RSS

Patologi Manusia
Kelebihan Berat Badan dan Obesitas






Disusun Oleh :
- Ribka Gledya
- Sinthia Mariana





Universitas M.H Thamrin
Tahun ajaran 2013/2014


1. Pengertian Obesitas

Obesitas adalah kelebihan lemak dalam tubuh yang umumnya ditimbun dalam jaringan subkutan (bawah Kulit) sekitar organ tubuh atau suatu keadaan dimana terjadi penumpukan lemak tubuh yang berlebih, sehingga berat badan seseorang jauh di atas normal dan dapat membahayakan kesehatan. Sementara kelebihan berat badan adalah keadaan dimana berat badan seseorang melebihi berat badan normal. Pada kondisi normal lemak tubuh berfungsi sebagai cadangan energi, pengatur suhu tubuh, dan fungsi lainnya. Namun bila lemak tubuh tersebut berlebih akan disimpan di dalam tubuh sebagai cadangan lemak. Inilah yang menimbulkan kegemukan. Kegemukan tidak terjadi secara instan tetapi perlahan-lahan berdasarkan jumlah cadangan lemak yang terus bertambah karena cadangan lemak tersebut tidak digunakan untuk beraktivitas. Dengan demikian tidak ada pembakaran kalori dan cadangan lemak akan terus bertambah seiring bertambahnya lemak di dalam tubuh yang dapat menyebebkan obesitas.

2 Penyebab Obesitas



Menurut hukum termodinamik, obesitas terjadi karena ketidakseimbangan antara asupan energi dengan keluarnya energi sehingga terjadi kelebihan energi yang selanjutnya disimpan dalam bentuk jaringan lemak. Kelebihan energi tersebut dapat disebabkan oleh asupan energi yang tinggi atau keluaran energi yang rendah. penyebab obesitas adalah multifaktor berikut ini akan dipaparkan sebagai penyebab obesitas yang dirangkum dari berbagai sumber.

2.1 Faktor genetik

Tingginya angka obesitas pada orang tua yang memiliki anak obes dipercaya bahwa faktor genetik menjadi faktor yang cukup penting. Penelitian telah menunjukkan 60-70% remaja obesitas mempunyai salah satu atau kedua orang tua yang juga obesitas. 40 remaja obesitas mempunyai saudara kandung yang juga obesitas (pipes, 1993).
Faktor genetik yang diketahui mempunyai peranan kuat adalah parental fatness, anak yang obesitas biasanya berasal dari keluarga yang obesitas. Bila kedua orang tua obesitas, sekitar 80% anak-anak mereka akan menjadi obesitas.bila salah satu orang tua obesitas kejadiannya menjadi 40%, dan bila kedua orang tua tidak obesitas maka prevalensi obesitas akan turun menjadi 14%. Peningkatan resiko menjadi obesitas tersebut kemungkinan disebabkan oleh pengaruh gen atau faktor lingkungan dalam keluarga (Damayanti, 2002).

2.2 Konsumsi ASI

Telah diketahui sejak dulu bahwa pemberian susu formula dan makanan semi solid dapat menjadi penyebab obesitas (Pipes, 1993). Y.H Hui dalam bukunya Principles and Issues in Nutrition menyebutkan bahwa salah satu penyebab obesitas yakni pengaruh kondisi masa kecil (childhood conditioning) dimana salah satu turunan dari childhood conditioning ialah infancy eating dan maladjustment. Ini berarti bayi telah diberikan makanan tambahan/pendamping ASI yang padat serta susu formula yang tinggi kalori terlalu dini. Hal ini tentu saja menggagalkan bayi dari proses pemberian ASI ekslusif yang seharusnya menjadi hak mereka dan dapat mencegah dari kemungkinan menjadi obesitas di kemudian hari. Untuk mencegah obesitas orang tua harus memberi ASI ekslusif tanpa memberi makanan pendamping ASI sejak lahir hingga usia 6 bulan untuk menjamin asupan yang baik (Mokoagow, 2007),

2.3 Kebiasaan Makan

Hui (1985) mengatak bahwa orang obesitas sangat suka sekali makan. Mereka biasanya makan dengan jumlah kalori lebih banyak dari pada kalori yang mereka butuhkan. Kebiasaan makan diartikan sebagai cara individu atau kelompok individu dalam memilih pangan dan mengkonsumsinya sebagai reaksi terhadap pengaruh fisiologik, psikologik, sosial, budaya. Kebiasaan makan sebagai tingkah laku manusia atau kelompok manusia dalam memenuhi kebutuhannya  akan makanan meliputi sikap, kepercayaan dan pemilihan makanan. Kebiasaan makan juga merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan kebiasaan dan perilaku yang berhubungan dengan makanan dan makan. Seperti tata krama, frekuensi makan, pola makan yang dimakan, dan pemilihan bahan makanan yang hendak dimakan (Suhardjo, 1989).
Selain itu kebiasaan konsumsi fast food/makanan cepat saji yang banyak mengandung energi, lemak, karbohidrat, dan gula akan mempengaruhi kualitas diet dan meningkatkan resiko obesitas. (MMI Volume 40, Nomor 2 Tahun 2005). Meningkatnya konsumsi fast food diyakini merupakan satu masalah, karena masalah obesitas meningkat pada masyarakat yang kelurganya banyak keluar mencari makanan cepat saji dan tidak mempunyai waktu lagi untuk menyiapkan makan di rumah (WHO, 2000). Anak-anak yang memakan fast food lebih dari 3 kali perminggu cenderung menjadi sedikit tidak suka pada makanan yang lebih sehat seperti buah, sayur, susu, dan makanan lain ketika mereka diminta untuk memilih (kimberly et al, 2006)

2.4 faktor Lingkungan 

Faktor lingkungan disini termasuk perilaku atau gaya hidup. Misalnya penggunaan makanan sebagai hadiah, tidak boleh makan makanan pencuci mulut sebelum semua makanan dipiring habis. Hal tersebut membantu pengembangan kebiasaan makan yang dapat menyebabkan obesitas. Penelitian di amerika menunjukkan bahwa anak-anak yang disekitar sekolahnya terdapat restoran cepat saji atau fast food akan memiliki kecenderungan kelebihan berat badan atau kegemukan. Ini adalah faktor lingkungan yang sangat menentukan.

2.5 Aktifitas fisik

Suatu data menunjukkan bahwa aktifitas fisik anak-anak cenderung menurun. Aktifitas meliputi aktifitas sehari-hari, kebiasaan, hobi, maupun latihan dan olahraga. Anak yang kurang atau enggan melakukan aktifitas fisik menyebabkan tubuh kurang menggunakan energi yang tersimpan di dalam tubuh. Oleh karena itu, jika asupan energi berlebihan tanpa di imbangi aktifitas fisik yang sesuai maka dapat mengakibatkan obesitas. Padahal cara yang paling mudah dan umum di pakai untuk meningkatkan pengeluaran energi adalah dengan melakukan kegiatan fisik.
Sebaliknya menonton televisiakan menurunkan aktifitas fisik dan keluaran energi karena mereka menjadi jarang atau kurang berjalan, bersepeda, maupun naik turun tangga. Disamping itu menonton program televisi tentu terbukti menurunkan laju metabolisme tubuh. Sebuah penelitian kohort mengatakan bahwa menonton televisi lebih dari 5 jam meningkatkan prevalensi dan angka kejadian obesitas pada anak usia 6-12 tahun (18%), serta menurunkan angka keberhasilan sembuh dari terapi obesitas sebanyak 33% (Damayanti, 2002).
Pipes (1993) menyebutkan ketidakaktifan menjadi salah satu penyebab obesitas. Anak-anak dan remaja obesitas sedikit bergerak/beraktifitas dari pada anak dengan berat badan normal. Kegiatan aktifitas fisik sangat diperlukan untuk anak-anak. Oleh karena itu peran orang tua sangat besar dalam mencegah obesitas pada anak.

2.6 kelainan dari lemak itu sendiri

Kelainan metabolisme dan kelainan sel lemak pada seseorang dapat menimbulkan kegemukan. Penambahan ukuran atau jumlah sel-sel lemak atau kedua-duanya dapat menyebabkan bertambahnya jumlah lemak yang disimpan dalam tubuh. Penderita kegemukan terutama yang sudah gemuk sejak anak-anak bisa memiliki sel lemak sampai 5 kali lebih banyak dibandingkan dengan orang yang berat badannya normal. Itulah sebabnya penurunan berat badan hanya dapat dilakukan dengan cara mengurangi jumlah lemak di dalam setiap sel.

2.3 Penyakit Komplikasi Obesitas




1.Hipertensi
Penambahan jaringan lemak meningkatkan aliran darah. Peningkatan kadar insulin berkaitan dengan retensi garam dan air yang meningkatkan volum darah. Laju jantung meningkat dan kapasitas pembuluh darah mengangkut darah berkurang.Semuanya dapat menungkatkan tekanan darah.

2.Diabetes
Obesitas merupakan penyebab utama DM t2.Lemak berlebih menyebabkan resistensi insulin, dan hiperglikemia berpengaruh negatif terhadap kesehatan.

3. Dislipidemia
Terdapat peningkatan kadar low-density lipoprotein cholesterol (jahat), penurunan kadar high-density lipoprotein cholesterol (baik) dan peningkatan kadar trigliserida. Dispilidemia berisiko terbentunya aterosklerosis.

4.Penyakit jantung koroner dan Stroke
Penyakit-penyakit ini merupakan penyakit kardiovaskular akibat aterosklerosis.

5.Osteoartritis.
Morbid obesity memperberat beban pada sendi-sendi.

6. Apnea tidur.
Obesitas menyebabkan saluran napas yang menyempit yang selanjutnya menyebabkan henti napas sesaat sewaktu tidur dan mendengkur berat.

7. Asthma
Anak dengan BBL atau obes cenderung lebih banyak mengalami serangan asma atau pembatasan keaktifan fisik.

8. Kanker
Banyak jenis kanker yang berkaitan dengan BBL misalnya pada perempuan kanker payudara, uterus, serviks, ovarium dan kandung empedu; pada lelaki kanker kolon, rektum dan prostat.

9. Penyakit perlemakan hati
Baik peminum alkohol maupun bukan dapat mengidap penyakit perlemakan hati (non alcoholic fatty liver disease = NAFLD) atau non alcoholic steatohepatitis (NASH) yang dapat berkembang menjadi sirosis.

10.  Penyakit kandung empadu
Orang dengan Berat Badan Lebih dapat menghasilkan banyak kolesterol yang berisiko batu kandung empedu.



2.4 Gambaran Klinis


Berdasarkan distribusi jaringan lemak, dibedakan menjadi :
apple shape body (distribusi jaringan lemak lebih banyak dibagian dada dan pinggang)
pear shape body/gynecoid  (distribusi jaringan lemak lebih banyak dibagian pinggul dan paha)

Obesitas dapat terjadi pada semua golongan umur, akan tetapi pada anak biasanya timbul menjelang remaja dan dalam masa remaja terutama anak wanita, selain berat badan meningkat dengan pesat, juga pertumbuhan dan perkembangan lebih cepat (ternyata jika periksa usia tulangnya), sehingga pada akhirnya remaja yang cepat tumbuh dan matang itu akan mempunyai tinggi badan yang relative rendah dibandingkan dengan anak yang sebayanya. Ada tiga derajat obesitas yaitu ringan 120%-140% BBI, sedang 141% - 200% BBI, berat atau abnormal lebih dari 200% BBI. Selain itu bentuk tubuh, penampilan dan raut muka penderita obesitas :

1. Paha tampak besar, terutama pada bagian proximal, tangan relatif kecil dengan jari – jari  yang       berbentuk runcing.
2. Kelainan emosi raut muka, hidung dan mulut relatif tampak kecil dengan dagu yang berbentuk ganda.
3. Dada dan payudara membesar, bentuk payudara mirip dengan payudara yang telah tumbuh pada anak pria keadaan demikian menimbulkan perasaan yang kurang menyenangkan.
4. Abdomen, membuncit dan menggantung serupa dengan bentuk bandul lonceng, kadang – kadang terdapat strie putih atau ungu.
5. Lengan atas membesar, pada pembesaran lengan atas ditemukan biasanya pada biseb dan trisebnya.

Pada penderita sering ditemukan gejala gangguan emosi yang mungkin merupakan penyebab atau keadaan dari obesitas. Penimbunan lemak yang berlebihan dibawah diafragma dan di dalam dinding dada bisa menekan paru – paru, sehingga timbul gangguan pernafasan dan sesak nafas, meskipun penderita hanya melakukan aktivitas yang ringan.Gangguan pernafasan bisa terjadi pada saat tidur dan menyebabkan terhentinya pernafasan untuk sementara waktu (tidur apneu), sehingga pada siang hari penderita sering merasa ngantuk. Obesitas bisa menyebabkan berbagai masalah ortopedik, termasuk nyeri punggung bawah dan memperburuk osteoartritis (terutama di daerah pinggul, lutut dan pergelangan kaki).Juga kadang sering ditemukan kelainan kulit.Seseorang yang menderita obesitas memiliki permukaan tubuh yang relatif lebih sempit dibandingkan dengan berat badannya, sehingga panas tubuh tidak dapat dibuang secara efisien dan mengeluarkan keringat yang lebih banyak.Sering ditemukan edema (pembengkakan akibat penimbunan sejumlah cairan) di daerah tungkai dan pergelangan kaki.

2.5 Gambaran Laboratorium

1. Pada pemeriksaan darah ditemukan adanya gangguan endokrin.
2. Kemungkinan terjadinya gangguan metabolisme lemak.
3. Pada air seni (urine) ditemukan peningkatan zat tertentu.


2.6 Patogenesa


Obesitas terjadi karena adanya  kelebihan energi yang disimpan dalam bentuk jaringan lemak. Gangguan keseimbangan energi ini dapat disebabkan oleh faktor eksogen (obesitas primer) sebagai akibat nutrisional (90%) dan faktor endogen (obesitas sekunder) akibat adanya kelainan hormonal, sindrom atau defek genetik (meliputi 10%).
Pengaturan keseimbangan energi diperankan oleh hipotalamus melalui 3 proses fisiologis,  yaitu : pengendalian rasa lapar dan kenyang, mempengaruhi laju pengeluaran energi dan regulasi sekresi hormon. Proses dalam pengaturan penyimpanan energi ini terjadi melalui sinyal-sinyal eferen (yang berpusat di hipotalamus) setelah mendapatkan sinyal aferen dari perifer (jaringan adiposa,  usus dan jaringan otot). Sinyal-sinyal tersebut bersifat anabolik (meningkatkan rasa lapar serta menurunkan pengeluaran energi) dan dapat pula bersifat katabolik (anoreksia, meningkatkan pengeluaran energi) dan dibagi menjadi 2 kategori, yaitu sinyal pendek dan sinyal panjang.  Sinyal pendek mempengaruhi porsi makan dan waktu makan, serta berhubungan dengan faktor distensi lambung dan peptida gastrointestinal, yang diperankan oleh kolesistokinin (CCK) sebagai stimulator dalam peningkatan rasa lapar. Sinyal panjang diperankan oleh fat-derived hormon leptin dan insulin yang mengatur penyimpanan dan keseimbangan  energi.
Apabila asupan energi melebihi dari yang dibutuhkan, maka jaringan adiposa meningkat disertai dengan peningkatan kadar leptin dalam peredaran darah. Leptin kemudian merangsang anorexigenic center di hipotalamus agar menurunkan produksi Neuro Peptide –Y (NPY), sehingga terjadi penurunan nafsu makan. Demikian pula sebaliknya bila kebutuhan energi lebih besar dari asupan energi, maka jaringan adiposa berkurang dan terjadi rangsangan pada orexigenic center di hipotalamus yang menyebabkan peningkatan nafsu makan. Pada sebagian besar penderita obesitas terjadi resistensi leptin, sehingga tingginya kadar leptin tidak menyebabkan penurunan nafsu makan
            Makanan yang adekuat, yang di sertai dengan ketidak seimbangan antara intake dan out put yang keluar – masuk dalam tubuh akan menyebabkan akumulasi timbunan lemak pada jaringan adiposa khususnya jaringan subkutan. Apabila hal ini terjadi akan timbul berbagai masalah, diantaranya Timbunan lemak pada area abdomen yang emnyebabkan tekanan pada otot-otot diagfragma meningkat sehingga menggagu jalan nafas , BB yang berlebihan menyebabkan aktifitas yang terganggu sehingga mobilitas gerak terbatasi dan timbul perasaan tidak nyaman, obat-obatan golongan steroid yang memicu nafsu makan tidak terkontrol mengakibatkan perubahan nutrisi yang berlebih, dan krisis kepercayaan diri karena timbunan lemak pada tubuh telah mengubah bentuk badannya.

2.7 Diagnosa




Salah satu metode untuk menentukan apakah seseorang menderita obesitas adalah dengan menghitung indeks masa tubuh (BMI). Satuan Metrik menurut sistem satuan internasional :
BMI = kilogram berat badan (kg)
  Tinggi Badan (M2)

Klasifikasi BMI
< 18.5 Berat badan dibawah normal
18.5 - 24.9 Normal
25.0 – 29.9 Kelebihan Berat Badan
30.0 – 34.9 Obesitas tingkat 1
35.0 – 39.9 Obesitas tingkat 2
>40 Obesitas tinggat 3

2.8 Penanganan

Prinsipnya adalah mengurangi asupan energi serta meningkatkan keluaran energi, dengan cara pengaturan diet, peningkatan aktifitas fisik, dan mengubah/modifikasi pola hidup.

2.8.1 farmakologik 
Ada obat yang mempunyai kerja anoreksian (meningkatkan satiation, menurunkan selera makan, atau satiety, meningkatkan rasa kenyang, atau keduanya), contohnya Phentermin.Obat ini hanya dibolehkan untuk jangka pendek.Orlistat menghambat enzim lipase usus sehingga menurunkan pencernaan lemak makanan dan meningkatkan ekskresi lemak dalam tinja dengan sedikit kalori yang diserap. Sibutramine meningkatkan statiation dengan cara menghambat ambilan kembali monoamine neurotransmitters (serotonin, noradrenalin dan sedikit dopamin), menyebabkan peningkatan senyawa-senyawa tersebut di hipotalamus. Rimonabant termasuk kelompok antagonuis CB1, yang menghambat ikatan cannabinoid endogen pada reseptor CB1 neuronal, sehingga menurunkan selera makan dan menurunkan BB.Orlistat, sibutramin dan rimonabant dapat dipergunakan untuk jangka lama dengan memperhatikan efek sampingnya; rimonabant masih ditunda di Amerika Serikat. Sayangnya obat-obatan tersebut tiada yang dapat memenuhi harapan dan kebutuhan orang.Oleh karena itu industri farmasi masih mengembangkan banyak calon obat baru. Farmakoterapi dikelompokkan menjadi 3, yaitu : mempengaruhi asupan energi dengan menekan nafsu makan, contohnya sibutramin; mempengaruhi penyimpanan energi dengan menghambat absorbsi zat-zat gizi contohnya orlistat, leptin, octreotide dan metformin; meningkatkan penggunaan energi. Farmakoterapi belum direkomendasikan untuk terapi obesitas pada anak, karena efek jangka panjang yang masih belum jelas.


2.8.2 Non Farmakologik
1. Menetapkan target penurunan berat badan
Untuk penurunan berat badan ditetapkan berdasarkan :
•  Usia anak : 2-7 tahun dan diatas 7 tahun
•  Derajat obesitas
•  Ada tidaknya penyakit penyerta/komplikasi.
Pada anak obesitas usia dibawah 7 tahun tanpa komplikasi, dianjurkan cukup dengan mempertahankan berat badan. Pada anak obesitas usia dibawah 7 tahun dengan komplikasi dan usia diatas 7 tahun (dengan/tanpa komplikasi) dianjurkan untuk menurunkan berat badan (diet dan aktifitas fisik). Target penurunan berat badan  dengan kecepatan   0,5-2 kg per bulan, sampai mencapai berat badan ideal.

2. Pengaturan diet

Prinsip pengaturan diet pada anak obesitas adalah diet seimbang sesuai dengan angka kecukupan gizi (AKG), hal ini  karena anak masih mengalami pertumbuhan dan perkembangan. Intervensi diet harus disesuaikan dengan usia anak, derajat obesitas dan ada tidaknya penyakit penyerta. Pada obesitas tanpa penyakit penyerta, diberikan diet seimbang rendah kalori dengan pengurangan asupan kalori sebesar 30%. Selain itu konsumsi sayur dan buah dapat mencegah kejadian obesitas karena dapat mengurangi rasa lapar namun tidak menimbulkan kelebihan lemak, kolestrol, dan sebagainya. Sayur dan buah umumnya juga mengandung serat kasar yang dapat membantu melancarkan pencernaan dan mencegah konstipasi. Banyak anak yang kurang menyukai sayuran dalam menu makanan dengan alasan karena rasanya yang kurang enak. Pola makan keluarga tertentu yang tidak mengutamakan sayuran dan buah dalam menu makanan utama menambah parah kurangnya asupan sayuran pada anak. Dapat pula memakai perhitungan kebutuhan kalori berdasarkan berat badan sebagai berikut :
        BB ideal + (BB aktual-BB ideal) X 0,25


Dalam pengaturan diet ini perlu diperhatikan tentang :
1. Menurunkan berat badan dengan tetap mempertahankan pertumbuhan  normal.
2. Diet seimbang dengan komposisi karbohidrat 50-60%, lemak 20-30% dengan lemak jenuh < 10% dan protein  15-20% energi total serta kolesterol < 300 mg per hari.
3. Diet tinggi serat, dianjurkan pada anak usia > 2 tahun dengan penghitungan dosis menggunakan rumus : (umur dalam tahun + 5) gram per hari.

3. Terapi intensif
Terapi intensif diterapkan pada anak dengan obesitas berat dan yang disertai komplikasi yang tidak memberikan respon pada terapi konvensional, terdiri dari diet berkalori sangat rendah (very low calorie diet), farmakoterapi dan terapi bedah.
        Indikasi terapi diet dengan kalori sangat rendah bila berat badan > 140% BB Ideal atau IMT P > 97, dengan asupan kalori hanya 600-800 kkal per hari dan protein hewani 1,5-2,5 gram/kg BB Ideal, dengan suplementasi vitamin dan mineral serta minum > 1,5 L per hari. Terapi ini hanya diberikan selama 12 hari dengan pengawasan dokter. 
                Terapi bedah di indikasikan bila berat badan > 200% BB Ideal. Prinsip terapi ini adalah untuk mengurangi asupan makanan atau memperlambat pengosongan lambung dengan cara gastric banding, dan mengurangi absorbsi makanan dengan cara membuat gastric bypass dari lambung ke bagian akhir usus halus. Sampai saat ini belum banyak penelitian tentang manfaat dan bahaya terapi ini pada anak.

4. Pengaturan aktifitas fisik
            Latihan fisik yang diberikan disesuaikan dengan tingkat perkembangan motorik, kemampuan fisik dan umurnya. Aktifitas fisik untuk anak usia 6-12 tahun lebih tepat yang menggunakan keterampilan otot, seperti bersepeda, berenang, menari dan senam. Dianjurkan untuk melakukan aktifitas fisik selama 20-30 menit per hari. 
Aktivitas yang melibatkan gerakan yang banyak dari otot-otot besar ini mempromosikan kehilangan lemak sambil mempertahankan massa otot. Untuk mendapat hasil yang baik peserta diet harus melakukan olahraga tiga hari dalam seminggu, menggunakan sedikitnya 300 kkal setiap kali (atau 4 hari per minggu yang membakar 200 kkal).

5. Mengubah pola hidup dan perilaku
Diperlukan peran serta orang tua sebagai komponen intervensi, dengan cara: 
1.  Pengawasan sendiri terhadap: berat badan, asupan makanan dan aktifitas    fisik serta mencatat perkembangannya.
2. Mengontrol rangsangan untuk makan. Orang tua diharapkan dapat menyingkirkan rangsangan disekitar anak yang dapat memicu keinginan untuk makan.
3.  Mengubah perilaku makan, dengan mengontrol porsi dan jenis makanan yang dikonsumsi dan mengurangi makanan camilan.
4.    Memberikan penghargaan dan hukuman.
5.   Pengendalian diri, dengan menghindari makanan berkalori tinggi yang pada   umumnya lezat dan memilih makanan berkalori rendah.
6. Operasi (Penyekatan Lambung)
Operasi hanya dianjurkan pada individu obesitas berat atau abnormal dimana gagal menurunkan berat badan dengan cara konvensional. Penyekatan lambung menciptakan reservoir kecil (30-60ml) pada bagian proksimal lambung sehingga membatasi makanan yang dapat sekali dimakan.
Hasil penyekatan lambung.
1. 90% dari pasien dengan pintas lambung kehilangan paling sedikit 50% dari kelebihan berat badan.
2. Hanya 30-50% pasien akan mencapai berat badan kurang dari 125% berat badan ideal.
3. 90% penurunan berat badan terjadi pada tahun pertama setelah operasi, dan banyak pasien yang mulai kembali naik berat badannya setelah 1 sampai 2 tahun operasi.


KESIMPULAN

Obesitas merupakan suatu kondisi kelebihan berat tubuh akibat tertimbunnya lemak, untuk pria dan wanita masing- masing melebihi 20% dan 25% dari berat tubuh dan dapat membahayakan kesehatan. Kriteria dan klasifikasi obesitas secara garis besar dibagi menjadi dua, yaitu berdasarkan ciri fisik klinis yang terjadi dan antropometri (berdasarkan Indeks Massa Tubuh (IMT) / Body Mass Index (BMI) dan berdasarkan pengukuran rasio lingkar pinggang dan perbandingan antara lingkar pinggang dengan lingkar pinggul) dan secara biokimia (penentuan lemak dalam tubuh dilakukan dengan menggunakan Bio – Impedance analisis (BIA).
Faktor-faktor penyebab obesitas adalah faktor genetik, hormon, makanan, pola makan (gaya hidup), phisikologis dan pemakaian obat-obatan. Adapun faktor yang paling berpengaruh adalah pola makan (gaya hidup). Gaya hidup yang salah akan memperparah tingkat obesitas.
Obesitas dengan BMI > 40 dapat diatasi dengan pembedahan sedangkan obesitas yang tidak terlalu parah dapat diatasi dengan cara hidup yang sehat dan seimbang.


Daftar Pustaka

Epstein LH, Wing RR, Valoski A: Childhood obesity, Pediatr Clin North Am 32:363, 1985.
Fitzweater SL and others: Evaluation of long-term weight changes after a multidiciplinary weight control program, Am J Diet Assoc 91:421, 1991.
Grundy SM, Barnett JP: Metabolic and health complications of obesity, Dis Mon 36:641, 1990.
Kayman S, Bruvold W, Stern JS: Maintenence and relapse in women: Behavior aspects, Am J Clin Nutr 52:800, 1990.
Kendall A and Oters: weight loss on a low-fat diet: consequence of the imprecision of the control of food intake in humans, Am J Clin Nutr 53:1124, 1991.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Poskan Komentar