RSS

HATI DAN PANKREAS

A. FISIOLOGI HEPAR
Hati merupakan pusat dari metabolisme seluruh tubuh, merupakan sumber energi tubuh sebanyak 20% serta menggunakan 20 – 25% oksigen darah.
Sekitar 300 milyar sel-sel hati terutama hepatosit yang jumlahnya kurang lebih 80 % merupakan tempat utama metabolisme intermedier

Pembuluh darah pada hati adalah :
o Arteri Hepatika
Berfungsi memberikan seperlima darahnya kepada hati, darah ini mempunyai kejenuhan oksigen 95 sampai 100 %

o Vena Porta
Berfungsi mengantarkan empat perlima dari darahnya ke hati, darah ini mempunyai kejenuhan oksigen hanya 70 % sebab beberapa oksigen telah diambil oleh limpa dan usus. Darah vena porta ini membawa kepada hati zat makanan yang telah di absorpsi oleh mukosa usus halus.

o Vena Hepatika
Berfungsi mengembalikan darah dari hati ke vena kava inferior.

o Saluran Empedu
Terbentuk dari penyatuan kapiler – kapiler empedu yang mengumpulkan empedu dari sel hati.

Dapat di simpulkan bahwa terdapat empat utama yang menjelajahi seluruh hati, dua yang masuk yaitu arteri hepatica dan vena porta, dan dua yang keluar yaitu vena hepatica dan saluran empedu

a) METABOLISME
 Hati berperan serta dalam mempertahankan homeostatik gula darah
 Pembentukan, perubahan dan pemecahan KH, lemak dan protein saling berkaitan 1 sama lain. Hati mengubah pentosa dan heksosa yang diserap dari usus halus menjadi glikogen, mekanisme ini disebut glikogenesis. Glikogen (zat tepung hewani ) lalu ditimbun di dalam hati kemudian hati akan memecahkan glikogen menjadi glukosa. Proses pemecahan glikogen menjadi glukosa disebut glikogenelisis.Karena proses-proses ini, hati merupakan sumber utama glukosa dalam tubuh, selanjutnya hati mengubah glukosa melalui heksosa monophosphat shunt dan terbentuklah pentosa. Pembentukan pentosa mempunyai beberapa tujuan: Menghasilkan energi, biosintesis dari nukleotida, nucleic acid dan ATP, dan membentuk/ biosintesis senyawa 3 karbon (3C) yaitu piruvic acid (asam piruvat diperlukan dalam siklus krebs).

 Hati mengurai protein dari sel-sel tubuh dan sel darah merah yang rusak dan hasil penguraian protein menghasilkan urea dari asam amino berlebih diubah menjadi ureum lalu dikeluarkan dari darah oleh ginjal dalam bentuk urin.
 Hati mempoduksi empedu dibentuk dalam system retikulo endothelial yang dialirkan ke empedu yang berperan dalam emulsifikasi dan absopsi lemak

**Pembentukan ureum yaitu hati menerima asam amino yang diabsorpsi oleh darah. Di dalam hati terjadi deaminasi oleh sel, artinya nitrogen di pisahkan dari bagian asam amino dan amonia diubah menjadi ureum. Ureum dapat di keluarkan dari darah oleh ginjal dan diekskresikan ke dalam urine. Hati juga mensintesis gula dari asam lemak dan asam amino.Dengan proses transaminasi, hati memproduksi asam amino dari bahan-bahan non nitrogen. Hati merupakan satu-satunya organ yg membentuk plasma albumin dan ∂ - globulin dan organ utama bagi produksi urea.Urea merupakan end product metabolisme protein. ∂ - globulin selain dibentuk di dalam hati, juga dibentuk di limpa dan sumsum tulang. β – globulin hanya dibentuk di dalam hati. Albumin mengandung ± 584 asam amino dengan BM 66.000.

 Hati tidak hanya membentuk/ mensintesis lemak tapi sekaligus mengadakan katabolisis asam lemak. Asam lemak dipecah menjadi beberapa komponen :
1.Senyawa 4 karbon – KETON BODIES
2.Senyawa 2 karbon – ACTIVE ACETATE (dipecah menjadi asam lemak dan gliserol)
3.Pembentukan cholesterol
4.Pembentukan dan pemecahan fosfolipid
Hati merupakan pembentukan utama, sintesis, esterifikasi dan ekskresi kholesterol. Dimana serum Cholesterol menjadi standar pemeriksaan metabolisme lipid

Kerja atas lemak, hati menyimpan lemak untuk pemecahannya terakhir menjadi hasil akhir asam karbonat dan air. Garam empedu yang dihasilkan oleh hati adalah penting untuk pencernaan dan absorpsi lemak.

 Vitamin A disintesis dari karoten
 Sekresi empedu, beberapa dari unsur susunan empedu, misalnya garam empedu dibuat dalam hati, pigmen empedu dibentuk dalam sistem retikulo- endothelial dan dialirkan ke dalam empedu oleh hati
 Sel-sel jaringan yang dipakai dipecah untuk membentuk asam urat dan urea
 Hati merupakan organ penting bagi sintesis protein-protein yang berkaitan dengan koagulasi darah, misalnya: membentuk fibrinogen, protrombin, faktor V, VII, IX, X. Benda asing menusuk kena pembuluh darah – yang beraksi adalah faktor ekstrinsik, bila ada hubungan dengan katup jantung – yang beraksi adalah faktor intrinsik.Fibrin harus isomer biar kuat pembekuannya dan ditambah dengan faktor XIII, sedangkan Vit K dibutuhkan untuk pembentukan protrombin dan beberapa faktor koagulasi

b) PENYIMPANAN
 Hati menyimpan glikogen, lemak, vitamin A,D,E,K, dan zat besi yang disimpan sebagai feritin, yaitu suatu protein yang mengandung zat besi dan dapat dilepaskan bila zat besi diperlukan
 Mengubah zat makanan yang diabsorpsi dari usus dan disimpan di suatu tempat di dalam tubuh , guna dibuat sesuai untuk pemakaiannya di dalam jaringan.
 Karena hati merupakan suatu organ yang luas, sejumlah besar darah dapat disimpan di dalam pembuluh darah hati sebagai suatu tempat penampungan darah yang bermakna di saat volume darah berlebihan dan mampu mensuplai darah ekstra di saat kekurangan volume darah.
 Vitamin A dan D yang dapat larut dalam lemak disimpan di dalam hati, itulah sebabnya minyak hati sumber vitamin yang begitu baik.

c) DETOKSIFIKASI
• Hati melakukan inaktivasi hormon dan detoksifikasi toksin dan obat dan memfagositosis eritrosit dan zat asing yang terdisintegrasi dalam darah
• Mengubah zat buangan dan bahan racun untuk diekskresi dalam empedu dan urin (mendetoksifikasi)

** Beberapa obat tidur dan alkohol dapat dimusnahkan oleh hati tetapi dengan peracunan dosis besar obat bius dapat merusak sel hati , demikian hal nya dengan beberapa bahan kimia yang di gunakan dalam industri seperti tetraklorida mengakibatkan kerusakan, maka diadakan pengawasan ketat atas pengaruh preparat kimia dan obat bius yang dijual di pasaran, mengingat akibatnya atas hati.

• Pertahanan suhu tubuh
Hati membantu mempertahankan suhu tubuh sebab luasnya organ itu dan banyaknya kegiatan metabolik yang berlangsung, mengakibatkan darah yang mengalir melalui organ itu naik suhunya

• Fungsi hati sebagai fagositosis dan imunitas
Sel kupfer merupakan saringan penting bakteri, pigmen dan berbagai bahan melalui proses fagositosis. Selain itu sel kupfer juga ikut memproduksi ∂ - globulin sebagai imun livers mechanism

• Fungsi hemodinamik
Hati menerima ± 25% dari cardiac output, aliran darah hati yang normal ± 1500 cc/ menit atau 1000 – 1800 cc/ menit. Darah yang mengalir di dalam a.hepatica ± 25% dan di dalam v.porta 75% dari seluruh aliran darah ke hati. Aliran darah ke hepar dipengaruhi oleh faktor mekanis, pengaruh persarafan dan hormonal, aliran ini berubah cepat pada waktu exercise, terik matahari, shock. Hepar merupakan organ penting untuk mempertahankan aliran darah.

d) Membentuk dan menghancurkan sel-sel darah merah selama 6 bulan masa kehidupan fetus yang kemudian diambil alih oleh sumsum tulang belakang

 Hati membentuk sel darah merah pada masa hidup janin
 Hati sebagian berperan dalam penghancuran sel darah merah
 Menyimpan hematin yang diperlukan untuk penyempurnaan sel darah merah baru
 Membuat sebagian besar dari protein plasma
 Membersihkan bilirubin dari darah
 Protrombin dan fibrinogen disintesis dari asam amino
 Antibody dan antitoksin diproduksi


B. FISIOLOGI KANDUNG EMPEDU

Bagian-bagian dari kandung empedu :

• Fundus vesika felea : merupakan bagian kandung emepedu yang paling akhir setelah korpus vesika felea.
• Korpus vesika felea : bagian dari kandung empedu yang di dalamnya berisi getah empedu. Getah empedu adalah suatu cairan yang disekeresi setiap hari oleh sel hati yang dihasilkan setiap hari 500-1000 cc, sekresinya berjalan terus menerus, jumlah produksi meningkat sewaktu mencerna lemak.
• Leher kandung empedu : Merupakan leher dari kandung empedu yaitu saluran yang pertama masuknya getah empedu ke badan kandung emepedu lalu menjadi pekat berkumpul dalam kandung emepedu.
• Duktus sistikus : Panjangnya kurang lebih 3 ¾ cm. berjalan dari leher kandung emepedu dan bersambung dengan duktus hepatikus membentuk saluran empedu ke duodenum.
• Duktus hepatikus : saluran yang keluar dari leher.
• Duktus koledokus : saluran yang membawa empedu ke duodenum.

Empedu memiliki fungsi penting :
♠ membantu pencernaan dan penyerapan lemak
♠ sebagai tempat persediaan getah empedu
♠ getah empedu yang tersimpan di dalamnya dibuat pekat
berperan dalam pembuangan limbah tertentu dari tubuh, terutama haemoglobin (Hb) yang berasal dari penghancuran sel darah merah dan kelebihan kolesterol

Getah empedu adalah cairan alkali yang di sekretkan oleh hati. Jumlah setiap hari yang di keluarkan seseorang adalah dari 500 sampai 1000 cc, sekresinya berjalan terus – menerus, tetapi jumlah produksinya dipercepat sewaktu pencernaan, khususnya sewaktu pencernaan lemak.

Fungsi kholeretik menambah sekresi empedu
Fungsi kholagogi menyebabkan kandung empedu mengosongkan diri.
** Di luar waktu makan, empedu disimpan sementara di dalam kandung empedu dan di sini mengalami pemekatan sekitar 50 %.
Pengaliran cairan kantung empedu diatur oleh tiga faktor, yaitu sekresi empedu oleh hati, kontraksi kandung empedu dan tahanan sfingter koledokus.

Dalam keadaan puasa empedu yang diproduksi akan dialih-alirkan ke dalam kandung empedu. Di dalam waktu setengah jam setelah makanan masuk, segera sesudah sfinkter Oddi mengendor untuk mengizinkan getah empedu masuk duodenum, kandung empedu berkontraksi. Demikian maka aliran getah empedu tidak kontinyu, tetapi sesuai dengan selang pencernaan bila makanan masuk duodenum

Hormon sel APUD (Amin Precursor Uptake and Decarboxylation Cells) kolesistokinin (CCK) dari selaput lender usus halus yang disekresi karena rangsang makanan berlemak
atau produk lipolitik di dalam lumen usus, merangsang nervus vagus, sehingga terjadi kontraksi kadung empedu. Demikian CCK berperan besar terhadap terjadinya kontraksi kandung empedu setelah makan.

Pigmen Empedu
Terdiri dari biliverdin . Pigmen ini merupakan hasil penguraian hemoglobin yang dilepas dari sel darah merah terdisintegrasi. Pigmen utamanya adalah bilirubin yang memberikan warna kuning pada urine dan feses. Warna kekuningan pada jaringan merupakan akibat dari peningkatan kadar bilirubin darah dan ini merupakan indikasi kerusakan fungsi hati, peningkatan dekstrusi sel darah merah, atau obstruksi duktus empedu oleh batu empedu

Garam Empedu
Bersifat digestif , yang terbentuk dari asam empedu yang berkaitan dengan kolesterol dengan asam amino. Setelah diekskresi ke dalam usus garam tersebut direabsorpsi dari ileum bagian bawah kembali ke hati dan di daur ulang kembali, peristiwa ini disebut sebagai sirkulasi enterohepatica garam empedu.

Fungsi garam empedu dalam usus halus :
• Emulsifikasi lemak
Dikenal juga dengan fungsi detergen garam empedu. Garam empedu mengemulsi globuli lemak besar dalam usus halus yang kemudian dijadikan globuli lemak lebih kecil dan area permukaan yang lebih luas untuk kerja enzim.

• Absorbsi Lemak
Fungsi ini dikatakan lebih penting daripada emulsifikasi lemak. Garam empedu membantu absorpsi asam lemak, monogliserida, kolesterol dan lipid lain dari saluran cerna. Garam empedu juga membantu mengabsorbsi zat terlarut lemak dengan cara memfasilitasi jalurnya menembus membran sel

• Pengeluaran Kolesterol dari Tubuh
Garam empedu berikatan dengan kolesterol dari lesitin untuk membentuk agregasi kecil yang disebut micelle yang akan di buang melalui feses.

♥ Tanpa ada garam empedu dalam saluran cerna, sampai 40 % ,lipid hilang dalam feses dan orang sering mengalami kekurangan metabolic akibat kehilangan zat gizi tesebut. Oleh karena itu tanpa adanya garam empedu, vitamin A,D,E, dan K sukar diabsorpsi.
♥ Jumlah empedu yang disekresi oleh hati setiap hari sangat tergantung pada tersedianya garam empedu, makin banyak jumlah garam empedu dalam sirkulasi enterohepatik (biasanya jumlah total sekitar 4 gram ), makin besar kecepatan sekresi empedu.

SEKRESI EMPEDU DAN FUNGSI SALURAN EMPEDU

Semua sel hati secara terus-menerus membentuk sekret dalam jumlah kecil yang dinamakan empedu. Empedu disekresi masuk kanalikuli empedu, yang terletak antara sel-sel hati, kemudian mengalir menuju ke perifer menuju septa interlobaris dimana kanakuli bermuara dalam duktus biliaris terminal kemudian secara progresif masuk ke duktus yang lebih besar, akhirnya mencapai duktus hepatikus dan duktus koledokus darimana empedu dimasukan langsung dalam duodenum atau dibelokan ke dalam kandung empedu.

Empedu yang disekresi secara terus-menerus oleh sel hati dalam keadaan normal disimpan dalam kandung empedu sampai dibutuhkan dalam duodenum. Sekresi total empedu setiap hari adalah 800 – 1000 ml, dan volume maksimal empedu adalah 40-70 ml, walaupun demikian sebanyak 12 jam sekresi empedu dapat disimpan dalam kandung empedu karena air, natrium, klorida, dan sebagian besar elektrolit kecil lain secara terus-menerus diabsorpsi oleh mukosa kandung empedu, memekatkan unsur -unsur empedu lain, termasuk garam empedu, kolestrol, dan bilirubin. Empedu dalam keadaan normal dipekatkan sekitar lima kali dan maksimalnya 10 – 12 kali.

Dua keadaan dasar dibutuhkan bagi pengosongan empedu :
1. Sfingter Oddi harus melemas untuk memungkinkan empedu mengalir dari duktus koledokus ke duodenum
2. Kandung empedu sendiri harus berkontraksi untuk memberikan kekuatan yang dibutuhkan untuk menggerakan empedu sepanjang duktus koledokus.

♫ Ringkasnya, kandung empedu mengosongkan cadangan empedu pekat ke dalam duodenum terutama akibat rangsangan kolesistokinin. Bila lemak tidak ada dalam makanan, kandung empedu sukar dikosongkan tetapi bila lemak terdapat dalam jumlah cukup, kandung empedu dikosongkan dengan sempurna sekitar 1 jam.

♫ Sebagian besar zat yang disekresi dalam empedu adalah garam empedu, selain itu bilirubin, kolestrol,lesitin dalam jumlah besar, dan elektrolit yang biasanya terdapat dalam plasma. Proses pemekatan dalam kandung empedu, air dan sejumlah besar elektrolit direabsorpsi oleh mukosa kandung empedu, tetapi khusus garam empedu dan zat-zat lipid
seperti kolestrol tidak di reabsorpsi , oleh karena itu menjadi sangat pekat dalam kandung empedu.

C. FISIOLOGI PANKREAS




Pankreas dapat disebut sebagai organ rangkap, mempunyai dua fungsi
1. Fungsi Eksokrin

Dilaksanakan oleh sel sekretori lobulanya, yang membentuk getah pankreas dan yang berisi enzim dan elektrolit. Cairan pencerna itu berjalan melalui saluran exkretori halus dan akhirnya di kumpulkan oleh dua saluran, yaitu yang utama disebut Duktus Santorini, yang masuk ke dalam duodenum. Saluran utama bergabung dengan saluran empedu di Ampula Vater

Karena pankreas dilintasi oleh saraf vagus maka dalam beberapa menit setelah menerima makanan, arus getah pancreas bertambah. Kemudian setelah isi lambung masuk ke dalam duodenum maka dua hormon        ( sekretin dan pankreozimin ) dibentuk dalam mukosa duodenum dan yang kemudian merangsang arus getah pankreas.

2. Fungsi Endokrin

Pankreas merupakan suatu organ yang terdiri dari 2 jaringan dasar :
 Asini, menghasilkan enzim-enzim pencernaan
 Pulau pankreas, menghasilkan hormon
 Pankreas melepaskan enzim pencernaan ke dalam duodenum dan melepaskan hormon ke dalam darah. Enzim yang dilepaskan oleh pankreas akan mencerna protein, karbohidrat dan lemak. Enzim proteolitik memecah protein ke dalam bentuk yang dapat digunakan oleh tubuh dan dilepaskan dalam bentuk inaktif. Enzim ini hanya akan aktif jika telah mencapai saluran pencernaan. Pankreas juga melepaskan sejumlah besar sodium bikarbonat, yang berfungsi melindungi duodenum dengan cara menetralkan asam lambung.

Komposisi Cairan Pankreas
Cairan pankreas mengandung enzim-enzim untuk mencerna protein, karbohidrat, dan lemak.

1. Enzim proteolitiik pancreas (protease), yaitu:
a. Tripsinogen
Yang disekresi pancreas diaktivasi menjadi tripsin oleh enterokinase yang diproduksi melalui usus halus. Tripsin mencerna protein dan polipeptida besar untuk membentuk polipentida yang lebih kecil
b. Kimotripsin
Teraktivasi dari kimotripsinogen pleh tripsin, yang memiliki fungsi sama seperti tripsin terhadap protein.
c. Karboksipeptidase, aminopeptidase, dan dipeptidase
Adalah enzim yang melanjutkan proses pencernaan protein untuk menghasilkan asam-asam amino bebas.

2. Lipase Pankreas
Yang menghidrolisis lemak menjadi asam lemak dan gliserol setelah lemak diemulsi oleh garam-garam empedu.

3. Amilase Pankreas
Yang menghidrolisis zat tepung yang tidak tercerna oleh amylase saliva menjadi disakarida (maltosa,sukrosa,dan laktosa)

4. Ribonuklease dan Deoksiribonuklease
Yang menghidrolisis RNA dan DNA menjadi blok-blok pembentuk nukleotidanya.
TES FUNGSI HATI
Apa itu tes fungsi hati ????
Dalam pekerjaannya, hati kita membuat beberapa produk, termasuk jenis protein yang disebut sebagai enzim. Produk ini dapat keluar dari hati dan masuk ke aliran darah. Tingkat produk tersebut dapat diukur dalam darah.
Kerusakan pada hati yang disebabkan oleh penyakit dapat memungkinkan produk tersebut masuk ke aliran darah dalam tingkat yang lebih tinggi. Jadi, tes yang mengukur tingkat produk ini, yang disebut sebagai tes fungsi hati (liver function test/LFT), dapat menunjukkan tingkat kerusakan pada hati.
Bila dokter mencurigai kita mempunyai masalah atau penyakit hati, dia akan meminta kita melakukan tes fungsi hati untuk membantu diagnosis. Kemudian, tes fungsi hati dapat dilakukan untuk memantau hati kita, untuk melihat apakah kerusakan dapat menjadi lebih berat atau pun pulih.



Produk berikut biasanya diukur sebagai bagian dari tes fungsi hati:
• ALT (alanin aminotransferase), juga dikenal sebagai SGPT (serum glutamik piruvik transaminase)
• AST (aspartat aminotransferase), juga dikenal sebagai SGOT (serum glutamik oksaloasetik transaminase)
• Fosfatase alkali
• GGT (gamma-glutamil transpeptidase, atau gamma GT)
• Bilirubin dan Albumin

Lembaran Informasi (LI) menunjukkan nilai normal atau nilai rujukan untuk semua tes tersebut. Harus ditekankan bahwa nilai ini berbeda tergantung pada alat yang dipakai di laboratorium yang melakukan tes serta cara penggunaannya. Laporan laboratorium yang kita terima setelah melakukan tes menunjukkan nilai normal yang berlaku. Sebagai contoh, batas atas nilai normal (BANN) untuk AST dapat berkisar dari 35 hingga 50, dan berbeda untuk laki-laki dan perempuan.
Selain itu, hasil tes juga dapat berubah tergantung pada jam berapa darah diambil. Sebaiknya contoh darah kita diambil pada jam yang sama setiap kali kita dites fungsi hati, dan juga selalu pada laboratorium yang sama.

Hasil test :
Penyakit hati yang berbeda akan menyebabkan kerusakan yang berbeda, dan tes fungsi hati dapat menunjukkan perbedaan ini. Hasil tes fungsi hati dapat memberi gambaran mengenai penyakit apa yang mungkin menyebabkan kerusakan, tetapi tes ini tidak mampu mendiagnosis akibat penyakit hati.
Hasil tes ini juga bermanfaat untuk memantau perjalanan penyakit hati, tetapi sekali lagi, mungkin tidak memberi gambaran yang tepat. Namun biasanya hasil tes fungsi hati memberi gambaran mengenai tingkat peradangan.

ENZIM HATI
► ALT adalah lebih spesifik untuk kerusakan hati. ALT adalah enzim yang dibuat dalam sel hati (hepatosit), jadi lebih spesifik untuk penyakit hati dibandingkan dengan enzim lain. Biasanya peningkatan ALT terjadi bila ada kerusakan pada selaput sel hati. Setiap jenis peradangan hati dapat menyebabkan peningkatan pada ALT. Peradangan pada hati dapat disebabkan oleh hepatitis virus, beberapa obat, penggunaan alkohol, dan penyakit pada saluran cairan empedu.
► AST adalah enzim mitokondria yang juga ditemukan dalam jantung, ginjal dan otak. Jadi tes ini kurang spesifik untuk penyakit hati. Dalam beberapa kasus peradangan hati, peningkatan ALT dan AST akan serupa.
► Fosfatasealkali meningkat pada berbagai jenis penyakit hati, tetapi peningkatan ini juga dapat terjadi berhubungan dengan penyakit tidak terkait dengan hati. Fosfatase alkali sebetulnya adalah suatu kumpulan enzim yang serupa, yang dibuat dalam saluran cairan empedu dan selaput dalam hati, tetapi juga ditemukan dalam banyak jaringan lain. Peningkatan fosfatase alkali dapat terjadi bila saluran cairan empedu dihambat karena alasan apa pun. Di antara yang lain, peningkatan pada fosfatase alkali dapat terjadi terkait dengan sirosis dan kanker hati.
► GGT sering meningkat pada orang yang memakai alkohol atau zat lain yang beracun pada hati secara berlebihan. Enzim ini dibuat dalam banyak jaringan selain hati. Serupa dengan fosfatase alkali, GGT dapat meningkat dalam darah pasien dengan penyakit saluran cairan empedu. Namun tes GGT sangat peka, dan tingkat GGT dapat tinggi berhubungan dengan hampir semua penyakit hati, bahkan juga pada orang yang sehat. GGT juga dibuat sebagai reaksi pada beberapa obat dan zat, termasuk alkohol, jadi peningkatan GGT kadang kala (tetapi tidak selalu) dapat menunjukkan penggunaan alkohol. Penggunaan pemanis sintetis sebagai pengganti gula, seumpamanya dalam diet soda, dapat meningkatkan GGT.

PRODUK HATI LAIN
► Bilirubin adalah produk utama dari penguraian sel darah merah yang tua. Bilirubin disaring dari darah oleh hati, dan dikeluarkan pada cairan empedu. Sebagaimana hati menjadi semakin rusak, bilirubin total akan meningkat. Sebagian dari bilirubin total termetabolisme, dan bagian ini disebut sebagai bilirubin langsung. Bila bagian ini meningkat, penyebab biasanya di luar hati. Bila bilirubin langsung adalah rendah sementara bilirubin total tinggi, hal ini menunjukkan kerusakan pada hati atau pada saluran cairan empedu dalam hati.
Bilirubin mengandung bahan pewarna, yang memberi warna pada kotoran. Bila tingkatnya sangat tinggi, kulit dan mata dapat menjadi kuning, yang mengakibatkan gejala ikterus.
► Albumin adalah protein yang mengalir dalam darah. Karena dibuat oleh hati dan dikeluarkan pada darah, albumin adalah tanda yang peka dan petunjuk yang baik terhadap beratnya penyakit hati.
Tingkat albumin dalam darah menunjukkan bahwa hati tidak membuat albumin dan tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Tingkat ini biasanya normal pada penyakit hati yang kronis, sementara meningkat bila ada sirosis atau kerusakan berat pada hati. Ada banyak protein lain yang dibuat oleh hati, namun albumin mudah diukur.

TEST LANJUTAN
Bila ada kelainan pada tes fungsi hati, dokter mungkin akan minta tes tambahan, misalnya ultrasound atau biopsi hati. Bila belum dilakukan tes untuk hepatitis virus, kemungkinan kita akan diminta melakukan tes tersebut.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

ENDOKRIN II

SISTEM ENDOKRIN II

Sistem endokrin adalah sistem kontrol kelenjar tanpa saluran (ductless) yang menghasilkan hormon yang tersirkulasi di tubuh melalui aliran darah untuk mempengaruhi organ-organ lain. Hormon bertindak sebagai "pembawa pesan" dan dibawa oleh aliran darah ke berbagai sel dalam tubuh, yang selanjutnya akan menerjemahkan "pesan" tersebut menjadi suatu tindakan. Sistem endokrin tidak memasukkan kelenjar eksokrin seperti kelenjar ludah, kelenjar keringat, dan kelenjar-kelenjar lain dalam saluran gastroinstestin (Jimmy Wales, 2008). 

Organ utama dari sistem endokrin adalah:
-Hipotalamus
-Kelenjar hipofisa
-Kelenjar tiroid
-Kelenjar paratiroid
-Pulau-pulau pankreas
-Kelenjar adrenal
-Buah zakar
-Indung telur.
Selama kehamilan, plasenta juga bertindak sebagai suatu kelenjar endokrin.

Pada sistem endokrin II akan dibahas mengenai kelenjar pankreas, kelenjar adrenal, dan kelenjar gonad sebagai sistem endokrin. Adapun kelenjar pankreas menghasilkan hormon antara lain : insulin, glukagon, somatostatin, dan polipeptida pankreas. Pada kelenjar adrenal, medula menghasilkan hormon epinefrin dan norepinefrin, sedangkan korteks menghasilkan hidrokortison, aldosteron, dan kortikosteron. Pada kelenjar gonad, testis menghasilkan hormon testosteron dan pada ovarium menghasilkan hormon estrogen dan progesteron.

KELENJAR PANKREAS

Pankreas adalah organ pada sistem pencernaan yang memiliki fungsi utama yakni untuk menghasilkan enzim pencernaan serta beberapa hormon penting seperti insulin dan glukagon. Pankreas juga mengsekresikan hormon somatostatin, dan polipeptida pankreas.

Kelenjar pankreas terletak pada bagian belakang lambung dan berhubungan erat dengan duodenum (usus dua belas jari). Di dalamnya terdapat kumpulan sel yang berbentuk seperti pulau pada peta, karena itu disebut pulau-pulau Langerhans. Dinamakan Langerhans atas penemunya, Paul Langerhans pada tahun 1869. Setiap pulau berisikan sel beta yang berfungsi mengeluarkan hormon insulin. Dimana hormon insulin memegang peran penting dalam mengatur kadar glukosa darah.

Tiap pankreas mengandung lebih kurang 100.000 pulau Langerhans dan tiap pulau berisi 100 sel beta. Disamping sel beta ada juga sel alfa yang memproduksi glukagon yang bekerja sebaliknya dari insulin yaitu meningkatkan kadar glukosa darah. Juga ada sel delta yang mengeluarkan somatostatin dan sel PP yang mengsekresi hormon polipeptida pankreas.

A. INSULIN
Sintesis Insulin
1. Insulin disintesis oleh sel-sel beta, terutama ditranslasikan ribosom yang melekat pada retikulum endoplasma (mirip sintesis protein) dan menghasilkan praprohormon insulin dengan berat molekul sekitar 11.500. 

2. Kemudian praprohormon diarahkan oleh rangkaian “pemandu” yang bersifat hidrofibik dan mengandung 23 asam amino ke dalam sisterna retikulum endoplasma.

3. Di retikulum endoplasma, praprohormon ini dirubah menjadi proinsulin dengan berat molekul kira-kira 9000 dan dikeluarkan dari retikulum endoplasma.

4. Molekul proinsulin diangkut ke aparatus golgi, di sini proteolisis serta pengemasan ke dalam granul sekretorik dimulai. 

5. Di aparatus golgi, proinsulin yang semua tersusun oleh rantai B—peptida (C) penghubung—rantai A, akan dipisahkan oleh enzim mirip tripsin dan enzim mirip karboksipeptidase.

6. Pemisahan itu akan menghasilkan insulin heterodimer (AB) dan C peptida. Peptida-C dengan jumlah ekuimolar tetap terdapat dalam granul, tetapi tidak mempunyai aktivitas biologik yang diketahui.

Bisa dapat disimpulkan bahwa : Sintesis insulin dimulai dalam bentuk preproinsulin (precursor hormon insulin) pada retikulum endoplasma sel beta. Dengan bantuan enzim peptidase, preproinsulin mengalami pemecahan sehingga terbentuk proinsulin, yang kemudian dihimpun dalam gelembung-gelembung (secretory vesicles) dalam sel tersebut. Di sini, sekali lagi dengan bantuan enzim peptidase, proinsulin diurai menjadi insulin dan peptida-C (C-peptide) yang keduanya sudah siap untuk disekresikan secara bersamaan melalui membran sel.


Sekresi Insulin
Sekresi insulin merupakan proses yang memerlukan energi dengan melibatkan sistem mikrotubulus-mikrofilamen dalam sel B pada pulau Lengerhans. Sejumlah intermediet turut membantu pelepasan insulin.

• Glukosa: apabila kadar glukosa darah melewati ambang batas normal—yaitu 80-100 mg/dL–maka insulin akan dikeluarkan dan akan mencapai kerja maksimal pada kadar glukosa 300-500 mg/dL.
• Faktor Hormonal: ada beberapa hormon yang meningkatkan insulin dalam darah, yaitu epinefrin (meningkatkan cAMP intrasel), kortisol, laktogen plesenta, esterogen dan progestatin.
• Prefarat Farmakologi: banyak obat merangsang sekresi insulin, tetapi preparat yang digunakan paling sering untuk terapi diabetes pada manusia adalah senyawa sulfaonilurea.

Kerja dan Metabolisme Insulin
Insulin merupakan hormon yang berfungsi sebagai second messenger yang merangsang dengan potensial listrik. Beberapa peristiwa yang terjadi setelah insulin berikatan dengan reseptor membran:
• Terjadi perubahan bentuk reseptor.
• Reseptor akan berikatan silang dan membentuk mikroagregat.
• Reseptor diinternalisasi.
• Dihasilkan satu atau lebih sinyal. Setelah peristiwa tersebut, glukosa akan masuk ke dalam sel dan membentuk glikogen.

Insulin yang telah terpakai maupun yang tidak terpakai, akan dimetabolisme. Ada dua mekanisme untuk metabolisme insulin:
1. Melibatkan enzim protese spesifik-insulin yang terdapat pada banyak jaringan, tetapi banyak terdapat pada hati, ginjal, dan plasenta.
2. Melibatkan enzim hepatik glutation-insulin transhidrogenase, yang mereduksi ikatan disulfida, dan kemudian rantai A dan B masing-masing diuraikan dengan cepat.
Fungsi Insulin: stimulasi glikogenesis, lipogenesis, dan sintesis protein.

EFEK INSULIN PADA METABOLISME KARBOHIDRAT
Setelah memakan makanan yang mengandung karbohidrat tinggi, glukosa akan masuk ke dalam darah dan menyebabkan pengeluaran insulin secara cepat. Insulin menyebabkan pengambilan, penyimpanan, dan penggunaan glukosa pada hampir semua jaringan khususnya pada otot, jaringan adiposa, dan liver.

EFEK INSULIN PADA METABOLISME LIPID
Merangsang lipogenesis, menghambat lipolisis di hati dan jaringan adiposa, dengan cara menghambat aktifitas enzim lipase. Karena itu insulin menurunkan kadar asam lemak bebas yang beredar dalam darah. Selain itu insulin juga mempengaruhi kadar kolestrol.

EFEK INSULIN PADA METABOLISME PROTEIN
Insulin merangsang sintesis protein dan memperlambat penguraian protein. Insulin juga menstimulasi asam amino yang diambil dari otot. 

B. GLUKAGON



Glukagon adalah antagonis dari insulin, yang tersusun atas 29 asam amino. Pada prinsipnya menaikkan kadar gula di dalam darah. Enzim ini diproduksi di sel A dari pankreas. Glukagon melewati dalam proses sintesisnya yang disebut sebagai limited proteolyse, yang artinya molekul glukagon berasal dari prohormon. Gen untuk glukagon selain di pankreas juga terdapat di otak dan sel enteroendokrin L di sistem pencernaan (Ileum dan Kolon).
Glukagon merupakan hasil dari sel-sel alfa, yang mempunyai prinsip aktivitas fisiologis meningkatkan kadar glukosa darah. Glukagon melakukan hal ini dengan mempercepat konversi dari glikogen dalam hati dari nutrisi-nutrisi lain, seperti asam amino, gliserol, dan asam laktat, menjadi glukosa (glukoneogenesis). Kemudian hati mengeluarkan glukosa ke dalam darah, dan kadar gula darah meningkat. Sekresi dari glukagon secara langsung dikontrol oleh kadar gula darah melalui sistem feed-back negative. Ketika kadar gula darah menurun sampai di bawah normal, sensor-sensor kimia dalam sel-sel alfa dari pulau Langerhans merangsang sel-sel untuk mensekresikan glukagon. Ketika gula darah meningkat, tidak lama lagi sel-sel akan dirangsang dan produksinya diperlambat. Jika untuk beberapa alasan perlengkapan regulasi diri gagal dan sel-sel alfa mensekresikan glukagon secara berkelanjutan, hiperglikemia (kadar gula darah yang tinggi) bisa terjadi. Olahraga dan konsumsi makanan yang mengandung protein bisa meningkatkan kadar asam amino darah juga menyebabkan peningkatan sekresi glukagon. Sekresi glukagon dihambat oleh GHIH (somatostatin). Glukagon kehilangan aktivitas biologiknya apabila diperfusi melewati hati atau apabila diinkubasi dengan ekstrak hati, ginjal atau otot. Glukagon juga diinaktifkan oleh inkubasi dengan darah. Indikasinya ialah bahwa glukagon dihancurkan oleh sistem enzim yang sama dengan sistem yang menghancurkan insulin dan protein-protein lain.

Regulasi
• Stimulus untuk sekresi dari glukagon adalah hipoglikemia atau jika konsentrasi asam amino turun di dalam darah setelah konsumsi makanan yang kaya protein. Walaupun begitu konsumsi makanan yang kaya mengandung protein tidak hanya menstimulasi pengeluaran hormon glukagon tetapi juga hormon insulin. Transmitter Hormon sistem saraf autonom seperti asetilkolin dan adrenalin lewat ß2 reseptor juga menstimulasi pengeluaran hormon glukagon. Selain itu juga sederetan hormon berikut yang diciptakan di sistem pencernaan gastrin, CCK, GIP, dan GH.
• Inhibitor atau yang menghambat sekresi glukagon adalah hiperglikemia atau jika konsentrasi gula darah naik. Selanjutnya juga hormon insulin yang antagonisnya, somatostatin, GLP-1, GABA, sekretin, dan waktu makan yang kaya kandungan karbohidrat.
Fungsi Glukagon: melawan kerja insulin (stimulasi glikogenolisis dan lipolisis), stimulasi glukoneogenik.

C. SOMATOSTATIN
Somatostatin dijumpai di sel D pulau langerhans pankreas. Somatostatin menghambat sekresi insulin, glukagon, dan polipeptida pankreas dan mungkin bekerja lokal di dalam pulau-pulau pankreas. Penderita tumor pankreas somatostatin mengalami hiperglikemia dan gejala-gejala diabetes lain yang menghilang setelah tumor diangkat. Para pasien tersebut juga mengalami dispepsia akibat lambatnya pengosongan lambung dan penurunan sekresi asam lambung, dan batu empedu, yang tercetus oleh penurunan kontraksi kandung empedu. Sekresi somatostatin pankreas meningkat oleh beberapa rangsangan yang juga merangsang sekresi insulin, yakni glukosa dan asam amino, terutama arginin dan leusin. Sekresi juga ditingkatkan oleh CCK. Somatostatin dikeluarkan dari pankreas dan saluran cerna ke dalam darah perifer.

D. POLIPEPTIDA PANKREAS
Polipeptida pankreas manusia merupakan suatu polipeptida linear yang dibentuk oleh sel F pulau langerhans. Hormon ini berkaitan erat dengan polipeptida YY (PYY), yang ditemukan di usus dan mungkin hormon saluran cerna; dan neuropeptida Y, yang ditemukan di otak dan sistem saraf otonom. 

Sekresi polipeptida ini meningkat oleh makanan yang mengandung protein, puasa, olahraga, dan hipoglikemia akut. Sekresinya menurun oleh somatostatin dan glukosa intravena. Pemberian infus leusin, arginin, dan alanin tidak mempengaruhinya, sehingga efek stimulasi makanan berprotein mungkin diperantarai secara tidak langsung. Pada manusia, polipeptida pankreas memperlambat penyerapan makanan, dan hormon ini mungkin memperkecil fluktuasi dalam penyerapan. Namun, fungsi faal sebenarnya masih belum diketahui.

KELENJAR SUPRARENALIS/ADRENAL
Kelenjar suprarenal/adrenal terbagi menjadi dua bagian:
1. Medula: Menghasilkan dan mensekresi adrenalin (epinefrin) dan noradrenalin (norepinefrin). Secara embriologik berasal dari jenis neurocektodermis sama (sisa-sisa sel krista saraf) yang menjadi asal neuron simpati
2. Korteks: Beberapa hormon terpenting yang disekresikan oleh kortex adrenal adalah hidrokortison, aldosteron, dan kortikosteron, yang semuanya bertalian erat dengan metabolisme pertumbuhan, fungsi ginjal, dan tonus otot. Semua fungsi ini menentukan jalan hidup. Korteks terbagi menjadi tiga lapisan, dari luar ke dalam, yaitu zona glomerurulosa, zona fasikulata, dan zona retikulari.

Zat-zat tadi disekrsikan dibawah pengendalian sistem persyarafan simpatis. Sekresinya bertambah dalam keadaan emosi seperti marah dan takut, dan dalam keadaan asfixia dan kelaparan. Pengeluaran yang bertambah itu menaikkan tekanan darah guna melawan shock yang disebabkan kegentingan ini.

Noradrenalin menaikkan tekanan darah dengan jalan merangsang serabut otot di dalam dinding pembuluh darah untuk berkontraksi. Adrenalin membantu metabolisme karbohidrat dengan jalan menambah pengeluaran glukosa dari hati. 

Fungsi kelenjar suprarenalis (medula):
 Vasokonstriksi pembuluh darah perifer.
 Relaksasi bronkus.
 Kontraksi selaput lendir dan arteriole pada kulit sehingga berguna untuk mengurangi perdarahan pada operasi kecil.

Fungsi kelenjar sprarenalis ( korteks):
 Mengatur keseimbangan air, elektrolit dan garam-garam.
 Mengatur atau mempengaruhi metabolisme lemak, hidrat arang dan protein.
 Mempengaruhi aktifitas jaringan limfoid.

HORMON KELENJAR ADRENAL

1. Hormon medular disekresi oleh sel-sel kromafin medulla adrenal untuk merespon stimulus preganglionik simpatis. Hormon ini meliputi kotekolamin, seperti: epinefrin (80%), norepinefrin (20%).

Epinefrin dan norepinefrin memiliki perbedaan efek fisiologis yang berkaitan dengan kedua jenis reseptornya, alfa (α) dan beta (β), yang terletak pada membran sel target.

Katekolamin mengatur lintasan metabolic untuk meningkatkan katabolisme bahan bakar yang tersimpan sehingga kebutuhan kalori dari sumber-sumber endogen terpenuhi. Secara keseluruhan fungsi hormon ini adalah untuk mempersiapkan tubuh terhadap aktivitas fisik yang merespon stess, kegembiraan, cedera, latihan dan pernurunan kadar gula darah.

1) Efek epinefrin
a) Frekuensi jantung, metabolisme, dan konsumsi oksigen meningkat.
b) Katekolamin juga menyebabkan pelepasan asam-asam lemak bebas, meningkatkan kecepatan metabolic basal (BMR) dan menaikkan kadar glukosa darah melalui stimulasi glikogenolisis pada hati dan simpanan glikogen otot.
c) Pembuluh darah pada kulit dan organ-organ viseral berkonstriksi sementara pembuluh di otot rangka dan otot jantung berdilatasi.
d) Dalam pankreas menghalangi pelepasan insulin menghindari pelepasan glukosa.
e) Mobilisasi glukosa dengan menambah glikogenesis.

2) Efek norepinefrin adalah untuk meningkatkan tekanan darah dan untukmenstimulasi otot jantung.

Pengaturan sekresi kotekolamin
Perangsangan sistem saraf simpatis melepaskan noradrenalin dan adrenalin dari kelenjar adrenal. Pada keadaan tertentu dapat merangsang pelepasan kotekolamin dari medula adrenal (keadaan darurat) dengan gejala:
o Marah, dingin, dan rasa takut.
o Keadaan glukosa plasma rendah (hipoglikemia).
o Tekan darah rendah (hipotensi).
o Anoksia otak (kekurangan oksigen di otak).
o Asfiksia.
o Meningkatkan kadar angiotensin.

Efek katekolamin berupa penggiatan reseptor beta, meningkatkan siklik AMP yang menimbulkan pengaruh inhibisi (menhambat proses pada sel yang bersangkutan) kecuali otot jantung, dan meningkatkan senyawa atom:
 Meningkatkan denyut jantung dan tekanan darah.
 Meningkatkan glikogenesis (gula darah).
 Meningkatkan metabolisme oksidatif glukosa di dalam sel.
 Meningkatkan pembentukan energy dan panas.

2. Hormon kortikal adrenal

A. Mineralokortikoid disentesis dalam zona glomerulosa.
Meningkatkan retensi ekskresi ion K di ginjal (tubulus distal dan tubulus koligentes), meningkatkan retensi Na di kelenjar keringat dan saluran pencernaan. Pada ginjal aldosteron meningkat.
1) Aldosteron, mineralokortikoid terpenting, mengatur keseimbangan air dan elektrolit melalui pengendalian kadar natrium dan kalium dalam darah.
2) Kendali sekresi. Sekresi aldosteron diatur oleh kadar natrium darah, tetapi terutama oleh mekanisme renin-angiotensin.

Dikenal empat factor yang memainkan peranan dalam pengaturan aldosterone, yaitu :
1. Peningkatan konsentrasi kalium meningkatkan sekresi aldosteron.
2. Peningkatan aktivitas rennin-angiotensin meningkatkan sekresi aldosteron juga.
3. Peningkatan konsentrasi natrium di dalam cairan ekstraselular sangat sedikit menurunkan sekresi aldosteron.
4. Hormon adrenokortikotropon (ACTH) dari kelenjar hipofisis anterior diperlukan untuk sekresi aldosterone tetapi mempunyai efek yang kecil dalam mengatur kecepetan sekresi.

Dari factor-faktor di atas, yang paling memegang peranan yaitu konsentrasi kalium dan aktivasi dari rennin-angiotensin. Peningkatan konsentrasi kalium yang rendah dapat menyebabkan beberapa kali peningkatan aldosterone beberapa kali. Dan juga aktivasi dari system rennin-angiotensin, biasanya sebagai efek dari berkurangnya aliran darah ke ginjal, dapat menyebabkan peningkatan sekresi aldosterone yang besar. 

Selanjutnya, aldosterone akan bekerja di ginjal dengan :
a. Membantu ginjal mengeluarkan kelebihan ion kalium
b. Meningkatkan volume darah dan tekanan arteri, jadi mengembalikan system Renin-angiotensin dalam keadaan normal

Pengaturan mineralokortikoid:
• Rennin-angiotensin, merangsang sel-sel zona glomerulus korteks adrenal untuk melepaskan aldosteron, meningkatkan retensi Na, Cl dan air.
• Kadar ion Na, K, dan plasma. Apabila ion Na plasma turun dan ion K plasma naik, maka sekresi aldosteron meningkatkan.
• ACTH dalam dosis yang kecil. Perannya sangat kecil hanya dalam konsentrasi yang tinggi merangsang pelepasan aldosteron.

Efek mineralkortikoid:
• Efek ginjal dan sirkulasi dari aldosteron
 Aldosteron menyebabkan pengangkutan pertukaran natrium dan kalium yakni absorbsi natrium bersama – sama dengan ekskresi kalium oleh sel – sel epitel tubulus terutama dalam tubulus distal dan duktus koligentes
 Meningkatkan jumlah total natrium dalam cairan ekstraseluler sementara menurunkan jumlah kalium.
 Karena natrium dalam ciran ekstraselular banyak maka berpengaruh juga terhadap kandungan air dalam cairan ekatraselular dan menyebabkan peningkatan tekanan darah.
 Aldosteron sebaliknya menyebabkan sekresi ion hidrogen yang ditukr dengan natrium di tubulus sehingga mengakibatkan alkalosis ringan. 

• Efek aldosteron pada kelenjar keringat, kelenjar liur, dan absorpsi intestinal
 Efek aldosteron terhadap kelenjar keringat penting untuk menyimpan garam tubuh dalam lingkungan yang panas.
 Efek aldosteron terhadap kelenjar liur adalah menyimpan garam sewaktu liur hilang secara berlebihan.
 Aldosteron meningkatkan absorsi natrium oleh usus terutama di dalam kolon yang mencegah hilangnya natrium di dalam tinja.

• Efek pada hormon kelamin
 Androgen, terutama ketosteroid dehidroepialdosteron: maskulinisasi meningkatkan anabolisme protein dan merangsang pertumbuhan.
 Estrogen pada keadaan fisiologis tidak mempunyai efek feminisasi.

B. Glukokortikoid disintesis dalam zona fasikulata.
Hormon ini meliputi kortikosteron, kortisol, dan kortison. Hormon yang terpenting adalah kortisol.
1) Efek fisiologis
a) Glukortiroid mempengaruhi metabolisme gluksosa, protein
dan lemak untuk membentuk cadangan molekul yang siap dimetabolis.
b) Hormon ini meningkatkan sintesis glukosa, simpanan glikogen di hati (glikogenesis), dan
peningkatan kadar glukosa darah, pengurain lemak dan protein serta menghambat pengambilan asam amino dan sintesis protein.
c) Hormon ini juga Menstabilisi membran lisosom untuk mencegah kerusakan jaringan lebih lanjut.

2) Fungsi
a) Meningkatkan kegiatan metabolisme berbagai zat dalam tubuh.
 Meningkatkan glikogenesis dan glukogenesis dalam sel hati.
 Menningkatkan metabolisme protein terutama di otot dan tulang.
 Meningkatkan sintesis DNA dan RNA dalam sel hati.
 Menahan ion Na dan ion Cl, meningkatkan sekresi ion K di ginjal.
 Meningkatkan lipolisis dan jaringan perifer, deposit lemak.
b) Menurunkan ambang rangsang susunan saraf pusat.
c) Menggiatkan sekresi asam lambung.
d) Menguatkan efek noradrenalin terhadap pembuluh dan merendahkan permeabilitas dinding pembuluh darah.
e) Menurunkan daya tahan terhadap infeksi dan menghambat pembentukan antibodi.
f) Menghambat pelepasan histamine dalam reaksi alergi

3) Kendali sekresi glukokortikoid adalah melalui kerja ACTH dalam mekanisme umpan balik negatif. Stimulus pertama dari ACTH adalah semua jenis stres fisik atau emosional.
 Stres (misalnya, trauma, infeksi, atau kerusakan jaringan) akan memicu impuls saraf ke hipotalamus).
 Hipotalamus kemudian mensekresi hormon pelepas kortikotropin (cortcotropin-releasing hormon {CRH}), yang melewati sistem portal hipotalamus-hipofisis menuju kelenjar pituitari anterior, yang melepas ACTH.
 ACTH bersikulasi dalam darah menuju kelenjar adrenal dan mengeluarkan sekresi glukokortikoid.
 Glukokortikoid mengakibatkan peningkatkan persediaan asam amino, lemak, dan glukosa dalam darah untuk membantu memperbaiki kerusakan yang disebabkan stres dan menstabilkan membran lisosom untuk mencegah kerusakan lebih lanjut.

C. Gonadokortikoid (steroid kelamin) disintesis pada zona retikularis dalam jumlah yang relatif sedikit. Steroid ini berfungsi terutama sebagai prekursor untuk pengubahan testosteron dan estrogen oleh jaringan lain.

Efek androgen:
Merupakan hormon kelamin yang berpengaruh besar pada hormon kelamin pria, mengatur libido dan perkembangan alat kelamin.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

ENDOKRIN 1

KELENJAR ENDOKRIN

         Fungsi tubuh diatur oleh dua system pengatur utama yaitu system saraf dan system endokrin . Kelenjar endokrin adalah kelenjar yang mengirimkan hasil sekresinya langsung ke dalam darah yang beredar dalam jaringan . Kelenjar endokrin ini disebut juga kelenjar buntu karena hormon yang dihasilkan tidak dialirkan melalui suatu saluran tetapi langsung masuk kedalam pembuluh darah. Hormon dari kelenjar endokrin mengikuti peredaran darah ke seluruh tubuh hingga mencapai organ – organ tertentu. Hormon umum disekresi oleh kelenjar endokrin spesifik dan ditranspor dalam darah untuk menyebabkan kerja fisiologia pada tempat-tempat yang jauh dalam tubuh. Hormon umum tersebut contohnya adalah hormone pertumbuhan dari adenohipofisis dan hormone tiroid dari kelenjar tiroid.

Fungsi kelenjar endokrin secara umum yaitu :
* Menghasilkan hormone yang dialirkan ke dalam darah yang diperlukan oleh jaringan dalam tubuh tertentu
* Mengontrol aktivitas kelenjar tubuh
* Merangsang aktivitas kelenjar tubuh
* Merangsang pertumbuhan jaringan
* Mengatur metabolisme, oksidasi , meningkatkan absorpsi glukosa pada usus halus
* Mempengaruhi metabolisme lemak, protein , hidratarang, vitamin, mineral dan air.

Dilihat dari aktivitasnya, kelenjar endokrin dapat dibedakan menjadi :
1. kelenjar yang bekerja sepanjang hayat, misalnya hormon yang memegang peranan pada proses metabolisme
2. kelenjar yang bekerjanya mulai saat tertentu, misalnya hormon kelamin
3. kelenjar yang bekerja hanya sampai saat tertentu saja, misalnya kelenjar timus

Dilihat dari aspek dan macam lokasinya, kelenjar endokrin dapat dibedakan menjadi :

 




FISIOLOGI KELENJAR HIPOFISIS

Kelenjar hipofisis merupakan kelenjar yang paling banyak menghasilkan hormone. Kelenjar hipofisis disebut master gland ( kelenjar induk / kelenjar ibu), karena kelenjar Hipofisis ini terletak pada lekukan tulang selatursika di bagian tulang baji dan menghasilkan bermacam-macam hormon yang mengatur kegiatan kelenjar lainnya. Kelenjar hipofisis ini merupakan pembantu hipotalamus, hipofisis menyampaikan informasi tentang keadaan tubuh ke hipotalamus. Kemudian hipofisis juga menyampaikan keputusan yang telah diambil hipotalamus kepada seluruh tubuh. Misalnya, ketika terjadi penurunan tekanan darah, informasi dikirimkan, dan mengabari hipotalamus tentang perubahan tekanan ini, lalu hipotalamus memutuskan tindakan-tindakan yang harus dilakukan untuk menaikkannya

Kelenjar hipofisis menghasilkan beberapa jenis hormone yang mengendalikan organ-organ lain. Fungsi kelenjar hipofisis diatur oleh susunan saraf melalui hipotalamus. Pengaturan dilakukan oleh sejumlah hormon yang dihasilkan oleh hipotalamus akibat rangsangan susunan saraf pusat. Hormon yang mengatur fungsi hiposisis dihasilkan oleh sel-sel neuro sekretoris yang terdapat didalam hipotalamus, sedangkan pengaturan hipofisis oleh susunan saraf pusat dilakukan melalui mekanisme humoral melalui pembuluh darah.

Bagian-bagian kelenjar hipofisis :

1. Kelenjar Hipofisis anterior ( adeno hipofisis)
Kelenjar hipofisis anterior mengandung banyak jenis sel sekretorik.
Hormon yang dikeluarkan oleh hipofisis anterior berperan utama dalam pengaturan fungsi metabolisme di seluruh tubuh. Hormon-hormon yang dihasilkan diantaranya yaitu:

a) Hormon Pertumbuhan(hormon somatotropin)
Fungsi Hormon Pertumbuhan yaitu :
* menyebabkan pertumbuhan seluruh jaringan tubuh , dan menambah ukuran sel
* Meningkatkan proses mitosis yang diikuti dengan bertambahnya jumlah sel
* Meningkatkan kecepatan sintesis protein diseluruh tubuh
* Meningkatkan metabolisme asam lemak dari jaringan adiposa
* Menurunkan kecepatan pemakaian glukosa didalam tubuh.

Dalam waktu beberapa menit kecepatan sekresi hormon pertumbuhan akan meningkat dan menurun terutama yang berkaitan dengan stress dan keadaan nutrisi , (misalnya , kelaparan dan hipoglikemi, ketegangan, dan trauma ). Kadar hormon akan meningkat jika seseorang dalam keadaan berolahraga . Pengaturan sekresi hormon pertumbuhan dilakukan dengan keseimbangan dan lebih banyak disekresi oleh hipotalamus.

b) Hormon Kortikotropika atau Cotikotropik Releasing Factror (CRF)
Hormon ini merupakan polipeptida dengan berat molekul 1000-1500, yang didapatkan pada serebrum, serebelum dan talamus. Pada keadaan stres , konsentrasi CRF dalam hipotalamus menurun dan pemberian kortison menyebabkan CRF terhadap reaksi adeno cortiko tropicx hormone (ACTH) oleh hipofisis terlambat dan mengatur sekresi beberapa hormon adrenokortikal, yang selanjutnya akan mempengaruhi metabolisme glukosa, protein dan lemak.

c) Hormon Tirotropin atau Thirotropin Releasing Factror (TRF)
Berfungsi untuk merangsang sekresi TRH dan merupakan mekanisme untuk dapat menghasilkan hormon dengan melakukan sintesis protein. Hormon somatotropin juga dapat menghambat kerja TRF. Akibat hambatan ini, Triroid Stimulating Hormone ( TSH ) tidak dapat disekresikan. Efek TRF terhadap perilaku ini diperkirakan akan mempengaruhi sel-sel saraf terhadap sintesis serta penguraian zat yang dihasilkan oleh saraf itu.

d) Hormon Gonadotropin atau Gonadotropin Releasing Factor (GnRF)
Hormon ini mempunyai daya kerja yaitu merangsang sekresi Folikel Stimuling Hormon (FSH) dan Luteinizing Hormone ( LH ) agar mampu menghasilkan hormon gonad ( estrogen dan progesteron) . Pada seorang wanita, pemberian progesteron dalam jangka pendek mempunyai efek menurunkan respons hormon gonadotropin terhadap rangsangan GnRF dan bila diberikan dalam jangka panjang akan meningkatkan rangsangan GnRF . Bila estrogen diberikan pada laki-laki akan terlihat gejala-gejala respons gonadotropin terhadap GnRF menurun, sebaliknya jika testoteron yang diberikan akan menghambat respons gonadotropin terhadap GnRF .

* Lutein Hormone : sel-selnya berbentuk angular dan terdapat diseluroh hipofisis , mengandung sekretori granules dan hormon stimulating untuk merangsang perkembangan folikel de Graf dalam ovarium dan membentuk spermatozoa pada testis untuk merangsang gametosis laki-laki.

* Folikel Stimulating Hormon : mengendalikan sekresi estrogen dan progesteron dalam ovarium , mempengaruhi luteinisial pada wanita dan pada laki-laki disebut sebagai Interstisial Cel Stimulating Hormon ( ICSH) yang mempengaruhi produksi testoteron dalam testis.
* Prolaktin hormon : mempertahankan laktasi dengan mempengaruhi langsung pada kelenjar-kelenjar susu.
* Melanosit stimulating hormon : mempengaruhi melanosit dalam kulit.

2. Kelenjar Hipofisis Posterior (neurohipofisis)
Sel – sel pada kelenjar ini disebut dengan pituisit yang bekerja sebagai struktur penunjang bagi ujung-ujung saraf. Hormon ini disintesis dalam badan sel, selanjutnya bergabung dengan protein pembawa untuk mencapai kelenjar yang membutuhkan . Hormon yang dihasilkan pada Hipofisis posterior adalah

· Hormon anti diuretik (ADH) :

Dibentuk dalam nukleus supraoptik dan mengandung asam amino. Mekanisme kerja ADH adalah meningkatkan permeabilitas duktus untuk mereabsorpsi sebagian besar air yang disimpan dalam tubuh dan mempengaruhi difusi bebas air dari tubulus cairan tubuh kemudian diabsorpsi secara osmosis.

o Pengaturan produksi ADH

Bila cairan ekstraseluler pekat , maka cairan ditarik dengan proses osmosis keluar dari sel osmoreseptor sehingga mengurangi ukuran sel dan menimbulkan sinyal saraf dalam hipotalamus untuk menyekresi ADH tambahan . Sebaliknya, bila cairan ekstraseluler terlalu ancer , maka air bergerak melalui osmosis dengan arah berlawanan masuk ke dalam sel. Keadaan ini akan menurunkan sinyal saraf untuk menurunkan sekresi ADH.

Salah satu rangsangan yang menyebabkan sekresi ADH menjadi kuat adalah penurunan volume darah. Keadaan ini terjadi secara hebat saat volume darah turun 15-25% dengan kecepatan sekresi meningkat 50x dari keadaan normal. Peranan penting dalam proses pembentukan laktasi adalah menyebabkan timbulnya pengiriman air susu dari alvioli ke duktus sehingga dapat dihisap oleh bayi.

· Oksitosin

Membantu menyalurkan air susu dari kelenjar payudara ke putting susu selama pengisapan dan mungkin membantu melahirkan bayi pada saat akhir masa kehamilan.

3. Kelenjar Hipofisis Intermediet

Daerah kecil diantara hipofisis anterior dan posterior yang relative avaskular, pada manusia hampir tidak ada sedangkan pada beberapa jenis binatang rendah ukurannya jauh lebih berfungsi.

Hormon yang dihasilkan intermediet hipofisis

Mekanisme Kerja ACTH (kortikotropin)

Tahapan dari mekanisme kerja ACTH (kortikotropin) adalah :
1. ACTH adalah produk dari proses pasca translasi prekursor polipeptida Pro-Opiomelanokortin, Organ target ACTH adalah korteks adrenal tempat kortikotropin terikat.

2. Setelah di korteks adrenal, ACTH akan memacu perubahan Kolesterol menjadi pregnolon.

3. Kemudian dari pregnolon dihasilkanlah adrenokortikosteroid dan androgen adrenal.

4. Dimana fungsi kortisol adalah kerja antiinflamasi, meningkatkan glukoneogenesis, meningkatkan penghancuran protein, Mobilitas lemak, Mobilitas protein, Stabilisasi lisosom

Hubungan Hipofisis dan Hipotalamus

* Sistem portal hipotalamus dan hipofisis

1. suplai darah ke lobus posterior ( neurohipofisis ) terjadi melalui dua arteri hipofisis interior, yang merupakan cabang arteri karotis internal, kemudian memasuki lobus posterior dan membentuk jaring-jaring kapilar. Aliran vena mengalir melalui vena hipofisis kedalam sinus dural.

2. suplai darah ke lobus anterior adalah tidak langsung. Arteri hipofisis superior (cabang arteri karotis internal) memasuki bagian tengah tonjolan hipotalamus dan batang infundibulum sehingga membentuk jaring-jaring kapilar pertama.

3. jaring kapilar pertama dialiri vena potal hipofisis , yang menjadi awal jaring kapilar kedua di bagian bawah lobus anterior

4. sistem portal hipotalamus dan hipofisis mengacu pada kedua jaring kapilar diatas ( satu di hipotalamus dan satu lagi dalam adenohipofisis ) dan vena yang terletak diantara keduanya. Melalui sistem ini, hormon yang diproduksi di hipotalamus langsung dibawa ke adenohipofisis tanpa memasuki sirkulasi darah besar.

Pengaturan Sekresi Hipofisis oleh Hipotalamus

Sekresi hipofisis posterior diatur oleh serabut saraf yang berasal pada hipotalamus dan berakhir pada hipofisis posterior . Sebaliknya sekresi hipofisis anterior diatur oleh hormon yang dinamakan “ releasing” dan “ inhibitory hormones” yang di sekresi oleh hipotalamus sendiri dan kemudian dihantarkan ke hipofisis anterior melalui pembuluh darah kecil yang dinamakan portal hipotalamik-hipofisial. Pada hipofisis anterior releasing dan inhibitory ini bekerja pada sel kelenjar untuk mengatur sekresinya.

Hipotalamus merupakan pusat himpunan informasi dan selanjutnya sebagian besar informasi ini digunakan untuk mengatur sekresi kelenjar hipofisis.

Contohnya : bila seseorang menderita nyeri , sebagian isyarat nyeri dihantarkan ke hipotalamus. Hal yang sama , bila seseorang mengalami pikiran yang sangat menekan atau merangsang, sebagian isyarat dihantarkan ke hipotalamus. Kemudian pada , rangsang penciuman yang menyatakan bau yang menyenangkan atau tidak menyenangkan, menghantarkan komponen isyarat yang kuat melalui nuklei amigdala ke hipotalamus.

Hubungan Hipofisis anterior dengan Hipotalamus

1. Sekresi hormon pelepas hipothalamus dan hormon penghambat ke eminensia mediana.
Neuron-neuron khusus di dalam hypothalamus mensintesis dan mensekresi hormone pelepas hypothalamus dan hormone penghambat yang mengatur sekresi hormone hipofisis anterior. Neuron –neuron ini berasal dari berbagai bagian hypothalamus dan mengirimkan serat – serat sarafnya menuju ke eminensia mediana dan tuber sinerum (jaringan hypothalamus yang menyebar menuju tangkai hipofisis). Bagian ujung serat – serat saraf ini berbeda dengan ujung- ujung serat saraf umum yang ada di dalam sistem saraf pusat. Dimana fungsi serat ini tidak menghantarkan sinyal – sinyal yang berasal dari neuron ke neuron yang melainkan hanya mensekresi hormone pelepas dan hormone penghambat hypothalamus saja ke dalam cairan jaringan. Hormon-hormon ini segera diabsorbsi ke dalam kapiler sistem porta hypothalamus dan hipofisis dan langsung diangkut ke kelenjar hipofisis anterior.

2. Fungsi hormon pelepas dan hormon penghambat dalam hipofisis anterior.
Hormone –hormon pelepas dan hormone – hormone penghambat berfungsi mengatur sekresi hormone hipofisis anterior. Hormone – hormone pelepas dan penghambat hypothalamus yang terpenting adalah :

• TRH : hormone pelepas tiroid yang menyebabkab pelepasan hormone perangsang tiroid.
• Hormone pelepas kortikotropin(CRH) : menyebabkan pelepasan adenokortikotropin.
• Hormone pelepas hormone pertumbuhan (GHRH) : menyebabkan pelepasan hormone pertumbuhan dan hormone penghambat hormone pertumbuhan (GHIH) yang mirip dengan hormone somatostatin dan menghambat pelepasan hormone pertumbuhan.
• Hormone pelepas gonadotropin(GnRH) : menyebabkan pelepasan dari dua hormone gonadotropik, hormone lutein dan hormone perangsang folikel.
• Hormone penghambat prolaktin (PIH) : menghambat sekresi prolaktin.

3. Daerah –daerah spesifik dalam hipothalamus yang mengatur sekresi faktor pelepas dan faktor penghambat hipothalamus
Sebelum diangkut ke kelenjar hipofisis anterior , semua hormone hypothalamus disekresi ke ujung serat saraf yang terletak di dalam eminensia mediana. Perangsangan listrik pada daerah ini merangsang ujung- ujung saraf, oleh karena itu pada dasarnya menyebabkan pelepasan semua hormone hypothalamus. Akan tetapi badan sel neuron yang menyebar ke eminensia mediana ini terletak pada daerah yang berdekatan dengan bagian basal otak.

4. Hubungan Saraf
Lobus anterior tidak memiliki hubungan syaraf langsung dengan hipotalamus. Hormon hipofisis anterior juga dilepas berdasarkan sinyal dari hipotalamus, tetapi melalui hubungan vaskular.

Hubungan Hipofisis Posterior dengan Hipotalamus

Kelenjar hipofisis posterior juga dinamakan neurohipofisis terutama terdiri atas sel – sel seperti sel glia yang dinamakan pitulsit. Pitulsit tidak menyekresi hormon , mereka bekerja sebagai struktur penyokong untuk serabut saraf terminal yang jumlahnya banyak dan ujung-ujung saraf terminal dari traktus saraf yang berasal dari nuklei supraoptikus dan paraventrikum hipotalamus . Ujung-ujung saraf merupakan tombol bulosa yang terletak pada permukaan kapiler, tempat mereka menyekresi hormon hipofisis posterior yaitu hormon ADH dan hormon oksitosin . ADH dibentuk pada nuklei supraoptikus , sedangkan oksitosin dibentuk pada nuklei paraventrikularis. Dalam keadaan istirahat , sejumlah ADH dan oksitosin terkumpul pada ujung-ujung saraf kelenjar hipofisis posterior . Kemudian bila impuls saraf dihantarkan kebawah sepanjang serabut – serabut dari nuklei supraoptikus dan paraventrkulus , hormon segera dikeluarkan dari ujung-ujung saraf dan diabsorpsi masuk ke kapiler yang berdekatan.

*Hubungan saraf

1. lobus posterior diinervasi langsung oleh neuron nukleus supraoptik dan nukleus paraventrikular dalam hipotalamus. Aksonnya memanjang menuruni batang infundibulum sebagai traktus saraf hipofisis dan hipotalamus untuk masuk ke neuron hipofisis

KELENJAR PARATIROID (parathyroid gland)

Kelenjar paratiroid menempel pada bagian anterior dan posterior kedua lobus kelenjar tiroid oleh karenanya kelenjar paratiroid berjumlah empat buah.Bentuknya oval, berwarna kuning kecoklatan.Panjang ± 5mm dan tebal 2 mm.Kendati letaknya dekat dengan kelenjar tiroid,lokasi ini sangat bervariasi tergantung pertumbuhannya secara embriologis. Masing-masing melekat pada bagian belakang kelenjar tiroid, kelenjar ini menghasilkan hormon yang berfungsi mengatur kadar kalsium dan fosfor di dalam tubuh

Kelenjar paratiroid tersusun oleh 3 macam sel,yaitu : chief cells,clear cells,dan oxyphil cells.Chief cells bertanggung jawab pada sintesis dan sekresi hormone paratiroid atau parathormon (HPT).Di dalam keadaan aktif,retikulum endoplasmic sel-sel tersebut terlihat jelas dengan apparatus golgi yang padat,tempat pembuatan HTP dan siap untuk disekresikan.Clear cells kemungkinan juga chief cells yang berisikan glikogen yang tinggi.Oxyphil cells hanya Nampak dalam kelenjar paratiroid setelah pubertas dan jumlahnya bertambah pada pertambahan umur.Kelenjar paratiroid normal dewasa berisikan lemak.

Kadar kalsium ion darah yang rendah merangasang sekresi HPT,dan yang tinggi menekan sekresi HPT.Untuk perangsangan ataupun penekanan sekresi HPT,perubahan kadar kalsium ion darah sedikit saja sudah sangat mempengaruhi.

Bentuk Kelenjar Paratiroid
Kelenjar paratiroid kecil, kuning kecoklatan oval, biasanya terletak antara garis lobus posterior dari kelenjar tiroid dan kapsulnya. Ukurannya kira2 6x3x2 mm. Beratnya 50 mg. Biasanya 2 pada tiap sisi, superior dan inferior. Normalnya paratiroid posterior bergeser hanya pada kutub paratiroid posterior, tapi bisa juga turun bersama timus ke thorax atau pada bifurcation karotis. Kelenjar paratiroid superior letaknya lebih konstan daripada inferior dan biasanya terlihat di tengah garis posterior kelenjar tiroid walaupun bisa lebih tinggi. Bagian inferior sangat bervariasi pada beberapa situasi (tergantung perkembangan embriologisnya) dan bias tanpa selubung fascia tiroid, di bawah arteri tiroid, atau pada kelenjar tiroid dekat kutub inferior.

EFEK HORMON PARATIROID
Ion kalsium dan fosfat darah menggambarkan keseimbangan keluar masuknya ion-ion tersebut di tulang,traktus gastrointestinal,dan filtrasi di ginjal.Keseimbangan ion-ion tersebut diatur oleh HPT dan vitamin D3.Jika kalsium darah rendah,akan merangsang sekresi HPT dengan cepat dan terjadi kenaikan reabsorpsi kalsium di tubulus distalis ginjal dan loop henle asendens.HPT juga merangsang pembongkaran kalsium dari simpanannya di tulang.Kedua hal menyebabkan kearah kalsium darah menjadi normal.

HPT bekerja pada tulang dengan cara dua tingkat,yaitu: tingkat pertama memobilisasi kalsium dan fosfat secara cepat,daerah yang ada hubungan langsung dengan cairan ekstrasel.Tingkat kedua,memobilisasi kalsium sebagai akibat pembongkaran matriks tulang dan kemudian perubahan pembentukan tulang.Kerja utama HPT pada tulang,adalah menaikkan aktiitas osteoklas dan kemudian absorpsi tulang.Selanjutnya HPT merangsang pembentukan dan pembongkaran berjalan.

Saat kadar kalsium menurun, hormon paratiroid memastikan bahwa kalsium diambil dari tulang-tulang, kalsium di urin diserap kembali, dan kalsium yang ada dalam makanan diserap. Saat kadar kalsium di dalam darah terlalu tinggi, kalsitonin memastikan bahwa kalsium di dalam tulang dipertahankan dan tulang mempercepat penyerapan kalsium.

Fungsi umum kelenjar paratiroid adalah:
1. mengatur metabolisme fosfor
2. mengatur kadar kalsium darah
3. mengontrol ekskresi kalsium dan fosfat oleh ginjal,mempunyai efek terhadap reabsoprsi tubuler dari kalsium dan sekresi fosfor
4. mempercepat absorpsi kalium di intestinal
5. jika pemasukan kalsium berkurang,hormone paratiroid menstimulir reabsorpsi tulang sehingga menambah kalsium dalam darah
6. dapat menstimulir transport kalsium dan fosfat melalui membrane dari mitokondria.

KELENJAR TIROID

Kelenjar tiroid, yang terletak tepat di bawah laring sebelah kanan dan kiri depan trakea, menyekresi tiroksin dan triyodotironin yang mempertahankan tingkat metabolisme di berbagai jaringan agar optimal sehingga mereka berfungsi normal. Hormon tiroid merangsang konsumsi O2 pada sebagian besar sel di tubuh, membantu mengatur metabolisme lemak dan karbohidrat, dan penting untuk pertumbuhan dan pematangan normal.

Kelenjar ini juga menyekresi kalsitonin, suatu hormon yang penting untuk metabolisme kalsium. Tidak adanya sekresi tiroid sama sekali biasanya menyebabkan laju metabolisme turun sekitar 40 persen di bawah normal, akibatnya perlambatan perkembanga mental dan fisik, berkurangnya daya tahan terhadap dingin, serta pada anak-anak timbul retardasi mental dan kecebolan (dwarfism). Sebaliknya, sekresi tiroksin yang berlebihan sekali dapat menyebabkan laju metabolisme basal meningkat setinggi 60 sampai 100 persen di atas normal, akibatnya badan menjadi kurus, gelisah, takikardia, tremor, dan kelebihan pembentukan panas.

Sekresi tiroid diatur oleh hormon perangsang tiroid (thyroid-stimulating hormon hormone = TSH = tirotropin) yang disekresi oleh kelenjar hipofisis anterior.

Pembentukan dan Sekresi Hormon Tiroid

Kimia
Hormon utama yang disekresi oleh tiroid adalah tiroksin (T4) dan triiodotironin (T3). Kedua hormon adalah asam-asam amino yang mengandung iodium. Sejumlah kecil cadangan triiodotironin, monoiodotirosin, dan senyawa-senyawa lain juga ditemukan dalam darah vena tiroid. T3 lebih aktif daripada T4.

Tiroglobulin
T4 dan T3 disintesis di dalam koloid melalui iodinasi dan kondensasi molekul-molekul tirosin yang terikat pada linkage peptida dalam tiroglobulin. Jika Tiroid Stimulating Hormone (TSH) mengikat reseptor sel folikel, maka tiroglobulin ini disintesis dan disekresi oleh retikulum endoplasma dan kompleks golgi ke lumen folikel. Tiroglobulin merupakan glikoprotein yang terbentuk dari 2 submit dan memiliki berat molekul 660.000, mengandung karbohidrat 10% berat. Molekul ini juga mengandung 123 residu tirosin yang merupakan substrat utama yang berikatan dengan yodium untuk membentuk hormon tiroid, tetapi hanya 4-8 yang secara normal bergabung menjadi hormon tiroid. Tiroglobulin dibentuk oleh sel-sel tiroid (sel kelenjar khas yang menyekresi protein) dan dikeluarkan ke dalam koloid oleh eksositosis granula yang juga mengandung peroksidase tiroid. Hormon ini tetap terikat pada tiroglobulin sampai disekresikan.

Saat hormon tirosin akan disekresikan, permukaan apikal sel tiroid dalam keadaan normal mengeluarkan penonjolan seperti pseudopodi yang meliputi sebagian kecil koloid untuk membentuk vesikel pinositik. Kemudian lisosom segera bersatu dengan vesikel ini untuk membentuk vesikel digestif yang mengandung enzim-enzim pencernaan dari lisosom yang bercampur dengan koloid. Proteinase, yang merupakan salah satu enzim-enzim tersebut mencernakan molekul tiroglobulin serta melepaskan tiroksin dan triyodotironin, yang kemudian berdifusi melalui basis sel tiroid, ke dalam kapiler yang terdapat disekitarnya. Jadi, hormon tiroid dikeluarkan ke dalam darah. Distribusi dalam plasma terikat pada protein plasma Protein bound iodine (PBI).

Sebagian besar PBI T4 dan sebagian PBI T3 terikat pada protein jaringan yang bebas dalam keadaan seimbang. Dengan demikian, sel-sel tiroid memiliki fungsi: mengumpulkan dan memindahkan iodium; membentuk tiroglobulin dan mengeluarkannya ke dalam koloid; dan mengeluarkan hormon tiroid dari tiroglobulin dan mensekresikannya ke dalam sirkulasi. Setelah sintesis hormon tiroid berlangsung, setiap molekul tiroglobulin mengandung 5 sampai 6 molekul tiroksin, dan rata-rata satu molekul triyodotironin untuk setiap tiga sampai empat molekul tiroglobulin - sekitar 18 molekul tirosin untuk setiap satu molekul triyodotironin.

Tiroglobulin masuk ke dalam darah serta koloid. Konsentrasi tiroglobulin serum normal pada manusia adalah sekitar 6 ng/mL, dan kadar ini meningkat pada hipertiroidisme dan beberapa bentuk kanker tiroid.

Metabolisme Iodium
Iodium adalah bahan dasar yang penting untuk sintesis hormon tiroid. Iodium yang tertelan bersama makanan dibawa aliran darah dalam bentuk ion iodida (Iˉ), menuju kelenjar tiroid. Sel-sel folikular memisahkan iodida dari darah dan mengubahnya menjadi molekul (unsur) iodium (iodium teroksidasi), yang kemudian mampu berikatan langsung dengan asam amino tirosin. Oksidasi yodium ini dipermudah oleh enzim peroksidase dan hidrogen peroksida yang menyertai , yang bersama-sama menyelenggarakan sistem yang kuat, yamg mampu mengoksidasi iodida. Peroksidase terletak di dalam membrana apikal sel atau juga di dalam sitoplasma yang tepat berdekatan dengan membrana ini, jadi memberikan yodium yang telah dioksidasi pada titik yang tepat di dalam sel, di tempat mana molekul tiroglobulin pertama keluar dari kompleks golgi.

Molekul iodium bereaksi dengan tirosin dalam tiroglobulin untuk membentuk molekul monoiodotirosin dan diiodotirosin. Dua molekul diiodotirosin membentuk T4 (tiroksin), sedangkan satu molekul monoiiodotirosin dan satu molekul diiodotirosin membentuk T3 (triiodotironin). Pengikatan yodium dengan molekul tiroglobulin dinamai organifikasi tiroglobulin. Yodium yang telah dioksidasi dalam bentuk molekul akan terikat langsung tetapi perlahan-lahan dengan asam amino tirosin, tetapi bila yodium yang telah teroksidasi disertai dengan sistem enzim peroksidase, maka proses ini dapat terjadi dalam beberapa detik atau menit. Sehingga hampir sama cepat seperti pelepasan molekul tiroglobulin dari alat Golgi atau secepat ia disekresi melalui membrana sel apikal ke dalam folikel, yodium terikat dengan sekitar seperenam sisa tirosin di dalam molekul tiroglobulin.

Asupan iodium harian minimum yang dapat mempertahankan fungsi tiroid normal adalah 150 µg pada orang dewasa, tetapi di AS asupan makanan rata-rata adalah sekitar 500 µg/h. Kadar I ˉ plasma normal adalah sekitar 0,3 µg/dL, dan I ˉ disebarkan dalam suatu “ruang” sekitar 25L (35% berat tubuh).

Pengambilan Iodium
Kelenjar tiroid mengkonsentratkan iodium dengan transpor aktif iodium dari cairan ekstrasel ke sel kelenjar tiroid dan kemudian ke folikel. Mekanisme transport sering disebut “iodide-trapping mechanism” atau “pompa iodida”. Sel-sel tirod bermuatan 50 mV relatif negatif terhadap daerah interstitium dan koloid; yaitu sel memiliki potensial membran istirahat sebesar -50 mV. Iodida dipompa ke dalam sel pada dasarnya melawan gradien listrik ini, lalu berdifusi mengikuti gradien listrik ke dalam koloid. Mekanisme transpor aktif iodida dirangsang oleh TSH. Mekanisme ini juga bergantung pada Na, K, ATPase.

Hubungan fungsi tiroid dan iodida bersifat unik, karena iodida penting untuk fungsi tiroid normal, tetapi baik defisiensi maupun kelebihan iodida menghambat fungsi tiroid. Pada kelenjar normal, pompa iodida dapat memekatkan ion iodida sekitar 40 kali konsentrasi iodida dalam darah. Akan tetapi, bila kelenjar tiroid menjadi aktif sepenuhnya, rasio konsentrasi dapat meningkat sampai beberapa kali nilai ini.

Sintesis Hormon Tiroid

Di dalam kelenjar tiroid, iodide mengalami oksidasi menjadi iodium dan dalam beberapa detik berikatan ke posisi tiga molekul tirosin yang melakat ke tiroglobulin. Enzim yang berperan dalam oksidasi dan pengikatan iodide adalah tiroid peroksidase. Monoiodotirosin (MIT) kemudian mengalami iodinasi di posisi 5 untuk membentuk diidotirosin (DIT). Dua molekul DIT kemudian mengalami suatu kondensasi oksidatif membentuk T4 dengan pengeluaran rantai sisi alanin dari molekul yang membentuk cincin luar. Setelah sintesis hormone tiroid berlangsung, setiap molekul tiroglobulin mengandung 5 sampai 6 molekul tirosin, dan rata-rata satu molekul triodotironin untuk setiaap 3 sampai 4 molekul tiroglobulin, sekitar 18 molekul tiroksin untuk setiap satu molekul triodotironin. Dalam bentuk ini hormone tiroid sering disimpan dalam folikel selama beberapa bulan. Ternyata, jumlah total yang disimpan cukup untuk mensuplai tubuh dengan kebutuhan normal akan hormone tiroid selama 1 sampai 3 bulan. Oleh karena itu, walaupun sintesis hormone tiroid berhenti seluruhnya, efek defisiensi mungkin tidak ditemukan selama berbulan-bulan.

Transpor Hormon Tiroid
Kadar T4 plasma total normal adalah sekitar 8 µg/dL (103 nmol/L), dan kadar T3 plasma adalah sekitar 0,15 µg/dL (2,3nmol/L). sebagian besar keduanya terikat pada protein plasma. Hormon tiroid bebas dalam plasma berada Dallam keseimbangan hormone tiroid yang terikat pada protein plasma dan jaringan. Hormone tiroid bebas ditambahkan pada cadangan sirkulasi oleh kelenjar tiroid. Hormone tiroid bebas dalam plasma adalah yang secara fisiologis aktif dan menghambat sekresi TSH oleh hipofisis. Fungsi pengikatan protein adalah untuk mempertahankan cadangan hormone yang siap dibebaskan dalam jumlah besar. Selain itu, paling tidak untuk T3, pengikatan hormone mencegah pengambilan berlebihan oleh sel pertama yang dijumpai dan meningkatkan distribusi jaringan yang merata.

Protein plasma yang mengikat hormone tiroid adalah albumin dan globulin. Albumin memiliki kapaitas terbesar untuk mengikat T4 , protein ini dapat mengikat T4 paling banyak sebelum menjadi jenuh. Namun, afinitas (aviditas ikatan protein dengan T4 pada keadaan fisiologis) protein terhadap T4 adalah sedemikian, sehingga sebagian besar T4 dalam sirkulasi terikat pada globulin, dengan lebih dari sepertiga tempat ikatan pada protein ditempati. T4 dalam jumlah yang lebih kecil terikat pada albumin.

Secara normal 99,98% T4 dalam plasma terikat , kadar T4 bebas hanya sekitar 2 ng/dL. Hanya terdapat sedikit T4 dalam urin. T3 tidak terlalu terikat, dari 0,15 µg/dL yang secarra normal terdapat dalam plasma, 0,2% (0,3 ng/dL) berada dalam keadaan bebas. Sisa 99,8% terikat pada protein, 46% pada globulin dan sebagian besar sisanya pada albumin.

Bila terjadi peningkatan konsentrasi protein pengikat tiroid dalam plasma yang mendadak dan menetap, maka konsentrasi bebas menurun. Namun perubahan ini sementara karena penurunan konsentrasi hormone tiroid bebas dalam sirkulasi akan merangsan sekresi TSH, yang pada gilirannya akan menyebabkan peningkatan pembentukan hormone tiroid bebas. Akhirnya akan tercapai keseimbangan baru dimana kuantitas total hormone tiroid meningkat tetapi konsentrasi hormone bebas, kecepatan metabolismenya keccepatan sekresi TSHnya normal.

Metabolisme Hormon Tiroid
T4 dan T3 mengalami deiodinasi di hati, ginjal dan banyak jaringan lain. Pada orang dewasa normal sepertiga T4 dalam darah secra normal diubah menjadi T3 dan 45% diubah menjadi reverse triiodotironin ( RT3). Hanya 13% T3 dalam darah disekresi oleh kelenjar tiroid dan 87% dibentuk melalui deiodinasi T4, demikian juga hanya 5% RT3 dalam darah disekresi oleh kelenjar tiroid dan 95% dibentuk dari deiodinasi T4. Dua enzim yang berbeda berperan disini, 5’deiodinase mengkatalis pembentukan T3 dan 5 deiodinase mengkatalis pembentukan T3 dan RT3 diubah menjadi berbagai diiodotironin.

Di hati T4 dan T3 mengalami konjugasi dan membentuk sulfat serta glukuronida. Konjugat-konjugat ini masuk ke dalam empedu lalu ke usus. Konjugat tiroid mengalami hidrolisis dan sebagian diserap kembali, tetapi sebagian diekskresi melalui tinja. Selain itu, sebagian T4 dan T3 berpindah langsung dari sirkulasi ke lumen usus.

Sekresi Hormon Tiroid

Sekresi hormone tiroid terangsang oleh TSH, dan TSH sendiri sekresinya terangsang oleh TRH. Hormone tiroid bebas menghambat sekresi TSH baik langsung maupun tidak langsung. Sekresi TSH dapat dihambat oleh stress, kemungkinan melalui penghambatan glukokortikoid paada sekresi TRH. Pada bayi sekresi TSH naik akibat rangsangan dingin dan terhambat akibat rangsangan panas. Sewaktu disekresi, koloid diambil oleh sel-sel tiroid, ikatan peptida mengalami hidrolisis dengan bantuan enzim proteolitik, dan T3 serta T4 bebas dilepaskan ke dalam peredaran darah

Efek Hormon Tiroid
· Menaikkan aktivitas membran dalam ikatan ion-ion natrium kalium ATPase
· Menaikkan produksi panas
· Merangsang pemakaian oksigen (kalorigenesis)
· Merangsang sekresi Growth Hormone
· Memperkuat efek Growth Hormone
· Mempengaruhi sel-sel saraf dan perkembangan mental pada anak balita dan janin
· Membantu regulasi metabolisme lipid
· Menaikkan absorpsi dan neropinefrin

Fungsi Hormon Tiroid
1. Mempengaruhi pertumbuhan dan maturasi (pematangan) jaringan tubuh, serta penggunaan energy total
2. Mengatur kecepatan metabolisme tubuh dan mempengaruhi beberapa reaksi metabolic dalam tubuh
3. Menambah sintesis Ribonukleat Acid (RNA) dan protein suatu aksi yang mendahului meningginya basal metabolism
4. Dalam konsentrasi tinggi, keseimbangan nitrogen negative dan sintesis protein berkurang
5. Menambah produksi panas dan menyimpan energy yang didapatkan pada konsentrasi hormone tiroid yang tinggi
6. Absorpsi glukosa di intestinal bertambah lancar oleh hormon tiroid sehingga memungkinkan factor toleransi glukosa yang abnormal sering ditemukan pada hipertiroidisme

KELENJAR TIMUS



Kelenjar timus terletak dibagian posterior toraks terhadap sternum dan melapisi bagian atas jantung, berwarna kemerah-merahan dan terdiri atas 2 lobus . Kelenjar timus dapat dijumpai pada anak-anak berusia di bawah 18 tahun. Pada bayi yang baru lahir ukurannya sangat kecil dan beratnya kira-kira 10 gram.



Kelenjar timus berkembang sampai masa pubertas, dan setelah itu ia akan menyusut atau digantikan oleh jaringan lemak . Kelenjar timus normalnya berfungsi secara efektif sepanjang umur manusia, namun fungsinya menurun seiring usia. Akibatnya, insiden penyakit autoimun dan pertumbuhan sel-sel ganas meningkat. Tetapi sejumlah nukleoprotein (asam timonukleat) mengambil alih beberapa fungsi timus. Selain itu kelenjar timus berinteraksi dengan gonad dalam mempengaruhi pertumbuhan tubuh. Perkembangan seluruh sistem limfatik diputuskan dan diatur oleh kelenjar timus. Kemudian kelenjar Timus bersama-sama dengan sumsum tulang adalah organ imunitas yang utama. Hormon yang dihasilkan kelenjar ini meliputi enam peptide yang secara kolektif disebut dengan Timosin.

Kelenjar Timus penting peranannya dalam sistem imun spesifik seluler, karena di dalam timus terjadi diferensiasi dan proliferasi dari sel T atau limfosit T. Dengan demikian involusi dari kelenjar timus akan menyebabkan penurunan dari sel T, diantaranya adalah sel T CD4+ (sel T helper 1 [Th1] dan sel T helper 2 [Th2]).

Kelejar timus melakukan pengolahan terhadap limfosit T
Limfosit-T sering kali dinamakan sesuai dengan molekul pada permukaannya. Limfosit-T CD4 adalah sel T dari sistem kekebalan yang mempunyai molekul CD4 pada permukaannya sedangkan limfosit-T CD8 mempunyai molekul CD8. Kedua sel ini memiliki reseptor pada permukaannya. Masing-masing memiliki sekitar 10.000 atau lebih tiruan molekul reseptor antigen tertentu pada permukaan selnya.

Perkembangan limfosit T dari sel induk yang ada di sum-sum tulang belakang juga melalui kelenjar timus. Sekitar 3% akan bermigrasi ke timus sebelum melanjutkan perjalanan ke sirkulasi darah. Sisanya yang ada di kelenjar timus akan di didik untuk mengenali antara antigen-antigen ‘diri’ (self) dan asing.

Subkelompok dari limfosit T akan terus terbentuk melalui kontak dengan timosit (hormon timus), misalnya sel-sel T-helper. Jika perlu (aksi defensif) produk ini akan memproduksi imunoglobin yang spesifik melawan agen-agen asing.

Limfosit sel B tidak akan sanggup mengubah diri mereka menjadi immunoglobulin yang memproduksi sel-sel plasma jika tidak ada sel-sel T-helper atau faktor timus. Sel-sel T-supresor memiliki efek penghambat pada limfosit-limfosit sehingga tidak telalu banyak antibodi yang terbentuk.

Artinya tiap satu limfosit membentuk reaktivitas yang spesifik untuk melawan antigen. Kemudian limfosit berikutnya membentuk spesifitas melawan antigen yang lain. Hal ini terus berlangsung sampai terdapat bermacam-macam limfosit timus dengan reaktivitas spesifik untuk melawan jutaan antigen yang berbeda-beda. Miliaran jenis sel terjadi karena miliaran variasi reseptor sel T. Variasi ini terjadi ketika sel dibentuk (biasanya pada permulaan kehidupan, di dalam rahim atau pada bayi). Sel T berawal sebagai sel batang yang tidak berdiferensiasi dan mampu berkembang dewasa menjadi bermacam-macam sel darah. Sel batang tertentu dirancang oleh kelenjar timus untuk menjadi sel T, ketika hal itu terjadi, gen tertentu dari sel tersebut akan bergabung secara acak, membentuk banyak kombinasi yang berbeda. Berbagai tipe limfosit T yang ada di proses tersebut sekarang meninggalakan timus dan menyebar keseluruh tubuh untuk memenuhi jaringa limfoid disetiap tempat.

Fungsi Hormon Timosin
* Mengendalikan perkembangan sistem imun dependen timus dengan menstimulasi diferensiasi dan sel limfosit T
* Timosin berperan dalam penyakit immunodefisiensi kongenital seperti α gamma globulinemia , yaitu ketidakmampuan total untuk memproduksi antibodi.

Fungsi kelenjar timuS
1. suatu sumber sel yang mempunyai kemampuan imunologis
2. sumber hormone timik yang mempersiapkan proliferasi dan maturasi sel-sel yang mempunyai kemampuan potensial imunologis dalam banyak jaringan lain
3. mengaktifkan pertumbuhan badan sehingga pertumbuhan sangat meningkat pada masa bayi sampai remaja dan setelah dewasa pertumbuhan akan berkurang
4. mengurangi aktivitas kelamin.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS