RSS

Persepsi

Makalah
Ilmu Komunikasi
materi:
Persepsi


Disusun oleh:
Nur Nida Fitroh (P23131114032)
Stephanie Yesica (P23131114043)
Kelas: DIV/IIB

Dosen pembimbing: dr. Maria Poppy Herlianti, B.Sc, M.Epid

Poltekkes Kemenkes Jakarta II Jurusan Gizi
2015
I. Pengertian Persepsi

Pengertian Persepsi menurut para ahli:
·         Maramis: menyatakan bahwa persepsi merupakan daya mengenal barang, kualitas atau hubungan, dan perbedaan antara hal ini melalui proses mengamati, mengetahui, atau mengartikan setelah pancaindranya mendapat rangsang.
·         Bimo Walgito : menyatakan bahwa persepsi merupakan proses yang terjadi di dalam diri individu yang dimulai dengan diterimanya rangsang, sampai rangsang itu disadari dan dimengerti oleh individu sehingga individu dapat mengenali dirinya sendiri dan keadaan di sekitarnya.
·         Davidoff : menyatakan bahwa persepsi merupakan proses pengorganisasian dan penginterpretasian terhadap stimulus oleh organisme atau individu sehingga didapat sesuatu yang berarti dan merupakan aktivitas yang terintegrasi dalam diri individu.
Persepsi dalam arti sempit : adalah penglihatan, bagaimana cara seseorang melihat sesuatu . Dalam arti luas : adalah pandangan atau pengertian , yaitu bagaimana seeseorang memandang atau mengartikan sesuatu yang diperoleh melalui sistem indera manusia. Misalnya pada waktu seorang melihat sebuah gambar, membaca tulisan, atau mendengar suara tertentu, ia akan melakukan interprestasi berdasarkan pengetahuan yang dimilikinya dan relevan dengan hal-hal itu.
                                            




Faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi
1.      Faktor Internal yang mempengaruhi persepsi, yaitu faktor-faktor yang terdapat dalam diri individu, yang mencakup beberapa hal antara lain :
·         Fisiologis. Informasi masuk melalui alat indera, selanjutnya informasi yang diperoleh ini akan mempengaruhi dan melengkapi usaha untuk memberikan arti terhadap lingkungan sekitarnya. Kapasitas indera untuk mempersepsi pada tiap orang berbeda-beda sehingga interpretasi terhadap lingkungan juga dapat berbeda.
·  Perhatian. Individu memerlukan sejumlah energi yang dikeluarkan untuk memperhatikan atau memfokuskan pada bentuk fisik dan fasilitas mental yang ada pada suatu obyek. Energi tiap orang berbeda-beda sehingga perhatian seseorang terhadap obyek juga berbeda dan hal ini akan mempengaruhi persepsi terhadap suatu obyek.
·    Minat. Persepsi terhadap suatu obyek bervariasi tergantung pada seberapa banyak energi atau perceptual vigilance yang digerakkan untuk mempersepsi. Perceptual vigilance merupakan kecenderungan seseorang untuk memperhatikan tipe tertentu dari stimulus atau dapat dikatakan sebagai minat.
·     Kebutuhan yang searah. Faktor ini dapat dilihat dari bagaimana kuatnya seseorang individu mencari obyek-obyek atau pesan yang dapat memberikan jawaban sesuai dengan dirinya.
·         Pengalaman dan ingatan. Pengalaman dapat dikatakan tergantung pada ingatan dalam arti sejauh mana      seseorang dapat mengingat kejadian-kejadian lampau untuk mengetahui suatu rangsang dalam pengertian luas.
·    Suasana hati. Keadaan emosi mempengaruhi perilaku seseorang, mood ini menunjukkan bagaimana perasaan seseorang pada waktu yang dapat mempengaruhi bagaimana seseorang dalam menerima, bereaksi dan mengingat.

2.      Faktor Eksternal yang mempengaruhi persepsi, merupakan karakteristik dari linkungan dan obyek-obyek yang terlibat didalamnya. Elemen-elemen tersebut dapat mengubah sudut pandang seseorang terhadap dunia sekitarnya dan mempengaruhi bagaimana seseoarang merasakannya atau menerimanya. Sementara itu faktor-faktor eksternal yang mempengaruhi persepsi adalah :
·         Ukuran dan penempatan dari obyek atau stimulus. Faktor ini menyatakan bahwa semakin besrnya hubungan suatu obyek, maka semakin mudah untuk dipahami. Bentuk ini akan mempengaruhi persepsi individu dan dengan melihat bentuk ukuran suatu obyek individu akan mudah untuk perhatian pada gilirannya membentuk persepsi.
·         Warna dari obyek-obyek. Obyek-obyek yang mempunyai cahaya lebih banyak, akan lebih mudah dipahami (to be perceived) dibandingkan dengan yang sedikit.
·         Keunikan dan kekontrasan stimulus. Stimulus luar yang penampilannya dengan latarbelakang dan sekelilingnya yang sama sekali di luar sangkaan individu yang lain akan banyak menarik perhatian.
·         Intensitas dan kekuatan dari stimulus. Stimulus dari luar akan memberi makna lebih bila lebih sering diperhatikan dibandingkan dengan yang hanya sekali dilihat. Kekuatan dari stimulus merupakan daya dari suatu obyek yang bisa mempengaruhi persepsi.
·         Motion atau gerakan. Individu akan banyak memberikan perhatian terhadap obyek yang memberikan gerakan dalam jangkauan pandangan dibandingkan obyek yang diam.
Factor lain yang mempengaruhi persepsi individu
Ø  Primary Effect : Pentingnya Kesan Pertama
Merupakan faktor penting dalam proses persepsi manusia. Setiap orang dari kita pasti memiliki hari yang baik dan hari yang buruk dalam kehidupan kita, bahkan faktor baik dan buruk tersebut dapat mempengaruhi persepsi oranglain terhadap kita. Apakah ketika kita membuat kesan pertama kita pada hari yang baik atau yang buruk.
Informasi pertama yang kita dapat dari orang lain cenderung mempengaruhi pendapat kita terhadap mereka dibandingkan informasi-informasi selanjutnya. Inilah yang disebut primacy effect sebagai contoh : ketika Budi bertemu dengan Anto seorang yang sangat hebat di bidang Fisika, Budi melihat bahwa Anto ini adalah seorang siswa SMA yang jago Fisika dan menjadi juara kelas, serta ramah dengan siapapun. Kesan pertama Budi akan positif. Setelah itu ketika ia bertemu lagi dengan Anto di kafe, dimana ia duduk sendiri dan setengah mabuk, Budi melihat sisi lain dari Anton. Namun, karena kesan pertama bertemu adalah positif, Budi mengabaikan hal tersebut dan mengira bahwa dia berada di bar sendirian akrena adanya sesuatu yang negatif yang menimpanya. Dan Sebaliknya, ketika mereka bertemu, kesan pertama negatif. Dan ketika keesokan harinya mereka bertemu kesan yang terlihat cukup possitif, namun karena awalnya negatif. Maka kesan yang mendominasi justru yang negatif.
II. Jenis Persepsi
a) Persepsi terhadap Lingkungan Fisik
            Dalam mempersepsi lingkungan fisik, kita terkadang melakukan kekeliruan. Indera kita tidak jarang melakukan kekeliruan. Indera kita tidak jarang menipu kita. Latar belakang pengalaman, budaya dan suasana psikologis yang  berbeda membuat persepsi kita berbeda atas suatu objek.
b) Persepsi Sosial
Persepsi sosial adalah proses menangkap arti objek-objek sosial dan kejadian-kejadian yang kita alami dalam lingkungan kita. Beberapa prinsip penting mengenai persepsi sosial:
1) Persepsi Berdasarkan Pengalaman
Persepsi manusia terhadap seseorang, objek atau kejadian biasanya berdasarkan pengalaman masa lalu. Ketiadaan pengalaman terdahulu dalam menghadapi suatu objek jelas akan membuat seseorang menafsirkan objek tersebut berdasarkan dugaan semata. Seorang anggota suku primitif di pedalaman Afrika yang belum pernah mengetahui televisi, kemungkinan besar akan menganggapnya sebagai sihir.
2) Persepsi bersifat selektif
     Atensi kita pada suatu rangsangan merupakan faktor utama yang menentukan selektivitas kita atas rangsangan tersebut. Atensi dipengaruhi oleh faktor-faktor internal: faktor biologis, fisiologis, sosial budaya seperti agama, pendidikan, pekerjaan, gender dan sebagainya. Faktor eksternal: gerakan, intensitas, kontras dan perulangan objek yang dipersepsi.
3) Persepsi bersifat dugaan
     Proses persepsi yang bersifat dugaan memungkinkan kita menafsirkan suatu objek dengan makna lebih lengkap dari sudut pandang manapun. Contoh:
                        .                  .                  .                 

.                  .                  .                  .                 
Ketika ketiga titik dan keempat titik secara terpisah dihubungkan dan membentuk suatu gambar, dengan syarat setiap titikhanya boleh dilewati satukali, kemungkinan hasilgambar di atas berbeda-beda sangat tergantung pada persepsi orang yang melakukan.
4)  Persepsi bersifat evaluatif                                      
                        Dalam konteks komunikasi massa, tidak ada satu surat kabar, majalah, radio, atau televisi yang objektif, independen atau netral dalam melaporkan fakta dan kejadian melalui beritanya. Pada dasarnya bahasa itu tidak netral, di dalamnya ada muatan pribadi, kelompok, kultural atau ideologis meskipun bersifat samar.
5)  Persepsi bersifat kontekstual
                        Rangsangan dari luar harus diorganisasikan. Dari semua pengaruh dalam persepsi kita, konteks merupakan salah satu pengaruh paling kuat. Dalam mengorganisasikan objek, yakni meletakkannya dalam suatu konteks tertentu, digunakan prinsip-prinsip berikut:
a. Struktur objek atau kejadian berdasarkan prinsip kemiripan atau kedekatan dan kelengkapan.
b. Kita cenderung mempersepsi suatu rangsangan atau kejadian yang terdiri dari objek dan latar belakangnya.
III. Proses Persepsi
Dari segi psikologi dikatakan bahwa tingkah laku seseorang merupakan fungsi dari cara dia memandang. Dalam proses persepsi, terdapat tiga komponan utama berikut:
·           Seleksi adalah proses penyaringan oleh indra terhadap rangsangan dari luar, intensitas dan jenisnya dapat banyak atau sedikit.
·           Interprestasi yaitu proses mengorganisasikan informasi sehingga mempunyai arti bagi seseorang. Interprestasi dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti pengalaman masa lalu, sistem nilai yang dianut, motivasi, kepribadian, dan kecerdasan. Interprestasi juga bergantung pada kemampuan seseorang untuk mengadakan pengkatagoriaan informasi yang kompleks menjadi sarjana.
·           Interprestasi dan persepsi kemudian ditrjemahkan dalam bentuk tingkah laku sebagai rekasi (Depdikbud, 1985), dalam Soelaeman, 1987). Jadi, proses persepsi adalah melakukan seleksi, interprestasi, dan pembulatan terhadap informasi yang sampai.
Kita dapat mengilustrasikan bagaimana persepsi bekerja dengan menjelaskan tiga langkah yang terlibat dalam prosesnya.tahap-tahap ini bersifat countinu, bercampur baur, dan berumpang tindih satu sama lain.
BimoWalgito (2002) mengemukakan proses-proses terjadinya persepsi :
1.             Suatu obyek atau sasaran menimbulkan stimulus, selanjutnya stimulus tersebut ditangkap oleh alat indera. Proses ini berlangsung secara alami dan berkaitan dengan segi fisik. Proses tersebut dinamakan proses kealaman. Kita mencium parfum orang yang berdekatan dengan kita. Kiat mencicipi sepotong kue. Kiat merasakan telapak tangan berkeringat ketika kita berjabat tangan.
2.        Stimulus suatu obyek yang diterima oleh alat indera, kemudian disalurkan keotak melalui syaraf sensoris. Proses pentransferan stimulus keotak disebut proses psikologis, yaitu berfungsinya alat indera secara normal.

3.        Otak selanjutnya memproses stimulus hingga individu menyadari obyek yang diterima oleh alat inderanya. Proses ini juga disebut proses psikologis. Dalam hal ini terjadilah adanya proses persepsiya itu suatu proses dimana individu mengetahui dan menyadari suatu obyek berdasarkan stimulus yang mengenai alat inderanya.



IV. Kekeliruan dan Kegagalan Persepsi

Persepsi kita sering tidak cermat. Salah satu penyebabnya adalah asumsi atau pengharapan kita. Kita mempersepsi sesuatu atau seseorang sesuai dengan pengharapan kita. Beberapa bentuk kekeliruan dan kegagalan, yaitu:

a. Kesalahan Atribusi
                   Atribusi adalah proses internal dalam diri kita untuk memahami penyebab perilaku orang lain. Untuk mengenal orang lain, kita memerlukan beberapa informasi, misalnya penampilan fisik, usia, gaya pakaian, daya tarik dan sebagainya. Kita dapat menduga sifat pria setengah baya dengan rambut gondrong, telinga beranting atau seorang wanita muda, rambut pendek seperti pria, selalu pakai rok mini dengan asesoris yang antik. Namun dugaan kita belum tentu benar. Kesalahan atribusi bisa terjadi ketika kita salah menaksir makna pesan atau maksud perilaku si pembicara, misalnya seseorang menguap, dapat menunjukkan apakah ia bosan, mengantuk, letih, acuh tak acuh, atau khawatir.

b. Efek Halo
                   Efek halo merujuk pada fakta bahwa begitu kita membentuk kesan menyeluruh mengenai sesorang, kesan yang menyeluruh ini cenderung menimbulkan efek yang kuat atas penilaian kita akan sifat-sifatnya yang spesifik. Gagasan yang dianggap biasa bila dikemukakan oleh orang awam boleh jadi akan dianggap brilian atau kreatif bila dikemukakan oleh tokoh nasional sehingga cepat diliput oleh pers.
                   Kesan menyeluruh itu sering kita peroleh dari kesan pertama, yang biasanya berpengaruh kuat dan sulit digoyahkan. Kita bisa saja memperoleh kesan bahwa seseorang tidak terampil berkomunikasi berdasarkan pengamatan selama wawancara pekerjaan yang menegangkan. Padahal dalam situasi keseharian ia adalah orang yang terampil dan luwes berkomunikasi, hanya karena tegang ia menjadi sulit berkomunikasi.

c. Stereotip
       Stereotip yaitu menggeneralisasikan orang-orang berdasarkan sedikit informasi dan membentuk asumsi mengenai mereka berdasarkan keanggotan dalam kelompok. Larry A. Samovar dan Richard E.Porter, mendifinisikan stereotip sebagai persepsi atau kepercayaan yang kita anut mengenai kelompok atau individu berdasarkan pendapat dan sikap yang lebih dulu terbentuk.
Contoh stereotip:
-          Laki-laki berpikir logis
-          Wanita bersikap emosional
-          Orang Batak kasar
-          Orang Padang pelit
-          Orang Tasikmalaya tukang kredit
Dll.

d. Prasangka
Suatu kekeliruan persepsi terhadap orang yang berbeda adalah prasangka (prejudice), suatu konsep yang dekat dengan stereotip. Prasangka adalah sikap yang tidak adil terhadap seseorang atau suatu kelompok. Prasangka ini bermacam-macam, yang populer adalah prasangka rasial, kesukuan (etnik), gender dan agama. Budaya dan kepribadian sangat mempengaruhi prasangka. Prasangka yang berlebihan dapat menghambat komunikasi.

e. Pesan yang meragukan
       Jika suatu pernyataan seseorang meragukan,itu berarti bahwa kita tidak pasti apa yang dikatakan orang tersebut. Ada bermacam-macam tipe dari keraguan, yaitu:
·         Keraguan arti pesan, maksud pesan dan keraguan efek pesan. Keraguan arti pesan berkenaan dengan ketidakpastian perkiraan arti pesan yang sesungguhnya. Makin besar keraguan arti pesan, makin sulit untuk dipahami.
·         Keraguan maksud berkenaan dengan ketidakpastian menentukan mengapa komunikator menyatakan pesan tertentu.
·         Keraguan efek berkenaan ketidakpastian memprediksi atau memperkirakan konsekuensi darisuatu pesan.

Strategi untuk mengurangi ketidakpastian ada tiga yaitu:
1. Strategi aktif, bila kita aktif mencari informasi tentang seseoraang dengan cara apapun   selain berinteraksi dengan orang itu. Kita dapat juga memanipulasi lingkungan dengan cara tertentu sehingga dapat mengamati seseorang secara lebih spesifik dan jelas
2. Strategi pasif, bila kita mengamati orang lain tanpa orang itu sadar bahwa dia sedang kita amati. Yang paling bermanfaat dalam observasi pasif adalah mengamati seseorang dalam tugas aktif tertentu , misalnya interaksi dengan orang lain dalam situasi informal.
3. Strategi interaktif, bila kita sendiri berinteraksi dengan seseorang. Kita juga mendapatkan pengetahuan tentang orang lain dengan mengungkapkan informasi tentang diri kita sendiri. Pengungkapan diri menciptakan lingkungan dan mendorong pengungkapan dari orang lain yang lebih kita kenal.

Ketiga strategi ini bermanfaat untuk mengurangi ketidakpastian mengenai orang lain. Sayang banyak orang merasa bahwa mereka sudah cukup mengenal, sehingga hanya menerapkan strategi pasif. Strategi aktif lebih bersifat mengungkapkan dan strategi interaktif lebih banyak mengungkapkannya. Menerapkan ketiga strategi ini akan membuat persepsi anda seakurat mungkin.









Daftar Pustaka

Ayu Anggraeni, dkk.2012.Teori Komunikasi.Jakarta:Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Jakarta II.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Komunikasi Non-verbal

ILMU KOMUNIKASI
Komunikasi Non-verbal




Disusun oleh :
Nur Aini Afifah            (P23131114031)
Susilawati                     (P23131114044)

DIV – II B

Dosen Pembimbing
dr. Maria Poppy Herlianty, M. Epid

Politeknik Kesehatan Kemenkes Jakarta II
Jurusan GIZI





1.    Pengertian Komunikasi Non-verbal
Komunikasi non-verbal adalah komunikasi yang menggunakan pesan-pesan non-verbal. Istilah non-verbal biasanya digunakan untuk melukiskan semua peristiwa komunikasi di luar kata-kata terucap dan tertulis. Secara teorotis komunikasi verbal dan non-verbal dapat dipisahkan. Namun dalam kenyataanya, kedua jenis komunikasi ini saling jalin menjalin, saling melengkapi dalam komunikasi yang kita lakukan sehari-hari.
Para ahli di bisang komunikasi non-verbal biasanya menggunakan definisi “tidak menggunakan kata” dengan ketat, dan tidak menyamakan komunikasi non-verbaldengan komunikasi non-lisan. Contoh: bahasa isyarat dan tulisan tidak dianggap sebagai komunikasi non-verbal karena menggunakan kata, sedangkan intonasi dan gaya bicara tergolong sebagai komunikasi non-verbal. Komunikasi non-verbal juga berbeda dengan komunikasi
Batasan lain mengenai komunikasi nonverbal dikemukakan oleh beberapa ahli lainnya, yaitu;
·         Frank EX Dance dan Carl E. Larson
Komunikasi nonverbal adalah sebuah stimuli yang tidak bergantung pada isi simbolik untuk memaknainya (a stimulus not dependent on symbolic content meaning).
·         Edward Sapir
Komunikasi nonverbal adalah sebuah kode yang luas yang ditulis tidak di mana pun juga, diketahui oleh tidak seorang pun dan dimengerti oleh semua (an elaborate code that is written nowhere, known to none, and understood by all).
·         Malandro dan Barker yang dikutip dari Ilya Sunarwinadi:
Komunikasin Antar Budaya memberikan batasan-batasannya sebagai berikut. 1) Komunikasi nonverbal adalah komunikasi tanpa kata-kata. 2) Komunikasi nonverbal terjadi bila individu berkomunikasi tanpa menggunakan suara. 3) Komunikasi nonverbal adalah setiap hal yang dilakukan oleh seseorang yang diberi makna oleh orang lain. 4) Komunikasi nonverbal adalah studi mengenai ekspresi wajah, sentuhan, waktu, gerak isyarat, bau, perilaku mata dan lain-lain.

2.    Bentuk-bentuk Komunikasi Non-verbal
Komunikasi non-verbal dibagi menjadi tujuh bentuk yaitu, komunikasi visual, komunikasi sentuhan, komunikasi gerakan tubuh, komunikasi lingkungan, komunikasi penciuman, komunikasi penampilan, dan komunikasi citarasa.

2.1.        Komunikasi Visual
Komunikasi visual merupakan salah satu bentuk komunikasi yang digunakan untuk menyampaikan pesan berupa gambar, grafik, lambang, atau simbol.
Penggunaan gambar yang relevan dan penggunaan warna yang tepat serta bentuk yang unik akan membantu mendapat perhatian pendengar. Dibanding dengan hanya mengucapkan kata-kata saja, penggunaan komunikasi visual akan lebih cepat dalam pemrosesan informasi kepada para pendengar.
Rambu lalu lintas dan ikon ikon di dalam program komputeradalah bentuk komunikasi visual sederhana, seperti juga ikon di dalam keyboard portable sound. Di jalan pun seperti zebra cross dan ikon sepeda motor terjadi hubungan komunikasi secara visual seperti logo logo perusahaan dan tanda di kebun raya dan kebun binatang.
Contoh komunikasi visual





2.2.        Komunikasi Sentuhan
Ilmu yang mempelajari tentang sentuhan dalam komunikasi non verbal sering disebut haptik. Sebagai contoh: bersalaman, pukulan, mengelus, sentuhan dipunggung, dan lain sebagainya merupakan salah satu bentuk komunikasi yang menyampaikan suatu maksud/tujuan tertentu dari orang yang menyentuhnya.
Contoh komunikasi sentuhan




2.3.        Komunikasi Gerakan Tubuh
Kineksi atau gerakan tubuh merupakan bentuk komunikasi non verbal seperti melakukan kontak mata, ekspresi wajah, isyarat dan sikap tubuh. Gerakan tubuh digunakan untuk menggantikan suatu kata yang diucapkan. Seseorang dapat mengetahui informasi yang disampaikan melalui gerakan tubuh tanpa harus mengucapkan suatu kata. Contoh: mengganggukan kepala yang berarti setuju
Contoh komunikasi gerakan tubuh

2.4.        Komunikasi Lingkungan
Lingkungan dapat memiliki pesan tertentu bagi orang ynag melihat atau merasakannya. Contoh : arang, ruang, temperatur, dan warna. Ketika seseorang menyebutkan bahwa “jaraknya sangan jauh”,”ruangan ini bersih”,”lingkungannya sejuk” dan lainnya, berarti orang tersebut menyatakan demikian karena atas dasar penglihatan dan perasaan kepada lingkungan tersebut.
Contoh komunikasi lingkungan





2.5.        Komunikasi Penciuman
Komunikasi penciuman merupakan bentuk komunikasi dimana penyampaian suatu pesan/informasi melalui aroma yang dapat dihirup pleh indera penciuman. Contoh : aroma parfum bulgari, orang tersebut tidak akan menyadari bahwa parfum tersebut termasuk parfum bulgari apabila ia hanya mencium sekali.
Contoh komunikasi penciuman

                              


2.6.        Komunikasi Penampilan
Seseorang yang memakai pakaian yang rapi atau dapat dikatakan berpenampilan menarik, sehingga mencerminkan kepribadiannya. Hal ini merupakan bentuk komunikasi yang menyampaikan pesan kepada orang yang melihatnya. Orang akan menerima pesan berupa tanggapan yang negatif apabila penampilannya buruk.
Contoh komunikasi penampilan



2.7.        Komunikasi Citarasa
Komunikasi citarasa merupakan salah satu bentuk komunikasi dimana penyampaian suatu pesan./informasi melalui citarasa dari suatu makanan atau minuman. Seseorang tidak akan mengatakan bahwa suatu makanan/minuman memiliki rasa enak, manis, lezat, dan lainnya, apabila makanan tersebut belum dimakan/diminum sehingga dapat dikatakan bahwa citarasa dari makanan/minuman tadi menyampaikan suatu maksud atau makna


Text Box: Gambar 2.7.1

3.    Fungsi Pesan Non-verbal
Rakhmat (1985) menjelaskan bahwa komunikasi non-verbal memiliki beberapa fungsi seperti, repetisi, substitusi, kontradiksi, komplemen, dan aksentuasi.

3.1.        Fungsi pertama : Repetisi
Perilaku nonverbal dapat mengulangi perilaku verbal. Misalnya, Anda menganggukkan kepala ketika mengatakan "Ya," atau menggelengkan kepala ketika mengatakan "Tidak," atau menunjukkan arah (dengan telunjuk) ke mana seseorang harus pergi untuk menemukan WC.

3.2.        Fungsi Kedua : Subtitusi
Perilaku nonverbal dapat menggantikan perilaku verbal, jadi tanpa berbicara Anda bisa berinteraksi dengan orang lain. Misalnya, seorang pengamen mendatangi mobil Anda kemudian tanpa mengucapkan sepatah katapun Anda menggoyangkan tangan Anda dengan telapak tangan mengarah ke depan (sebagai kata pengganti "Tidak").Isyarat nonverbal yang menggantikan kata atau frasa inilah yang disebut emblem.





3.3.        Fungsi Ketiga : Kontradiksi
Perilaku nonverbal dapat membantah atau bertentangan dengan perilaku verbal dan bisa memberikan makna lain terhadap pesan verbal . Misalnya, Anda memuji prestasi teman sambil mencibirkan bibir.

3.4.        Fungsi Kelima : Komplemen
Perilaku Nonverbal dapat meregulasi perilaku verbal. Misalnya, saat kuliah akan berakhir, Anda melihat jam tangan dua-tiga kali sehingga dosen segera menutup kuliahnya.

3.5.        Fungsi Keelima : Aksentuasi
Memperteguh, menekankan atau melengkapi perilaku verbal. Misalnya, menggunakan gerakan tangan, nada suara yang melambat ketika berpidato. Isyarat nonverball tersebut disebut affect display.


4.    Peran Komunikasi Non-verbal Dalam Komunikasi Sehari-hari
komunikasi non-verbal memiliki peran yang sangat penting. Hal ini sesuai dengan pernyataan dari Leathers (1976):

4.1.        Faktor-faktor non-verbal sangat menentukan makna dalam komunikasi interpersonal
Ketika kita mengobrol atau berkomunikasi tatap muka, kita banyak menyampaikan gagasan dan pikiran kita lewat pesan-pesan non-verbal. Pada gilirannya orang lain pun lebih banyak membaca pikiran-pikiran kita lewat petunjuk-petunjuk non-verbal. Menurut Birdwhistell tidak lebih dari 30%-35% makna sosial percakapan atau interaksi dilakukan dengan kata-kata, dan sisanya dilakukan dengan pesan non-verbal.

4.2.        Perasaan dan emosi lebih cermat disampaikan lewat pesan non-verbal ketimbang pesan verbal.
Menurut Mahrabian (1967), hanya 7% perasaan kasih sayang dapat dikomunikasikan dengan kata-kata. Selebihnya, 38% dikomunikasikan lewat suara, dan 55% dikomunikasikan melalui ungkapan wajah (senyum, kontak mata, dan sebagainya).

4.3.        Pesan non-verbal menyampaikan makna dan maksud yang relatif bebas dari penipuan, distorsi, dan kerancauan
Pesan non-verbal jarang dapat diatur oleh komunikator secara sadar. Misalnya sejak zaman prasejarah, wanita selalu mengatakan “tidak” dengan lambing verbal, tetapi pria jarang tertipu. Mereka tahu ketika “tidak” diucapkan, seluruh anggota tubuhnya menyatakan “ya”. Kecuali actor-aktor yang terlatih, kita semua lebih jujur berkomunikasi melalui pesan non-verbal. Hal yang kadang kemudian terjadi adalah double binding dimana ketika pesan non-verbal bertentangan dengan pesan verbal, orang pada akhirnya akan bersandar pada pesan non-verbal.

4.4.        Pesan non-verbal mempunyai fungsi metakomunikatif yang sangat diperlukan untuk mencapai komunikasi yang berkualitas tinggi
Fungsi metakomunikatif artinya memberikan informasi tambahan yang memperjelas maksud dan makna pesan. Di atas telah dipaparkan mengenai fungsi repetisi, substitusi, kontradiksi, komplemen, dan aksentuasi. Semua ini menambah kadar informasi dalam penyampaian pesan.

4.5.        Pesan non-verbal merupakan cara berkomunikasi yang lebih efisien dibandingkan dengan pesan verbal.
Dari segi waktu, pesan verbal sangat tidak efisien. Dalam paparan verbal selalu terdapat redundansi (lebih banyak lambang dari yang diperlukan), repetisi, ambiguity, dan abstraksi. Diperlukan lebih banyak waktu untuk mengungkapkan pikiran kita secara verbal daripada secara nonverbal.


4.6.        Pesan non-verbal merupakan sarana sugesti yang paling tepat
Ada situasi komunikasi yang menuntut kita untuk mengungkapkan gagasan atau emosi secara tidak langsung. Sugesti di sini dimaksudkan menyarankan sesuatu kepada orang lain secara implicit. Leathers (1976) menyatakan bahwa jika anda meminta pelayanan seksual dari anak di bawah umur secara verbal, anda dapat menerima hukuman pernjara. Jika anda melakuka hal yang sama secara non-verbal, anda bebas dari hukuman. Kita dapat memuji seseorang secara verbal, tetapi mengecamnya secara non-verbal. Inipun sulit dituntut secara hukum.


5.    Jenis-Jenis Pesan Non-verbal
Duncan (dalam Rakhmat : 1985) menyebutkan terdapat beberapa jenis pesan non-verbal yaitu, pesan kinesik, pesan proksemik, pesan artifaktual, pesan paralinguistik, dan pesan sentuhan dan bau-bauan

5.1.        Pesan Kinesik
Pesan kinesik merupakan pesan yang menggunakan gerakan tubuh yang berarti. Pesan ini terdiri dari 3 komponen utama, yaitu:
-               Pesan Fasial
Pesan ini menggunakan air muka untuk menyampaikan pesan tertantu. Menurut penelitian wajah dapat menyampaikan paling sedikit 10 kelompok makna: bahagia, terkejut, takut, marah, sedih, muak, mengancam, minat, takjub, dan tekad. Leathers (1976) menyimpilkan penelitian tentang wajah sebagai berikut.
·         Wajah mengomunikasikan tentang ekspresi senang atau tak senang yang menunjukan komunikator memandang objeknya baik atau buruk
·         Wajah mengomunikasi minat seseorang kepada orang lain atau lingkungan
·         Wajah mengomunikasikan intensitas keterlibatan dalam suatu situasi
·         Wajah mengomunikasikan tingkat pengendalian individu terhadap pernyataan sendiri
·         Wajah mungkin mengomunikasikan adanya atau kurangnya pengertian

-               Pesan Gestural
Menunjukan gerakan sebagai anggota badan seperti mata dan tangan untuk mengomunikasikan berbagai makna. Menurut galloway, pesan ini berfungsi untuk mengungkapkan:
·         Mendorong/membatasi
·         Menyesuaikan/mempertentangkan
·         Responsif/tak responsif
·         Perasaan positif/negatif
·         Memperhatikan/tidak memperhatikan
·         Melancarkan/tidak responsif
·         Menyetujui/menolak
Pesan gestural yang mempertentangkan terjadi bila pesan gestural memberikan arti lain dari pesan verbal atau pesan lainnya. pesan gestural tak responseif menunjukan gestur yang ttidak ada kaitannya dengan pesan yang diresponnya. Pesan gestural negatif mengungkapkan sikap dingin, merendahkan, atau menolak. Pesan gestural tak responsig mengabaikan permintaan untuk bertindak

-               Pesan Postural
Berkaitan dengan keseluruhan anggota badan. Mehrabian menyebutkan tiga makna yang dapat disampaikan postur
·         Immediacy
Ungkapan kesukaan atau ketidak sukaan terhadap individu yang lain. Postur yang condong kearah lawan bicara memnunjukan kesukaan atau penilaian positif
·         Power
Mengungkapkan status yang tinggi pada komunikator
·         Renponsivenesss
Individu mengomunikasikannya bila ia bereaksi secara emosiaonal pada lingkungan, baik positif maupun negatif.

5.2.        Pesan Proksemik
Pesan proksemik disampaikan melalui pengaturan jarak dan ruang. Umumnya dengan mengatur jarak kita mengungkapkan keakraban kita dengan orang lain. Antropolog Edwad T. Hall menyebutkan empat macam jarak yang dipergunakan oleh orang Amerika ketika berhubungan dengan orang lain. Kita ingin menegaskan orang Amerika,karena pengaturan jarak ini bergantung pada kebudayaan dan norma-norma sosial yang berlaku. Di Indonesia, tampaknya belum ada penelitian tentang perbedaan pengaturan jarak. Pesan proksemik juga diungkapkan dengan mengatur ruangan objek dan rancangan interior. Pesan proksemik dapat mengungkapkan status sosial-ekonomi, keterbukaan, dan keakraban. Berikut tabel klasifikasi jarak dari Edward T. Hall.

Proksemik atau pengaturan jarak
JARAK
CONTOH – CONTOH
Akrab
Fase dekat 0 – 6’’
Pecinta yang berpelukan; berbisik lembut (itupun jika ada yang diucapkan)
Fase jauh 6’’ – 18’’
Ibu-anak yang melihat buku bersama; sahabat dekat yang membicarakan rahasia; bisikan yang terdengar.
Personal
Fase dekat 18’’ – 30’’
Suami-istri yang merencanakan pesta; orang tua-anak ketika mengobrol; suara lembut ketika di rumah; suara penuh di luar rumah
Fase jauh 30’’ – 4’
Pembicaraan tentang hal-hal yang melibatkan kepentingan personal; obrolan sambil menghirup kopi
Sosial
Fase dekat 4’ – 7’
Diskusi bisnis yang imperrsonal; obrolan dengan teman sekerja; percakapan dalam satu perjumpaan sambil lalu
Fase jauh 7’ – 12’
Diskusi bisnis yang lebih formal; jarak yang kita atur kalau kita ingin sendirian. Misalnya membaca; ketika berbicara pada jarak ini suara lebih keras dari suara untuk fase dekat.
Publik
Fase dekat 12’ – 25’
Suara kerras dengan volume tidak penuh; orang yang berbicara di depan kelompok kecil
Fase jauh 25’ – atau lebih
pidato; komunikasi interpersonal barangkali tidak mungkin; jarak minimum antara publik dengan tokoh (misal: politisi dan bintang film)


5.3.        Pesan Artifaktual
Pesan artifaktual diungkapkan melalui penampilan – tubuh pakaian, dan kosmetik. Walaupun bentuk tubuh relatif menetap, orang sering berperilaku dalam hubungan dengan orang lain sesuai dengan persepsinya tentang tubuhnya (body image). Erat kaitannya dengan tubuh ialah upaya kita untuk membentuk citra tubuh dengan pakaian dan kosmetik. “Pakaian menyampaikan pesan. Pakaian terlihat sebelum suara terdengar. Pakaian tertentu berhubungan dengan perilaku tertentu.” (Kefgen dan Touchie – Specht, 1971:10-11). Umumnya pakaian kita pergunakan untuk menyampaikan identitas kita, untuk mengungkapkan kepada orang lain Siapa kita. Menyampaikan identitas berarti menunjukkan kepada orang lain bagaimana perilaku kita dan bagiamana orang lain sepatutnya memperlakukan kita. Selain itu, pakaian dipakai untuk menyampaikan perasaan (sperti blus hitam ketika wanita berduka cita, atau pakaian yang semarak ketika kita ceria), status dan peranan (sperti seragam pegawai kantor), dan formalitas (seperti memakai sandal untuk menunjukkan situasi informal dan memakai batik ntuk situasi formal). Kosmetik, seperti dinyatakan M.S. Wetmore Cosmetic Studio di Encino, California, dapat mengungkapkan kesehatan (dengan menggunakan base make up untuk meratakan noda kulit), sikap yang ekspresif dan komunikatif (dengan “memoles” mata), dan kehangatan (dengan mengatur warna bibir).

5.4.        Pesan Paralinguistik
Pesan paralinguistik adalah pesan nonverbal yang berhubungan dengan cara mengucapkan pesan verbal. Satu pesan verbal yang sama dapat menyampaikan arti yang berbe3da bila diucapkan dengan cara yang berbeda. Mari kita lihat kalimat di bawah ini :

Ayah Sidin mengambil rantai anjing.

Berhentilah pada Ayah dan mengucapkan dengan nada memanggil:
Ayah | Sidin mengambil rantai anjing
Sekarang berhenti pada kata Sidin :
Ayah Sidin | mengambil rantai anjing.
Atau berhenti pada rantai :
Ayah Sidin mengambil rantai | anjing.

Cara mengucapkan yang berbeda memberikan arti yang sangat berrlainan. Kalimat di atas, juga dapat diucapkan dengan intonasi yang berlainan untuk menunjukkan pertanyaan, keraguan, keyakinan, atau penolakan.

Pesan paralinguistik terdiri atas- antara lain- nada, kualitas suara, volume, kecepatan, dan ritme. Nada (pitch) menunjukkan jumlah getaran atau “gelombang” yang dihasilkan sumber bunyi. Makin banyak jumlah getaran, makin tinggi nada. Orang yang memilih stereo tentu mengenal perbedaan nada. Orang yang berbicara tanpa banyak perrubahan dana disebut monoton. Nada dapat mengungkapkan gairah, ketakutan, kesedihan, kesungguhan, atau kasih sayang. Nada dapat memperteguh dampak kata yang kita ucapkan. Beberapa penelitian menyatakan bahwa nada sering digunakan untuk mengungkapkan identitas diri dan mempengaruhi orang lain (Addington, 1968)


5.5.        Pesan Sentuhan dan Bau-bauan
Pesan sentuhan dan bau-bauan termasuk pesan nonverbal nonvisual dan nonvokal. Penelitian tentang sentuhan dan bau-bauan sebagai pesan komunikasi masi jarang sekali. Dari segi kepekaan manusia kepada sentuhan dan bau-bauan, kurangnya perhatian para peneliti padanya sangat mengherankan. Serat-serat penginderaan dari kulit (penerima sentuhan) yang masuk ke tulang belakang berjumlah lebih dari setengah juta. Dalam otak sendiri terdapat daerah perekam sentuhan yang cukup besar. Sementara itu, penciuman adalah “te most experienced of senses”. Pengelihatan tidak berfungsi ketika tidak ada cahaya. Telinga boleh mendengarkan, tetapi tidak mendengar. Indra perasa seringkali tidak bekerja. Namun indra pencium bekerja setiap saat (Bedichek, 1960:21)

6.    KELEBIHAN DAN KEKURANAGAN KOMUNIKASI NON VERBAL

6.1.        Kelebihan komunikasi nonverbal
1.        Perasaan dan emosi lebih cermat disampaikan lewat pesan noverbal ketimbang pesan verbal. 
2.        Pesan nonverbal menyampaikan makna dan maksud yang relatif bebas dari penipuan, distorsi, dan kerancuan. Sehingga pesan nonverbal memiliki kesahihan ( realiabilitas) tingkat kepercayaan yang tinggi terhadap kebenaran pesan-pesan yang disampaikan.
3.        Pesan nonverbal mempunyai fungsi metakomunikatif yang sangat diperlukan untuk mencapai komunikasi yang berkualitas tinggi. Fungsi metakomunikatif artinya memberikan informasi tambahan yang memeperjelas maksud dan makna pesan.
4.        Pesan nonverbal merupakan cara komunikasi yang lebih efisien dibandingkan dengan pesan verbal. Karena pesan non verbal tidak harus berpikir panjang dan para audiens dapat menangkap artinya dengan cepat.
5.        Pesan nonverbal merupakan sarana sugesti yang paling tepat.
6.        Memberi sifat, melengkapi, menentang atau mengembangkan pesan-pesan verbal.
7.        Faktor-faktor nonverbal sangat menentukan makna dalam komunikasi interpersonal.
8.        Pesan verbal mempunyai fungsi repetisi, substitusi, kontradiksi, komplemen, dan aksentuasi.

6.2.        Kekurangan komunikasi nonverbal
1.         Pesan nonverbal jarang dapat diatur oleh komunikator secara sadar.
2.         Komunikasi nonverbal memiliki sifat yang kurang terencana atau terstruktur sehingga sulit dipelajari.
3.         Proses belajar yang dialami seseorang untuk dapat mealkukan perilaku nonverbal sulit dijelaskan.




  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS