RSS
Tampilkan postingan dengan label kehamilan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kehamilan. Tampilkan semua postingan

KELAINAN KONGENITAL


Definisi
Kelainan kongenital merupakan kelainan dalam pertumbuhan struktur bayi yang timbul sejak kehidupan hasiI konsepsi sel telur. Kelainan kongenital dapat merupakan sebab penting terjadinya abortus, lahir mati atau kematian segera setelah lahir. Kematian bayi dalam bulan-bulan pertama kehidupannya sering diakibatkan oleh kelainan kongenital yang cukup berat, hal ini seakan-akan merupakan suatu seleksi alamu terhadap kelangsungan hidup bayi yang dilahirkan. Bayi yang dilahirkan dengan kelainan kongenitaI besar, umumnya akan dilahirkan sebagai bayi berat lahir rendah bahkan sering pula sebagai bayi kecil untuk masa kehamilannya.


Epidemiologi

·         Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo (I975-1979): secara klinis ditemukan angka kejadian kelainan kongenital sebanyak 225 bayi di antara 19.832 kelahiran hidup atau sebesar 11,6% per 1000 kelahiran hidup
·         Rumah Sakit Dr. Pirngadi, Medan (1977-1980): sebesar 48 bayi (0,33%) di antara 14.504 kelahiran bayi
·         Rumah Sakit Universitas Gadjah Mada (1974-1979): sebesar 1.64 dari 4625 kelahiran bayi



Etiologi
a.       Kelainan genetic/kromosom : Kelainan genetik pada ayah atau ibu kemungkinan besar akan berpengaruh atas kelainan kongenital pada anaknya. Di antara kelainan-kelainan ini ada yang mengikuti hukum Mendel biasa, tetapi dapat pula diwarisi oleh bayi yang bersangkutan sebagai unsur dominan ("dominant traits") atau kadang-kadang sebagai unsur resesif. Penyelidikan daIam hal ini sering sukar, tetapi adanya kelainan kongenital yang sama dalam satu keturunan dapat membantu langkah-langkah selanjutya.

b.      Faktor mekanik Tekanan mekanik pada janin selama kehidupan intrauterin dapat menyebabkan kelainan bentuk organ tubuh hingga menimbulkan deformitas organ cersebut. Faktor predisposisi dalam pertumbuhan organ itu sendiri akan mempermudah terjadinya deformitas suatu organ. Sebagai contoh deformitas organ tubuh ialah kelainan talipes pada kaki sepcrti talipes varus, talipes valgus, talipes equinus dan talipes equinovarus (clubfoot)


c.       Factor infeksi : Infeksi yang dapat menimbulkan kelainan kongenital ialah infeksi yang terjadi pada periode organogenesis yakni dalam trimester pertama kehamilan. Adanya infeksi tertentu dalam periode organogenesis ini dapat menimbulkan gangguan dalam pertumbuhan suatu organ rubuh. Infeksi pada trimesrer pertama di samping dapat menimbulkan kelainan kongenital dapat pula meningkatkan kemungkinan terjadinya abortus. Sebagai contoh infeksi virus pada trimester pertama ialah infeksi oleb virus Rubella.

d.      Factor obat : Salah satu jenis obat yang telah diketahui dapat menimbulkan kelainan kongenital ialah thalidomide yang dapat mengakibatkan terjadinya fokomelia atau mikromelia.


e.       Factor umur ibu : Telah diketahui bahwa mongolisme lebih sering ditemukan pada bayi-bayi yang dilahirkan oleh ibu yang mendekati masa menopause. Di bangsal bayi baru lahir Rumah Sakit Dr Cipto Mangunkusumo pada tahun 1975-1979, secara klinis ditemukan angka kejadian mongolisme 1,08 per 100 kelahiran hidup dan ditemukan resiko relatif sebesar 26,93 untuk kelompok ibu berumur 35 tahun atau lebih; angka keadaan yang ditemukan ialah 1: 5500 untuk kelompok ibu berumur < 35 tahun, 1: 600 untuk kelompok ibu berumur 35-39 tahun, 1 : 75 untuk kelompok ibu berumur 40 - 44 tahun dan 1 : 15 untuk kelompok ibu berumur 45 tahun atau lebih.

f.       Factor hormonal : Bayi yang dilahirkan oleh ibu hipotiroidisme atau ibu penderita diabetes mellitus kemungkinan untuk mengalami gangguan pertumbuhan lebih besar bila dibandingkan dengan bayi yang normal.


g.      Factor radiasi : Adanya riwayat radiasi yang cukup besar pada orang tua dikhawatirkan akan dapat mengakibatkan mutasi pada gene yang mungkin sekali dapat menyebabkan kelainan kongenital pada bayi yang dilahirkannya. Radiasi untuk keperluan diagnostik atau terapeutis sebaiknya dihindarkan dalam masa kehamilan, khususnya pada hamil muda.
h.      Factor gizi : Pada manusia, pada penyelidikan-penyelidikan menunjukkan bahwa frekuensi kelainan kongenital pada bayi-bayi yang dilahirkan oleh ibu yang kekurangan makanan lebih tinggi bila dibandingkan dengan bayi-bayi yang lahir dari ibu yang baik gizinya. Pada binatang percobaan, adanya defisiensi protein, vitamin A, ribofIavin, asam folat, thiamin dan lain-lain dapat menaikkan kejadian dan kelainan kongenital.

i.        Factor lain : Banyak kelainan kongenital yang tidak diketahui penyebabnya. Faktor janinnya sendiri dan faktor lingkungan hidup janin diduga dapat menjadi faktor penyebabnya. Masalah sosial, hipoksia, hipotermia, atau hipertermia diduga dapat menjadi faktor penyebabnya. Seringkali penyebab kelainan kongenitai tidak diketahui.

Diagnose
1.      Pemeriksaan dilakukan pada saat umur kehamilan 16 minggu. Dengan bantuan alat ultrasonografi dapat dilakukan tindakan amniosentesis untuk mengambil contoh cairan amnion
2.      Beberapa kelainan kongenital yang dapat didiagnose dengan cara ini misalnya: kelainan kromosome, phenylketonuria, galaktosemia, defek tuba neralis terbuka seperti anensefali serta meningocele.
3.      Pemeriksaan darah janin pada kasus thallasemia.
4.      Untuk kasus hidrosefalus pemeriksaan dapat diketemukan pada saat periksa hamil

Penanganan
Kelainan kongenital berat dapat berupa kelainan kongenital yang memerlukan tindakan bedah, kelainan kongenital bersifat medik, dan kelainan kongenital yang memerlukan koreksi kosmetik. Setiap ditemukannya kelainan kongenital pada bayi baru lahir, hal ini harus dibicarakan dengan orang tuanya tentang jenis kemungkinan faktor penyebab, langkah-langkah penanganan dan prognosisnya.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

ABORTUS


Definisi
Abortus merupakan pengeluaran hasil konsepsi pada usia kehamilan kurang dari 26 minggu atau berat janin kurang dari 500 gram. Atau buah kehamilan belum mampu untuk hidup diluar kandungan.
Etiologi
Kelainan pertumbuhan hasil konsepsi dapat menyebabkan kematian janin atau cacat kelainan berat biasanya menyebabkan kematian mudigah pada hamil muda. Faktor-faktor yang menyebabkan kelainan dalam pertumbuhan ialah sebagai berikut:
·         Kelainan kromosom, terutama trisomi autosom dan monosomi X.
·         Lingkungan sekitar tempat implantasi kurang sempurna.
·         Pengaruh dari luar akibat radiasi, virus, obat-obatan
·         Kelainan pada plasenta:  misalnya endarteritis dapat terjadi dalam villi koriales
·         dan menyebabkan oksigenisasi plasenta terganggu, sehingga menyebabkan
·         gangguan pertumbuhan dan kematian janin
·         Penyakit Ibu :
·         Penyakit mendadak seperti pneumonia, tifus abdominalis, anemia berat, dan
·         keracunan.
·         Kelainan Traktus Genetalis : Mioma uteri, kelainan bawaan uterus dapat menyebabkan abortus.

Pathogenesis
•         Pendarahan , Hasil konsepsi terlepas dan dianggap benda asing dalam uterus, Uterus berkontraksi untuk mengeluarkan benda asing tersebut
•         Pada kehamilan 8 sampai 14 minggu penembusan sudah lebih dalam
•         hingga plasenta tidak dilepaskan sempurna dan menimbulkan banyak pendarahan.
•         Pada kehamilan lebih 14 minggu, janin dikeluarkan lebih dahulu dari pada plasenta.

Manifestasi klinik
-          Terlambat haid atau amenote kurang dari 20 minggu
-          Pemeriksaan fisik
-          Pendarahan vagina
-          Rasa mulas atau keram perut di daerah atas simfisis, sering disertai nyeri pinggang aibat kontraksi uterus
-          Pemeriksaan ginekologi : inspeksi vulva, inspekulo, colok vagina

Diagnose
1.      Anamnesa : dilakukan untuk mencari etiologi dari abortus
2.      Pemeriksaan fisik : meliputi status interna umum dan status obstetric
3.      Pemeriksaan penunjang : pemeriksaan darah lengkap, ters kehamilan, pemeriksaan dopler/ USG, pemeriksaan kadar fibrinogen darah pada missed abortion

Penatalakanaan
Penatalaksanaan Umum:
•      Istirahat baring, tidur berbaring merupakan unsur penting dalam pengobatan, karena cara ini menyebabkan bertambahnya aliran darah ke uterus dan berkurangnya rangsang mekanik.
•      Pada kehamilan lebih dari 12 minggu diberikan infus oksitosin dimulai 8 tetes permenit dan naikkan sesuai kontraksi uterus.
•      Bila pasien syok karena pendarahan berikan infus ringer taktat dan selekas mungkin tranfusi darah.
Medikamentosa
1. Simptomatik : Analgesic (a5, metenamat) 500 gram (3x1)
2. Antibiotik : Amoksilin 500 mg (3x1)
3. Education : Kontrol 3-4 hari setelah keluar setelah keluar dari rumah sakit

Prognosaa
Mayoritas pada penderita yang mengalami abortus mempunyai prognosa yang
tergantung pada cepat atau tidaknya kita mendiagnosa dan mencari etiologinya.

Komplikasi yang sering ditimbulkan antara lain adalah:
            - Pendarahan
            - Perforasi
            - Syok, infeksi
            - Pada Missed abortion dengan refensi lama hasil konsepsi dapat terjadi kelainan pembekuan darah. 

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

HIPERTENSI DALAM KEHAMILAN


Definisi

Sampai sekarang penyakit hipertensi dalam kehamilan (HDK) masih merupakan masalah yang belum dapat dipecahkan dengan tuntas. HDK adalah Penyebab utama kematian ibu di samping perdarahan dan infeksi.
Penanganan kasus HDK masih tetap merupakan kontroversi karena sampai saat ini etiologi dan patofisiologi penyakit HDK masih belum jelas diketahui, sehingga penanganan yang definitif belum mungkin dijalankan dengan sempurna.

Etiologi

Hipertensi adalah suatu keadaan dimana tekanan darah istirahat ≥ 140/90 mmHg. Menentukan tekanan diastolik adalah dengan korotkoff phase V. Kriteria edema pada PreEklampsia sudah tidak digunakan lagi oleh karena selain bersifat subjektif dan juga tidak mempengaruhi “out-come” perinatal.

Terminology dan klasifikasi

Hipertensi gestasional adalah terminologi untuk menggambarkan adanya hipertensi berkaitan dengan kehamilan yang sifatnya “new-onset”.
Klasifikasi berdasarkan National High Blood Pressure Education Program (NHBPEP) tahun 2000:
  1. Hipertensi Gestasional (istilah sebelumnya adalah “pregnancy induced hypertension” yang mencakup hipertensi transien)
  2. Pre Eklampsia
  3. Eklampsia
  4. Pre Eklampsia super imposed pada Hipertensi Kronis
  5. Hipertensi Kronis
Patofisiologi

Hipertensi gestasional sering disebut sebagai hipertensi transient. Proteinuria pada keadaan ini adalah pertanda semakin memburuknya penyakit. Proteinuria persisten yang bermakna dapat meningkatkan resiko maternal dan fetus.

 Pre eklamsia ž : timbulnya hipertensi disertai proteinuria dan/atau edema akibat kehamilan, setelah umur kehamilan 20 minggu atau segera setelah persalinan. Gejala ini dapat timbul sebelum 20 minggu bila terjadi penyakit trofoblas.
ž  Proteinuria adalah tanda penting pada pre-eklampsia. (protein dalam urine >300 mg/24 jam ; atau 30 mg/dL  )
ž  Nyeri epigastrium diakibatkan oleh nekrosis hematoseluler, iskemia dan edema yang meregangkan kapsule Glisson
—  Derajat pre-eklamsia : Pemisahan PE ringan dan PE Berat secara tegas dapat menimbulkan kesulitan oleh karena penyakit ringan dapat dengan cepat berubah menjadi penyakit yang berat.
—  Perlu diperhatikan bahwa tingginya tekanan darah bukan merupakan penentu utama klasifikasi berat atau ringannya pre-eklampsia.

Eklamsia : Kejang yang terjadi pada penderita pre-eklampsia dan tidak disebabkan oleh faktor-faktor lain disebut sebagai EKLAMPSIA. Kejang bersifat GENERALISATA dan dapat terjadi sebelum, selama atau sesudah persalinan.Pada nulipara, kejang kadang-kadang dapat terjadi sampai 48 jam Pasca Persalinan. Chames dkk (2002) : dengan memperbaiki kualitas perawatan prenatal, sejumlah kasus eklampsia intrapartum atau antepartum dapat dicegah.

ž  HIPERTENSI KRONIS SUPERIMPOSED PREEKLAMPSIA : Semua penyakit HT- kronis apapun penyebabnya memiliki predisposisi untuk berkembang menjadi pre-eklampsia atau eklampsia selama kehamilan.

Diagnosa

Diagnosa adanya latar belakang hipertensi kronis dibuat bila :
1.      Hipertensi tercatat sebelum kehamilan.
2.      Hipertensi terdeteksi pada kehamilan < 20 minggu.
3.      Hipertensi menetap > 6 minggu pasca persalinan.
ž  
Gejala

Hipertensi Kronik Dalam Kehamilan : Adanya hipertensi yang persisten oleh sebab apapun juga yang ditemukan pada umur kehamilan kurang dari 20 minggu atau hipertensi persisten setelah 6 minggu pasca persalinan. Diagnosis klinik Diagnosis hipertensi kronik pada kehamilan ditegakkan berdasarkan gejala-gejala sebagai berikut :
  1. Adanya riwayat hipertensi sebelum kehamilan atau didapatkan hipertensi pada kehamilan kurang dari 20 minggu.
  2. Ditemukan kelainan organik, misalnya : pembesaran jantung, kelainan ginjal, dan sebagainya.
  3. Umur ibu di atas 30 tahun dan umumnya multigravida.
  4. Bila terjadi superimposed preeclampsia, maka didapatkan : tekanan darah sistolik lebih dari 200 mmHg adanya perubahan-perubahan pada pembuluh darah retin berupa eksudasi, perdarahan, dan penyempitan.
  5. Retensi air dan natrium tidak menonjol. Jarang didapatkan edema dan proteinuria.
  6. Hipertensi masih didapatkan sampai 6 bulan pasca persalinan.

Angka kejadian dan factor resiko

•      Angka kejadian HDK pada umumnya sekitar 5% dari seluruh kehamilan.
•      Faktor resiko :
v  Usia
v  Hiperemesis Gravidarum sering terjadi pada pasien nullipara dan usia “tua”  (> 35 tahun)
v  Kehamilan kembar
v  Paritas
v  Ras : sering terjadi pada afro-america
v  Predisposisi genetik
v  Faktor lingkungan : kebiasaan hidup
ž  Pengobatan Diet Rendah Garam : Membantu menghilangkan retensi  garam atau air dalam jaringan tubuh dan menurunkan tekanan darah pada pasien hipertensi.


Syarat Diet Rendah Garam:

1. Cukup energi, protein, mineral dan vitamin.
2. Bentuk makanan sesuai dengan keadaan penyakit.
3. Jumlah natrium disesuaikan dengan berat tidaknya retensi garam atau air dan hipertensi.

Macam diet dan indikasi pemberian
Diet Garam rendah diberikan kepada pasien denan edema, asites atau hipertensi seperti yang terjadi pada penyakit dekompensasio kordis, serosis hati, penyakit ginjal tertentu, toxemia pada kehamilan, dan hipertensi esensial. Diet ini mengandung cukup zat-zat gizi. Sesuai dengan keadaan penyakit dapat diberikan berbagai 

Diet Rendah Garam.

  1. Diet Rendah Garam I (200-400 mg Na)
Diet Rendah Garam I diberikan kepada pasien dengan edema, asites, dan Hipertensi berat. Pada pengolahan makanannya tidak ditambahkan garam dapur . Dihindari bahan makanan yang tinggi kadar natriumnya misalnya   daun seledri (96 mg/100 gr bahan makanan), pisang (18 gr bahan makanan).

  1. Diet Rendah Garam II (600-800 mg Na)
Diet rendah garam II diberikan kepada pasien dengan edema, acites, dan hipertensi tidak terlalu berat. Pemberian makanan sehari sama dengan diet rendah garam I. Pada pengolahan makananya boleh menggunakan setengah sendok teh garam dapur (2gr).  Dihindari bahan makanan yang tinggi kadar natriumnya, misalnya roti bakar (700 mg/100gr  bahan makanan), susu asam bubuk (600 mg/ 100 gr bahan makanan), biskuit  (500mg/100gr bahan makanan), kue-kue (250mg/100gr bahan makanan), roti cokelat (500mg/100gr bahan makanan), ayam (100mg/100gr bahan makannan), daging bebek (200mg/100gr bahan makana), putih telur bebek( 228mg/100gr), susu skim bubuk (470mg/100gr bahan makanan).

  1. Diet Rendah Garam III (1000-1200 mg Na)
Diet rendah garam III diberikan kepada pasien dengan edema dan hipertensi ringan. Pemberian makanan sehari samadengan diet rendah garam I. Pada pengolahan makanannya boleh menggunakan I sdt (4gr) garam dapur. Contoh pengaturan makanannya; keju  (1200 mg/100gr makanan), sosis (1000 mg/ 100gr bahan makanan), lemak babi (1500 mg/100 gr bahan makanan), garam (38758 mg/100 gr bahan makanan).

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

GESTASIONAL DM (DIABETES MELITUS GESTASIONAL)


Definisi


Suatu keadaan intoleransi glukosa atau karbohidrat dengan derajat yang bervariasi yang terjadi atau pertama kali ditemukan pada saat kehamilan berlangsung

Epidemiologi

•       Insidens DMG bervariasi antara 1,2 – 12%, lain mengatakan 14%.
•       Di Indonesia insidens DMG berkisar 1,9 -2,6%.
•       Di Amerika Serikat insidens kira-kira  4%.
•       Hal diatas berbeda terutama disebabkan oleh karena perbedaan kriteria  diagnosis  materi penyaringan (skrinning) yang diperiksa
DMG juga sangat erat hubungannya dengan ras dan budaya seseorang
•       Contoh
–      Di barat daya Amerika 15%.
–      Asia, Afrika –Amerika dan Spanyol insidens DMG  sekitar 5-8%
–      ras Kaukasia sekitar  1,5%.

Pathogenesis

•       metabolisme endokrin dan KH yang menunjang makan bagi janin serta persiapan untuk menyusui.
•       Insulin ibu tidak dapat mencapai janin, kadar gula ibu yang mempengaruhi kadar pada janin.
•       Akibat lambatnya reabsorpsi terjadi hiperglikemia karena lamanya dlm memenuhi kebutuhan insulin, terjadi resistensi insulin yaitu bila ia ditambah dengan insulin eksogen ia tidak mudah menjadi hipoglikemia
•       yang menjadi masalah ialah bila seorang ibu tidak mampu meningkatkan produksi insulin sehingga ia relatif hipoinsulin yang mengakibatkan hiperglikemia atau diabetes kehamilan
•       Resistensi insulin disebabkan adanya hormon estrogen, progesteron, kortisol, prolaktin dan plasenta laktogen
•       Terutama pada hormon kortisol. Hormon tersebut mempengaruhi reseptor insulin pada sel sehingga mempengaruhi afinitas insulin
•       resistensi insulin selama kehamilan terjadi karena rusaknya reseptor  insulin bagian distal yakni post reseptor
•       terdapat penurunan respon Gastric Inhibitory Polipeptida (GIP) pada tes glukosa oral   dengan  tes  glukosa  oral  pada  kehamilan normal dan DMG
•       Mereka meyakini bahwa kerusakan respon GIP ini yang mungkin berperanan menjadi sebab terjadinya DMG
•       Pada sebagian kecil wanita hamil, kesanggupan sekresi insulin tidak mencukupi untuk melawan resistensi insulin, dengan demikian terjadilah intoleransi terhadap glukosa atau DM gestasi
  
Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (PERKENI) pada konsensus diabetes melitus di Indonesia
Tahun 2002 membuat klasifikasi etiologis DM sebagai berikut:11
Tipe 1    ●   (Destruksi sel beta, umumnya menjurus ke defisiensi insulin absolut)
                                ●   Autoimun
                                ●   Idiopatik
Tipe 2    ●   (Bervariasi mulai yang terutama dominan resistensi insulin disertai defisiensi   
                               insulin relatif sampai yang terutama defek sekresi insulin disertai resistensi
                               insulin)
Tipe lain               ●   Defek genetik fungsi sel beta
                                ●   Defek genetik kerja insulin
                                ●   Penyakit eksokrin pankreas
                                ●   Endokrinopati
                                ●   Karena obat atau zat kimia
                                ●   Infeksi
                                ●   Sebab imunologi yang jarang
                                ●   Sindrom genetik lain yang berkaitan dengan DM
Diabetes melitus gestasional                                                                                      
Catatan :  Diabetes melitus pada sirosis hati belum bisa di kelompokkan ke dalam  klasifikasi diatas  karena mekanismenya beum dapat ditentukan dengan pasti.

Klasifikasi
•       Priscilla White pada tahun 1959 memperkenalkan klasifikasi White yang sangat terkenal. Klasifikasi ini terutama menitikberatkan pada:
–      umur saat diketahuinya DM
–      lamanya mengidap DM
–      adanya komplikasi vaskuler khususnya retino-renal.
Klasifikasi White menekankan bahwa kerusakan target organ khususnya mata, ginjal, jantung mempunyai akibat yang sangat berarti pada anak. Klasifikasi DMG yang direkomendasikan oleh “American College  of Obstetricians and Gynecologists” pada tahun 1994 adalah klasifikasi sebagai berikut
Untitled.jpg

  • Klasifikasi Pyke dari Kings College Hospital London

1. Mereka yang DM diketahui saat hamill yang identik dengan DM gestasi.
2. DM pragestasi yang tanpa komplikasi atau dengan komplikasi ringan.
3. DM pragestasi yang disertai denngan komplikasi berat seperti nefropati, retiopati dan penyakit jantung koroner

Skrining (penyaringan) DMG

Perlunya skrinning karena Keadaan hiperglikemia pada ibu dapat mengakibatkan :
a. Angka kesakitan pada ibu sendiri yang tinggi dibandingkan populasi normal
b. Angka kesakitan dan kematian perinatal yang meningkat
c. Ternyata mereka dengan riwayat DMG sebelumnya merupakan resiko tinggi untuk
    menjadi DM di kemudian hari
•       penyaringan di Ujung Pandang pada dua periode yang berbeda dan mendapatkan insiden DMG lebih tinggi pada kelompok risiko tinggi.
•       Dari 42 wanita DMG yang ditemukan pada penyaringan periode kedua ternyata 29 wanita hamil termasuk risiko tinggi dan 13 sisanya tidak tergolong risiko tinggi.
•        Dengan kata lain apabila penyaringan hanya dilakukan pada wanita yang tergolong risiko tinggi, 31% penderita tidak terjaring. Oleh karena itu hampir semua sepakat bahwa penyaringan untuk DMG harus dilakukan pada semua wanita hamil

Pengaturan diet

Sasaran   normoglikemia   pada DMG adalah   kadar glukosa  plasma   vena  puasa < 105 mg% dan dua jam sesudah makan < 120 mg%. Untuk mencapainya dapat dilakukan dengan
a. Pengaturan diet yang sesuai dengan kebutuhan yang diatur oleh ahli gizi.
b. Memantau glukosa darah sendiri di rumah dan edukasi
c. Pemberian insulin bila belum tercapai normoglikemia dengan diet
Diet merupakan tahap awal penting pada penatalaksanaan DMG dan bertujuan
a) mencapai normoglikemia dan
b) untuk menghasilkan pertumbuhan dan perkembangan janin yang optimal.

Tahap-tahap diet
1.       Jumlah kalori dan komposisi makanan dibutuhkann antara 30-35 kcal/kg berat badan ideal, dihitung dengan indeks Broca (1800 – 2500 kcal/hari) terdiri atas 60-70% KH, 10-15% protein dan sisanya lemak 20-25%.

2.       Memantau diabetes terkendali  
                Memantau glukosa darah sendiri di rumah. PGDM dianjurkan bagi pasien dengan pengobatan insulin atau pemicu sekresi insulin, mempermudah mencapai normoglikemia  dan bagi mereka yang mendapat tambahan insulin akan memberikan keuntungan untuk mencegah reaksi hipoglikemia berat
Waktu yang bermanfaat untuk pemantauan adalah
•       saat sebelum makan dan waktu tidur (untuk menilai risiko hipoglikemia)
•       2 jam setelah makan (menilai ekskursi maksimal glukosa selama sehari)
•       diantara siklus tidur (untuk menilai adanya hipoglikemia nokturnal yang kadang tanpa gejala)
•       ketika mengalami gejala seperti hypoglicemic spells
•       berkala setiap 8 - 12 minggu
•       baik bila < 6,5%,
•       sedang bila 6,5 – 8%
•       buruk bila > 8%

3.       Insulin
Pasien DMG yang ditemukan setelah umur kehamilan 28 minggu  dengan kadar glukosa darah puasa. > 130 mg% dianjurkan agar segera dimulai dengan insulin oleh karena pengobatan setelah 30 minggu sulit untuk mencegah hiperplasia sel beta dan hiperinsulinemia janin. Dosis insulin diperkirakan antara 0,5-1,5 U/kg berat badan, 2/3 diberikan pagi hari dan 1/3 pada sore hari

Penanganan Bayi dari Ibu DMG

•       Kadar glukosa serum tali pusat
                 diukur  ketika bayi berumur 1,2,4,8,12,24,36 dan 48 jam. Apabila kadar glukosa darah diukur dengan reflectance meter < 45 mg/dl, harus diperiksa kadar glukosa serum.
•       Kadar kalsium dan magnesium
                harus diperiksa pada umur 6,  12, 24, dan 48 jam.
•       Hematokrit
                harus diperiksa dari tali pusat dan selanjutnya pada umur 4 dan 24 jam.
•       Kadar serum bilirubin
                harus diperiksa bila bayi tampak kuning.
                Bayi dari ibu DMG harus dikelola sejak lahir dan dicegah terjadinya hipoglikemia

Kemungkinan – kemungkinan yang dapat terjadi pada janin dan bayi dari ibu diabetes:
–      Makrosomia
–      kematian janin
–      trauma lahir
–      asfiksia neonatal
–      penyakit membrana hialinkelainan bawaan
–      Hipoglikemia
–      hopokalsemia dan hipomagnesemia
–      Hiperbilirubinemia
–      polisitemia trombosis vena renalis.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS