSH). Keadaan ini biasanya sering dialami pria, yakni berupa kegagalan menghasilkan jumlah sperma yang normal.

·         Penyakit tiroid, hormon tiroid yang berlebihan sebagai hasil dari kelenjar tiroid yang terlalu aktif disebut hyperthyroidisme. Hal ini akan menyebabkan badan meningkatkan keadaan metabolik yang naik. Kondisi ini akan mengabkibatkan banyak sistem dalam tubuh mengembangkan fungsi yang tidak normal. Hypothyroidisme adalah kondisi di mana hormon tiroid kurang disekresi dari kelenjar tiroid yang kurang aktif. Hal ini akan melambatkan proses-proses dalam tubuh dan mungkin mengakibatkan kepenatan, denyut jantung lemah, kulit menjadi kering, berat badan meningkat, dan sembelit. Pada anak-anak, penyakit ini menyebabkan pertumbuhan yang lambat dan telatnya masa balig.


·     Penyakit kencing manis, penyakit sistem endokrin yang sering kita dijumpai. Penyakit kecing manis ada dua. Jenis pertama terjadi apabila pankreas gagal menghasilkan insulin yang mencukupi. Jenis ke dua terjadi akibat badan tidak mampu merespon insulin dengan normal. Penyakit kencing manis ini bisa menyebabkan gagal ginjal, neuropathy dan kerusakan saraf, kebutaan, amputasi kaki, sakit jantung, serta stroke.

·   Osteoporosis, terjadi baik pada wanita maupun laki-laki. Ini terjadi bila struktur tulang menjadi semakin lemah dan kelihatan seperti retak atau patah. Banyak faktor penyebabnya, termasuk kekurangan hormon estrogen pada masa menopause wanita, atau kekurangan hormon tetosteron pada laki-laki seiring bertambahnya usia.

·     Sindrom Ovari Polikistik, Polycystic Ovary Syndrome (PCOS) adalah penyakit endokrin yang menyerang lebih kurang 5% jumlah wanita. Wanita yang mengalami PCOS ini menghasilkan jumlah hormon seks lelaki (endogren) yang berlebihan. Hal ini bisa menghalangi proses ovulasi dan menyebabkan ketidaksuburan. Para penderita PCOS mungkin mengalami gangguan menstruasi atau malah tidak menstruasi, tidak subur, rambut yang tumbuh berlebihan. Penyakit ini bisa mengakibatkan gangguan kesehatan jangka panjang pada wanita.

·      Menopause, yakni masa perubahan badan di mana level estrogen, testosteron, dan progesteron semakin berkurang dan akhirnya sama sekali berhenti produksi. Kekurangan estrogen menyebabkan badan terasa panas, berpeluh, emosi tidak stabil, murung, vagina kering, urin terganggu, hilang konsentrasi, dsb. Ada banyak risiko jangka panjang yang bisa terjadi seperti penyakit kardiovaskular meningkat, kegemukan, perubahan tingkat kolesterol, risiko osteoporosis meningkat, penyakit Alzhiemer, dsb.


·       Diabetes insipidus, penyakit diakibatkan oleh kekurangan hormon antidiuresis. Masalah ini timbul akibat rusaknya tangkai pituitari atau kelenjar pituitari posterior. Penderita yang mengidap diabetes insipidus ini selalu merasa dahaga dan sering kencing.
·          
    Ketidakcukupan Adrenal atau penyakit Addison, yakni akibat rusaknya fungsi korteks adrenal dan secara langsung mengakibatkan kekurangan pengeluaran/sekresi hormon kortikosteroid adrenal. Gejala-gejalanya antara lain; badan lemah, penat, loyo, kekurangan/turunnya berat badan, murung, lesu, muntah-muntah, anoreksia, dan hiperpigmentasi.

·         Sindrom Cushing, yakni keadaan akibat hipersekresi [perembesan yang berlebih] glukokortikoid dari korteks adrenal. Gejalanya antara lain termasuk kegemukan, gagal pertumbuhan, lemah otot, kulit mudah lebam, jerawat, tekanan darah tinggi, dan perubahan psikologis.



Dipostkan oleh :
Mahasiswa Teknik Elektromedik D4 2012


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Sistem Reproduksi Pria


SISTEM REPRODUKSI PRIA


Sistem reproduksi pada laki-laki berkaitan terutama dengan kelangsungan keberadaan spesies manusia. Oleh karena itu, sistem ini berbeda dengan sistem organ lainnya dalam tubuh yang berhubungan dengan homeostatis dan kemampuan bertahan individu. Proses reproduksi pada laki-laki meliputi, maturasi seksual (perangkat fisiologi untuk reproduksi), pembentukan gamet (spermatozoa), dan ejakulasi.

Bagian-bagian dalam sistem reproduksi pria, antara lain :

A. Sepasang Testis

Kelenjar kelamin penghasil sperma dan hormon testosteron. Lokasi testis berada pada skrotum yang memiliki lingkungan suhu lebih rendah beberapa derajat daripada suhu tubuh. Pada kasus cryptorchidism (testis yang masih ada di rongga peritoneum, tidak turun ke skrotum), lingkungan testis menjadi lebih panas yang mengakibatkan tidak dapat menghasilkan sperma yang viabilitasnya baik, karena sperma sangat sensitif terhadap suhu. Testis menghasilkan jutaan sperma setiap hari mulai dari masa pubertas sampai meninggal dunia. Jika tidak dikeluarkan, sel-sel sperma akan mati dan diserap kembali oleh tubuh.

B. Epididimis

Saluran yang baru keluar dari testis disebut epididimis. Saluran ini berjalan berkelok-kelok membentuk suatu gumpalan memanjang menempel di belakang testis. Sel-sel sperma yang telah masak akan ditampung dalam saluran tersebut. Fungsi epididimis ialah sebagai tempat penyimpanan dan pematangan spermatozoa. Sewaktu orgasme dan terjadi ejakulasi, otot polos epididimis berkontraksi, mendorong sperma menuju duktus deferens dan uretra. Umur spermatozoa dalam epididimis kira-kira 1 bulan.

C. Vas Deferens

Saluran vas deferens keluar dari epididimis berjalan lurus meninggalkan kantung buah pelir (testis) untuk menuju rongga panggul. Vas deferens tersebut masuk di daerah lipat paha yang berjalan diantara serabut-serabut otot untuk masuk ke dalam rongga panggul. Di dalam rongga panggul kedua vas deferens kanan-kiri saling mendekat di belakang kantong kemih kemudian menembus kelenjar prostat (glandula prostata) untuk bermuara dalam uretra (saluran air kemih). Selanjutnya sel-sel mani dapat mengalir melalui uretra dalam penis. Jadi, uretra-penis selain mengalirkan air kemih juga mengalirkan sel-sel mani.

D. Penis

Terdiri dari 3 bagian: akar, badan dan glans penis yang membesar yang banyak mengandung ujung-ujung saraf sensorik. Organ ini berfungsi untuk tempat keluar urine dan semen serta sebagai organ kopulasi.
1. Kulit penis tipis dan tidak berambut kecuali di dekat akar organ. Prepusium (kulup) adalah lipatan sirkular kulit longgar yang merentang menutupi glans penis kecuali jika di angkat melalui sirkumsisi. Korona adalah ujung proksima glans penis.

2. Badan penis, badan penis di bentuk dari 3 massa jaringan erektil silindris ; 2 korpus karvenosum dan 1 korpus spongiosum ventral di sekitar uretra.
a. Jaringan erektil adalah jaringan-jaringan ruang darah irregular (venosa sinusoid) yang diperdarahi oleh arteriol aferen dan kapilar, di drainase oleh venula dan di kelilingi jaringan ikat rapat yang disebut tunika albuginea.

b. Korpus Kavernosum dikelilingi jaringan ikat rapat yang disebut tunika aluginea.

3. Mekanisme ereksi penis. Ereksi adalah salah satu fungsi vaskular korpus kavernosum dibawah pengendalian SSO.
a. Jika penis lunak, stimulus simpatis terhadap arteriol penis menyebabkan konstriksi sebagian organ ini, sehingga aliran darah yang melalui penis tetap dan hanya sedikit darah yang masuk ke sinusoid kavernosum.

b. Saat stimulasi mental/seksual, stimulus parasimpatis menyebabkan vasodilatasi arteriol yang memasuki penis. Lebih banyak darah yang memasuki vena dibandingkan yang dapat di drainase vena.

c. Sinusoid korpus kavernosum berdistensi karena berisi darah dan menekan vena yang dikelilingi tunika albuginea non-distensi.

d. Setelah ejakulasi, impuls simpatis menyebabkanterjadinya vasokonstriksi arteri dan darah akan mengalir ke vena untuk dibawa menjauhi korpus. Penis mengalami detumesensi atau kembali ke kondisi lunak.

E. Kelenjar Tambahan :

Kelenjar tambahan berfungsi untuk mengsekresi cairan yang diperlukan sebagai media berenangnya sperma, mempertahankan kehidupan sperma, dan menetralisir asam. Cairan ini akan bergabung dengan sperma di saat ejakulasi, menghasilkan air mani (semen). Terdapat 3 kelenjar tambahan, yaitu :

1. Vesikula Seminalis
Epitel sekretorik menyekresi bahan mukus yang mengandung fruktosa, asam sitrat, prostaglandin, dan fibrinogen. Setelah itu vas deferens mengeluarkan sperma dan menamabah semen yang diejakulasi, fruktosa, dan zat gizi lainnya yang dibutuhkan oleh sperma untuk membuahi ovum. Prostaglandin membutuhkan proses pembuahan yang bereaksi dengan mukus serviks dan membuat lebih reseptif (menerima) terhadap gerakan sperma untuk menggerakkan sperma sampai mencapai ke ujung atas tuba fallopi dalam waktu 5 menit.

2. Kelenjar Prostat
Kelenjar prostat menghasilkan cairan encer yang mengandung ion sitrat, ion phosphat, enzim pembeku, dan profibrinosilin. Selama pengisian kelenjar prostat berkontraksi sejalan dengan kontraksi vas deferens sehingga cairan encer dapat dikeluarkan untuk menambah lebih banyak jumlah semen. Sifat yang sedikit basa dari cairan prostat memungkinkan untuk keberhasilan fertilisasi (gumpalan) ovum karena cairan vas deferens sedikit asam. Cairan prostat menetralisir sifat asam dari cairan lain setelah ejakulasi. Menghasilkan cairan basa berwarna putih susu. Cairan ini berfungsi untuk menetralkan sifat asam pada saluran vasa eferentia dan cairan pada vagina sehingga sperma dapat bergerak dengan aktif.

3. Kelenjar Cowperi (Bulbouretralis)
Ada sepasang, terletak pada diafragma urogenital di bawah kelenjar prostat, salurannya bermuara di uretra spongiosa, panjangnya 2-5cm, penghasil cairan pelicin.
F. Semen

Cairan semen berasal dari vas deferens dan merupakan cairan yang terakhir diejakulasi. Semen berfungsi untuk mendorong sperma keluar dari duktus ejakulatorius dan uretra. Cairan dari vesikula seminalis membuat semen lebih kental. Enzim pembeku dari cairan prostat menyebabkan fibrinogen dari cairan vesikula semenalis membentuk kuagulum yang lemah.
Walaupun sperma dapat hidup beberapa minggu dalam duktus genitalia pria setelah sperma diejakulasi ke dalam semen, akan tetapi jangka hidup sperma maksimal 24-48 jam. Air mani yang normal memiliki beberapa kriteria, antara lain :
a) Berupa cairan yang sedikit kental, warna putih kadang-kadang kekuningan.
b) Volume 3-5 cc.
c) Lebih dari 60 persen sperma bergerak aktif.
d) Jumlah sperma 50-100 juta per cc, bila dibawah 20 juta per cc menunjukkan infertilisasi (tak dapat menghasilkan keturunan).
e) Jumlah sperma yang normal harus lebih besar dari 70 persen.

G. Duktus seminalis

Merupakan kelanjutan dari epididimis ke kanalis inguinalis, kemudian duktus ini berjalan masuk ke dalam rongga perut kemudian ke kandung kemih, di belakang kandung kemih akhirnya bergabung dengan saluran vesika seminalis dan selanjutnya membentuk ejakulatorius, dan bermuara di prostat, panjang duktus deferens 50-60cm berjalan bersama pembuluh darah dan saraf dalam funikulus spermatikus melalui kanalis inguinalis memanjang pada bagian akhir berbentuk kumparan disebut ampula duktus deferentis, terletak dalam osteum fesika seminalis berlanjut sebagai duktus ejakulotorius yang menembus prostat.

H. Uretra

Uretra adalah saluran yang menghubungkan kantung kemih ke lingkungan luar tubuh. Berfungsi sebagai saluran pengeluaran air mani. Panjang uretra sekitar 20 cm dan berakhir pada akhir penis. Uretra pada pria dibagi menjadi 4 bagian, dinamakan sesuai dengan letaknya:
1. Pars pra-prostatica, terletak sebelum kelenjar prostat.
2. Pars prostatica, terletak di prostat, Terdapat pembukaan kecil, dimana terletak muara vas deferens.
3. Pars membranosa, sekitar 1,5 cm dan di lateral terdapat kelenjar bulbouretralis.
4. Pars spongiosa/cavernosa, sekitar 15 cm dan melintas di corpus spongiosum penis.

I. Skrotum

Sebuah kantung kulit yang menggantung dibawah penis. Tugasnya adalah menyanggah dan melindungi testis. Karena menggantung diluar tubuh, Skrotum juga membuat suhu testis lebih rendah dari suhu tubuh. Kondisi ini menguntungkan karena testis dapat membuat sperma pada kondisi terbaik dalam menjalankan fungsinya, skrotum dapat merubah ukuranya. Bila suhu udara dingin, skrotum akan mengerut dan menyebabkan testis lebih dekat dengan tubuh dan dengan demikian lebih hangat sebaliknya pada cuaca panas, skrotum akan membesar dan mengendur akibatnya luas permukaan skrotum meningkat dan panas dapat di keluarkan.
 J. Fenikulus spermatikus

Merupakn bangunan penyambung yang berisi duktus seminalis, pembuluh limfe dan serabut-serabut saraf.

K. Vasa eferentia

Vasa eferentia merupakan bagian yang berfungsi menampung sperma untuk disalurkan ke epididimis berjumlah antara 10-20 buah.

L. Korpus Spongiosum

Jaringan seperti spons yang bisa membesar dan menegang. Bila hasrat seksual seorang pria meningkat, jaringan ini akan terisi darah dan akibatnya penis membesar dan mengeras. Keadaan ini disebut ereksi. Kemampuan untuk ereksi sangat berperan dalam fungsi reproduksi.

M. Hormon Pada Pria :

1. Hormon Testosteron

Dihasilkan oleh sel interstial yang terletak antara tubulus seminiferus. Sel ini berjumlah sedikit pada bayi dan anak, tetapi banyak terdapat pada pria dewasa.
Setelah pubertas, sel interstial banyak menghasilkan hormon testosteron yang disekresi oleh testis. Sebagian besar testosteron berikatan longgar dengan protein plasma yang terdapat dalam darah dan sebagian terikat pada jaringan yang dibuahi dalam sel menjadi dehidrasi testosteron. Testosteron yang tidak terikat pada jaringan dengan cepat diubah oleh hati menjadi aldosteron dan dehidroepialdosteron. Konjugasi ini disekresi dalam usus melalui empedu ke dalam urin.

Fungsi hormon testosteron :
1. Efek desensus (penempatan) testis.
Hal ini menunjukkan bahwa testosteron merupakan hal yang penting untuk
perkembangan seks pria selama kehidupan manusia dan merupakan faktor
keturunan.

2. Perkembangan seks pria dan sekunder.
Sekresi testosteron setelah pubertas menyebabkan penis, testis, dan skrotum
membesar sampai usia 20 tahun serta mempengaruhi pertumbuhan sifat
seksual sekunder pria mulai pada masa pubertas.

2. Hormon Gonadotropin

Kelenjar hipofisis anterior menghasilkan dua macam hormon, yaitu Lutein Hormon (LH) dan Folikel Stimulating Hormon (FSH). Bila testis dirangsang oleh LH dari kelenjar hipofisis, maka sekresi testosteron selama kehidupan fetus penting untuk peningkatan pembentukan organ seks pria.

3. Hormon Estrogen

Dibentuk dari testosteron dan dirangsang oleh hormon perangsang folikel. Hormon ini memungkinkan spermatogenesis untuk menyekresi protein pengikat endogen untuk mengikat testosteron dan estrogen serta membawa keduanya ke dalam cairan lumen tubulus semininferus untuk pematangan sperma.

4. Hormon Pertumbuhan

Diperlukan untuk mengatur latar belakang fungsi metabolisme testis secara khusus dan untuk meningkatkan pembelahan awal spermatogenesis sendiri. Bila tidak terdapat hormon pertumbuhan, maka spermatogenesis sangat berkurang atau tidak ada sama sekali.

N. Fisiologi Sperma

Mortilitas dan fertilitas sperma terjadi karena gerakan flagella melalui medium cairan. Sperma normal cenderung untuk bergerak lurus daripada berputar. Aktivitas ini ditingkatkan dalam medium netral dan sedikit basa. Pada medium yang sangat asam dapat mematikan sperma dengan cepat. Aktivitas sperma dapat meningkat bersamaan dengan peningkatan suhu dan kecepatan metabolisme. Sperma pada traktus genetalia wanita hanya dapat hidup 1-2 hari.

O. Spermatogenesis

Tubulus seminiferus mengandung banyak sel epitel germinativum yang berukuran kecil dinamakan spermatogenia, menjadi sprematosit, dan membelah diri membentuk 2 spermatosit yang masing-masing mengandung 23 kromosom setelah beberapa minggu menjadi spermatozoa. Spermatid pertama kali dibentuk masih mempunyai sifat umum sel epiteloid kemudian sitoplasma menghilang lalu spermatid memanjang menjadi spermatozoa yang terdiri atas kepala, leher, badan, dan ekor.
Setelah pembentukan tubulus seminiferus, sperma masuk ke seminiferus selama 18 jam-10 hari hingga mengalami proses pematangan. Epididimis menyekresi cairan yang mengandung hormon, enzin, dan gizi yang sangat penting dalam proses pematangan sperma. Sebagian besar terdapat pada vas deferens dan sebagian kecil di dalam epididimis.
Sel sperma yang bersifat haploid (n) dibentuk di dalam testis melewati sebuah proses kompleks yang disebut dengan spermatogenesis. Secara simultan proses ini memproduksi sperma matang di dalam tubulus seminiferus lewat langkah-langkah berikut ini:
1. Ketika seorang anak laki-laki mencapai pubertas pada usia 11 sampai 14
tahun, sel kelamin jantan primitif yang belum terspesialisasi dan disebut
dengan spermatogonium menjadi diaktifkan oleh sekresi hormon
testosteron.

2. Masing-masing spermatogonium membelah secara mitosis untuk
menghasilkan dua sel anak yang masing-masing berisi 46 kromosom
lengkap.

3. Dua sel anak yang dihasilkan tersebut masing-masing disebut
spermatogonium yang kembali melakukan pembelahan mitosis untuk
menghasilkan sel anak, dan satunya lagi disebut spermatosit primer yang
berukuran lebih besar dan bergerak ke dalam lumen tubulus seminiferus.

4. Spermatosit primer melakukan meiosis untuk menhasilkan dua
spermatosit sekunder yang berukuran lebih kecil dari spermatosit
primer. Spermatosit sekunder ini masing-masing memiliki 23 kromosom yang terdiri atas 22 kromosom tubuh dan satu kromosom kelamin (Y atau X).

5. Kedua spermatosit sekunder tersebut melakukan mitosis untuk
menghasilkan empat sel lagi yang disebut spermatid yang tetap memiliki
23 kromosom.

6. Spermatid kemudian berubah menjadi spermatozoa matang tanpa
mengalami pembelahan dan bersifat haploid (n) 23 kromosom.
Keseluruhan proses spermatogenesis ini menghabiskan waktu sekitar 64 hari.

Sperma dihasilkan oleh tubulus seminiferus yang memiliki panjang 250 m
dalam testes. Sel-sel yang berada di tubulus seminiferus berupa sel germinal dengan bermacam-macam tahap perkembangan dan sel Sertoli yang memberikan dukungan penting pada spermatogenesis. Spermatogenesis adalah proses kompleks sel germinal prmordial spermatogonia (46 kromosom) berproliferasi dan dikonversi menjadi spermatozoa motil (23 kromosom). Prosesnya memerlukan waktu 64 hari dengan 3 tahap: mitosis, meiosis, dan spermiogenesis. Spermatozoa memiliki 4 bagian, yaitu kepala, akrosom, midpiece, dan ekor. Kepala terdiri dari nukleus yang terdapat informasi genetik. Akrosom adalah vesikel pada kepala yang terdapat enzim yang digunakan untuk penetrasi sperma. Akrosom dibentuk dengan agregasi vesikel dihasilkan oleh retikulum endoplasmik/ kompleks golgi. Mobilitas spermatozoa dapat terjadi karena adanya ekor yang panjang yang tumbuh dari sentriol. Pergerakan ekor terjadi hasil dari pergerakan mikrotubul yang menggunakan energi (ATP) dari mitokondria yang berada pada bagian midpiece sperma. Proses spermatogenesis ini dapat terjadi karena dukungan dari sel Sertoli.


Fungsi penting sel Sertoli selama proses spermatogenesis antara lain:

1. Sel Sertoli membentuk tight junction sebagai barrier spermatozoa dengan
darah sehingga dapat mencegah pembentukan antibodi yang dapat
menyerang sel spermatozoa (dianggap sebagai zat asing karena haploid,
sel tubuh bersifat diploid).

2. Memberikan makanan.

3. Sel Sertoli berfungsi untuk memfagosit sitoplasma dari spermatid yang
berubah menjadi spermatozoa dan menghancurkan sel germinal yang
rusak.

4. Sel Sertoli membentuk lumen cairan tubulus seminiferus sehingga
sperma dapat dilepaskan dari tubulus ke epididimis untuk disimpan dan
diproses lebih lanjut.

5. Sel Sertoli mensekresi androgen-binding protein (ABP). ABP berfungsi
untuk mempertahankan testosteron tetap berada dalam tubulus
seminiferus, karena testosteron berupa lipid yang mudah keluar dari
membran plasma dan meninggalkan lumen.

6. Menghasilkan hormon inhibin sebagai umpan balik negatif yang
mengontrol sekresi FSH.

 P. Pematangan Sperma

Setelah terbentuk dalam tubulus semeniferus, spema membutuhkan waktu beberapa hari untuk melewati epididimis. Sperma bergerak dari tubulus seminiferus ke bagian awal epididimis selama 18-24 jam. Sperma memiliki kemampuan mortalitas walaupun beberapa faktor menghambat cairan dalam epididimis untuk mencegah mobilitas setelah ejakulasi menyekresi cairan yang mengandung hormon testosteron dan estrogen, enzim-enzim, serta nutrisi khusus untuk pematangan sperma.

Q. Penyimpanan Sperma

Kedua testis dapat membentuk sperma ± 120 juta setiap hari. Sejumlah kecil sperma dapat disimpan dalam epididimis, sedangkan sebagian besar sisanya disimpan dalam vas deferens dan ampula vas deverens sehingga dapat mempertahankan fertilitasnya dalam duktus genitalis selama 1 bulan. Dengan aktivitas seksualitas yang tinggi, penyimpanan hanya beberapa hari saja.

R. Kegiatan Seksual Pria

Rangasangan akhir organ sensorik dan sensasi seksual menyebar melalui saraf pudendus melalui pleksus sakralis dari medula spinalis untuk membantu rangsangan aksi seksual dalam mengirim sinyal ke medula dan berfungsi untuk meningkatkan sensasi seksual yang berasal dari struktur interna. Dorongan seksual akan mengisi organ seksual dengan sekret yang menyebabkan keinginan seksual dengan merangsang kandung kemih dan mukosa uretra.
Unsur psikis rangsangan seksual : sesuai dengan meningkatnya kemampuan seseorang untuk melakukan kegiatan seksual dengan memikirkan/khayalan akan menyebabkan terjadinya aksi seksual sehingga menimbulkan ejakulasi atau pengeluaran sepanjang mimpi/khayalan, terutama usia remaja.
Aksi seksual pada medula spinalis : fungsi otak tidak terlalu penting karena rangsangan genital yang menyebabkan ejakulasi dihasilkan dari mekanisme refleks yang sudah terintegrasi pada medula spinalis lumbalis. Mekanisme ini dapat dirangsang secar psikis dan seksual yang nyata ataupun kombinasi keduanya.

S. Pengaturan Fungsi Reproduksi

Pengaturan fungsi reproduksi dimulai dari pelepasan hormon gonadotropin (GnRH) oleh hipotalamus lalu merangsang kelenjar hipofisis anterior untuk menyekresi Lutein Hormon, hormon perangsang Lutein Hormon (LH), dan Folikel Stimulating Hormon (FSH). Lutein Hormon merupakan rangsangan utama untuk sekresi testosteron oleh testis dan folikel stimulating. Hormon yang disekresi akan merangsang spermatogenesis.
Ejakulasi disertai orgasme merupakan titik kulminasi aksi seksual laki-laki. Semen diejeksikan melalui serangkaian semprotan.
1. Impuls simpatis dari pusat refleks medula spinalis menjalar di sepanjang spinal lumbal (L1 dan L2) menuju organ genital dan menyebabkan kontraksi peristaltik dalam duktus testis epididimis dan duktus deferens. Kontraksi ini menggerakkan sperma di sepanjang saluran.

2. Impuls parasimpatis menjalar pada pusat pudendal dan menyebabkan otot bulbo kavernosum pada dasar penis berkontraksi secara berirama.

3. Kontraksi awal pada vesikel spinalis, prostat, dan kelenjar bolborektalis menyebabkan terjadinya sekresi cairan seminal yang bercampur dengan sperma untuk membentuk semen.

T. Pengaruh GnRH Meningkatkan Sekresi LH dan FSH

Hipotalamus melepaskan Gonadotropin Hormon (GnRH) yang diangkut ke kelenjar hipotalamus anterior untuk merangsang pelepasan LH dan FSH dalam darah porta. Perangsangan hormon ini ditentukan oleh frekuensi dari siklus sekresi dan jumlah GnRH yang dilepas dari setiap siklus. Sekresi LH mengikuti pelepasan GnRH lalu sekresi FSH berubah lebih lambat sebagai respons perubahan jangka panjang GnRH.
Pengaruh hormon gonadotropin terhadap LH dan FSH : hormon ini disekresi oleh sel-sel yang sama dalam kelenjar hipofisis anterior. LH dan FSH adalah glikoprotein yang berkaitan dengan protein dalam molekul yang sangat bervariasi. Dalam keadaan yang berbeda dapat mengubah kemampuan aktivitas dasar LH maupun FSH hingga mengeluarkan pengaruhnya pada jaringan di dalan testis melalui aktivitas pengaktifan sistem enzim khusus dalam sel-sel target berikutnya.

U. Sekresi Metabolisme dan Sifat Kimia

Sekresi androgen dalam tubuh memiliki efek maskulinisasi termasuk testosteron. Aktivitas maskulinisasi dari semua hormon sangat sedikit yaitu kurang dari 5% seluruh aktivitas tubuh pria dewasa. Sifat kimia androgen adalah senyawa steroid untuk testosteron yang dapat dibentuk dari kolesterol langsung dari asetil koenzim A. Setelah testosteron di metabolisme dan disekresi testis, sekitar 97% testosteron akan menjadi lemah ikatannya dengan albumin plasma atau lebih kuat berikatan dengan globulin yang disebut globulin pengikat hormon kelamin dan bersirkulasi dengan darah.
Sebagian besar testosteron yang terikat ke jaringan diubah dalam sel-sel menjadi dehidrotestosteron dalam organ khusus seperti kelenjar prostat pada pria dewasa dan dalam genitalia eksterna pada janin laki-laki. Pembentukan estrogen juga terjadi pada pria. Di samping itu, testosteron dan estrogen juga ditemukan dalam urine pria. Jumlah estrogen dalam cairan tubulus seminiferus cukup tinggi dan menjalankan perannya dalam spermatogenesis.



Dipostkan oleh :
Mahasiswa Teknik Elektromedik D4 2012








  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS