RSS

materi kanker dan bedah

PENDAHULUAN
Kanker adalah suatu kondisi dimana sel tunggal yang tumbuh tidak normal dan tidak terkendali sehingga dapat menjadi tumor ganas yang dapat menghancurkan dan merusak sel atau jaringan sehat. Kanker dapat terjadi diberbagai jaringan dalam berbagai organ di setiap tubuh, mulai dari kaki sampai kepala. Kanker dibedakan menjadi kanker ganas dan kanker jinak. Yang termasuk kanker ganas adalah Karsinoma, Limfoma, dan Sarkoma. Sedangkan yang termasuk kanker jinak adalah Lipoma, Fibroma, Neurinoma, dan pembengkakan kutil.
Kanker merupakan salah satu jenis penyakit yang sangat ditakuti oleh banyak orang sehingga ada baiknya kita mencegah kanker daripada mengobatinya. Hal yang dapat dilakukan untuk menccegah kanker adalah pencegahan kontak terhadap zat-zat yang menyebabkan kanker atau keadaan yang meningkatkan resiko, seperti asap rokok, pola makan yang tidak bijaksana, sinar yang membahayakan dan infeksi virus tertentu. Kemungkinan ini ada pada lebih dari separuh dari semua kasus kanker.
Hubungan karsinogen langsung antara bahan makanan tertentu dan jenis kanker tertentu belum terbukti. Bahan makan yang menyembuhkan kanker juga tidak di kenal. Namun konsumsi sayuran dan buah-buahan yang mengandung vitamin A, Vitamin C, serta zat antioksidan lainnya secara teratur dapat mengurangi resiko. Makanan minuman berserat tinggi, mengandung sayuran hijau, bebas bahan kimia serta sedikit mengandung lemak hewani akan membantu kita untuk memberantas dan mencegah sel kanker yang membahayakan kita.
Bedah adalah suatu tindakan penyembuhan penyakit dengan cara memotong atau mengiris bagian tubuh yang sakit, yang biasa disebut operasi. Biasanya pembedahan adalah cara terakhir atau satu-satunya cara yang dapat dilakukan untuk menyembuhkan suatu penyakit. Setelah pembedahan sering terjadi peningkatan ekskresi nitrogen dan natrium yang dapat berlangsung selama 5-7 hari atau lebih pascabedah. Peningkatan ekskresi kalsium terjadi setelah operasi besar, trauma kerangka tubuh, atau setelah lama tidak bergerak (imobilisasi). Demam meningkatkan kebutuhan energi, sedangkan luka dan pendarahan meningkatkan kebutuhan protein, zat besi, dan vitamin C. Cairan yang hilang perlu diganti.
Klasifikasi bedah terdiri dari bedah vaskuler, bedah plastik, bedah pediatrik, dan ortopedi. Banyak hal yang harus diperhatikan sebelum melakukuan pembedahan. Misalnya, pemeriksaan fungsi-fungsi atau keadaan tubuh. Kemudian pemeriksaan penyakit lain yang diderita yang akan mempengaruhi pembedahan. Hal tersebut harus dilakukan karena untuk mengantisipasi kemungkinan resiko yang akan terjadi selama pembedahan atau setelah pembedahan. Diet yang akan diberikan juga harus diperhatikan. Diet dilakukan dua kali, yaitu diet pra bedah dan diet pasca bedah. Zat gizi yang akan diberikan disesuaikan dengan kondisi pasien dan jenis pembedahan. Tujuan dari pemberian diet adalah memberikan asupan gizi yang cukup untuk proses penyembuhan luka.
Ada beberapa keadaan umum yang dapat mempengaruhi pembedahan, yaitu usia, obesitas, obat-obatan, serta alergi dan kepekaan. Usia yang sangat muda atau lanjut usianya mempunyai resiko kompllikasi atau kematian yang lebih besar dalam operasi karena mereka mempunyai batas keselamatan yang sempit. Kemudian penderita pembedahan gemuk mempunyai kecenderungan yang lebih besar dari orang normal terjangkit penyakit sampingan yang berat dan mempunyai kemungkinan luka sesudah operasi dan komplikasi tromboemboli yang lebih besar. Obat-obatan yang sedang diminum oleh penderita juga harus dipertimbangkan kelanjutannya, penghentiannya atau penyesuaian dosis.












KANKER

DEFINISI KANKER
Kanker berasal dari kata yunani “karkinos” yang berarti udang karang dan merupakan istilah umum untuk ratusan tumor ganas yang masing2 sangat berbeda satu sama lain. Kanker adalah suatu kondisi dimana sel tunggal yang tumbuh tidak normal dan tidak terkendali sehingga dapat menjadi tumor ganas yang dapat menghancurkan dan merusak sel atau jaringan sehat. Sel-sel kanker akan berkembang dengan cepat, tidak terkendali, dan akan terus membelah diri, selanjutnya menyusup ke jaringan sekitarnya (invasive) dan terus menyebar melalui jaringan ikat, darah, dan menyerang organ-organ penting serta syaraf tulang belakang. Dalam keadaan normal, sel hanya akan membelah diri jika ada penggantian sel-sel yang telah mati dan rusak. Sebaliknya sel kanker akan membelah terus meskipun tubuh tidak memerlukannya, sehingga akan terjadi penumpukan sel baru yang disebut tumor ganas. Penumpukan sel tersebut mendesak dan merusak jaringan normal, sehingga mengganggu organ yang ditempatinya. Kanker dapat terjadi diberbagai jaringan dalam berbagai organ di setiap tubuh, mulai dari kaki sampai kepala. Bila kanker terjadi di bagian permukaan tubuh, akan mudah diketahui dan diobati. Namun bila terjadi didalam tubuh, kanker itu akan sulit diketahui dan kadang - kadang tidak memiliki gejala. Kalaupun timbul gejala, biasanya sudah stadium lanjut sehingga sulit diobati.
Kanker atau neoplasma ganas adalah penyakit yang ditandai dengan kelainan siklus sel khas yang menimbulkan kemampuan sel untuk:
• tumbuh tidak terkendali (pembelahan sel melebihi batas normal)
• menyerang jaringan biologis di dekatnya.
• bermigrasi ke jaringan tubuh yang lain melalui sirkulasi darah atau sistem limfatik, disebut metastasis.



Karakteristik Sel Kanker :
1. Growth Signal Autonomy
Sel kanker mampu memproduksi Growth Factors dan Growth Factor receptors sendiri untuk pertumbuhan dan pembelahan. Bahkan dalam pembelahannya, sel kanker tidak tergantung pada sinyal pertumbuhan normal.
2. Evasion Growth Inhibitory Signals
Sel kanker tidak mengenal dan tidak merespon sinyal penghambatan pertumbuhan untuk 'istirahat'.
3. Evasion of Apoptosis Signals
Sel kanker tidak peka terhadap sinyal apoptosis(mekanisme pengurangan jumlah sel yang mengalami kerusakan DNA yang tidak bisa direparasi).
4. Unlimited Replicative Potential
Sel kanker memiliki mekanisme tertentu untuk tetap menjaga telomere tetap panjang, hingga memungkinkan untuk tetap membelah diri.
5. Angiogenesis (Formation of blood Vessels)
Sel kanker mampu menginduksi angiogenesis, yaitu pertumbuhan pembuluh darah baru di sekitar jaringan kanker. Pembentukan pembuluh darah baru ini diperlukan untuk survival sel kanker dan ekspansi ke bagian lain dari tubuh (metastase).
6. Invasion and Metastatis
Perpindahan sel kanker dari lokasi primernya ke lokasi sekunder atau tertier merupakan faktor utama adanya kematian yang disebabkan oleh kanker.



Klasifikasi kanker:
Kanker ganas terdiri dari:
 Karsinoma
Yaitu kanker yang bermula dari sel eptitel membentuk lapisan luar dari kulit dan selaput lendir. Selaput lendir adalah lapisan dalam yang menutupi semua struktur saluran didalam tubuh, kecuali pembuluh darah dan limfe. Misalnya jaringan seperti sel kulit, prostat , ovarium, kelenjar mucus, paru-paru, sel melanin, payudara, leher rahim, kolon, rectum, lambung, hati, pancreas, dan esofagus.
 Limfoma
Yaitu jenis kanker yang berasal dari jaringan yang membentuk darah, misalnya jaringan limfe, lacteal, limfa, berbagai kelenjar limfe, timus, dan sumsum tulang. Limfoma spesifik antara lain adalah penyakit Hodgkin (kanker kelenjar limfe dan limfa).
 Sarkoma
Yaitu jenis kanker dimana jaringan penunjang yang berada dipermukaan tubuh seperti jaringan ikat, termasuk sel - sel yang ditemukan diotot dan tulang.

Kanker jinak terdiri dari:
 Lipoma (jaringan lemak)
Yaitu tumor jinak yang tumbuh di bawah kulit dan merupakan endapan lemak. Tumor ini jarang berubah menjadi tumor ganas. Lipoma lebih sering ditemukan pada wanita dan lebih sering tumbuh di lengan, batang tubuh dan leher bagian belakang.
 Fibroma (jaringan ikat)
Fibroma (atau fibroid tumor atau fibroid) adalah tumor jinak yang terdiri dari jaringan berserat atau ikat. Mereka bisa tumbuh di semua organ yang berasal dari jaringan mesenkim. Istilah "fibroblastik" atau "fibromatous" digunakan untuk menggambarkan tumor dari jaringan ikat fibrosa.
 Neurinoma (jaringan saraf)
Kanker pada jaringan saraf.
 Pembengkakan kutil (kulit)
Kutil dalam istilah medis disebut Papilloma. Papilloma itu sebenarnya sejenis tumor jinak pada kulit, berasal dari penebalan lapisan luar kulit yang berlebihan. Bentuk kutil ini bisa bermacam-macam. Bisa besar-besar atau bisa juga kecil-kecil. Biasanya memang kalau dipegang tidak sakit, dan kalau sudah sangat besar, bisa saja berdarah kalau lecet. Bila sudah besar biasanya bentuknya seperti bunga kol. Kutil disebabkan oleh Human Papilloma Virus (HPV). Virus ini memang menyerang kulit dan salah satu jenis penyakitnya yaitu menimbulkan kutil kecil-kecil di telapak tangan.

ETIOLOGI KANKER
Kanker merupakan penyakit yang timbul karena teroksidasinya sel tubuh pada bagian tubuh atau organ yang terkena penyakit ini. Sehingga organ yang terkena sel kanker akan mengalami kerusakan dan disfungsi organ sehingga dapat mengakibatkan kematian pada penderitanya. Penyebab kanker juga dapat merupakan gabungan dari sekumpulan faktor, genetik dan lingkungan. Namun ada beberapa faktor yang diduga meningkatkan resiko terjadinya kanker, sebagai berikut:
• Faktor Keturunan
Faktor genetik menyebabkan beberapa keluarga memiliki resiko lebih tinggi untuk menderita kanker tertentu bila dibandingkan dengan keluarga lainnya. Jenis kanker yang cenderung diturunkan dalam keluarga adalah kanker payudara, kanker indung telur, kanker kulit dan kanker usus besar. Sebagai contoh, risiko wanita untuk menderita kanker meningkat 1,5 s/d 3 kali jika ibunya atau saudara perempuannya menderita kanker payudara.
• Faktor Lingkungan
 Merokok sigaret meningkatkan resiko terjadinya kanker paru - paru, mulut, laring (pita suara), dan kandung kemih.
 Sinar Ultraviolet dari matahari.
 Radiasi ionisasi (yang merupakan karsinogenik) digunakan dalam sinar rontgen dihasilkan dari pembangkit listrik tenaga nuklir dan ledakan bom atom yang bisa menjangkau jarak yang sangat jauh. Contoh, orang yang selamat dari bom atom di Hiroshima dan Nagasaki pada Perang Dunia II, berisiko tinggi menderita kanker sel darah, seperti Leukemia.


• Faktor Makanan
Kanker akan tumbuh dan berkembang dengan subur apabila mendapatkan asupan zat-zat yang didapat dari makanan atau kegiatan seperti berikut ini :
a. Terlalu banyak minum kopi, coklat dan teh yang memiliki kandungan kafein tinggi. Minuman berkadar kafein tinggi tersebut dapat diganti dengan minum teh hijau yang memerangi kanker atau minum air putih / air mineral saja.
b. Yang manis-manis seperti gula dan pemanis buatan disukai oleh kanker serta dapat merusak kesehatan bila dikonsumsi tidak sesuai dengan batasan. Sebaiknya dalam kehidupan sehari-hari tidak usah banyak konsumsi makanan dan minuman yang mengandung gula. Gula dapat diganti dengan madu murni atau molases.
c. Hindari menggunakan garam meja untuk makanan dan minuman kita dan sebaiknya gunakan saja garam laut dan pastikan juga garam laut yang kita pakai mengandung yodium serta bersih dan higienis memiliki kualitas yang baik.
d. Hati-hati dengan minum susu hewani yang dapat menghasilkan zat mukus yang sangat disenangi kanker sehingga alangkah baik mengganti konsumsi susu hewan dengan susu nabati yang berasal dari tumbuh-tumbuhan seperti susu kedelai. Walaupun rasanya mungkin bagi anda tidak enak, namun susu kedele tersebut sangat kaya akan gizi nutrisi bagi tubuh kita.
e. Bagi anda yang menggemari makan daging merah sebaiknya mulai dibatasi karena mengandung kadar asam yang cukup tinggi yang sangat disukai oleh sel kanker. Terkadang daging yang kita konsumsi juga dapat mengandung hal berbahaya seperti hormon tambahan, residu antibiotik, parasit dan lain sebagainya yang merugikan kesehatan tubuh kita.
• Virus
Virus yang dapat dan dicurigai menyebabkan kanker antara lain :
 Virus Papilloma menyebabkan kutil alat kelamin (genitalis) agaknya merupakan salah satu penyebab kanker leher rahim pada wanita.
 Virus Sitomegalo menyebabkan Sarkoma Kaposi (kanker sistem pembuluh darah yang ditandai oleh lesi kulit berwarna merah).
 Virus Hepatitis B dapat menyebabkan kanker hati.
 Virus Epstein - Bar (di Afrika) menyebabkan Limfoma Burkitt, sedangkan di China virus ini menyebabkan kanker hidung dan tenggorokan. Ini terjadi karena faktor lingkungan dan genetik.
 Virus Retro pada manusia misalnya virus HIV menyebabkan limfoma dan kanker darah lainnya.

• Infeksi
 Parasit Schistosoma (bilharzia) dapat menyebabkan kanker kandung kemih karena terjadinya iritasi menahun pada kandung kemih. Namun penyebab iritasi menahun lainnya tidak menyebabkan kanker. Infeksi oleh Clonorchis yang menyebabkan kanker pankreas dan saluran empedu. Helicobacter Pylori adalah suatu bakteri yang mungkin merupakan penyebab kanker lambung, dan diduga bakteri ini menyebabkan cedera dan peradangan lambung kronis sehingga terjadi peningkatan kecepatan siklus sel.

• Faktor perilaku
 Perilaku yang dimaksud adalah merokok dan mengkonsumsi makanan yang banyak mengandung lemak dan daging yang diawetkan juga peminum minuman beralkohol.
 Perilaku seksual yaitu melakukan hubungan intim diusia dini dan sering berganti ganti pasangan.

• Gangguan keseimbangan hormonal
Hormon estrogen berfungsi merangsang pertumbuhan sel yang cenderung mendorong terjadinya kanker, sedangkan progesteron melindungi terjadinya pertumbuhan sel yang berlebihan. - Ada kecenderungan bahwa kelebihan hormon estrogen dan kekurangan progesteron menyebabkan meningkatnya risiko kanker payudara, kanker leher rahim, kanker rahim dan kanker prostat dan buah zakar pada pria.

• Faktor kejiwaan, emosional
Stres yang berat dapat menyebabkan ganggguan keseimbangan seluler tubuh. Keadaan tegang yang terus menerus dapat mempengaruhi sel, dimana sel jadi hiperaktif dan berubah sifat menjadi ganas sehingga menyebabkan kanker.

• Radikal bebas
Radikal bebas adalah suatu atom, gugus atom, atau molekul yang mempunyai electron bebas yang tidak berpasangan dilingkaran luarnya. Sumber - sumber radikal bebas yaitu :
1. Radikal bebas terbentuk sebagai produk sampingan dari proses metabolisme.
2. Radikal bebas masuk ke dalam tubuh dalam bentuk racun-racun kimiawi dari makanan , minuman, udara yang terpolusi, dan sinar ultraviolet dari matahari.
3. Radikal bebas diproduksi secara berlebihan pada waktu kita makan berlebihan (berdampak pada proses metabolisme) atau bila kita dalam keadaan stress berlebihan, baik stress secara fisik, psikologis,maupun biologis.
Gejala kanker secara umum yang timbul tergantung dari jenis atau organ tubuh yang terserang yaitu :
• Nyeri dapat terjadi akibat tumor yang meluas menekan syaraf dan pembuluh darah disekitarnya, reaksi kekebalan dan peradangan terhadap kanker yang sedang tumbuh, dan nyeri juga disebabkan karena ketakutan atau kecemasan.
• Pendarahan atau pengeluaran cairan yang tidak wajar, misalnya ludah, batuk atau muntah yang berdarah, mimisan yang terus menerus, cairan puting susu yang mengandung darah, cairan liang senggama yang berdarah (diantara menstruasi/menopause) darah dalam tinja, darah dalam air kemih.
• Perubahan kebiasaan buang air besar
• Penurunan berat badan dengan cepat akibat kurang lemak dan protein (kaheksia)
• Benjolan pada payudara
• Gangguan pencernaan, misalnya sukar menelan yang terus menerus.
• Tuli, atau adanya suara - suara dalam telinga yang menetap.
• Luka yang tidak sembuh - sembuh
• Perubahan tahi lalat atau kulit yang mencolok
Tumor terdiri dari tumor jinak dan tumor ganas. Tumor jinak adalah pertumbuhan sel abnormal yang tidak melewati batas jaringan. Sedang tumor ganas yang umumnya merupakan penyebab kanker adalah pertumbuhan sel abnormal yang meluas keluar jaringan asal itulah yang disebut kanker.


Gambar 1. Karsinogenesis atau proses terjadinya kanker.
Tampak proses dimulai dengan perubahan sederhana yang seringkali berubah menjadi tumor jinak hingga akhirnya menjadi tumor ganas atau kanker. Karsinogenesis pada manusia adalah sebuah proses berjenjang sebagai akibat paparan karsinogen yang sering dijumpai dalam lingkungan, sepanjang hidup, baik melalui konsumsi, maupun infeksi. Karsinogenesis pada dasarnya dibagi menjadi dua tahap utama yaitu inisiasi dan promosi, namun beberapa literatur menambahkan bahwa tahap promosi kanker diikuti oleh proliferasi, metastasis dan neoangiogenesis.

Tahap inisiasi ialah tahap dimana agen karsinogenik (zat yang dapat menimbulkan kanker) mulai bekerja mengubah susunan DNA fungsional atau yang lebih populer dengan nama GEN sehingga gen itu menjadi berbeda dengan semestinya atau terjadi mutasi. Biasanya gen yang berubah susunannya adalah gen yang berfungsi untuk menekan pertumbuhan tumor (tumor suppressor gene), misalnya saja gen p53.
Agen karsinogenik banyak sekali macamnya dan secara umum sangat berkaitan dengan pola makan dan pola hidup manusia, seperti paparan sinar ultra violet, radiasi sinar gamma, asbestos, merkuri, asap kendaraan bermotor, asap rokok, bahan pengawet makanan seperti natrium benzoat, pewarna makanan misalnya rhodamin, tak ketinggalan pula bumbu masakan sintesis (penyedap masakan) yaitu MSG (Monosodium/Mononatrium Glutamat) yang makin hari makin beragam dan makin banyak digunakan karena harganya yang relatif murah dan tersedia dalam berbagai rasa buatan. Ditambah dengan cara pemakaian yang jauh lebih praktis daripada bumbu dapur alami, makin lengkaplah alasan kebanyakan konsumen saat ini untuk menggunakan bumbu sintetis itu.
Selain itu, aflatoksin yang merupakan senyawa yang dihasilkan oleh jamur Aspergillus flavus dan terdapat pada makanan-makanan (ikan, kacang-kacangan serta serealia) yang hampir basi, ternyata diketahui juga menjadi salah satu dari penyebab terjadinya kanker terutama kanker hati atau hepatokarsinoma.
EPIDOMOLOGI KANKER
Sejak beberapa dasawarsa terakhir, kanker menjadi penyakit yang paling menakutkan di dunia. Ganasnya penyakit, ditambah dengan ketidaksadaran masyarakat terhadap keberadaan penyakit itu di dalam tubuh mereka, membuat kanker menempati urutan pertama sebagai mesin pembunuh manusia. Kebanyakan penderita baru menyadari kehadiran penyakit tersebut setelah mencapai stadium lanjut.
Menurut data Badan Kesehatan Dunia atau World Health Organisation (WHO) pada 2009, setiap 11 menit ada satu penduduk dunia yang meninggal karena kanker. Selain itu, tercatat setiap tiga menit terdapat tiga penderita kanker baru. Pada 2030, para ahli memprediksi jumlah penderita kanker di seluruh dunia akan mencapai 75 juta orang.
Di dunia, diperkirakan 7,6juta orang meninggal akibat kanker pada tahun 2005 (WHO,2005) dan 84 juta orang akan meninggal hingga 10 tahun ke depan. Kanker merupakan penyebab kematian no.6 di Indonesia (depkes,2003), dan diperkirakan terdapat 100 penderita kanker baru untuk setiap 100.000 penduduk per tahunnya.
Di Indonesia, kondisinya tidak jauh berbeda. Sekitar enam persen atau 13,2 juta dari 220 juta penduduk menderita penyakit kanker dari berbagai jenis. Data Kementerian Kesehatan 2001 menyebutkan sekarang ini kanker menjadi penyakit penyebab kematian nomor 5 di Indonesia.


Menurut ahli kanker yang juga spesialis anak dari Rumah Sakit Kanker Dharmais, Jakarta, Hardini Intan S Mahdi, meningkatnya penyakit kanker disebabkan oleh beberapa faktor. Faktor-faktor itu antara lain genetika, bahan kimia, obat-obatan, infeksi, radiasi, dan makanan.
Factor Persentase kematian karena kanker yang terhindarkan
Gizi 35
Merokok 30
Infeksi 10
Faktor hormonal/ reproduktif 6
Pekerjaan 4
Alcohol 3
Sinar matahari dan sinar latar belakang 3
Pengotoran lingkungan 2
Obat-obatan/ tindakan medis 1
Kebiasaan seksual 1
Produk industry <1
Tambahan makanan <1

PATOGENESA / PATOFISIOLOGI KANKER
Setiap organisme, bahkan tumbuhan, bisa terkena kanker. Setiap hal yang bereplikasi memiliki kemungkinan cacat (mutasi). Kecuali jika pencegahan dan perbaikan kecacatan ditangani dengan baik, kecacatan itu akan tetap ada, dan mungkin diwariskan ke sel anang (daughter cell). Biasanya, tubuh melakukan penjagaan terhadap kanker dengan berbagai metoda, seperti apoptosis, molekul pembantu (beberapa polimerase DNA), penuaan (senescence), dan lain-lain. Namun, metoda koreksi kecatatan ini sering kali gagal, terutama di dalam lingkungan yang membuat kecatatan lebih mungkin untuk muncul dan menyebar. Sebagai contohnya, lingkungan tersebut mengandung bahan-bahan yang merusak, disebut dengan bahan karsinogen, cedera berkala (fisik, panas, dan lain-lain), atau lingkungan yang membuat sel tidak mungkin bertahan, seperti hipoksia. Karena itu, kanker adalah penyakit progresif, dan berbagai kecacatan progresif ini perlahan berakumulasi hingga sel mulai bertindak berkebalikan dengan fungsi seharusnya di dalam organisme. Kecacatan sel, sebagai penyebab kanker, biasanya bisa memperkuat dirinya sendiri (self-amplifying), pada akhirnya akan berlipat ganda secara eksponensial.
Sebagai contohnya :
• Mutasi dalam perlengkapan perbaikan-kecacatan bisa menyebabkan sel dan sel anangnya mengakumulasikan kecacatan dengan lebih cepat.
• Mutasi dalam perlengkapan pembuat sinyal (endokrin) bias mengirimkan sinyal penyebab-kecacatan kepada sel di sekitarnya.
• Mutasi bisa menyebabkan sel menjadi neoplastik, membuat sel bermigrasi dan dan merusak sel yang lebih sehat.
• Mutasi bisa menyebabkan sel menjadi kekal (immortal), lihat telomeres, membuat sel rusak bisa membuat sel sehat rusak selamanya.

1) Induksi : ada perubahan sel (displasia).
2) Kanker in situ : pertumbuhan kanker terbatas pada jaringan tempat asalnya tumbuh.
3) Kanker invasif : sel kanker telah menembus membran basal dan masuk ke jaringan atau organ sekitar yang berdekatan.
4) Metastasis : Penyebaran kanker ke kelenjar getah bening dan atau organ lain yang letaknya jauh (misal kanker usus besar menyebar ke hati). Penyebaran ini dapat melalui aliran darah, aliran getah bening, atau langsung dari tumor

Pembentukan sel kanker
Kondisi-kondisi yang dapat menyebabkan perubahan sel normal menjadi sel kanker adalah hiperplasia, displasia, dan neoplasia. Hiperplasia adalah keadaan saat sel normal dalam jaringan bertumbuh dalam jumlah yang berlebihan. Displasia merupakan kondisi ketika sel berkembang tidak normal dan pada umumnya terlihat adanya perubahan pada nukleusnya. Pada tahapan ini ukuran nukleus bervariasi, aktivitas mitosis meningkat, dan tidak ada ciri khas sitoplasma yang berhubungan dengan diferensiasi sel pada jaringan. Neoplasia merupakan kondisi sel pada jaringan yang sudah berproliferasi secara tidak normal dan memiliki sifat invasif.
Sel kanker dapat lepas dari sel kanker asal (primary cancer atau kanker primer) melalui aliran darah atau saluran limfatik dan menyebar ke bagian tubuh lain. Apabila sel tersebut mencapai bagian lain (menyebar) dari tubuh dan berkembang membentuk tumor baru di bagian itu disebut tumor sekunder (secondary tumor) atau metastasis.


Gambar 2. Cara kanker menyebar ataubermetastasis.tampaksel-sel kanker yang menembus batas jaringan menyebar secara lokal dan akhirnya melalui permebuluh darah atau limfatik menyebar ke bagian-bagian yang jauh dari tempat asalnya (“metastasis jauh”).

Kadang-kadang sel-sel induk darah di sumsum tulang juga dapat memperbanyak diri secara tidak wajar, dan dikenal sebagai kanker darah (leukemia), myeloma multipel dan limfoma malignum.
Penyebaran kanker dari satu organ tubuh ke organ tubuh lainnya:
 Menyebar Melalui Rongga Tubuh, kanker dapat menembus organ berongga pada tubuh (misalnya usus, ovarium, dan lainnya) dengan mengadakan invasi dan kemudian tertanam pada tempat yang baru.
 Melalui Aliran Limfe, kanker merusak sistem pertahanan tubuh. bila pertahanan tubuh rusak, maka kelenjar menjadi satu media yang membantu penyebaran kanker.
 Melalui Aliran darah, penyebaran melalui pembuluh darah merupakan hal yang paling ditakuti karena dapat menyebar ke seluruh bagian tubuh lain, baik dekat atau jauh.

Skema 1




Pembengkakan





Keterangan :
1. Pertumbuhan abnormal karena pembelahan sel dapat menyebabkan neoplasma (=pertumbuhan baru = benjolan =tumor)
2. Suatu tumor dapat jinak, benigna
3. Ganas atau kanker disebut maligna
4. Tumor ganas disebut kanker
5. Ada banyak jenis kanker, tergantung pada organ atau jaringan tempatnya tumbuh. Kanker-kanker yang paling banyak muncul termask golongan karsinoma.
6. Sutu non-neoplasma dengan benjolan ialah suatu pembengkakan yang bukan tumor (jinak ataupun ganas)
Tumor
Istilah tumor digunakan untuk setiap bengkak akibat pembelahan sel, baik kanker (ganas) atau bukan kanker (jinak). Terkadang kata tumor digunakan bagi pembengkakan yang bukan disebabkan oleh pertumbuhan sel abnormal, seperti radang atau kista.
Keganasan
Suatu tumor ganas tumbuh ke jaringan sekitarnya tanpa mempedulikan batas. Terkadang tumor tersebut tumbuh seperti sungut menjulai dengan cabang-cabangnya menyerbu jaringan di sekitarnya, bagaikan pasukan musuh yang merebut suatu daerah. Jaringan sehat yang utuh dirusaknya.
Selain itu tumor cenderung meluas lewat tebaran. Sel-sel kanker tumbuh melewati dinding pembuluh darah dan limfe, kemudian terlepas dan memaksa masuk ke tempat-tempat lain di dalam tubuh, di situ sel-sel dapat berasarang dan tumbuh. Sel-sel itu disebut semaian, suatu nama yang terlalu enteng. Di dalam ilmu kedokteran kita menyebutnya secara netral sebagai metastasis (perpindahan). Di dalam bahasa indonesia, metastasis lebih tepat disebut anak sebar yang setidaknya melukiskan keganasan orisinal dan mendasar. Kanker membunuh secara ganas, destruktif, merusak, dan maligna.
Kejinakan
Berlawanan dengan tumor ganas, tumor jinak mempunyai dinding yang disebut kapsul. Tumor ini dapat tumbuh ekspansif dengan menekan ke lingkungannya. Ini terjadi tanpa invasi atau infiltrasi ke dalam jaringan dan organ-organ sekitarnya. Namun tumor ini dapat amat besar dan karena tekanan pada lingkungannya dan ruang yang tempatinya dapat menyebabkan masalah serius dan menyebabkan keluhan. Tumor jinak tidak menyebar. Sifatnya jinak dan disebut benigna.

Kebanyakan kanker bermula dari sel-sel epitel. Kanker-kanker ini disebut karsinoma. Selain itu, jauh lebih jarang terjadi adalah sarkoma yang bermula dari jaringan otot. Jaringan lunak lain, dan tulang. Karena jaringan-jaringan ini tidak memiliki sistem limfe, seperti organ-organ sel epitel, sarkoma ini tidak menyebabkan penyebaran ke kelenjar limfe. Namun, karena penyebarannya lewat darah. Metastasis sarkoma dapat terjadi dimana-mana di dalam tubuh khusunya di paru-paru.
Limfoma ganas terjadi di jaringan limfe, terutama dikelenjar limfe yang dapat ditemukan di hampir seluruh tubuh. Proses ganas ini meluas nyaris hanya ke jaringan limfe saja. (skema 1). Pertumbuhan ganas sel-sel darah meluas di pembuluh saluran darah sebagai kanker darah. Paling banyak terdapat aneka bentuk leukimia yang berasal dari berbagai sel darah putih.
Stadium
Untuk menetukan stadium, umumnya suatu kanker diklasifikasikan dulu menurut sistem TNM (Tumor, Node, Metastase) :
• Tumor : besar atau luas tumor asal (Tis = tumor belum menyebar ke jaringan sekitar; T1-4 = ukuran tumor)
• Node : penyebaran kanker ke kelenjar getah bening (N0 = tidak menyebar ke kelenjar getah bening; N1-3 = derajat penyebaran)
• Metastase : ada / tidaknya penyebaran ke organ jauh (M0 = tidak ada / M1 = ada)

Tujuan klasifikasi TNM adalah untuk perencanaan pengobatan, menentukan prognosis (perkiraan kemungkinan membaik/sembuh), evaluasi hasil pengobatan, dan juga untuk pertukaran informasi antar pusat pengobatan kanker (untuk rujukan).
Staging (stadium) bisa dilakukan dengan menggunakan :
1. Pemindaian/scanning (misalnya pemindaian hati atau tulang)
2. Pewarnaan terhadap jaringan sehingga bila ada kanker jaringan patologis dapat diketahui.
3. CT (Computed Tomography) atau MRI (Magnetic Resonance Imaging)
4. Mediastinoskopi
5. Biopsi sumsum tulang.
Terkadang perlu dilakukan pembedahan untuk menentukan stadium kanker. Misalnya, suatu laparatomi (pembedahan perut) memungkinkan ahli bedah untuk mengangkat atau mengobati kanker usus besar sambil menentukan penyebaran kanker ke kelenjar getah bening terdekat.
Sehingga terdapat stadium kanker I, II, III dan IV, stadium I dan II disebut juga stadium dini, sedangkan stadium III-IV disebut juga lokal lanjut atau stadium IV disebut juga stadium lanjut atau telah bermetastasis.




PEMERIKSAAN LABORATURIUM KANKER
Pemeriksaan selalu di dahului dengan mencatat riwayat penyakit, dilanjutkan dengan pemeriksaan badan, baru setelah itu akan dilakukan pemeriksaan laboratorium.

Anamnesa
Menanyakan riwayat penyakit disebut anamnesa. Jadi anamnesa merupakan suatu percakapan antara penderita dan dokter, ada baiknya bila hadir orang ketiga atau keempat, orang yang dipercaya, pasangan, atau anggota keluarga. Tujuan anamnesa pertama-tama mengumpulkan keterangan yang berkaitan dengan penyakitnya dan yang dapat menjadi dasar penentuan diagnosis. Mencatat riwayat penyakit, sejak gejala pertama dan kemudian perkembangan gejala serta keluhan, sangatlah penting. Perjalanan penyakit hampir selalu khas untuk setiap penyakit yang bersangkutan. Pada keadaan ini sebaiknya penderita dan dokter saling belajar mengenal. Disini pembicara, pendengar, penjawab dan penanya menyeleksi dan mengingat secara sengaja maupun tidak menginterpretasi semua yang terucapkan dan terjadi selama percakapa itu. Oleh karena itu, kehadiran orang ketiga adalah peting misalnya penderita bersama pasangannya atau orang kepercayaannya.
Pemeriksaan badan
Pemeriksaan badan harus lengkap dan saksama. Hal ini berarti, mencari dari atas sampai bawah, selalu waspada terhadap hal-hal khusus yang mungkin ada, sehubungan dengan kemungkinan adanya proses keganasan.
Pemeriksaan laboratorium
Pada pemeriksaan laboratorium , terutama diperiksa tinja, urin, dan darah. Ada banyak pemeriksaan laboratorium guna mengetahui adanya jumlah enzim, hormon, produk buangan dari pertukaran zat dan mineral. Pemeriksaan ini memberi keterangan mengenai berbagai proses didalam tubuh atau keadaan organ-organ tertentu.
Pemeriksaan laboratorium biasa disebut dengan tes penanda kanker tumor sering juga disebut dengan tes tumor marker. Penanda tumor adalah suatu substansi yang dihasilkan oleh sel kanker atau substansi dari sel tubuh yang bereaksi terhadap sel kanker tersebut . Penanda tumor ini dapat dideteksi pada jaringan kanker tersebut juga pada sirkulasi dalam cairan tubuh seperti darah,cairan otak, ludah, air kemih dll. Pada kesempatan ini kita membahas penanda kanker tumor secara spesifik yang dilepaskan kesirkulasi darah sehingga substansi ini pada dasarnya dapat ditemukan dalam darah melalui suatu prosedur pemeriksaan laboratorium khusus. Tetapi masalahnya adalah penanda kanker tumor ini tidaklah selalu spesifik untuk satu jenis kanker tertentu saja, ini artinya satu penanda tumor dapat dilepaskan oleh berbagai jenis kanker yang berbeda. Demikian juga dalam kenyataannya bahwa pada stadium dini suatu kanker biasanya belum ada penanda kanker tumor dilepaskan ke dalam darah. Meningkatnya kadar suatu penanda tumor atau kanker ,maka dokter dapat mempunyai dugaan lebih kuat atau dugaan awal bahwa seseorang patut diwaspadai menderita suatu kanker atau tumor tertentu. Dalam penelitian juga ternyata bahwa berbagai kelainan bersifat jinak ,ternyata dapat meningkatkan kadar penanda kanker tumor dalam peredaran darahnya penanda kanker ini dapat digunakan sebagai pendugaan awal saja sehingga harus dilakukan pemeriksaan lain yang dapat membuktikan adanya kanker atau tumor. Jadi dokter akan melakukan pemeriksaan fisik secara lebih mendalam, pemeriksaan penunjang yang diperlukan seperti foto Radiologi rontgen , CT Scan, USG atau MRI dll.
Sinar rontgen adalah dan tetap merupakan sinar penion , yaitu ada radio aktifitas jadi mempunyai efek emnimbulkan kanker . Oleh karena itu, efek bermanfaat selalu harus dibandingkan dengan akbiat ganasnya . Jadi sinar rontgen sebaiknya digunakan sedikit mungkin.
Macam-macam penanda tumor:
o Cancer Antigen (CA-125): penanda tumor ini dihasilkan oleh berbagai sel, tapi terutama oleh sel kanker indung telur. CA-125 kurang terbukti untuk digunakan sebagai deteksi dini kanker indung telur tapi dapat digunakan untuk memonitor apakah anda terkena kanker kembali.

o Cancer Antigen (CA 15-3) atau CA 27-29 atau Truquant RIA: penanda tumor ini biasanya tinggi pada kanker payudara. Penanda ini digunakan untuk melihat keberhasilan terapi kanker payudara yang sudah metastase dan adanya kanker ulangan pada kanker payudara stadium 2 dan stadium 3. Karena CA 15-3 dan CA 27-29 dapat dilepaskan oleh berbagai sel kanker lainnya, maka tidak dapat digunakan sebagai deteksi kanker payudara.

o Calcitonin: ini merupakan satu-satuya penanda tumor yang dapat digunakan untuk mendeteksi dini kanker kelenjar gondok (tiroid) jenis medullary.

o Chromogranin A (CgA): ini merupakan penanda tumor yang dapat mambantu diagnosa kanker neuroendokrin misalnya kanker paru dan neuroblastoma (kanker pada mata).

o Prostate-Spesific Antigen (PSA): penanda tumor ini meninggi baik dalam kondisi tumor jinak maupun tumor ganas pada prostat. PSA berguna dalam menilai keberhasilan terapi bedah ataupun radiasi pada kanker prostat.

o Human Chorionic Gonadtropin (HCG): penanda tumor ini meninggi pada kanker testis, kanker indung telur, dll. HCG dapat digunakan untuk menilai keberhasilan terapi pada kanker tersebut. Tapi HCG dapat digunakan sebagai deteksi kanker choriocarcinoma (kanker pada rahim) pada kehamilan anggur dan menilai keberhasilannya tercapai.

o Carcinoembryonic Antigen (CEA): penanda tumor ini meninggi pada kanker kolon (usus besar), pankreas, lambung dan rektum. CEA digunakan untuk menilai apakah terjadi penyebaran sel kanker (metastase) pada kanker kolon-rektum dan menilai keberhasilan terapi.

o Alpha-fetaprotein (AFP): penanda tumor ini meninggi pada kanker hati (hepatoseluler) dan kanker indung telur dan testis (jenis germ cell). AFP dilakukan untuk mendiagnosa dan memonitor kanker hati (hepatoma).

o Beta-2-microglobulin (B2M): penanda tumor ini meninggi pada multiple myeloma, kanker darah (leukimia limfositik kronik) dan limfoma. B2M berguna untuk menentukan tingkat keparahan kanker, semakin tinggi maka semakin jelek peluang kedepannya. B2M juga digunakan untuk menilai keberhasilan terapi multiple myeloma.




Tes laboratorium lain:
 Tes alkaline phospatase (atau disingkat ALP), yaitu suatu tes laboratorium di mana kadar ALP yang tinggi menunjukkan adanya sumbatan empedu atau kanker yang telah bermetastasis ke arah hati atau tulang.
 Blood Urea Nitrogen (atau disingkat BUN), yaitu tes yang digunakan untuk mengevaluasi fungsi ginjal dalam spektrum yang luas, membantu mendiagnosis kelainan pada ginjal, dan memantau pasien dengan kelainan/kegagalan ginjal yang akut/kronik
 Complete Blood Count (atau disingkat CBC), merupakan tes menganalisis darah secara keseluruhan, meliputi sel darah merah, sel darah putih, hemoglobin, dan hematokrit. Tujuannya adalah untuk membantu diagnosis mengenai penyakit-penyakit darah, termasuk di antaranya kanker darah.
 Fecal Occult Blood Test (atau disingkat FOBT), yaitu tes untuk mendeteksi dini adanya kanker kolon. Selain itu juga dapat digunakan untuk mendeteksi tanda-tanda dari penyakit anemia.
 Urinalisis, yaitu alat diagnostik yang digunakan untuk mendeteksi substansi asing/material sel yang terdapat pada urin terkait dengan abnormalitas metabolik atau kelainan ginjal.
DIAGNOSA

Diagnosis kanker masih menyisakan sekurang-kurangnya enam pertanyaan jenis kanker apa?, peluasan sampai stadium berapa , beapaderajat keganasan tumornya, pemeriksaan apa yang diperlukan untuk semua ini? Penangan mana yang terbaik dan sementara itu ? keadaan penderita kanker ini ? dan juga bagaimana dengan keluarganya ?
Pada kanker perlu ditentukan nama dan luas penyakit. Selain itu, kita harus memerlukan gambaran saksama mengenai keadaan pasien dan berbagai organnya. Mengenai nama, ada banyak jenis kanker yang berbeda, namun kita harus mengetahui juga terdiri atas jenis sel apa, dan seberapa ganasnya sel-sel ini. Untuk kanker derajat keganasan sangat penting.harapan akan keberhasilan penanganan, untuk sebagian besar keadaan bergantung pada derajat keganasannya. Hal itu menentukan pilihan penanganan: operasi, penyinaran, kemoterapi atau kombinasi dari metode-metode ini. Kedua, diperiksa meluasnya proses ganas. Dan akhirnya memikirkan masalah penanganan hal tersebut.
Diagnosis kanker defintif ditetapkan atas dasar pemeriksaan mikroskopik dari jaringan atau sel, secara berurutan disebut pemeriksaan histologi dan sitologi.
Pemeriksan histologi
Jaringan diperoleh lewat, selain pemriksaan jaringan secara mikroskopis, berbagai pemeriksaan tambahan dilakukan untuk menetapkan aneka sifat dan kekhususan khas dari tumor. Kebanyakan pemeriksaan makan waktu sekitar seminggu. Biopsi, jaringan yang diambil berupa biakan. Pada pemeriksaan kanker secara ilmiah , memang digunakan biakan dari sel-ssel kanker, Misalnya pada pemeriksaan obat-obatan; jadi, hal itu tidak ada hubungannya dengan diagnosisnya.
Pemeriksaan sitologi
sel dapat diperoleh tanpa operasi, misalnya dengan menyedot menggunakan jarum halus yang disebut bioksifungsi atau bioksi jarum halus. Seperti setiap pemeriksaan lain, mungkin juga terjadi yang sebaliknya, yaitu hasil negatif palsu. Dalam hal ini tidak ditemukan penyimpangan yang menunjuk kek kanker. Jaidi hasilnya menjadi tidak ada tanda-tnda keganasan sementara dari perjalanannya penykitnya ternyata ada kanker.pada keadaan ini bioksi ataufungsi tidak sampai mencapai daerah tumor ganasnya.
Kebanyakan kanker dikenali karena tanda atau gejala tampak atau melalui screening. Kedua metode ini tidak menuju ke diagnosis yang jelas, yang biasanya membutuhkan sebuah biopsi. Beberapa kanker ditemukan secara tidak sengaja pada saat evaluasi medis dari masalah yang tak berhubungan.
Karena kanker juga dapat disebabkan adanya metilasi pada promotor gen tertentu, maka deteksi dini dapat dilakukan dengan menguji gen yang menjadi biomarker untuk kanker. Beberapa jenis kanker telah diketahui status metilasi biomarker-nya. Misalnya untuk kanker payudara dapat digunakan biomarker BRCA, sedangkan untuk kanker kolorektal dapat menggunakan biomarker Sox17.
Pemeriksaan histopatologik, untuk menentukan jenis kanker serta metastasis kanker, dan pengukuran derajat kanker, meliputi grading dan staging.
1. Grading merupakan penilaian terhadap seberapa besar perkembangan (diferensiasi) dari tumor atau neoplasma, jumlah mitosis di dalam tumor, serta derajat perbedaan antara sel kanker dan sel normal. Grading (disimbolkan G) membagi diferensiasi sel kanker sebagai berikut:
G-X Tidak bisa dinilai
G-1 Grade rendah Diferensiasi baik
G-2 Grade menengah Diferensiasi menengah
G-3 Grade tinggi Diferensasi buruk
G-4 Anaplastik Anaplastik
2. Staging merupakan suatu penilaian yang mampu mendeskripsikan seberapa jauh kanker telah menyebar. Hal-hal yang menjadi pertimbangan dalam staging adalah ukuran tumor/lesi primer, seberapa dalam penetrasi tumor tersebut, invasi terhadap organ di sekitarnya, luas penyebaran ke kelenjar getah bening regional, serta organ yang berada jauh dari tumor primer namun ikut terkena kanker (apabila ada). Pada umumnya staging menggunakan dua metode, yaitu metode TNM (Tumors, Nodes, Metastases) dan metode AJC (American Joint Committee).
a. Pada metode TNM, T menjelaskan ukuran tumor, N menjelaskan keterlibatan kelenjar getah bening regional, dan M menjelaskan ada tidaknya metastasis. T1, T2, T3, dan T4 menunjukkan ukuran lesi primer yang semakin besar. N0, N1, N2, dan N3 menunjukkan keterlibatan progresif kelenjar getah bening, sedangkan M0 dan M1 menunjukkan ada dan tidak adanya metastasis.
b. Pada metode AJC, kanker dibagi menjadi stadium 0 sampai IV, menggabungkan ukuran lesi primer, keterlibatan kelenjar getah bening, dan metastasis.
Deteksi dini ini sangat penting. Pada beberapa kanker seperti kanker kolorektal apabila diketahui sejak dini peluang untuk sembuh lebih besar. Selain itu, deteksi dini dapat memudahkan dokter untuk memberikan pengobatan yang sesuai.


KOMLPIKASI
Kanker, pada awalnya biasanya hanya berupa massa kecil yang tidak memberi gejala apapun, Masalah baru mulai terasa ketika kanker mulai mempengaruhi jaringan di sekitarnya dengan tumbuh ke dalam atau sampai mendorong jaringan di sekitarnya sehingga menyebabkan iritasi atau tekanan pada organ-organ itu. Karena sifatnya yang cenderung mengalahkan jaringan disekitarnya itulah, maka timbul komplikasi kanker.
Berikut ini adalah macam-macam komplikasi kanker yang biasanya muncul:
1. Cardiac Tamponade. Komplikasi jantung yang ini terjadi ketikaada cairan yang menumpuk di dalam struktur berbentuk seperti kantung, misalnya kantung yang mengelilingi jantung. Cairan ini membuat tekanan pada jantung dan mengganggu kemampuannya untuk memompa darah.
2. Pleural Effusion. Terjadi karena penumpukan cairan dalam struktur kantung di sekitar paru-paru, yang menyebabkan nafas menjadi pendek.
3. Superior Vena Cava Syndrome. Terjadi ketika sebagian kanker atau seluruhnya menyumbat pembuluh (pembuluh cava superior) yang mengeringkan darah dari bagian atas pembuluh cava superior sehingga menyebabkan pembuluh di bagian atas dada dan leher menjadi bengkak, Wajah, leher dan bagian atas dada bisa menjadi bengkak karenanya.
4. Spinal Cord Compression. Terjadi ketika kanker menekan tulang belakang atau saraf tulang belakang, menyebabkan rasa sakit dan kehilangan fungsi seperti berkemih.
5. Brain Dysfunction. Terjadi ketika fungsi otak tidak berjalan normal karena kanker yang berkembang di dalamnya, baik jika itu kanker otak primer atau lainnya. Gejala yang muncul pada kasus seperti ini bisa beragam, seperti pusing, mengantuk, sakit kepala, penglihatan tidak normal, perasaan tidak nyaman yang tidak jelas, lemah, mual, muntah, dan kejang.
6. Pendarahan. Ketika kanker berkembang ke dalam dan mengikis pembuluh darah di sekitarnya, maka pembuluh darah itu menjadi rentan untuk terluka, meradang, atau sobek. Pendarahan bisa terjadi pada daerah yang mengandung banyak pembuluh darah besar, seperti leher dan dada. Kanker bisa berdarah karena selnya tidak menempel dengan baik dan pembuluh darahnya rapuh. Pendarahan ini bisa ringan maupun berat. Awalnya hanya bisa dideteksi dengan tes. Seperti pada kasus kanker usus tahap pertama. Pada kanker tahap lanjut, pendarahan bisa sangat parah sehingga mengancam nyawa.
7. Nyeri. Biasanya kanker tidak menyakitkan. Gejala awalnya seringkali penderita merasa tidak nyaman. Namun kemudian rasa nyeri menjadi tidak tertahankan. Tetapi tidak semua jenis kanker menyebabkan rasa nyeri yang hebat.
8. Kehilangan Berat badan dan Rasa Lelah. Umumnya, penderita kanker akan kehilangan berat badannya dan merasakan perasaan selalu lelah yang akan semakin buruk seiring dengan berkembangnya kanker. Apalagi jika sampai terjadi anemia.
9. Pembengkakan Kelenjar Getah Bening. Ketika kanker mulai terbentuk, organ pertama yang langsung memberikan reaksi adalah kelenjar getah bening. Biasanya kelenjar getah bening akan membengkak, tidak terasa sakit, tapi kelenjar ini menjadi keras seperti karet.
10. Depresi. Kenyataan bahwa kanker merupakan penyakit yang relatif sangat sulit disembuhkan, maka penderitanya menjadi sangat mudah terserang depresi. Depresi ini biasanya berkait dengan rasa sakit dan terutama ketakutan pada kematian.
PENCEGAHAN KANKER

Prevensi dapat dilakukan dalam tiga taraf: primer, sekunder dan tersier. Pada prevensi primer, diupayakan untuk mencegah penyakitnya; pada prevensi sekunder, tujuannya adalah untuk meningkatkan kemungkinan penyembuhan dengan penanganan pada stadium pendahuluan atau stadium dini dan pada prevensi tersier, diupayakn untuk menyembuhkan secara lebih cepat dan lebih baik serta mencegah timbulnya residif (kekambuhan).
Prevensi primer berarti pencegahan kontak terhadap zat-zat yang menyebabkan kanker atau keadaan yang meningkatkan resiko, seperti asap rokok, pola makan yang tidak bijaksana, sinar yang membahayakan dan infeksi virus tertentu. Kemungkinan ini ada pada lebih dari separuh dari semua kasus kanker.
Pergi ke dokter apabila ada keraguan atau keluhan termasuk prevensi primer. Bila tidak untuk mencegah bertambah buruknya keadaan. WHO sudah lama mengeluarkan daftar gejala yang merupakan pertanda bagi kanker sehingga perghi ke dokter jelas perlu. Beberapa diantaranya adalah suara serak atau batuk yang berkepanjangan, borok yang tidak sembuh-sembuh, benjol-benjol dan bengkak kulit, kesulitan menelan, perdarahan, berubahnya pola buang air, dan kehilangan berat badan.
Sebagaimana halnya dengan kasus-kasus lain, bagaimana bila kanker tidak dapat dihindari dan dicegah dengan peraturan atau cara sederhana, seperti tidak merokok, menghindari penyinaran, makanan bervariasi, hidup bijaksana dan melindungi diri terhadap virus? Jawabannya adalah prevensi primer berhenti disini. Apabila tidak diketahui apa yang menjadi peresiko atau penyebabnya, hal tersebut tentu tidak dapat disingkirkan atau dihindari. Dalam hal ini, semua peraturan, larangan, instruksi atau cara hiup yang dianjurkan tidaklah berguna.
Pada prevensi sekunder diupayakan untuk secara dini mencari dan menetapkan adanya stadium pendahuluan kanker (fase praganas) atau mendiagnosis kanker, sebelum ada keluhan atau gejala-gejala (stadium praklinis). Maksudnya adalah menetapkan diagnosis pada suatu stadium, saat belum ada kanker atau mengusutnya pada stadium begitu dini, sehingga kankernya dapat disembuhkan dengan penanganan relatif sederhana. Namun hanya pada jenis-jenis kanker tertentu ada kemungkinan untuk menentukan stadium pendahuluan kanker. Apabila kemungkinan ini ada, dengan penanganan, berkembagnya kanker dapat dicegah.
Pada prevensi tersier, diupayakan untuk mencegah memburuknya keadaan. Hal ini mencakup pemberian atau meminum obat-oatan tertentu yang menghalangi atau menghambat perkembangan kanker yag sudah ada. Di sini juga termasuk perubahan gaya hidup, karena gaya hidup dan pola makan tertentu memudahkan terjadinya kanker. Di sini yang jelas penting adalah mengatur, menyesuaikan, dan mengoreksi hal tersebut. Hubungan karsinogen langsung antara bahan makanan tertentu dan jenis kanker tertentu belum terbukti.bahan makan yang menyembhkan kanker juga tidak di kenal. Namun konsumsi sayuran dan buah-buahan secara teratur dapat mengurangi resiko.
1. Diet
Diet warna makanan, terutama sayur dan buah-buahan, sangat baik untuk kesehatan, terutama dalam mencegah kanker. Gagasan diet ini adalah bahwa pada makanan dengan warna spesifik, terdapat zat gizi spesifik pula. Semakin kuat warna sayur dan buah, kandungan zat gizinya juga semakin banyak.
Inilah beberapa diet dasar dalam sistem kode warna Heber:
Merah. Sayur dan buah berwarna merah kaya likopen, yang mampu mengurangi risiko kanker. Contohnya tomat dan semangka.
Jingga. Makanan jenis ini mengandung alfa dan betakaroten, yang baik untuk menghambat terjadinya kanker. Contohnya wortel dan mangga.
Jingga atau kuning. Warna jingga atau kuning ini mengindikasikan adanya kandungan vitamin C yang baik untuk melindungi sel tubuh. Selain itu juga mengandung betacryptoxanthin, salah satu dari banyak komponen karotenoid. Zat gizi jenis ini bisa didapat dari jeruk, pepaya, dan nektar.
Kuning atau hijau. Sayur berwarna hijau tinggi karotenoid, lutein, dan zeaxanthin yang berkontribusi bagi kesehatan mata. Zat gizi ini terkandung pada bayam dan sayuran berwarna hijau lainnya, kacang hijau, dan alpukat.
Hijau. Sayuran jenis ini mengandung sulforaphane, isothiocyanate, dan indoles, yang menurut Heber dapat merangsang lever untuk membuat komponen yang dapat memecah kimiawi penyebab kanker. Contohnya brokoli, kubis, bok choi, serta kubis brussel.
Putih atau hijau. Makanan ini mengandung flavonoid yang dapat melindungi membran sel. Sumber pangan yang bisa dimanfaatkan adalah bawang putih, bawang bombai, seledri, dan pir.
2. Vitamin dapat mencagah
Penelitian yang dilakukan Dr David Feldman dari universitas California pada mencit. Penelitian itu membuktikan bahwa vitamin D dalam dosis biasa dapat memperlambat, bahkan dapat menghentikan pertumbuhan sel-sel kanker prostat. Hasil penelitian tersebut mendukung bukti epidemiologis yang menunjukkan bahwa pria dengan cadangasel-sel prostatn vitamin D dalam tubuh rendah beresiko lebih besar terjangkit kanker prostat.
Percobaan-percobaan terdahulu menunjukkan bahwa sel-sel prostat , baik yang normal maupun sel tumor, mempunyai reseptor terhadap vitamin D yang memungkinkan sel-sel itu memberi respon atau mengikat vitamin tersebut. Jika vitamin D tertangkap oleh reseptor itu, maka sel-sel tidak lagi dapat membelah diri terus-menerus secara abnormal, sehingga tumor tidak terbentuk, kata Dr Feldman.
Beberapa penelitian sebelumya segaris dengan penelitian Feldman. Salah satu diantaranya adalah penelitian di Universitas Duke di Durham, yang menyimpulkan bahwa tingkat kandungan vitamin D dalam tubuh dapat dipakai untuk memperkirakan risiko seorang pria terjangkit kanker prostat. Kandungan vitamin D dalam darah pada hampir 200 pria yang didiagnosa mengidap kanker prostat memang lenbih rendah secara signifgikan dibanding pada pria-pria berusia sama yang tidak meiliki kanker prostat.
Percobaan lain menunjukkan bahwa kaum pria yang kurang terpapar radiasi ulatraviolet (UV), beresiko lebih besar terjangkit kanker protat. Radiasi UV adalah sumber utama vitamin D. kenyataan ini mendukung hipotesis bahwa kadar vitamin D yang rendah membuat pria rentan terhadap kanker di sistem reproduksi ini.
Berdasarkan penelitian diatas dapat kita simpulkan bahwa viatamin D dapat mencegah terjadinya kanker prostat.

3. Pengobatan Pencegahan
4. Vaksinasi
5. Uji Genetik
6. Penyaringan (Screening)
Kanker lebih sering terjadi pada kelompok usia yang lebih tua, skrining kanker biasanya disarankan untuk orang yang berusia di atas 40 tahun. Orang yang termasuk dalam kelompok berisiko tinggi, misalnya yang memiliki riwayat keluarga dengan kanker, harus mempertimbangkan untuk memulai skrining di usia 30-an.
Tes skrining bervariasi, mulai dari penentuan tanda-tanda tumor dalam darah, sinar X dan metode endoskopi intervensi. Klik di sini untuk membaca informasi lebih lanjut tentang Tes Skrining untuk Berbagai Jenis Kanker yang Umum.
Usaha lainnya untuk menghindari kanker:
1. Hindari stres, sedih, pesimis, depresi, dan lain-lain yang bersifat negatif dan ubah konsisi mental anda menjadi positif seperti bebas stres, optimis, senang hati, proaktif, dan lain-lain. Sikat batin negatif dapat meningkatkan kadar asam tubuh yang disukai kanker.
2. Jalankan pola diet yang sehat dengan menjaga berat badan yang ideal di mana terjadi kesesuaian antara berat badan dengan tinggi badan. Bila perlu jalani saja pola diet vegetarian yaitu diet yang mengandalkan asupan nutrisi alami nabati seperti kacang-kacangan, biji-bijian, sayur-sayuran dan buah-buahan.
3. Perhatikan makanan yang kita makan dan minuman yang kita minum setiap hari. Makanan minuman berserat tinggi, mengandung sayuran hijau, bebas bahan kimia serta sedikit mengandung lemak hewani akan membantu kita untuk memberantas dan mencegah sel kanker yang membahayakan kita.
4. Makanan yang diolah dengan cara dibakar dan diasapi mengandung banyak zat radikal bebas yang memicu kanker. Sebaiknya perbanyak mengolah makanan dengan cara direbus. Untuk sayuran sebaiknya tidak dimasak terlalu lama agar kandungan nutrisi tidak banyak yang rusak karena suhu panas.
5. Batasi pemakaian gula dan garam pada makanan dan minuman kita karena pada dasarnya sesuatu yang berlebihan itu tidak baik. Ubah selera kita dari rasa hambar / tawar, asin dan manis menjadi pahit dan asam. Jangan pula banyak-banyak mencampur bahan kimia pada makanan kita.
6. Konsumsilah zat yang mampu mencegah atau melawan kanker yang baik untuk tubuh kita seperti vitamin A, Vitamin C, teh hijau, dan lain sebagainya yang mengandung zat antioksidan. Terlalu banyak vitamin dan zat lain pun tidak baik untuk badan kita, sehingga kita harus terus memperhatikan batasan kandungan gizi kita agar tidak kekurangan atau kelebihan.
7. Ubah pola hidup kita menjadi lebih baik dengan tidak menggunakan narkoba, tidak merokok, tidak minum minuman keras mengandung alkohol yang merusak kesehatan. Ganti saja kebiasaan buruk tersebut dengan yang baik seperti makan sayur atau buah segar dan bersih.
8. Dengan olah raga yang teratur maka tubuh kita akan kaya akan oksigen yang sangat tidak disukai kanker karena kangker sangat menyukai inang yang tidak banyak oksigennya.
9. Jaga kondisi lingkungan kita dari masalah-masalah yang memicu kanker seperti polusi udara yang penuh polusi dapat menimbun zat radikal bebas seperti asap dan debu. Polusi lainnya pun dapat membuat kita stress yang juga memicu pertumbuhan sel kanker.

TERAPI KANKER

Pengobatan Konvensional

- Pengobatan dengan Kemoterapi

Terapi ini menggunakan obat-obatan misalnya saja golongan siklofosfamid, methotreksat, dan 5-flurorasil. Kemoterapi bisa diberikan secara tunggal ( satu macam obat saja) atau kombinasi, dengan harapan bahwa sel-sel yang resisten terhadap obat tertentu juga bisa merespon obat yang lain sehingga bisa diperoleh hasil yang lebih baik. Prinsip kerja pengobatan ini adalah dengan meracuni atau membunuh sel - sel kanker, mengontrol pertumbuhan sel kanker, dan menghentikan pertumbuhannya agar tidak menyebar atau untuk mengurangi gejala-gejala yang disebabkan oleh kanker. Kemoterapi terkadang merupakan pilihan pertama untuk menangani kanker. Kemoterapi bersifat sistematik, berbeda dengan radiasi atau pembedahan yang bersifat setempat, karenanya kemoterapi dapat menjangkau sel-sel kanker yang mungkin sudah menjalar dan menyebar ke bagian tubuh yang lain. Penggunaan kemoterapi berbeda-beda pada setiap pasien, kadang-kadang sebagai pengobatan utama, pada kasus lain dilakukan sebelum atau setelah operasi dan radiasi. Tingkat keberhasilan kemoterapi juga berbeda-beda tergantung jenis kankernya. Kemoterapi biasa dilakukan di rumah sakit, klinik swasta, tempat praktek dokter, ruang operasi (walaupun jarang dilakukan) dan juga di rumah (oleh perawat, penderita sendiri, atau anggota keluarga lainnya).

Efek samping kemoterapi adalah terjadi penurunan jumlah sel-sel darah (akan kembali normal sekitar seminggu kemudian), infeksi (ditandai dengan panas , sakit tenggorokan, rasa panas saat kencing, menggigil dan luka yang memerah, bengkak, dan rasa hangat), anemia, pendarahan seperti mimisan, rambut rontok, kadang ada keluhan seperti kulit yang gatal dan kering, mual dan muntah, dehidrasi dan tekanan darah rendah, sembelit/konstipasi, diare, gangguan sistem syaraf.

- Pengobatan dengan Terapi Penyinaran (Radiasi/ Radioterapi)

Terapi ini menggunakan sinar-X dengan dosis tertentu sehingga dapat merusak DNA. Terapi radiasi biasanya dilakukan sebelum atau sesudah operasi untuk mengecilkan tumor. Radiasi dilakukan dalam usaha menghancurkan jaringan-jaringan yang sudah terkena kanker.

Efek samping penyinaran adalah mual dan muntah, penurunan jumlah sel darah putih, infeksi/peradangan, reaksi pada kulit seperti terbakar sinar matahari, rasa lelah, sakit pada mulut dan tenggorokan, diare dan dapat menyebabkan kebotakan.

- Pengobatan dengan pembedahan

Pembedahan merupakan bentuk pengobatan kanker yang paling tua. Beberapa kanker sering dapat disembuhkan hanya dengan pembedahan jika dilakukan pada stadium dini.

- Pengobatan dengan terapi kombinasi

Untuk beberapa kanker, pengobatan terbaik merupakan kombinasi dari pembedahan, penyinaran, dan kemoterapi. Pembedahan atau penyinaran mengobati kanker yang daerahnya terbatas, sedangkan kemoterapi bertujuan membunuh sel-sel kanker yang berada diluar jangkauan pembedahan maupun penyinaran. Terkadang penyinaran atau kemoterapi dilakukan sebelum pembedahan untuk memperkecil ukuran tumor atau setelah pembedahan untuk menghancurkan sisa-sisa sel kanker yang mungkin tersisa.

- Terapi Proton
Terapi proton seperti halnya radioterapi, bekerja dengan cara mengarahkan partikel ion energetik yakni proton menuju tumor sasaran. Partikel proton ini merusak DNA sel sehingga menyebabkan kematian sel tumor. Karena laju pembelahan sel yang tinggi serta kemampuannya menjadi berkurang untuk memperbaiki kerusakan DNA, sel kanker peka terhadap serangan partikel proton ini pada DNA sel kanker.
- Imunoterapi
Terapi kanker dengan meggunakan imun berlandaskan pemeriksaan imun, yakni fungsi fisiologi sistem imun untuk mengenali dan menghancurkan klonal sel yang telah berubah sifat sebelum sel tersebut tumbuh menjadi tumor serta membunuh sel tumor jika sel tumor tersebut telah terbentuk.
Sistem imun tersusun dari berbagai tipe sel, diantaranya, sel dendrit yang disebut sebagai sel penghadir antigen yang bekerja menangkap antigen dan menunjukkan mereka ke sel-sel lain yang disebut sel efektor (misal, limfosit T sitotoksik). Jika molekul yang hadir dilabeli sebagai bahaya, maka sistem imun menyusun respon spesifik untuk menghilangkan bahaya tersebut.
-TheraCIM (Nimotuzumab)
TheraCIM (Nimotuzumab) merupakan pengobatan kanker terbaru. Target TheraCIM (Nimotuzumab) yakni suatu antibodi monoclonal (reseptor epidermal growth factor (EGFR = Epidermal Growth Factor Receptor). EFGR ini adalah pintu pembelahan pada sel kanker. Adanya EGFR ini pada jaringan tubuh pasien kanker dalam jumlah berlebih menjadi penanda bahwa penyakit kanker pasien menjadi lebih cepat memburuk. Bila EGFR pada tubuh pasien penderita kanker ini ditutup, maka pertumbuhan sel kanker pun akan berhenti
Terapi ini menjadikan zat yang membuat pertumbuhan kanker sebagai “target” pengobatan. Artinya, terapi ini membuat zat-zat perangsang bertumbuhnya kanker sebagai target. Terapi target ini menggunakan obat yang diinjeksikan ke dalam tubuh pasien. Ditemukannya terapi target terhadap EGFR ini membuka peluang lebih berhasilnya terapi kanker disertai peningkatan harapan dan kualitas hidup pasien. Terapi ini tidak membutuhkan sistem imun pasien untuk bersikap aktif melawan kanker
Pengobatan Herbal

Pengobatan herbal adalah suatu pengobatan menggunakan berbagai macam ekstrak dari tumbuh-tumbuhan (tanaman obat), contohnya, ekstrak dari keladi tikus (Extract Typhonium Flagelliforme) yang dikombinasikan dengan bahan alami lainnya yang diolah secara modern, yang dapat membantu detoxifikasi jaringan darah dan menstimulasi system kekebalan tubuh untuk bersama-sama memberantas sel kanker. Pengobatan herbal adalah salah satu alternatif pengobatan yang telah banyak terbukti keampuhannya selain pengobatan yang dilakukan secara modern/konvensional.

Penggunaan herbal untuk mengobati kanker tidak muncul begitu saja. Ada beberapa pendekatan yang mendasari pengobatan dengan bahan baku tersebut, yaitu sebabagi berikut:
1. Konsep dari hasil penelitian bahwa kanker bersifat reversible (bisa normal kembali)
2. Konsep menghambat pertumbuhan kanker. Kanker tumbuh karena karsinogen dan lingkungan yang mendukung mutasi genetis pertumbuhan. Jika karsinogen dan lingkungan tersebut ditiadakan, pertumbuhan kanker akan terhambat.
3. Konsep penuaan sel kanker. Jika pertumbuhannya dihambat, maka sel kanker tersebut tidak mempunyai kesempatan untuk berkembang, kemudian tua dan mati.
4. Konsep memperkuat sel lain di sekitar kanker. Kanker berkembang dengan cara menyerang sel yang ada disekitarnya, sehingga dengan memperkuat sel sehat di sekitarnya akan terbentuk pertahanan sel yang dapat menahan sel kanker.




Kanker dan Gizi
Pada penderita kanker, kebutuhan gizi meningkat karena:
 Cedera pada sel serta jaringan yang berhubungan dengan terapi seperti pembedahan, radioterapi atau kemoterapi
 Komplikasi terapi seperti infeksi
 Keadaan hipermetabolik pada proses malignitas yang lanjut; dan
 Penggunaan nutrien yang tidak efektif.
Peningkatan kandungan protein dalam makanan diperlukan untuk perbaikan jaringan akibat luka pembedahan; pembentukan jaringan guna menggantikan populasi sel berproliferasi cepat yang rusak karena kemoterapi, seperti sel mukosa gastrointestinal serta sel sumsum tulang; dan untuk pencegahan katabolisme simpanan protein viseral serta rangka. Peningkatan kebutuhan kalori dalam bentuk karbohidrat dan lemak diperlukan untuk menghasilkan kalori siap 17 pakai sebagai bahan bakar guna memenuhi kebutuhan energi bagi pemulihan sesudah pembedahan, seperti untuk pernafasan dalam dan batuk. Asupan kalori akan meningkatkan kemampuan tubuh untuk mempertahankan simpanan proteinnya sehingga protein tubuh tidak dikatabolisasi (Gail M. Wilkes, 2000: 26).
Patofisiologi malnutrisi pada kanker
Kanker dapat menyebabkan efek merugikan yang berat bagi status gizi. Tidak hanya sel kanker yang mengambil zat gizi dari tubuh pasien, tapi pengobatan dan akibat fisiologis dari kanker dapat mengganggu dalam mempertahankan kecukupan gizi.
Beberapa efek potensial dari kanker terhadap gizi (Mary Courtney Moore, 1997: 151) meliputi:
• Kehilangan berat badan akibat:
o Berkurangnya makanan yang masuk, mungkin diinduksi oleh perubahan kadar neotransmiter (serotin) pada susunan saraf pusat; peningkatan kadar asam laktat yang diproduksi oleh metabolisme anaerob, metode metabolisme yang disenangi oleh tumor; stres psikologis, disguesia (perubahan dalam pengecapan); dan tidak suka terhadap makanan tertentu. Sekitar 70% dari individu dengan kanker mengalami keengganan atau tidak suka pada makanan tertentu, rupanya karena perubahan ambang pengecapan terhadap beberapa komponen bau dan rasa.
o Meningkatnya kecepatan metabolisme basal.
o Meningkatnya glukoneogenesis (produksi glukosa dengan pecahan glikogen, lemak, dan protein tubuh) yang disebabkan oleh ketergantungan tumor pada metabolisme anaerob.
• Penurunan sintesis protein tubuh
“Kakeksia kanker” adalah bentuk malnutrisi berat yang ditandai dengan anoreksia, cepat kenyang, penurunan berat badan, anemia, lemah, kehilangan otot. Walaupun dukungan gizi yang adekuat dapat membantu mencegah kehilangan otot dan berat badan, hanya terapi kanker yang sukses yang dapat memperbaiki/mengembalikan sindrom kakeksia kanker ini.









BEDAH
Bedah adalah suatu tindakan penyembuhan penyakit dengan cara memotong atau mengiris bagian tubuh yang sakit, yang biasa disebut operasi.
Pengaruh pembedahan terhadap metabolisme pascabedah tergantung berat ringannya pembedahan, keadaan gizi pasien prabedah, dan pengaruh pembedahan terhadap kemampuan pasien untuk mencerna dan mengabsorpsi zat-zat gizi.
Setelah pembedahan sering terjadi peningkatan ekskresi nitrogen dan natrium yang dapat berlangsung selama 5-7 hari atau lebih pascabedah. Peningkatan ekskresi kalsium terjadi setelah operasi besar, trauma kerangka tubuh, atau setelah lama tidak bergerak (imobilisasi). Demam meningkatkan kebutuhan energi, sedangkan luka dan pendarahan meningkatkan kebutuhan protein, zat besi, dan vitamin C. Cairan yang hilang perlu diganti.

KLASIFIKASI BEDAH
A. BEDAH VASKULER
1. Riwayat Penyakit
Anamnesa harus dilakukan dengan teliti dan lengkap. Pertanyaan harus ditujukan pada semua aspek penyakit baskuler – penyakit arteri oklusif, penyakit vena, sindrom “thoracic outlet”, hipertensi portal, dan sebagainya.
Kebanyakan pasien mempunyai masalah yang berhubungan dengan penyakit oklusif arteri. Pemeriksa harus mencari gejala-gejala yang menyangkut setiap segmen sistem vaskuler: kardiak (infark miokard, angina); serebrovaskuler (stroke, serangan iskhemik sepintas); renal (hipertensi); dan ekstremitas (klaudikasio, nyeri pada waktu beristirahat). Harus ditanyakan pula ada atau tidak adanya faktor-faktor risiko aterosklerotik : merokok, hiperlipidemia, hipertensi, dan diabetes.
2. Pemeriksaan Fisik
Sistem arteri dan vena harus diperiksa dengan cermat. Hal-hal khusus yang berhubungan dengan sistem arteri termasuk pokok-pokok berikut ini :
• Semua nadi harus dipalpasi dan dinilai dari 0 (tidak ada) sampai 4+ (normal). Nadi-nadi yang harus diperiksa adalah: karotis, temporalis superfisialis, subklavia, brakhialis, radialis. Ulinaris, aorta abdominalis, femoralis, poplitea, dorsalis pedis, dan tibialis posterior.
• Arteri harus diperiksa untuk : kualitas nadi; ukuran dan kualitas arteri (misalnya apakah pembuluh tersebut lunak, atau keras dan mengalami kalsifikasi; apakah ia membentuk aneurisma?)
• Bising (bruit) mencermikan aliran turbulen dari stenosis pembuluh tersebut. Auksultasi harus dilakukan di atas arteri karotis, subklavia, aorta abdominalis, iliaka, femoralis dan poplitea.
• Thrill adalah bising yang dapat dipalpasi dan merupakan manifestasi stenosis berat.
• Elevation pallor (kepucatan kaki bila diangkat) menunjukkan iskemia yang berarti.
• Dependen rubor (kaki berwarna merah bila diluruskan ke bawah) menunjukkan iskemia berat.
• Tanda-tanda iskemia berat lainnya adalah ulkus kulit dan gangren.

3. Tes Noninvasif
Untuk membantu diagnosa dan beratnya penyakit vaskuler.
• Penyakit serebrovaskuler fonoangiogram menentukan lokasi dan intensitas bising servikal. Pletismografi okuler (OPG) bermanfaat untuk menentukan tekanan “ke depan” atau “stump” (Gee – OPG). Atau derajat stenosis (Kartchner – OPG). “Pulsed doppler ultrasonic imaging” sekarang dipakai untuk menilai derajat stenosis arteri karotis.
• Ekstremitas inferior “Doppler ultrasound” memungkinkan kita untuk mendengar aliran darah, baik arteri maupun vena, dan memungkinkan perhitungan suplai darah dengan mengukur tekanan arteri.

4. Arteriografi
Merupakan tes diagnostik vaskuler yang utama, ia dipakai untuk menggambarkan dengan tepat anatomi arteri, poli lesi oklusif, dan derajat stenosis. Teknik-teknik baru dengan menggunakan penyuntikan zat kontras ke dalam vena dan “computerized scanning” di atas arteri yang diperiksa memberikan harapan untuk membuat “arterio gram” tanpa memerlukan kanulasi arteri secara langsung.

B. BEDAH PLASTIK
Tujuan bedah plastik dan rekonstruktif adalah memperbaiki cacat kongenital atau didapat untuk memperbaiki fungsi dan penampilan. Mengobati berbagai macam deformitas, tidak hanya yang terdapat pada jaringan dipermukaan tubuh, tetapi juga pada struktur-struktur lebih dalam dari semua bagian tubuh.
Perencanaan Suatu Operasi Rekonstruktif:
a. Diagnosa deformitas. Dari sudut bedah plastik ini, meliputi penentuan jumlah jaringan yang hilang dan derajat distrosi, separasi, dan atrofi atau hipertrofi.
b. Pertimbangkan semua cara perbaikan yang mungkin dan pilihlah salah satu yang akan mencapai hasil yang sebaik mungkin dengan cara paling sederhana dan paling langsung, dengan menggunakan jaringan yang berdekatan bilamana mungkin.
c. Pada prosedur bertahap ganda, sebelumnya rencanakanlah secara terperinci seluruh urutan prosedur. “Pedicle Graft” yang akan dipindahkan sebaiknya dirancang sedemikian rupa untuk memperkecil pembentukan jaringan parut atau deformitas pada tempat donor.

C. BEDAH PEDIATRIK
I. PERTIMBANGAN-PERTIMBANGAN KHUSUS DALAM PENGELOLAAN PASIEN PEDIATRIK
Bayi dan anak kecil mempunyai toleransi yang relatif rendah terhadap infeksi, trauma, kehilangan carah, dan gangguan gizi serta cairan. Terapi yang dilakukan berbeda dengan terapi pada orang dewasa, dan batas keamanannya lebih sempit. Aspek-aspek khas tertentu dari perawatan bedah pada bayi dari anak kecil patut mendapat penekanan.

A. Pengelolaan Cairan dan Elektrolit
Cairan parenteral harus disesuaikan menurut besarnya tubuh penderita.
1. Kebutuhan cairan dan elektrolot penunjang sehari-hari dapat dihitung menurut berat badan. Batas-batas fisiologis dari penggantan air adalah 30 ml / kg BB dia atas atau di bawah kebutuhan harian rata-rata ini. Kebutuhan elektrolit penunjang dapat diberikan IV dengan memakai larutan-larutan seperti dekstrosa 5% dan saline 0,2% dengan kalium klorida yang ditambahkan dengan konsentrasi 20 mEq/liter.
2. Defisit yang sudah ada sebelumnya karena kehilangan cairan ke luar seperti muntah, diare, dan hilangnya cairan ke “ruang ketiga” seperti ke dalam lumen usus, kavum peritoneum, atau luka besar yang memerlukan ekspansi volume darah dengan cepat.
3. Kehilangan darah akut diganti dengan transfusi dengan penambahan 10-20 ml/kg BB untuk mempertahankan tanda-tanda vital, pengeluaran urin, dan hematokrit yang normal. Volume darah normal adalah 85 ml/kg pada bayi dan 75 ml/kg pada anak-anak. Kehilangan darah kronis hanya diganti bila hemoglobin turun di bawah 8-9 gram/100ml.
4. Kehilangan yang terus menerus seperti sekresi gastrointestinal, pipa dada atau drainase empedu, dan kehilangan ke ruang “ke tiga” memerlukan penggantian bersama-sama dengan kebutuhan penunjang.
5. Kebutuhan cairan harus dinilai kembali secara terus menerus dan perintah-perintah harus ditulis kembali dengan interval tidak lebih dari 8 jam. Pemasangan kateter di atrium kanan melalui vena yugularis eksterna akan memungkinkan pengawasan tekanan vena sentral. Cara-cara untuk menilai respons terhadap terapi termasuk pengukuran berat badan, turgor kulit, kelembaban membran mukosa, respons nadi dan tekanan vena sentralis, perfusi kulit, pengeluaran urin dan berat jenisnya, osmolaritas urin dan serum, hemoglobin, hematokrit, dan perubahan-perubahan elektrolit serum.

B. Nutrisi
Seorang bayi membutuhkan 100 kal/kg , BB/24 jam dan 3 gr protein/kg , BB/24 jam untuk mencapai penambahan berat badan normal sebesar 10-15 gram/kg bb/24 jam. Kebutuhan kalori dan protein yang tinggi ini menurun dengan bertambahnya usia tetapi meningkat pada sepsis, stress, dan trauma. Keadaan katabolik yang disertai oleh kelaparan untuk waktu lama dan meningkatnya pengeluaran energi yang terjadi pada keadaan bedah harus diterapi dengan memberikan kalori dan protein yang memadai.
II. KELAINAN-KELAINAN LEHER
A. Kista Dan Fistula Brankiogenik
Selama bulan pertama kehidupan fetus, leher primitif membentuk 4 celah brankhialis eksternal. Tiap celah terletak di atas evaginasi foregut, pharyngeal pouch, sehingga celah eksternal dipisahkan dari pouch internal hanya oleh sebuah membran. Krista diantara celah-tersebut,atau arkus brankhialis akhirnya membentuk bagian-bagian wajah dan leher. Celah brankhial yang menetap menyebabkan kista atau fistula yang dilapisis oleh pitel skuamosa atau koumner dan dikelilingi oleh folikel limpoid.

B. Kista, Sinus, Dan Fistula Duktus
Kista dan sinus duktus tiroglosus dapdat timbul dari sesa-sisa sel pada setiap tempat sepanjang lintasan perjalanan kelenjar tiroid. Bila kista ini mengalami supurasi dan pusnya keluar, maka akan terbentuk fistula. Kista ini mengandung bahan mukoid dan dilapisi oleh epitel skuamosa atau kolumner kelenjar mukosa terdapat pada 60% traktus. Sinus berjalan ke atas menuju foramen sekum pada basis lidah.
D. ORTOPEDI
I. Trauma Pada Kolumna Vertebralis
A. Prinsip-prinsip umum
Penyakit ini tergantung pada berat dan mekanisme trauma serta lokasi anatomik lesi, trauma ini dapat berkisar dari kerusakan ringan pada jaringan lunak (misalnya kontusio, muscle strain, atau joint sprain) sampai fraktur-dislokasi yang luas dengan gangguan neurologik yang berat.
Tempat khusus dari fraktur ditunjukkan oleh struktur yang terlibat (yaitu korpus, pedikel, lamina, atau prosesus otot). Dislokasi digambarkan dengan arah dan besarnya (komplit atau tidak komplit) perpindahan tempat dan dengan derajat kerumitannya (yaitu unilateral atau bilateral). Faktur patologik dapat terjadi tanpa tanda trauma.

1. Jenis-jenis Fraktur
a. Langsung
1) Tertutup : Disebabkan oleh trauma yang terjadi melalui jaringan lunak di atasnya tanpa luka terbuka yang berhubungan dengan kerangka aksial; biasanya merupakan fraktur prosesus spinosus atau transversus dan jarang terjadi pada lamina.
2) Terbuka : umumnya karena trauma tembus seperti yang disebabkan oleh senjata api, proyektil, atau pisau.
b. Tak langsung
Bila kerusakan ini luas, mereka mungkin terjadi sebagai akibat kombinasi kompleks berbagai stress dasar (misalnya kompresi, traksi, pembengkokan, shearing, dan torsi) bukannya karena satu stress tunggal.

2. Kerusakan neurologi kebanyakan kerusakan skeletel dari kolumna vertebralis tidak melibatkan medula spinalis atau saraf-saraf. Kerusakan pada medula spinalis dapat terjadi sebagai komplikasi dari setiap pemindahan yang mengurangi, bahkan untuk sementara waktu saja, diameter kanalis tersebut. Kerusakan neurologik yang luas dapat terjadi tanpa tanda gangguan osteoartikuler dan sebaliknya, kerusakan skeletal yang jelas mungkin tidak disertai dengan defisit neurologik.
Kerusakan neurologik dapat diperberat oleh manipulasi selama perawatan darurat. Bila pasien tidak mampu berkomunikasi atau kemungkinan besar menderita trauma pada daerah servikal atau thorakolumbukal, kepala dan badannya harus dimanipulasi dengan sangat berhati-hati sampai kerusakan yang terjadi dapat dinilai secara kritis. Berbagai tingkat kolumna vertebralis dapat terusak pada saat yang bersamaan.

3. Kerusakan lain, kerusakan lain pada ekstremitas atau sistem organ lain dari pasien yang sadar dapat menutupi gejala-gejala yang mungkin mengarahkan perhatian pada trauma kolumna vertebralis.

4. Diagnosa periode ketidaksadaran atau amnesia sementara dapat mengaburkan mekanisme dan luasnya kerusakan awal. Penentuan waktu paling dini dari permulaan setiap gangguan motorik atau sensorik berguna untuk menentukan prognosa.






Perawatan sebelum dan sesudah pembedahan
Penilaian dan persiapan sebelum pembedahan
1. Penilaian
Tujuan utama untuk mengadakan penilaian sebalum pembedahan adalah untuk mengenali persoalan-persoalan yang menyangkut resiko pembedahan. Sebagai tambahan, perawatan di rumah sakit memberi kesempatan untuk mengenali persoalan-persoalan lain mengenai kesehatan yang perlu diperhatikan, jika menimbulkan akibat yang tidak dikehendaki pada pembedahan yang disarankan itu.
• Riwayat
Suatu catatan yang lengkap mengenai latar belakang kesehatan harus dapat diperoleh, termasuk penyakit yang sedang diderita, penyakit-penyakit yang pernah diderita dan penyakit-penyakit yang berhubungan dengan itu.
• Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan secara menyaluruh harus dilakukan. Sistem jantung dan pernafasan harus mendapat perhatian yang seksama. Jangan mengabaikan denyut nadi perifer, pemeriksaan rectal dan pelvis (kecuali kalau terhalang oleh usia, status perkawinan seseorang atau halangan lainnya).
• Tes laboratorium
Tes laboratorium yaitu menghitung jumlah darah lengkap, analisa air kemih, serologi dan analisa darah. Elektrodiorgam dan penyinaran sinar X pada dada dilakukan pada semua penderita-penderita dewasa sebelum pembedahan dilakukan. Salah satu tes penelitian yang bermanfaat adalah pemeriksaan pada feses untuk melihat kalau ada bercak darah dan tes papanicolaou pada serviks.
• Penyinaran dengan sinar X
Penyinaran dengan sinar X pada dada hanya dilakukan jika ada anamnesa dan gambaran klinik yang mencurigakan.

2. Persiapan
 Tanganilah gangguan yang mempengaruhi resiko pembedahan sebanyak mungkin
Gangguan-gangguan tersebut yaitu syok, hipovolemia, anemia, ketidakseimbangan elektrolit, fungsi ginjal yang tidak sempurna dan hipertemia yang harus dirawat atau pembedahan ditangguhkan. Dalam keadaan darurat, pentingnya pembedahan dengan segera mungkin menuntut agar penanganan yang sempurna tak usah dilakukan.

 Tanda persetujuan secara tertulis
Sang penderita dan keluarganya harus diberitahu tentang semua kemungkinan yang dapat terjadi dalam terapi itu. Sifat dari pembedahan dan resikonya harus dijelaskan dengan sebaik-baiknya dan tanda tangan si penderita atau walinya yang resmi yang menyatakan bahwa pembedahan tersebut disetujui haruslah diperoleh. Dalam keadaaan darurat, dimana si penderita tidak sadar dan keluarganya tidak hadir maka pembedahan tersebut dapat dilakukan tanpa persetujuan. Ahli bedahnya haruslah mengetahui dan mengikuti syarat-syarat resmi setempat.
 Catatan sebelum pembedahan
Ahli bedah harus meninggalkan suatu catatan pada status sang penderita dengan menuliskan latar belakang, penemuan-penemuan, dan indikasi untuk operasi itu. Pernyataan-pernyataan itu harus mencakup bukti persetujuan tertulis yang telah diperoleh.
 Pesan-pesan sebelum pembedahan
1. Persiapan kulit
Daerah yang akan dicukur ditentukan. Lebih baik kalau pencukuran itu langsung dilakukan sebelum pembedahan, tidak sehari sebelumnya. Penderita harus dimandikan dengan bersih malam sebelum pembedahan. Umbilicus merupakan tempat bersarangnnya lapisan epitel yang terkelupas dan debu; itu harus dibersihkan oleh penderita atau juru rawat.
2. Diet
Penderita tidak boleh makan makanan saat selama 12 jam dan minum cairan selam 8 jam sebelum pembadahan. Bayi yang menjalani pembedahan paling awal harus puasa minum yang biasanya diberikan jam 4 pagi.
3. Cairan intravena
Pemberian cairan intravena tidak diperlukan dalam berbagai kasus, tetapi pada penderita lanjut usia atau penderita yang lemah, penderita yang diberi pencahar berat, penderita yang dibedah siang hari, penderita dengan gangguan vaskuler yang berat, dan sebagainya, bermanfaat diberikan cairan penguat yang diberikan pada malam sebelum pembedahan.
4. Pengurangan isi perut
Indikasi pemberian pencahar dan enema sebelum pembedahan meliputi; konstipasi kronis, pemeriksaan barium pada saluran gastrointestinal, pemberian antasida yang mengandung aluminium atau kalsium; pembedahan yang seringkali diikuti oleh fungsi pencernaan yang tidak berjalan dengan lancar. Pengosongan sebagian dari usus dilakukan dengan pemberian 2-3 tablet biksakodil (Dulkolax) per oral. Pengurasan yang lebih sempurna dilakukan dengan enema memakai garam fisiologis atau air ledeng yang hangat-hangat kuku (500-1500 ml).
5. Pemberian obat-obatan
Obat-obatan yang baru diminum oleh penderita dapat atau tidak dapat diteruskan hingga saat pembedahan. Antibiotika harus mulai diberikan sebelum pembedahan bilamana itu digunakan sebagai profilaksis melawan peradangan. Heparin dosis rendah harus diberikan sebelum pembedahan kepada beberapa penderita.
6. Tes laboratorium
Darah harus diambil untuk dites pada pagi hari sebelum pembedahan pada beberapa penderita. Contohnya meliputi glukosa darah pada penderita diabetes, kalium serum pada penderita payah ginjal, hematokrit bila dikhawatirkan terjadinya kehilangan darah yang hebat.
7. Tranfusi darah
Darah harus dicocokkan dengan penderita bilamana diperkirakan akan dilakukan transfusi. Komponen darah (misal trombosit) harus disiapkan terlebih dahulu bilamana akan diperlukan.
8. Aktivitas
Penderita yang dapat berjalan harus dibangunkan dan disuruh berjalan sebelum diberikan sedative preoperative.
9. Kandung kemih
Bilamana kateter untuk mengeluarkan air kemih tidak akan digunakan, penderita harus buang air kecil sebelum diberikan pembiusan. Kateter Foley digunakan pada pembedahan pelvis; pembedahan yang lama, pembedahan yang mengakibatkan hilangnya banyak darah, maka lebih baik memasang kateter sesudah penderita dibedah daripada sebelumnya.
10. Pernafasan
Penderita dengan penyakit paru harus diberi rangsangan agar batuk dan mengambil nafas dalam dengan menggunakan spirometer insensitive sebelum pembiusan untuk membersihkan sekret yang dihasilkan waktu malam sebelumnya.

11. Tabung nasogastrik
Jika penderita mengalami gangguan gastrointestinal, perut yang penuh, atau beberapa alasan istimewa lainnya, dapat dipasang tabung nasogastrik sesudah pembiusan bilamana tabung itu dibutuhkan.
12. Kateter vena dan arteri
Suatu infus vena dipasang pada malam hari sebelum pembedahan bila cairan intravena sebelum pembedahan dibutuhkan. Kateter vena yang besar dapat dipasang melalui kulit atau sayatan, di ruang tunggu atau di kamar bedah, bilamana diperkirakan akan terjadi kehilangan darah yang banyak atau bila kompensasi jantung penderita mengkhawatirkan. Kateter arteri bertambah penggunaannya pada penderita sakit berat, atau mereka yang menjalani pembedahan luas, yang dapat dilakukan di ruang bedah.

Perawatan sesudah pembedahan
Pesan-pesan sesudah pembedahan
 Jenis pembedahan
Harus dinyatakan sehingga para perawat dan dokter yang tidak mengenal penderita akan mengetahui persoalan apa yang mereka hadapi.
 Tanda-tanda vital
1. Tekanan darah, denyut nadi dan kecepatan pernafasan harus dicatat setiap 15 menit pada beberapa kasus lebih sering hingga penderita stabil. Sesudah itu tanda-tanda harus dicatat setiap jam selama beberapa jam, kemudian setiap 4 jam. Frekuensi observasi ini terutama tergantung pada sifat pembedahan itu dan keadaan penderita. Suhu biasanya dicatat setiap 4 jam, tetapi beberapa penderita selama pembedahan menjadi hipotermi dan lainnya menderita demam sebelum pembedahan, penderita-penderita ini dimonitor lebih sering.
2. Tekanan vena sentral harus dipertahankan. Dan tentukan batas terendah dan tertinggi yang masih dapat diterima bagi setiap penderita.
3. Tekanan arteri harus dipertahankan. Jalur tersebut harus dikuras dengan garam fisiologis setiap 30 menit. Tekanan arteri biasanya dimonitor terus menerus pada suatu osiloskop.
4. Tekanan arteri paru diukur pada beberapa penderita gawat tertentu.
5. Monitoring EKG yang terus menerus disarankan bagi semua penderita.
 Aktivitas dan posisi
Penderita harus diperintahkan untuk berbaring ditempat tidur sehingga keadaannya stabil. Untuk kasus-kasus yang rutin, penderita diizinkan untuk berjalan-jalan dengan bantuan juru rawat malam sebelum pembedahan atau setidak-tidaknya, para penderita pria boleh berdiri untuk buang air kecil.
 Makanan
Tidak diperkenankan menelan apa-apa sesudah kebanyakan operasi yang besar, dalam kasus yang lain, makanan khusus dapat diberikan dengan segera. Pada penderita yang mula-mula NPO, cairan boleh diberikan, bilamana fungsi pencernaan sudah mulai berfungsi dan makanan boleh diberikan bilamana kita sudah mengetahui bahwa cairan yang diberikan dapat ditoleransi.
 Perawatan pernafasan
Penderita yang diberi ventilator haruslah mempunyai tekanan, volume dan kadar zat asam yang sudah ditentukan. Penderita yang dapat bernafas secara spontan harus dianjurkan untuk batuk dan hiperventilasi setiap jam atau setiap dua jam untuk mencegah terjadinya antelektasis.
 Cairan intravena
Tentukan jenis cairan dan kecepatan infus yang dibutuhkan, infus-infus yang tidak penting harus dibuang, transfus dasar disarankan bilamana diperlukan.
 Sistem air kemih
Derajat perbandingan pengeluaran air kemih pada penderita yang memakai kateter dimonitor setiap jam seperti halnya tanda-tanda vital lainnya. Jika tidak dipasang kateter, setidaknya penderita tidak buang air kecil selama 6 jam sesudah pembedahan.
 Intake dan output
Cairan dari semua sumber harus dicatat pada suatu waktu tertentu, biasanya setiap 8 jam dan berat badan ditimbang setiap hari sesudah pembedahan besar.
 Tabung, kompresan dan pengeringan
Hal tersebut harus dipantau secara rutin.
 Pengobatan
1. Analgesik. Narkotika, seperti morfin dan meperedin (Demerol) dibutuhkan untuk meringankan rasa sakit pada kebanyakan penderita. Narkotika paling baik diberikan dalam dosis IV yang kecil (misalnya morfin sulfat 1-2 mg) setiap 1-2 jam. Dosis berbeda-beda pada penderita yang berlainan.
2. Pemberian antibiotika harus diteruskan jika dibutuhkan.
3. Obat-obatan lain yang akan diberikan juga harus diperhatikan lebih teliti.
 Tes laboratorium dan sinar X
Kebutuhan akan pemeriksaan ini berbeda-beda. Hematokrit, elektrolit serum, analisa air kemih, gas darah arteri, EKG dan penyinaran dada dengan sinar X paling sering diperlukan.

PENGATURAN DIET PADA PEMBEDAHAN
 Diet Pra Bedah
Gambaran umum
Diet pra bedah adalah pengaturan makan yang diberikan kepada pasien yang akan menjalani pembedahan.
Pemberian diet pra bedah tergantung pada:
a. Keadaan umum pasien, apakah normal atau tidak dalam hal status gizi, gula darah, tekanan darah, ritme jantung, denyut nadi, fungsi ginjal, dan suhu tubuh.
b. Macam-macam pembedahan:
a) Bedah minor atau bedah kecil, seperti tindakan insisi, ekstirpasi, dan sirkumsisi atau khitan.
b) Bedah mayor atau bedah besar, yang dibedakan dalam bedah pada saluran cerna (lambung, usus halus, dan usus besar) dan bedah di luar saluran cerna (jantung, ginjal, paru, saluran kemih, tulang, dsb.)


c. Sifat operasi:
a) Segera dalam keadaan darurat atau cito, sehingga pasien tidak sempat diberi diet pra bedah.
b) Berencana atau elektif. Pasien disiapkan dengan pemberian diet pra bedah sesuai status gizi dan macam pembedahan.
d. Macam penyakit:
a) Penyakit utama yang membutuhkan pembedahan adalah penyakit saluran cerna, jantung, ginjal, saluran pernapasan, dan tulang.
b) Penyakit penyerta yang dialami, misalnya penyakitdiabetes melitus, jantung dan hipertensi.
Tujuan diet
Tujuan diet pra bedah adalah untuk mengusahakan agar status gizi pasien dalam keadaan optimal pada saat penyembuhan luka.
Syarat diet
Syarat-syarat diet pra bedah adalah:
1) Energi
 Bagi pasien dengan status gizi kurang diberikan sebanyak 40-45 kkal/kg BB kebutuhan eneri normal.
 Bagi pasien dengan status gizi baik diberikan sesuai dengan kebutuhan energi normal ditambah faktor stres sebesar 15% dari AMB (Angka Metabolisme Basal)
2) Protein
 Bagi pasien dengan status gizi kurang, anemia, albumin rendah (<2,5 mg/dl) diberikan protein tinggi 1,5-2,0 g/kg BB.
 Bagi pasien dengan status gizi baik atau kegemukan diberikan protein normal 0,8-1 g/kg bb.
3) Lemak cukup, yaitu 15-25% dari kebutuhan energi total. Bagi pasien dengan penyakit tertentu diberikan sesuai dengan penyakitnya.
4) Karbohidrat cukup, sebagai sisa dari kebutuhan energi toatal untuk menghindari hipermetabolisme. Bagi pasien dengan penyakit tertentu, karbohidrat diberikan sesuai dengan penyakitnya.
5) Vitamin cukup, terutama vitamin B, C, dan K. Bila perlu ditambahkan dalam bentuk suplemen.
6) Mineral cukup. Bila perlu ditambahkan dalam bentuk suplemen.
7) Rendah sisa agar mudah dilakukan pembersihan saluran cerna atau klisma, sehingga tidak menganggu proses pembedahan (tidak buang air besar atau kecil di meja operasi).
 Diet Pasca Bedah
Gambaran umum
Diet pasca bedah adalah makanan yang diberikan kepada pasien setelah menjalani pembedahan. Pengaturan makanan sesudah pembedahan tergantung pada macam pembedahan dan jenis penyakit penyerta.
Tujuan
Tujuan diet pasca bedah adalah untuk mengupayakan agar status gizi pasien segera kembali normal untuk mempercepat proses penyembuhan dan meningkatkan daya tahan tubuh pasien, dengan cara sebagai berikut:
1) Memberikan kebutuhan dasar (cairan, energy, protein)
2) Mengganti kehilangan protein, glikogen, zat besi, dan zat gizi lain
3) Memperbaiki ketidakseimbangan elektrolit dan cairan
Syarat diet
Syarat diet pasca bedah adalah memberikan makanan secara bertahap mulai dari bentuk cair, saring, lunak, dan biasa. Pemberian makanan dari tahap ke tahap tergantung pada macam pembedahan dan keadaan pasien, seperti:
1) Pascabedah kecil
Makanan diusahakan secepat mungkin kembali seperti biasa atau normal.
2) Pascabedah besar
Makanan diberikan secara berhati-hati atau disesuaikan dengan kemampuan pasien untuk menerimanya.

KEADAAN UMUM YANG MEMPENGARUHI PEMBEDAHAN
A. Umur
Penderita yang sangat muda atau lanjut usianya mempunyai resiko kompllikasi atau kematian yang lebih besar dalam operasi karena mereka mempunyai batas keselamatan yang sempit; kesalahan kecil yang mungkin dapat ditoleransi dengan baik oleh orang muda, dengan cepat menimbulkan akibat yang membahayakan pada anak-anak atau penderita lanjut usia, kadang-kadang dengan akibat yang mematikan.
1. Anak-anak
a. Anak-anak menjadi sangat hipovolemik sebagai akibat kehilangan darah atau cairan yang ringan.
b. Kekurangan vitamin K pada neonates dapat mengakibatkan pendarahan oleh karena hipoprotromibinemia.
c. Demam dapat menyebabkan kejang atau kolaps kardiovaskular; suhu harus diturunkan sebelum pembedahan dengan membasuh dengan air dan alcohol atau dengan memakai kompresan es. Pembedahan elektif harus ditangguhkan bilamana anak menderita demam.
2. Lanjut usia
a. Resiko pembedahan harus dipertimbangkan atas dasar usia fisiologis dari pada usia kronologis. Bahaya dari rata-rata operasi basar pada penderita diatas 60 tahun meningkat sedikit saja, dengan syarat bahwa tidak ada penyakit kardiovaskular, ginjal atau penyakit sistemik lainnnya.
b. Penderita lanjut usia cenderung mengalami payah jantung bilamana sirkulasinya mengandung cairan yang berlebihan.
c. Orang lanjut usia biasanya membutuhkan dosis narkotika, sedative, anestesi yang lebih kecil daripada penderita yang lebih muda. Depresi pernafasan dapat ditimbulkan oleh narkotiika; barbiturate sering kali menyebabkan kekacauan mental.
B. Obesitas
Penderita pembedahan gemuk mempunyai kecenderungan yang lebih besar dari orang normal terjangkit penyakit sampingan yang berat dan mempunyai kemungkinan luka sesudah operasi dan komplikasi tromboemboli yang lebih besar. Kegemukan juga meningkatkan kesukaran teknis dalam pembedahan dan pembiusan. Kadang-kadang disarankan untuk menangguhkan pembedahan elektif hingga berat badan penderita turun sesuai dengan ukuran yang berlaku.
C. Penderita yang bisa membahayakan
Seorang penderita merupakan “tuan rumah yang membahayakan atau berubah” bila kemampuannya untuk memberikan tanggapan normal terhadap infeksi atau trauma diturunkan secara signifikan oleh suatu penyakit atau sebab lainnya. Meningkatnya keadaan yang mudah dipengaruhi oleh radang dan penyembuhan luka yang terlambat merupakan persoalan sesudah pembedahan yang utama.
Meningkatnya keadaan yang mudah dipengaruhi oleh radang dapat timbul dari :
1. Obat-obatan, seperti corti kosteroid, suatu obat imunosupresif, obat sitotoksit, dan terapi antibiotika yang lama. Infeksi pada penderita ini dapat disebabkan oleh bakteri biasa, tetapi kadang-kadang oleh jamur dan organisme lain yang jarang bersifat patogenik.
2. Kekurangan gizi
3. Payah ginjal
4. Granulositopenia dan penyakit yang menyebabkan orang menjadi kurang kebal (misalnya limfoma, leukemia dan hipogamaglobulinemia)
5. Diabetes yang tidak diawasi.
D. Alergi dan kepekaan
Suatu riwayat tentang reaksi dari dalam atau sakit sesudah disuntik, pemberian per oral atau penggunaan lain dari zat tertentu harus dihindari. Zat tertentu tersebut misalnya:
1. Penisilin atau antibiotika lainnya, termasuk sulfomamida
2. Narkotika
3. Aspirin atau obat anagesik lain
4. Barbiturate
5. Antitoksin tetanus atau serum lainnya
6. Yodium atau antiseptic lainnya
7. Makanan (misalnya coklat, susu, telur)
8. Pita rekat
E. Obat-obatan yang sedang diminum
Obat-obatan yang sedang diminum oleh penderita harus dipertimbangkan kelanjutannya, penghentiannya atau penyesuaian dosis. Obat seperti digitalis, insulin dan kortison biasanya harus terus diberikan dan dosisinya diatur dengan teliti selama periode pembedahan dan sesudahnya. Antikoagulan merupakan suatu contoh dari obat yang harus diawasi dengan ketat atau dihentikan sebelum pembedahan.
Penyakit non bedah yang mempengaruhi resiko pembedahan
1. Penyakit jantung
Keadaan jantung yang cukup parah untuk melemahkan kapasitas jantung untuk memberi tanggapan atas stress dapat meningkatkan resiko pembedahan. Kondisi jantung yang paling sering dihubungkan dengan resiko pembedahan yang meningkat adalah: payah jantung atau cadangan miokardinal yang terbatas, penyakit jantung koroner dengan riwayat pernah mengalami infark miokard atau angina pectoris, aritmia berat; hipertensi yang disertai dengan penyakit nadi koroner, payah jantung, insufisiensi ginjal; penyakit katup jantung dan penyakit jantung.
2. Penyakit paru
Kemunduran kesehatan dan kematian pada pembedahan dipengaruhi oleh penyakit akut dan kronis pada saluran pernapasan. Penderita diatas usia 60 tahun dan penderita yang menderita penyakit paru kronis harus menjalani test fungsi mekanis paru (kapasitas vital dan volume ekspirasi yang dipaksakan) dan penentuan gas darah menjelang pembedahan.
Keadaan pernapasan akut yang mempengaruhi resiko pembedahan terutama adalah infeksi, setiap infeksi pada pernapasan (misalnya faringitis, bronchitis, pneumonitis) merupakan kontradiksi pembedahan elektif dan harus diobati selama 1-2 minggu sebelum pembedahan yang dilakukan.
Sebagian besar keadaan pernapasan yang memberikan resiko yang nyata bersifat kronis dan meliputi beberapa tingkatan obstruksi saluran pernapasan, bronchitis kronis, bronkiektasis, emfisema dan asma merupakan gangguan yang sering dijumpai dewasa ini. Merokok merupakan sebab umum dari penyakit ini dan merokok sendiri adalah suatu faktor resiko yang nyata.
3. Penyakit ginjal
4. Gangguan hemostatis
Pasien yang sudah pernah mengalami kelainan hemostatik dewasa ini lebih sering menjalani pembedahan dibandingkan dangan masa lalu. Kadang-kadang tanda pertama kelainan hemostatik adalah pendarahan berlebihan pada saat pembedahan.
Gangguan pembekuan :
Dapat bersifat konegenital, akuesita, atau dapat disebabkan oleh obat antikoagulansia.
1. Kelainan bawaan. Hemophilia dan penyakit von Willebrand sejauh ini merupakan penyakit hemostatik bawaan yang paling sering ditemukan. Hemophilia hanya terjadi pada pria yang ditandai dengan pendarahan jaringan dalam (hemartrosis, hematoma otot, pendarahan retroperitoneal, dan sebagainya), spontan atau sesudah trauma minimal. Sedangkan penyakit von Willebrand adalah kelainan pembekuan dan trombosit yang ditandai dengan pendarahan dan purpura pada selaput lender dan kulit, menyerupai pasien yang menderita trombositopenia.
2. Kelainan akuesita. Penyakit hati adalah penyebab tersering kelainan pembekuan akuesita. Pasien yang menderita penyakit hati, mereka yang kekurangan vitamin K dan yang mendapat antikoagulansia oral, semuanya menderita kelainan pembekuan yang sama.
3. Antikoagulansia. Kebanyakan pasien yang mendapat terapi antikoagulansia kronis diobati dengan salah satu derivate koumarin, biasanya natrium warfarin. Obat ini menghambat faktor pembekuan II, VII, IX, dan X yang tergantung pada vitamin K. Efek antikoagulansia dapat dilawan dengan cepat bila vitamin K diberikan secara parental.
4. Gangguan trombosit. Yang termasuk gangguan trombosit adalah trombositopenia yang disebabkan oleh peningkatan kerusakan trombosit atau produksi trombosit yang berkurang; trombositosis yaitu jumlah trombosit lebih besar daripada 600.000/mm3; dan gangguan trombosit kualitatif yang dirumuskan sebagai kelainan pada fungsi trombosit dengan jumlah trombosit yang normal.
5. Gangguan endokrin: Diabetes mellitus
6. Kehamilan.

DAFTAR PUSTAKA
http://eniharyanti.com/kanker/vitamin-d-dapat-mencegah-kanker-prostat/06 April 2011 21:46:30
http://digilib.unnes.ac.id/gsdl/collect/skripsi/archives/HASH01df/82f1e1ed.dir/doc.pdf
Almatsier, S. Penuntun Diet Edisi Baru. 2005. Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama
R, Theodore. Ilmu Bedah . 1991. EGC : Jakarta
Wim, Jong. Kanker, apakah itu ? Pengobatan, harapan hidup dan dukungan keluarga. 2004. Arcan : Jakarta

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Poskan Komentar